Mia masih menunduk ketika pertanyaannya menggantung di udara.
"Kalau pun gue percaya… gue harus gimana?"
Sarah menatap wajah temannya itu cukup lama, memastikan Mia benar-benar ingin mendengar jawabannya. "Pertama… lo jangan sendirian. Kedua, buat sementara lo ikut gue sama mama. Dan yang paling penting, lo jangan deketin cermin apa pun dulu."
Mia menelan ludah. "Kenapa?"
"Karena cermin itu kayak… jendela." Sarah mengerjap, mencoba menjelaskan dengan kalimat sesederhana mungkin. "Lo muncul sekali di salah satu cerminnya, berarti lo bisa muncul di cermin lain juga. Dan makhluk itu... dia selalu mulai dari situ."
Mia mengusap lengannya yang tiba-tiba merinding. "Terus… kalau gue muncul lagi di cermin lo... apa artinya gue makin deket sama—"
"Jangan dibayangin," sela Gina lembut. "Yang penting sekarang, kamu ikut kami dulu untuk sementara."
Mia terdiam. Ia melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada teman sekelasnya yang memperhatikan.
Kampus perlahan mulai ramai. Suara mahasiswa yang bercanda, langkah tergesa-gesa menuju kelas, semuanya terdengar seperti dunia normal yang seharusnya ia jalani.
Tapi kenyataan yang Sarah bawa… seperti menariknya ke dunia lain.
"Mi," suara Sarah pecah. "Gue udah gagal dua kali. Kalau gue gagal lagi… gue gak bakal bisa maafin diri gue sendiri."
Mia akhirnya menatap Sarah. Cukup lama dan dalam. Seolah mencoba membaca apakah semua yang Sarah katakan hanya ketakutan berlebihan… atau sebuah kebenaran yang lebih gelap dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
Mia menarik napas panjang.
"Oke." Akhirnya ia berkata pelan. "Gue ikut."
Sarah menghembuskan napas lega.
Gina tersenyum tipis, lalu meletakkan tangannya di bahu Mia. "Terima kasih sudah percaya."
"Tapi…" Mia masih terlihat ragu. "Kita mau ke mana?"
"Ke tempat yang aman," jawab Gina. "Yang jelas bukan di sini. Karena kejadian sebelumnya juga terjadi di sini."
Mia mengangguk, meski wajahnya semakin pucat.
Namun sebelum mereka beranjak, suara seseorang memanggil dari kejauhan.
"Sarah?"
Sarah refleks menoleh.
Ternyata Ello, salah satu teman sekelasnya, berjalan mendekat sambil mengerutkan kening. "Lo gak masuk kelas? Dosen udah dateng kata anak-anak."
Sarah menegang. Ia melirik Mia, lalu kembali menatap Ello. "Gue… hari ini izin."
"Oh." Ello mengangguk, tapi matanya tertuju pada Mia. "Mi? Lo juga izin?"
Mia membuka mulut tapi tidak tahu harus menjawab apa.
Gina maju sedikit. "Mia juga izin, dia mau ikut kami dulu, Nak."
Ello terlihat bingung, tapi tidak bertanya lagi ketika melihat ekspresi tegang Sarah. "Ya udah. Hati-hati."
Saat Ello masuk ke gedung kelas, Mia mendekat ke Sarah.
"Kalau dia lihat gue kabur gini, besok-besok pasti mulai banyak yang nanya."
"Lebih baik banyak yang nanya daripada lo mati," jawab Sarah cepat.
Mia terdiam.
Mereka bertiga berjalan kembali ke area parkir mobil dengan langkah cepat. Sarah berkali-kali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
Gina lalu mengeluarkan kunci mobil, menekan tombol pembuka pintu. "Naik." Suaranya tegas namun tetap hangat.
Mia duduk di kursi belakang. Sarah berada di depan, namun ia terus memutar tubuhnya untuk memastikan Mia terlihat aman. Sementara Gina, menyalakan mesin mobil.
Baru beberapa detik mobil bergerak keluar dari area parkir, Mia bersuara lirih.
"Sarah…"
"Hm?"
"Lo yakin makhluk itu… ngincer gue sekarang?"
Sarah mengangguk pelan. "Gue ngelihat lo jelas banget tadi pagi."
Mia menggigit kukunya. "Lo… yakin itu gue? Maksud gue… jangan-jangan itu cuma bayangan?"
Kalimat itu membuat Sarah teringat wajah Mia yang mengetuk dari balik cermin. Terlihat ketakutan seolah terperangkap. Sarah merasakan punggungnya dingin.
"Itu lo, Mi." Suara Sarah bergetar, meski ia berusaha menahannya. "Dan itu… tanda kalau waktu lo gak lama."
Mia memeluk dirinya sendiri.
Gina fokus menyetir. Mobil melaju melewati deretan toko, warung, dan halte yang mulai terlihat sibuk.
"Terus… kita mau ke mana?" tanya Mia.
"Ke rumah kami dulu," jawab Gina. "Kamu bisa tenang di sana."
"Tapi Tante… kalau makhluk itu bisa muncul di mana aja, apa rumah Tante aman? Sarah juga bilang kalau dia lihat saya di cermin rumah Tante, kan? Tante juga bilang kalau lihat sesuatu tadi malam."
Gina melirik ke kaca spion, menatap Mia.
Keheningan sejenak.
"…setidaknya lebih aman daripada di luar."
Sarah menoleh lagi ke arah Mia. "Dan papa bakal nyusul. Jadi kita gak cuma bertiga."
Mia mengangguk lemah.
Mobil berbelok ke jalan yang lebih sepi, memasuki daerah perumahan. Namun baru beberapa meter melewati gerbang kompleks, Sarah tiba-tiba bersuara keras.
"MA, STOP!"
Gina refleks menginjak rem. Mobil berhenti mendadak.
"Apa?! Kenapa?!" Gina menoleh dengan panik.
Sarah menunjuk ke belakang, tepat ke arah kaca spion tengah.
"Cermin mobil…"
Mia spontan menegang. "Kenapa cermin mobil?!"
Sarah menatap kaca spion itu tanpa berkedip. "Gue lihat sesuatu."
Gina menahan napasnya. Perlahan, ia juga menoleh ke kaca spion.
Hanya terlihat bagian belakang mobil, jalanan yang mereka lalui, dan beberapa kendaraan jauh di belakang. Tidak ada yang aneh.
"Mungkin kamu salah lihat?" tanya Gina dengan suara teredam.
Sarah menggeleng cepat. "Enggak, Ma. Tadi… Sarah lihat rambut Mia."
Mia langsung menutupi mulutnya. "Sarah… lo serius?"
"Serius." Sarah merapatkan tubuhnya pada kursi. "Mi, itu artinya makhluk itu udah mulai ngikutin kita."
Gina memutar tubuhnya, menatap Mia, lalu menatap Sarah. "Tapi tadi tidak ada apa-apa."
"Dia cuma muncul sebentar," timpal Sarah. "Sebentar banget. Kayak… lagi ngingetin sesuatu."
"Atau ngasih tau kalau dia bisa muncul kapan aja," kata Mia pelan.
Ketiganya terdiam.
Suasana dalam mobil berubah drastis. Udara terasa lebih berat.
Gina menarik napas dalam-dalam. "Oke. Kita pulang dulu. Begitu sampai rumah, kita tutup semua cermin. Kalian gak boleh dekat dengan permukaan kaca apa pun dulu. Mengerti?"
Keduanya mengangguk.
Mobil kembali melaju.
Namun kali ini Sarah memegang sandaran kursi sambil terus mengawasi kaca spion. Setiap mobil yang lewat membuat jantungnya ingin meloncat dari dada. Mia berusaha menutup matanya, tapi kadang ia melirik spion kecil di tengah. Seolah takut wajahnya sendiri muncul di sana.
Sesampainya di rumah, Gina langsung memarkir mobil dan keluar tergesa-gesa.
"Cepat masuk," ujarnya sambil membuka pintu depan.
Sarah masuk lebih dulu, lalu disusul Mia. Begitu mereka berada di ruang tamu, Gina langsung menutupi cermin besar di kamar tamu dengan kain panjang. Lalu ia menutup cermin kecil di meja rias dekat pintu. Bahkan kaca lemari ia tutupi.
Sarah ikut membantu, sedangkan Mia hanya berdiri memeluk tasnya.
"Kita… beneran harus nutup semua cermin?" tanya Mia dengan suara kecil.
Sarah mengangguk. "Iya. Cermin itu media mereka."
"Media buat muncul?"
"Media buat manggil."
Mia memucat. "Manggil siapa?"
Sarah tidak menjawab. Begitu pula dengan Gina.
Setelah semua cermin yang terlihat ditutupi, Gina mempersilakan Mia duduk di sofa.
"Minum dulu." Gina memberikan segelas teh hangat.
Mia menerimanya, tangannya sedikit gemetar. "Tante… makhluk itu beneran bisa bunuh saya?"
Gina menatap Sarah sejenak sebelum menjawab. "Kami tidak tahu persis wujud aslinya seperti apa. Tidak tahu bagaimana ia bekerja. Tapi… tanda-tandanya memang mengarah ke sana."
Mia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa harus gue…"
Sarah duduk di sampingnya. "Karena lo muncul di cermin. Dan kalau lo muncul… berarti dia udah milih lo sebagai target."
Mia menurunkan tangannya perlahan. "Dan… dan kalau dia udah milih… gue masih bisa diselamatin?"
"Bisa." Sarah memaksa dirinya tersenyum. "Makhluk itu pernah gagal waktu gue nyelametin lo di atap kemarin. Artinya dia bisa diganggu. Bisa dipotong jalurnya."
"Terus gimana cara—"
**DUK!!
Pintu depan bergetar cukup keras. Seperti diketuk dengan sesuatu yang besar.
Gina spontan berdiri. "Siapa itu?"
Sarah berdiri juga, tubuhnya tegang. Sementara Mia bangkit sambil mundur ke belakang sofa.
**DUK!!
Ketukan kedua lebih keras. Seakan seseorang benar-benar mencoba mendobrak.