Drama

Mendadak Kawin-Kunci Cadangan-Bab 6

24 November 2025

Panas terik matahari di desa itu seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan panas yang membakar dada Bisma saat ini.

Jam istirahat makan siang di lokasi syuting yang digelar di lapangan balai desa riuh oleh suara kru. Di bawah tenda besar, Bisma duduk menyendiri, menusuk-nusuk ayam goreng di kotak nasinya dengan garpu plastik seolah ayam itu punya salah besar padanya.

Matanya tidak lepas dari pemandangan di seberang sana.

Di meja kayu panjang, Sandra duduk bersebelahan dengan Alex. Aktor pendukung yang memerankan sahabatnya itu sedang tertawa lebar, mencondongkan tubuhnya terlalu dekat ke arah Sandra. Alex bahkan dengan santainya mengambil tisu dan menyodorkannya ke Sandra saat wanita itu tersedak pelan.

“Pelan-pelan, San. Nggak ada yang minta nasi kamu, kok,” ucap Alex, suaranya terdengar samar-samar tapi nada sok perhatian-nya jelas tertangkap radar Bisma.

Sandra tersenyum canggung, menerima tisu itu. “Makasih, Lex.”

‘Kagak ada harga dirinya banget gua jadi suami. Istri digandeng, diperhatiin laki-laki lain tepat di depan mata gue, dan gue cuma bisa diem kayak orang bego.’

Bisma meremas botol air mineral di tangannya hingga penyok. Suara krek plastik itu membuat Nadine, yang duduk di meja sebelah, menoleh.

Nadine menatap Bisma, lalu mengikuti arah pandang pria itu ke meja Sandra dan Alex. Kening Nadine berkerut. Dia tidak langsung berkomentar. Dia hanya mengamati.

‘Kenapa Bisma sekesal itu?’ batin Nadine. ‘Oke, Alex memang caper, tapi reaksi Bisma berlebihan. Dia menatap Sandra bukan kayak lawan main yang peduli, tapi kayak... pemilik yang barangnya diambil orang.’

Nadine menyuapkan nasinya pelan, matanya bolak-balik menatap Bisma yang menahan amarah dan Sandra yang terlihat tidak nyaman namun pasrah. Ada dinamika aneh di antara mereka berdua. Sesuatu yang tidak tertulis di naskah, dan pasti tidak ada di press release media.

“Panas ya, Bis?” pancing Nadine pelan, mencoba mengetes air.

Bisma menoleh tajam, menyadari dia diperhatikan. “Hah? Iya. AC di tenda ini nggak guna.”

“Oh,” Nadine mengangguk, pura-pura polos. “Kirain panas liat yang lain.”

Bisma tidak menjawab. Dia berdiri kasar, membuang kotak makannya yang masih setengah penuh ke tong sampah, lalu berjalan pergi meninggalkan tenda. Nadine menatap punggung Bisma yang menjauh dengan tatapan penuh perhitungan. Instingnya mengatakan ada rahasia besar yang sedang disembunyikan, dan dia bertekad untuk menemukannya.

Malam harinya, suasana di penginapan—rumah joglo besar milik Pak Haji Sobri yang disewa produksi—terasa lebih tenang.

Bisma berjalan menuju ruang belakang, tempat Pak Haji Sobri sedang menghitung stok beras. Bisma menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada kru atau manajernya yang melihat.

“Pak Haji,” panggil Bisma pelan.

Pak Sobri menoleh, membetulkan pecinya. “Eh, Mas Bisma. Ada apa? Kamarnya kurang dingin?”

Bisma menggeleng. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan amplop tebal berisi uang tunai yang sudah dia siapkan dari ATM di kota kecamatan tadi siang. Dia meletakkannya di atas meja, digeser pelan ke arah Pak Sobri.

Pak Sobri melirik amplop itu, lalu menatap Bisma bingung. “Ini apa, Mas?”

“Sedekah, Pak. Buat renovasi musala desa,” kata Bisma datar. “Tapi saya butuh bantuan Bapak.”

“Bantuan apa?”

“Kunci cadangan,” bisik Bisma. “Kunci kamar Sandra.”

Mata Pak Sobri membelalak. “Waduh, Mas. Nggak boleh itu. Privasi. Nanti kalau Mbak Sandra marah gimana? Mas kan...”

“Saya suaminya, Pak,” potong Bisma tegas, menatap mata Pak Sobri dalam-dalam. “Bapak tahu itu. Bapak saksinya malam itu.”

Pak Sobri terdiam. Dia memang tahu. Seluruh desa tahu insiden di pondok dan pernikahan darurat di balai desa malam itu. Tapi mereka sudah disumpah oleh Bu Nia untuk tutup mulut.

“Saya cuma mau pastiin istri saya aman, Pak,” lanjut Bisma, memasang wajah serius yang meyakinkan. “Dia sering sakit. Dia punya riwayat... tidur berjalan. Saya takut dia kenapa-napa kalau pintunya dikunci dari dalem dan saya nggak bisa masuk.”

Alasan yang konyol, tapi uang di meja itu terlihat sangat menggoda. Dan secara teknis, agama tidak melarang suami masuk ke kamar istri.

Pak Sobri menghela napas, lalu membuka laci mejanya. Dia mengambil sebuah kunci besi tua dengan gantungan tali rafia.

“Inget ya, Mas. Kalau ada ribut-ribut, saya nggak tahu apa-apa,” kata Pak Sobri sambil menyerahkan kunci itu.

Bisma tersenyum tipis, mengambil kunci itu dan menyimpannya di saku. “Aman, Pak. Terima kasih.”

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Lorong penginapan sunyi senyap. Sandra sedang mandi, terdengar dari suara gemericik air di kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya.

Bisma berdiri di depan pintu kamar Sandra. Jantungnya berdegup kencang. Ini gila. Dia menyuap orang demi masuk ke kamar wanita yang menamparnya kemarin. Tapi rasa penasaran dan possessif-nya mengalahkan logika.

‘Gue cuma mau ngecek. Kali aja dia nyimpen naskah rahasia atau... atau chat sama Alex,’ batin Bisma mencari pembenaran.

Dia memasukkan kunci cadangan. Klik. Pintu terbuka.

Bisma menyelinap masuk dan menutup pintu tanpa suara.

Kamar itu berantakan. Khas Sandra. Naskah berserakan di meja, baju-baju kotor di kursi. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian Bisma: Koper besar Sandra yang terbuka lebar di pojok ruangan.

Bisma mendekat. Di antara tumpukan baju, ada sebuah kotak kayu kecil yang menyembul. Kotak yang sangat Bisma kenal.

Tangannya gemetar saat meraih kotak itu. ‘Nggak mungkin. Dia nggak mungkin bawa ini kalau dia benci gue.’

Bisma membukanya.

Di dalamnya, tersimpan rapi kenangan masa lalu mereka. Tiket bioskop yang tintanya sudah pudar. Gelang tali dari pasar malam. Dan selembar foto polaroid mereka berdua yang sedang tertawa lepas, dengan tulisan tangan Sandra di baliknya: ‘My Komodo. Forever.’

Bisma terpaku. Senyum tipis tanpa sadar terukir di bibirnya. Hatinya menghangat. Sandra tidak membuangnya. Sandra membawanya.

“NGAPAIN LU DI SINI?!”

Teriakan itu memecahkan keheningan. Bisma terlonjak, kotak di tangannya nyaris jatuh.

Dia berbalik. Sandra berdiri di ambang pintu kamar mandi, masih berbalut handuk kimono, rambutnya basah kuyup. Wajahnya pucat karena kaget, lalu berubah merah padam karena marah.

“Bisma! Lu gila?! Lu masuk kamar gue?!” Sandra berlari mendekat, menyambar kotak itu dari tangan Bisma.

“Pintu lu nggak dikunci,” bohong Bisma cepat, menyembunyikan kunci cadangan di saku belakangnya.

“Bohong! Gue kunci!”

“Rusak kali kuncinya. Rumah tua,” elak Bisma lagi, berusaha terlihat tenang meski jantungnya mau copot. Dia menunjuk kotak di pelukan Sandra dengan dagunya. “Daripada bahas pintu, mending bahas itu. Buat apa lu bawa sampah masa lalu ke sini?”

Sandra mendekap kotak itu erat-erat ke dadanya, seolah melindungi nyawanya. “Bukan urusan lu!”

“Jelas urusan gue. Itu foto gue,” kata Bisma, melangkah maju, mendesak Sandra mundur hingga pinggul wanita itu menabrak meja rias. “Lu bilang lu benci gue. Lu nampar gue. Tapi lu bawa kenangan kita ke lokasi syuting? Lu nggak bisa move on, San?”

“Pede banget lu!” sergah Sandra, suaranya bergetar panik. “Ini... ini nggak sengaja kebawa! Gue lupa beresin koper!”

“Lupa?” Bisma tertawa rendah, mencondongkan wajahnya. “Lupa kok disimpen rapi di kotak khusus? Lu masih cinta sama gue, kan?”

“Nggak!”

“Mata lu nggak bisa bohong, San.”

“Keluar, Bisma. Atau gue teriak.”

“Teriak aja. Biar semua orang tahu kita lagi berduaan di kamar. Biar Nadine tahu. Biar Alex tahu.”

Sandra terdiam, kalah telak. Dia tidak bisa mengambil risiko itu.

Bisma tersenyum menang. Dia mundur selangkah. “Simpen aja kotaknya. Siapa tahu nanti lu butuh buat nangis kalau kangen gue.”

Bisma berbalik dan berjalan keluar kamar dengan santai, meninggalkan Sandra yang merosot lemas ke lantai sambil memeluk kotak itu.

Di luar, di ujung lorong yang remang-remang, Nadine berdiri mematung di balik pilar kayu.

Dia melihat Bisma keluar dari kamar Sandra. Dia melihat senyum aneh di wajah Bisma. Dia tidak mendengar percakapan mereka, tapi dia tahu satu hal: Bisma punya akses ke kamar Sandra, dan Sandra tidak berteriak mengusirnya.

Kecurigaan Nadine semakin tebal.

‘Bisma masuk kamar Sandra malem-malem? Tanpa ribut-ribut?’

Nadine mengepalkan tangannya. ‘Ada yang nggak beres. Hubungan mereka bukan cuma rekan kerja yang nggak akur. Ada sesuatu yang lebih dalam. Dan gue bakal cari tahu apa itu.’

Nadine berbalik pelan, kembali ke kamarnya sendiri dengan otak yang penuh rencana untuk menguji teorinya besok.