Perawan Mahal sang Penggoda - Drama Queen - bab 10

23 November 2025

“Kau butuh sesuatu?” tanya Gar, mempersilakan Queen duduk di atas kasur.

“Aku butuh motorku.” Jawaban Queen cepat, ketus, dan matanya langsung menatap Gar yang duduk tenang sambil memegang map kontrak kosong.

“Soal motor itu aman. Besok aku ak...”

“Ih, kalau kaya ya langsung beli dong. Aku nggak percaya kalau bukan sekarang.” potong Queen sambil manyun.

Gar menghela napas seperti sedang membujuk balita. “Queen, hari sudah malam. Besok.”

“Alahhh, bilang aja emang kere.”

Gar sempat terdiam. Queen sendiri, baru sadar apa yang ia ucapkan. Matanya membesar. Mulutnya tertutup cepat-cepat.

Gar ikut bingung. “Ada apa?”

Queen merangkak mundur seperti melihat hantu. Lalu berdiri dan kabur ke arah pintu.

“Ada apa?” ulang Garendra, kini benar-benar panik.

Queen menunjuk Gar seperti memvonis kriminal. “Heh! Stop ya penculik! Kau pasti mau culik aku kan? Terus kirim aku ke luar negeri! Cih! Lima miliar itu cuma umpan! Nyatanya aku bakal dijual lebih mahal karena tubuhku ini sangat berharga!” Ia memeluk dirinya dramatis.

Gar menatapnya. Lama. Tidak percaya dengan alam semesta yang melahirkan pemikiran Queen.

“Astaga, kau tidak sepercaya itu sama aku?” Gar bertanya dengan nada nyaris frustasi.

Queen langsung menunjuk wajahnya dengan telunjuk gemetar dramatis. “YA! Sangat tidak percaya! Ini semua mencurigakan!”

Ia mulai berjalan mondar-mandir seperti detektif yang baru menemukan teori konspirasi terbesar abad ini.

“Pertama,” ucap Queen sambil mengacungkan satu jari, “kau bilang mau ganti motorku. Tapi sampai sekarang nihil. Lalu kau bilang ada kontrak, tapi map-nya kosong!”

Gar memijat kening. “Map-nya memang untuk...”

“Tunggu dulu! Belum selesai!” Queen menaikkan suara, tidak mengizinkannya bicara. “Kedua, kau beli aku dengan harga fantastis 5 miliar! Lima! Miliar!” Ia menepuk dadanya. “Dan sejauh ini kau tidak melakukan apa-apa ke aku. Itu lebih mencurigakan daripada kalau kau culik orang buat tebusan!”

Gar terdiam. Queen mengangguk cepat seolah membenarkan pikirannya sendiri.

“Ketiga,” katanya sambil mendekat ke Gar, “kau kunci aku di ruangan tanpa internet. Bahkan Google pun kabur dariku! Siapa yang melakukan itu kalau bukan penculik profesional?”

Queen kemudian menjerit pelan sambil memeluk diri. “Oh tidak, pasti aku akan dikirim ke luar negeri. Dimasukkan ke dalam koper atau peti kayu! Dijual secara internasional karena aku terlalu cantik untuk pasar lokal!”

Gar menatapnya tanpa kedip, mulutnya terbuka sedikit. “Queen. Tolong hentikan imajinasimu dua menit.”

“TIDAK BISA!” Queen mundur lagi, punggungnya menempel ke pintu. “Ini semua masuk akal! Kau sangat kaya, terlalu dingin, dan… dan… terlalu ganteng!”

Gar mengerutkan alis. “Apa hubungannya ganteng dengan penculik?”

“Justru itu masalahnya!” Queen menunjuknya lagi. “Penculik di TV selalu jelek. Tapi kau tampan. Itu berarti kau punya sumber daya, akses global, dan jaringan kriminal premium!”

Gar memejamkan mata seolah sudah menyerah pada kehidupan. “Queen, dengarkan aku...”

Queen malah menutup telinganya. “Tidak mau! Kau penculik kelas A+ yang profesional!”

Melihat Queen yang makin kacau dengan pikirannya sendiri, Gar akhirnya kehilangan kesabaran.

“Deko!!”

Teriakan itu menggema, dan dalam hitungan detik pintu terbuka. Deko muncul wajah serius, sikap sigap seperti baru dipanggil untuk memadamkan bom.

Namun Queen, yang berdiri hanya beberapa langkah dari pintu, langsung REFLEKS melompat seperti kucing yang lihat kesempatan kabur.

“AKU BEBAS!!”

Belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, Deko yang refleksnya jelas bukan manusia biasa menutup pintu secepat kilat. Ctak! Queen menghantam pintu dengan pasrah seperti karakter kartun.

Deko menatapnya bingung. “Nona… Anda berniat kabur?”

“Kau manusia jahat!” Queen menunjuk Gar dengan dramatis. “Kau mau jual aku ke mana, hah?! Kalau abangku tahu, dia bakal habis-habisan sama kamu! Aku akan ngadu sama dia!”

Gar mengerjap. “Kau punya abang?” Ia benar-benar bingung. “Pria yang kau peluk di depan gubuk itu, abangmu?”

Queen langsung memelototinya. “Kau penguntit! Kau penculik! Dasar penjahat! Tolong! Tolo... mmph!”

Gar langsung panik dan menutup mulut Queen dengan tangannya. “ASTAGA, Queen! Bisa kau diam sebentar saja?! Aku tidak menjualmu ke mana pun!”

Queen meronta seperti ayam baru ditangkap. “Mmpphh!! Mmmpphh!!”

“Deko, apa dia akan berhenti kalau aku lepaskan?” tanya Gar putus asa.

Deko menggeleng cepat. “Tidak, Tuan. Menurut pengalaman saya, tidak.”

Gar mendesah. Ia sudah menghadapi bisnis berdarah dingin, politik keluarga, ancaman pembunuhan tapi satu Queen benar-benar membuatnya ingin menyerah.

Akhirnya ia melepaskan tangan perlahan.

“Queen, dengar aku.” Nada Gar turun satu tingkat, mencoba sabar. “Tidak ada yang akan menjualmu. Tidak ke luar negeri. Tidak ke planet lain. Tidak ke mana pun.”

Queen langsung menatapnya dengan curiga setengah takut.

“LALU kenapa aku diKURUNG?!” teriak Queen.

“Karena…!” Gar hampir gila. “…karena aku tidak mau kau kabur!”

Queen diam. Sedetik. Dua detik.

Lalu— “BERARTI KAU MAU JUAL AKU!!” Queen memeluk dirinya sendiri dramatis. “Oh Tuhan tubuhku yang berharga.”

Gar langsung memukul pelan dahinya sendiri.

Deko menatap tuannya iba, pelan berbisik, “Sabar, Tuan. Sabar.”

Gar akhirnya menarik napas panjang dan mengangkat kedua tangannya menyerah. “Baiklah! Ayo kita beli motor! Sekarang! Kau mau bukti? Aku antarkan! Aku tunjukkan kalau aku TIDAK kere!”

Queen berhenti drama. Matanya langsung berbinar.

“…sekarang?”

“Sekarang.”

Queen menyipitkan mata, masih ragu. “Kau tidak akan kirim aku ke luar negeri?”

“Tidak.”

“Tidak akan jual aku ke orang-orang mencurigakan?”

“Tidak.”

“Tidak akan memasukkan aku ke koper besar?”

Gar menutup mata. “Tuhan, Queen… tidak.”

Queen akhirnya mengangguk pelan. “Bagus. Karena kalau kau bohong, abangku akan cari kau.”

Gar mengangkat alis. “Abangmu sangat menakutkan."

Queen menjawab sambil berjalan menuju pintu, sok misterius. “Yap, dia pahlawanku.”

Deko menunduk agar tidak ketawa.

Gar cuma bisa menghela napas. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasa kalah dalam argumentasi. Namun, ia sangat penasaran tentang abangnya Queen.

Bersambung