Pemanggil Ajal

Penulis Levanter
24 November 2025

Mobil melaju menembus senja yang mulai terlihat, meninggalkan halaman rumah Mauro yang masih terasa seperti dipenuhi sisa-sisa kehadiran makhluk itu. Di dalam mobil, suasana begitu sunyi sehingga suara mesin pun terdengar lebih keras dari biasanya.

Sarah memeluk kedua lututnya erat-erat, sedangkan Mia menempelkan kepala ke jendela, masih terisak kecil meski sudah berusaha menahannya. Gina duduk di samping Mauro, sesekali menoleh ke belakang memastikan kedua gadis itu masih utuh baik secara fisik maupun batin.

"Ki Surya tinggal agak jauh dari sini," ucap Mauro akhirnya, mencoba mencairkan suasana. "Rumahnya memang… berbeda. Tapi kalian gak perlu takut. Dia orang baik."

Mia menelan ludah. "Beda… kayak gimana, Om?"

Mauro tidak langsung menjawab. Hanya menghela napas sebelum berkata lirih, "Kamu akan lihat sendiri nanti. Yang penting, dia bisa bantu kalian."

Mia mengangguk pelan mengiyakan. Sementara Sarah tidak yakin apakah itu menenangkan atau justru membuat rasa takutnya bertambah.


Butuh waktu sekitar hampir dua jam sebelum mobil mereka berbelok ke sebuah jalan kecil yang dikelilingi pepohonan besar.

Di ujung jalan itu, berdiri sebuah rumah luas berarsitektur Jawa tua dengan halaman yang dipenuhi batu-batu hitam berukuran sedang. Rumah itu tampak asing, seperti tidak benar-benar berada di masa kini.

Lampu-lampu kuning redup menyala di teras. Aroma dupa samar tercium bahkan sebelum Mauro memarkirkan mobilnya.

"Ini tempatnya?" tanya Gina, suaranya agak bergetar.

Mauro mengangguk. "Ki Surya sudah nunggu."

Begitu mereka turun dari mobil, udara terasa berbeda. Lebih berat, tapi tidak menakutkan. Seolah rumah itu memiliki batas pelindung yang tak terlihat.

Pintu depan bergerak sendiri, membuka perlahan. Dari balik kegelapan, muncul sosok pria tua berambut putih panjang yang diikat sederhana. Matanya tajam, namun tidak terlihat jahat.

"Mas Mauro," katanya dengan suara serak namun tenang. "Masuklah. Waktu kalian tidak banyak."

Sarah menelan ludah. Hanya mendengar suaranya saja membuat bulu kuduk berdiri. Bukan karena takut, tetapi karena rasa hormat yang muncul tiba-tiba.

"Ki… ini Gina, istri saya. Sarah, anak saya. Dan Mia, teman anak saya sekaligus target 'mereka' yang saya ceritakan sebelumnya," Mauro memperkenalkan.

Ki Surya mengangguk pelan, menatap ketiganya dalam-dalam. "Aku sudah melihat bayangannya dari jauh. Kalian membawa sesuatu yang tidak seharusnya berada di dunia manusia terlalu lama."

Jantung Sarah berdegup cepat. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Ki Surya barusan.

Kemudian mereka dibawa masuk ke sebuah ruang tamu luas yang dipenuhi lemari tua, wayang, dan benda-benda kuno yang tidak Sarah ketahui namanya.

Ki Surya melangkah ke meja kecil dan mengambil segelas air bening, lalu menaruhnya di hadapannya sendiri. "Duduklah," katanya.

Keempatnya duduk. Mauro dan Gina berdampingan, berpegangan tangan seperti saling mencari kekuatan. Sementara Sarah dan Mia duduk di seberang, terkadang masih menoleh dan mengamati ruangan tersebut.

Ki Surya akhirnya membuka percakapan.

"Cermin itu," ia mulai, "bukan benda sembarangan. Orang menyebutnya cermin kematian, tapi itu hanya istilah yang terlalu ringan untuk menjelaskan asal-usulnya."

Mia mengerutkan kening, bergumam pada dirinya sendiri tetapi masih terdengar samar bagi orang lain. "Ringan? Padahal… dia hampir bunuh gue."

"Betul," jawab Ki Surya sambil tersenyum. "Karena yang keluar dari cermin itu bukan sekadar hantu. Itu adalah pemanggil ajal."

Sarah merasakan dadanya serasa ditusuk dari dalam. "Pemanggil… ajal?"

Ki Surya mengangguk. "Ia muncul ketika seseorang menolak takdir kematian yang sudah ditetapkan. Setiap orang yang menatap cermin itu akan dilihat sebagai ‘calon’, dan makhluk itu akan terus mengejar sampai satu nyawa benar-benar diambil."

Ruangan terasa membeku. Mia menutup mulutnya, seolah tubuhnya menolak menerima kenyataan itu.

"Tapi… saya dan mama beberapa kali berkaca di cermin itu. Untungnya kami masih hidup sampai sekarang," ucap Sarah sambil melirik ke arah Gina, yang kemudian disambut anggukan olehnya.

Ki Surya menatap Sarah dan Gina bergantian, kemudian tersenyum. "Makhluk itu tidak akan mudah menargetkan kalian. Meski mereka berhasil mengganggu, tapi mereka tidak akan bisa benar-benar menyakiti kalian."

"Maksud Ki Surya? Kenapa mereka tidak bisa menyakiti kami?" tanya Gina, penasaran.

"Kalian masing-masing memiliki penjaga. Meski tidak sekuat makhluk itu, tapi penjaga kalian cukup gigih hingga bisa melindungi kalian dari makhluk itu."

Baik Gina maupun Sarah, saling memandang dengan wajah bingung.

Ki Surya tertawa kecil. "Kalian bisa bertanya nanti pada Mauro soal penjaga itu jika kalian penasaran."

Kini tatapan Sarah dan Gina beralih ke Mauro. Yang ditatap hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala.

"Kalau dipikir-pikir, tadi makhluk itu bisa pergi," Sarah berkata pelan. "Waktu Papa datang."

Ki Surya memandang Mauro. "Keberanian kadang bisa membuat makhluk seperti itu mundur sebentar. Tapi bukan berarti hilang."

"Berarti dia bisa dibasmi?" Mia bertanya cepat, penuh harapan.

Ki Surya terdiam beberapa detik.

"Tidak."

Jawaban itu seperti membuat seluruh harapan sirna.

"Makhluk itu tidak bisa dibasmi atau dimusnahkan," lanjutnya. "Tapi… ia bisa dihentikan sementara. Hanya sementara. Dan itu pun butuh risiko besar."

Mia membeku. "Terus… dia bakal terus ngejar saya?"

"Harusnya, ya," jawab Ki Surya. "Tapi… targetnya bisa saja berubah karena satu dan lain hal."

"Targetnya bisa berubah, Ki?" Sarah memastikan ulang.

Ki Surya mengangguk. "Ada ritual tertentu untuk mewujudkannya, dan tidak mudah. Kalian harus paham risikonya."

Mia mencondongkan tubuh, kedua tangannya meremas satu sama lain. "Risiko kayak gimana, Ki? Selama saya bisa hidup… saya siap. Apa pun."

Ki Surya menatapnya dalam-dalam, seolah menilai apakah keberanian itu sungguh tulus atau hanya didorong rasa takut. "Ritual ini tidak hanya memindahkan bahaya. Ia memindahkan takdir. Dan takdir tidak pernah berpindah tanpa meninggalkan harga yang harus dibayar."

Mia mengerutkan alis. "Takdir… bisa dipindahin?"

"Bukan dipindahkan sepenuhnya," jawab Ki Surya pelan. "Lebih tepatnya… dialihkan. Seperti arus sungai yang dipaksa mengalir ke jalur lain. Tapi tetap saja, ada yang harus menahan dampaknya."

Sarah merasakan bulu kuduknya berdiri. "Dampak apa, Ki?"

"Setiap manusia memiliki jejak energi yang tercatat dalam bayangan hidupnya," Ki Surya menjelaskan. "Ketika seseorang menatap cermin kematian, bayangan itu berubah. Makhluk pemanggil ajal akan menikahi jejak itu, menandainya sebagai miliknya."

Mia menggigil. "Menikahi? Maksud Ki Surya… terikat?"

"Ya," Ki Surya mengangguk. "Ia akan menempel seperti lintah, mengikuti ke mana pun jejak itu pergi. Namun jika jejak itu terganggu oleh rasa takut yang kuat, rasa bersalah, amarah, atau interaksi tertentu, maka ikatannya melemah. Makhluk itu kemudian mencari bayangan lain yang memiliki getaran paling mirip dengan ‘ketakutan terakhir’ korban."

Mia menatapnya, bingung sekaligus ketakutan. "Berarti… dia lagi cari target baru sekarang?"

Ki Surya tidak langsung menjawab. Suasana menjadi sangat hening sampai suara gesekan bambu dari luar rumah terdengar jelas.

"Sudah," katanya akhirnya. "Ia sedang mencari. Tapi ia belum menemukan. Jejaknya masih samar."

Sarah mencoba meredakan debaran jantungnya. "Kalau masih samar… berarti kita masih punya waktu?"

"Ada waktu," Ki Surya menjawab. "Tapi sangat sedikit. Begitu malam turun sepenuhnya, pemanggil ajal itu akan mencoba membaca jejak terkuat. Dan jika ia menemukan… ia akan bergerak tanpa bisa dihentikan."

Gina menggenggam tangan Mauro erat-erat. "Ki… apa yang bisa kami lakukan?"