Bagi kebanyakan orang, rumah adalah tempat yang aman untuk berlindung dan nyaman untuk ditinggali. Namun, jika bahaya tiba-tiba datang dari dalam rumah itu sendiri, mengapa mereka rela kembali?
Mia memekik kecil. "Tante! Tante jangan buka pintunya!"
Gina menelan ludah. "Tapi… mungkin aja itu—"
"Ma! Jangan buka!" seru Sarah cepat. "Mama gak denger?" Napasnya naik turun. "Ketukannya… kayak bukan manusia."
Gina membeku.
Suara dari balik pintu terdengar lirih. "…Sarah…"
Suara itu pelan. Serak, tapi sangat jelas.
Mia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Itu… suaranya… kayak…"
Sarah memejamkan mata, lalu menatap Gina dengan tegas. "Itu bukan papa."
Ketukan tiba-tiba berhenti, lalu digantikan dengan suara napas yang sangat panjang dan berat dari luar pintu.
"Buka… Sarah…"
Suara itu berubah.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
Seolah ada dua suara yang tumpang tindih jadi satu.
Mia mundur hingga punggungnya menempel pada rak buku. "Tante… tolong jangan buka…"
Sarah merasakan kakinya bergetar.
Cermin di kamar tamu sudah ditutupi. Cermin di lorong juga sudah ditutupi. Tapi makhluk itu tidak membutuhkan cermin untuk datang mengetuk.
Suara itu kembali muncul. Kali ini lebih dekat, tepat di belakang pintu.
"Mia… waktumu… hampir—"
**BRUKKK!
Sesuatu menghantam pintu dari luar, membuat seluruh rumah bergetar.
Sarah menjerit kecil.
Gina menahan napas.
Dan Mia berlutut di lantai sambil menangis pelan.
Lalu... hening.
Tidak ada suara.
Tidak ada napas berat.
Tidak ada ketukan.
Sunyi.
Gina perlahan mendekati pintu, namun hanya sampai jarak satu meter, berusaha mendengar apakah ada seseorang di luar. Tapi, tidak ada.
Sarah mendekatkan diri pada Mia, memeluknya. "Mi… jangan takut."
Mia menggigil. "Itu… itu dia, kan?"
Sarah menelan ludah. "Iya."
Gina kembali ke arah mereka, wajahnya pucat. "Kalian berdua… jangan dekat-dekat pintu dulu."
Sarah mengangguk.
Namun, tiba-tiba ponsel Sarah bergetar di saku celananya.
Ia langsung mengambilnya.
Satu pesan masuk kini nampak pada layar, dari nomor tak dikenal. Pesan itu hanya berisi satu foto.
Sarah menunduk melihat foto itu.
Begitu ia melihatnya, darahnya seperti berhenti mengalir. Foto itu adalah foto halaman depan rumah mereka… yang diambil dari jarak sangat dekat.
Dan di pojok kanan foto itu, terlihat helai rambut panjang berwarna hitam… yang tergantung begitu saja, seolah pemiliknya berdiri tepat di belakang kamera.
Sarah menjatuhkan ponselnya ke lantai. "Ma…" Suaranya hampir tidak keluar.
Gina menatapnya. "Kenapa? Ada apa?"
Sarah menunjuk ponselnya dengan tangan gemetar. "M-ma… dia… beneran ada di depan."
Ucapan Sarah terdengar seperti bisikan putus asa. Mia merangkak pelan mendekati ponsel di lantai, menatap layar itu dan langsung menutup mulutnya sendiri untuk menahan jeritan.
"Tante…" Suara Mia bergetar. "Itu… itu halaman rumah ini…"
Gina menatap foto itu tanpa berkedip. Tangannya menutup mulut, lalu dirinya terdorong mundur, menabrak ujung meja kecil di belakang. "Itu… foto itu diambil barusan?"
Sarah mengangguk pelan, tubuhnya membeku. "Pesannya baru masuk."
Ia menatap foto itu sekali lagi, dan sesuatu di dalam dirinya seperti runtuh.
Helai rambut hitam itu… melayang, seolah pemiliknya berdiri sangat dekat dengan kamera. Terlalu dekat.
Dan pagar depan…
Pagar itu masih terkunci.
Tapi makhluk itu mungkin tidak butuh pagar yang terbuka.
Gina memaksa dirinya bernapas. "Kita… kita harus telepon papa. Sekarang."
Namun saat ia meraih ponselnya, layarnya tiba-tiba mati. Seperti baterainya habis, padahal barusan masih terlihat penuh.
Sarah memeriksa ponselnya lagi. Layarnya juga gelap.
Mia pun sama, ponselnya mati total. "Gak mungkin. Baterai gue tadi masih ada 80 persen…"
Sejenak, tidak ada yang bicara. Suara detik jam dinding terdengar lebih keras daripada biasanya.
Sarah memeluk diri sendiri, berusaha menahan gemetar. "Dia… dia matiin semua ponsel kita?"
Gina menutup wajah dengan kedua tangannya, kemudian menurunkannya pelan. "Oke… kita jangan panik. Kita… kita bisa keluar lewat pintu belakang."
"Tante… gimana kalau dia ada di luar?" Suara Mia pecah.
Sarah menggenggam tangan Mia. "Lebih baik kita lari daripada diem di sini."
Gina mengangguk cepat. "Ambil tas kalian. Kita langsung pergi."
Mereka bergerak cepat, atau setidaknya mencoba untuk bergerak cepat. Namun setiap langkah terasa seperti berlari dalam mimpi. Lambat, berat, dan penuh rasa takut yang seperti mengikat pergelangan kaki.
Mia terus menatap jendela seolah bayangan hitam itu bisa muncul kapan saja. Sarah berkali-kali menoleh ke arah cermin-cermin yang sudah ditutupi kain, takut salah satunya tiba-tiba bergerak. Gina berusaha tetap tenang meski tangannya gemetar saat membuka kunci pintu belakang.
"Siap?" bisik Gina, sangat pelan.
Mia mengangguk dengan wajah pucat.
Sarah mengangguk meski napasnya tersengal.
Gina memutar knob pintu belakang. Perlahan, sangat pelan... hingga pintu itu terbuka setengah.
Udara pagi menjelang siang menerpa wajah mereka.
Tapi… tidak ada apa-apa.
Halaman belakang kosong. Hanya ada angin yang menggoyang daun-daun pepohonan kecil.
Gina menarik napas lega. "Oke, cepat."
Mereka melangkah keluar.
Sampai—
**BRAAAKKK!
Sesuatu terjatuh di dalam rumah. Suaranya keras seperti rak buku yang roboh.
Sarah membalikkan badan cepat. "Apa itu?!"
Mia menjerit kecil. "Kenapa suaranya dari ruang tamu?!"
Gina menggigit bibir. "Dia masuk…"
"Ma!" Sarah menarik lengan Gina. "Kita harus pergi!"
Gina mengangguk cepat. "Arah mobil. Kita lari ke mobil."
Mia memegang tangan Sarah erat-erat, hampir menyakitkan. "Jangan lepasin gue... jangan lepasin gue, Sar."
"Gak akan," balas Sarah.
Mereka bertiga berlari menuju garasi samping rumah. Namun, baru sampai setengah jalan, Sarah mendengar sesuatu dari balik rumah.
Langkah kaki yang terdengar pelan dan teratur. Seperti seseorang menyusuri lorong rumah mereka.
Mia menangis tanpa suara.
"Cepat!" Gina menarik keduanya.
Mereka sampai di garasi.
Gina menekan tombol pembuka pintu mobil. Namun, tidak merespons.
Ia mencoba lagi, dan tetap tidak merespons.
"Kenapa?!" pekik Gina, panik.
Sarah menepuk jendela mobil. "Mobilnya kayak mati, Ma!"
Mia menggeleng cepat. "Please jangan bilang dia juga bisa ambil alih mobil…"
Gina mengacak rambutnya frustrasi. "Oke! Oke! Kita keluar dari area rumah dulu! Lari keluar pagar depan!"
Sarah mengangguk meski lututnya hampir tidak kuat menahan tubuh.
Mereka berlari menuju pagar depan.
Pagar itu setinggi dada orang dewasa, tapi tidak sulit untuk dibuka.
Seharusnya begitu.
Gina menarik gagangnya, tapi tidak bergerak.
Ia coba menarik lagi, lebih keras. Namun, pagar itu tetap tidak terbuka.
"Terkunci?!" Sarah ternganga. "Ma, kuncinya mana?!"
"Di dalam!" Suara Gina pecah penuh penyesalan.
Mia menepuk pagar berkali-kali. "Buka! Bukaaaa!"
Sarah menoleh ke Gina, terengah. "Ma… lompat aja!"
Gina menatap atas pagar itu. Ia bisa melompat, tapi apakah dua anak itu bisa?
Mia menangis semakin keras. "Gue… gue gak bisa manjat. Gue gemeteran…"
"Mia!" Sarah memegang bahunya. "Gue bantu. Kita bisa."
Gina menggenggam pagar erat-erat. "Oke… kita manjat. Cepat sebelum—"
**BRUKKK!
Suara hantaman lagi. Kali ini jauh lebih dekat, dari dalam rumah.
Disusul suara langkah cepat.
Tidak… bukan langkah.
Seperti sesuatu merayap cepat di lantai.
Mia menjerit. "Dia mendekat! Sarah, cepet!"
Sarah menangkup wajah Mia. "Mia, lihat gue. Kita naik bareng."
Mia mengangguk, meski tubuhnya gemetar hebat.
Gina sudah memegang pagar, menyiapkan posisi memanjat. "Ayo, Tante dulu. Kalian nyusul."
Ia mengangkat tubuhnya perlahan, menapaki celah-celah besi pagar itu. Namun sebelum ia berhasil mencapai atas pagar—
**PRANGGG!
Suara pecahan kaca dari dalam rumah.
Diikuti oleh suara sesuatu yang melata cepat menuju pintu depan.
Sarah dan Mia spontan menoleh ke arah rumah… tepatnya ketika pintu depan bergetar hebat.
**DUG!
Sekali.
**DUG!
Dua kali.
**DUGGG!!!
Dan pintu itu terbuka setengah, bukan karena didorong… tapi karena engselnya patah.
Mia menutupi mulutnya sambil tersengal. "Tuhan…"
Dari dalam rumah, lorong tampak gelap.
Gelap total.
Padahal lampu menyala saat mereka keluar tadi. Sinar matahari juga masuk melalui celah jendela. Tapi lorong itu terlihat gelap gulita.
Dan dari kegelapan lorong itu, sebuah tangan pucat meraih kusen pintu. Bukan tangan manusia. Jari-jarinya terlalu panjang. Kukunya terlalu hitam.
Sarah merasakan darahnya membeku.
"Ma…" Sarah berbisik, tubuhnya membeku di tempat.
Gina menoleh dari atas pagar, wajahnya pucat. "Lari! Kalian berdua lari!"
Namun Sarah dan Mia tidak bergerak.
Tidak bisa.
Karena dari dalam kegelapan itu… perlahan muncul sesuatu.