Sesuatu itu melangkah keluar dari kegelapan.
Tidak sepenuhnya terlihat, namun cukup untuk membuat tengkuk Sarah terasa seperti ditarik oleh tangan dingin.
Tubuh pucat itu condong ke depan, gerakannya patah-patah, seolah sendinya tidak bekerja seperti manusia. Rambut hitam panjang menutupi sebagian wajahnya, meneteskan sesuatu yang terlihat seperti cairan hitam pekat ke lantai.
Udara di sekitar halaman mendadak terasa lebih berat, seperti langit ikut menunduk menyaksikan apa pun yang sedang mendekat itu. Angin yang tadinya berembus pelan kini berhenti total, membuat suara detak jantung Sarah menjadi satu-satunya yang ia dengar di telinganya.
Mia memalingkan wajah sekilas ke arah rumah, seolah berharap ada sesuatu yang bisa mereka jadikan tempat berlindung, namun rumah itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya, seolah ikut mengusir mereka. Ia menggenggam tangan Sarah kuat sekali, sampai jari-jari mereka sama-sama memutih.
"Sarah…" bisiknya, hampir tidak bersuara. "Dia... dia keluar…"
Sarah tidak menjawab. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Makhluk itu maju satu langkah. Lalu satu lagi. Setiap langkahnya membuat tanah di sekitar terasa lebih berat, seperti berubah menjadi lumpur.
Sarah merasakan kakinya gemetar, bukan hanya karena takut, tetapi karena tanah di bawahnya benar-benar seperti bergerak sedikit, seolah makhluk itu menarik sesuatu dari dalam bumi setiap kali ia melangkah. Ada desis pelan yang menyertai langkah-langkahnya, suara yang mirip dengan benda panas yang dicelupkan ke air.
Gina sudah setengah berada di atas pagar. "SARAH! MIA! LARI SEKARANG!” teriaknya, panik bercampur putus asa.
Namun kedua gadis itu tidak bergerak.
Bukan karena tidak mau, tapi karena tubuh mereka terkunci oleh rasa takut yang begitu kuat, seolah ada tali tak kasat mata melilit pergelangan kaki mereka.
Makhluk itu memiringkan kepala. Gerakannya terlalu lambat, terlalu panjang, terlalu… salah. Mata hitamnya mengintip dari balik rambut, tatapannya melewati kedua gadis itu lalu berhenti tepat pada Mia.
"Mia…"
Suara itu keluar dari dua lapisan. Satu suara mirip manusia, satu lagi seperti suara sesuatu yang berbicara dari bawah tanah.
Mia langsung memelototkan mata. "Dia manggil gue..."
Makhluk itu melangkah lebih cepat, kali ini hampir seperti lari kecil. Sarah tersentak sadar, memaksa kakinya bergerak.
"MI! PEGANG TANGAN GUE! SEKARANG!" Sarah menarik lengan Mia dengan kekuatan yang baru muncul karena panik.
Mia tersandung tapi ikut berlari, meskipun tubuhnya gemetar.
Gina setengah melompat turun dari pagar. "Sini! Cepat! CEPAT!"
Makhluk itu mengeluarkan suara mendesis keras, lebih keras daripada hantaman mana pun sebelumnya.
SHRAAAGHHH!!!
Udara di sekitar mereka seperti bergetar.
Sarah menoleh sekilas, cukup untuk melihat makhluk itu merayap cepat, hampir menyentuh tanah, seperti tubuhnya tidak memiliki tulang. Setiap gerakannya menghasilkan suara seret yang menusuk telinga, seperti ada ratusan kuku menggaruk permukaan kaca secara bersamaan. Halaman yang tadi terang oleh cahaya matahari kini terasa lebih gelap, seolah cahaya menolak menyentuh makhluk itu.
Mia menjerit histeris. "SARAH CEPET! DIA DI BELAKANG!"
"GUE TAU!"
Mereka berlari menuju pagar. Sementara Gina sudah berada di tengah, berusaha mengulurkan tangan. "Ayo cepat! Mama tarik kalian!"
Langkah makhluk itu semakin cepat. Suara gerakannya seperti kuku panjang yang menyeret tanah.
Sarah hampir mencapai pagar.
Mia terjatuh.
"MI!!"
Sarah berhenti spontan, memutar balik, menarik Mia berdiri. Tapi makhluk itu sudah sangat dekat, hanya sekitar tiga meter, dan bayangannya menelan cahaya matahari.
Mia menjerit. "JANGAN TINGGALIN GUE! JANGAN—"
"Gue gak akan tinggalin lo!" Sarah memeluk lengan Mia kuat-kuat.
Makhluk itu merentangkan tangan panjangnya, kukunya menggores tanah, meninggalkan bekas seperti parit kecil.
Gina di balik pagar berteriak tak terkendali. "LARI!! LARI!!! KE SINI, CEPAT!!"
Makhluk itu meloncat.
Sarah merasakan udara dingin menyentuh punggungnya ketika sesuatu bergerak dari belakang, sangat cepat.
Dan—
BRAAAKKK!!!
Suara keras menggema di halaman depan, seperti sesuatu yang baru saja dilempar dari balik pagar, menghantam makhluk itu.
Mia menjerit dan menutup wajahnya. Sementara Sarah langsung menoleh.
Seseorang berdiri di sisi luar pagar.
Seorang pria.
Punggungnya lebar, tubuhnya tegang, napasnya tersengal. Bajunya kusut, dan rambutnya terlihat berantakan.
Gina memekik. "M-Mas?!"
Mauro.
Mia terkejut sampai dia berhenti menangis.
Sarah merasa lututnya melemas. "Pa…"
Mauro memanjat melompati pagar, lalu berjalan ke arah Sarah dan Mia.
"Menjauh dari anakku!" ucap Mauro dengan suara rendah, berat, dan penuh kemarahan yang belum pernah Sarah dengar sebelumnya.
Makhluk itu perlahan bangkit. Tubuhnya miring, seperti tulangnya patah, namun tetap bergerak.
Dalam beberapa detik itu, dunia terasa berhenti. Burung-burung yang biasanya berkicau di sekitar rumah pun entah menghilang ke mana, seolah seluruh alam menjauh dari sesuatu yang berada di depan mereka. Bahkan angin tidak lagi bergerak, udara menggantung seperti sedang menunggu hasil dari konfrontasi tersebut.
Mauro menatapnya tanpa berkedip.
Makhluk itu mengeluarkan suara serak panjang, seperti napas dari paru-paru yang penuh tanah. Namun Mauro tidak mundur satu langkah pun.
"Pergi…"
Kata itu seolah bukan hanya sekedar kata, tapi perintah.
"Aku bilang," Mauro menggeram. "PERGI!"
Makhluk itu berhenti. Bahunya terangkat seperti sedang mencium udara. Lalu kepalanya menoleh perlahan ke arah Mia, bukan ke Mauro.
Senyumnya muncul.
Senyum tidak manusiawi.
Dan tanpa suara langkah, makhluk itu menghilang begitu saja.
Tidak berlari. Tidak melompat.
Lenyap. Seperti bayangan yang ditarik dari dunia ini dalam sekejap.
Hening.
Mia terisak. "Dia… dia pergi?"
Gina menutup mulutnya, tubuhnya kini sudah kembali turun dari pagar dan menapak tanah. "Oh Tuhan…"
Sarah merasa napasnya kembali, meski masih tercekat. Ia hampir jatuh jika Mia tidak memeganginya.
Mauro menoleh ke arah mereka. Wajahnya pucat, tapi matanya masih penuh adrenalin. "Kalian bertiga… cepat ke sini." Suaranya bergetar, tapi tegas.
Sarah dan Mia berlari mendekat dengan langkah goyah. Begitu pula dengan Gina.
Begitu mereka mendekat, Mauro menarik Gina ke pelukannya, lalu merangkul Mia dan Sarah bersamaan.
"Papa… Papa dari mana? Kenapa baru muncul sekarang?" Tangisan Sarah pecah.
Mauro tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia memeriksa lengan Sarah dan Mia, memastikan tidak ada luka.
"Dia nyentuh kalian?" Suara Mauro rendah, hampir seperti geraman.
Sarah menggeleng. "Gak sempat, Pa. Tapi… dia tadi—"
Mauro menghela napas berat. "Kita sudah gak aman di sini."
Gina menatap Mauro, matanya berair. "Mas… kamu tadi dari mana? Kenapa kamu—"
Mauro memandang istrinya dengan penuh penyesalan. "Maaf, ternyata rapat hari ini berjalan lebih lama dari biasanya. Dekat kantor Papa juga ada kecelakaan, jadi lumayan macet. Maaf Papa datang terlambat."
Gina menghela napas. "Yang penting kamu sudah di sini, Mas. Selanjutnya kita harus apa? Masuk kembali ke dalam rumah pun sepertinya mustahil," ucapnya sambil melirik kediaman mereka.
Mauro mengangguk setuju. "Kita pergi ke tempat kenalan Papa. Untuk sementara, kita menginap di sana."
"Apa kali ini benar-benar aman, Om? Sebelumnya Tante juga bilang kalau rumah kalian aman, tapi ternyata enggak sama sekali," sindir Mia secara halus.
Gina berdeham, lalu menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Maaf, Nak. Tante gak nyangka kalau makhluk itu muncul lagi."
Mauro menghela napas panjang, kemudian tersenyum tipis. "Kamu pasti yang namanya Mia."
Mia tersenyum canggung sambil menunduk sopan.
"Maaf karena kamu harus mengalami hal mengerikan tadi di rumah kami. Tapi setidaknya, kamu gak perlu khawatir lagi karena kenalan Om terbiasa berurusan dengan makhluk gaib seperti itu. Jadi, Om rasa kita akan aman di sana. Om juga sudah cerita soal cermin itu dan kamu yang menjadi target selanjutnya. Dia bilang akan membantu."
Mia dan Sarah saling menatap, ada secercah harapan yang sempat hilang selama dua hari terakhir. Meskipun tubuh mereka masih gemetar, ada kelegaan kecil yang merayap masuk ke dalam dada mereka. Gina menggenggam tangan Sarah erat-erat, seolah ingin memastikan putrinya benar-benar aman.
Namun, tanpa mereka sadari, kekuatan cermin itu lebih kuat dari yang mereka kira.