Sinar matahari pagi menembus celah tirai tipis di kamar Sandra, namun kehangatannya tidak mampu mengusir rasa dingin yang menyelimuti hatinya. Dia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya, matanya menatap kosong ke arah koper yang tertutup rapat di pojok ruangan.
Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu yang semalam menjadi saksi bisu pertengkaran hebatnya dengan Bisma. Kotak yang seharusnya menjadi rahasia, kini telah dilihat oleh satu-satunya orang yang tidak boleh melihatnya.
‘Kenapa dia harus masuk? Kenapa dia harus tahu?’
Sandra mengacak rambutnya frustrasi. Dia ingat tatapan Bisma semalam. Tatapan itu bukan tatapan penuh kemenangan karena berhasil menangkap basah dirinya. Tatapan itu... ada luka di sana. Ada harapan yang menyakitkan. Dan yang paling parah, ada seringai arogan saat pria itu berkata, “Mata lu nggak bisa bohong, San.”
“Sialan lu, Komodo,” desis Sandra pada dinding kosong.
Dia bangkit, memaksa tubuhnya yang lemas untuk bersiap. Hari ini adalah hari syuting yang berat. Bukan karena adegannya sulit—dia yang menulis naskahnya, dia tahu emosinya—tapi karena dia harus berhadapan dengan Bisma lagi. Dan kali ini, dia tidak punya topeng untuk bersembunyi.
Lokasi syuting hari ini diset di sebuah taman desa yang asri. Rumput hijau, pohon beringin besar, dan bangku taman tua menjadi latar belakang adegan pertengkaran antara Anna (Sandra) dan Nicho (Bisma).
Kru sudah sibuk mondar-mandir mengatur pencahayaan dan kamera. Angga, sang sutradara, sedang berdiskusi serius dengan penata kamera.
Sandra datang dengan membawa naskahnya, mencoba tersenyum pada kru yang menyapanya.
“Pagi, Mbak Sandra!”
“Pagi, Mas.”
Dari sudut matanya, dia melihat Bisma. Pria itu sedang duduk di kursi lipat, dikelilingi oleh makeup artist dan asistennya. Dia memakai kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung, memperlihatkan jam tangan kulit yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh. Dia tertawa pada lelucon seseorang, tawa yang terdengar renyah dan... palsu.
Sandra tahu tawa itu. Itu tawa Bisma saat dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba, Bisma menoleh. Mata mereka bertemu.
Senyum Bisma lenyap seketika. Dia menatap Sandra dengan intensitas yang membuat Sandra ingin lari. Tatapan itu seolah berkata, ‘Gue tahu rahasia lu.’
Bisma kemudian bersiul pelan, lalu mengedipkan sebelah matanya. Sialan.
Sandra membuang muka, pipinya memanas. Dia berjalan cepat menuju spot tunggu para pemain, berharap bisa menghindari Bisma sampai kamera menyala.
Namun, takdir—atau lebih tepatnya, Alex—punya rencana lain.
“Pagi, San! Wah, mata kamu bengkak banget. Abis nangis?” sapa Alex ceria, tiba-tiba muncul di sampingnya sambil membawa kipas angin portable berwarna neon.
Sandra terlonjak. “Eh, Alex. Pagi. Nggak kok, cuma kurang tidur. Nyamuknya ganas.”
“Masa? Sini aku liat.” Alex mencondongkan wajahnya, meneliti mata Sandra dengan jarak yang terlalu dekat. “Iya nih, kantung matanya gede. Nanti minta concealer yang tebelan sama Mbak Tati ya.”
Alex kemudian mengarahkan kipas angin itu ke wajah Sandra. “Nih, biar adem. Muka kamu merah banget.”
“Makasih, Lex,” gumam Sandra, mencoba mundur sedikit. Alex memang baik, tapi terkadang personal space-nya agak bermasalah.
Di seberang sana, Bisma yang sedang dibedaki, langsung menepis tangan makeup artist-nya.
“Mas, belum rata...” protes mbaknya.
“Udah ganteng,” ketus Bisma. Dia berdiri, matanya menyalang menatap Alex yang sedang mengipasi Sandra seperti dayang-dayang.
Rahang Bisma mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
‘Liat tuh buaya darat. Pake segala kipasin. Emang Sandra sate?!’
Bisma ingin sekali melempar naskah di tangannya ke kepala Alex. Tapi dia ingat kejadian semalam. Dia ingat kotak kayu itu. Dia ingat betapa rapuhnya Sandra saat ketahuan. Jika dia membuat keributan sekarang, Sandra akan semakin membencinya. Dan mungkin, Sandra akan benar-benar membuang kotak itu.
Bisma menahan diri. Dia menarik napas panjang, mencoba menyalurkan 'Zen' yang tidak pernah dimilikinya.
Tapi kemudian, Nadine bergerak.
Nadine, yang sejak tadi duduk diam sambil main HP tak jauh dari Bisma, tiba-tiba berdiri. Dia mengambil dua botol air mineral dingin dari cooler box dan berjalan menghampiri Bisma.
“Minum, Bis? Keliatannya kamu butuh yang dingin-dingin,” kata Nadine, menyodorkan botol itu tepat di depan dada Bisma.
Bisma menoleh, sedikit kaget. Dia mengambil botol itu tanpa menatap Nadine. “Thanks.”
“Sama-sama,” Nadine tersenyum manis—terlalu manis. Dia tidak pergi. Dia malah berdiri di samping Bisma, ikut menatap ke arah Sandra dan Alex.
“Mereka akrab banget ya,” komentar Nadine, nadanya ringan seperti kapas tapi tajam seperti silet.
Bisma membuka tutup botol dengan kasar. Krek. “Biasa aja.”
“Masa? Liat tuh,” tunjuk Nadine dengan dagunya. Alex sedang membenarkan letak rambut Sandra yang tertiup angin. “Alex perhatian banget. Jarang-jarang lho ada aktor cowok yang mau ribet ngurusin rambut lawan mainnya. Kecuali... ada rasa.”
Bisma meneguk airnya rakus, berharap air dingin itu bisa memadamkan api di dadanya. “Alex emang caper. Semua orang tau.”
“Atau mungkin Sandranya yang mancing?” pancing Nadine lagi, matanya melirik reaksi Bisma.
Bisma tersedak. Dia batuk-batuk, air tumpah sedikit ke kemejanya. “Uhuk! Apaan sih lu? Mancing apaan?”
“Ya siapa tau,” Nadine mengangkat bahu, wajahnya sok polos. “Sandra kan penulis. Dia pinter bikin skenario. Mungkin di dunia nyata juga dia lagi bikin skenario cinta lokasi. Lumayan kan buat naikin pamor?”
“Jaga mulut lu, Nad,” desis Bisma, suaranya rendah dan berbahaya. Dia menatap Nadine tajam. “Sandra bukan cewek murahan kayak gitu.”
Nadine terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan pembelaan spontan Bisma. Alisnya terangkat satu.
“Wow. Santai, Bos,” Nadine tertawa kecil, tapi matanya tidak tertawa. “Aku cuma bercanda. Kenapa kamu defensif banget? Emang dia siapa kamu? Istri?”
Pertanyaan itu menohok jantung Bisma.
‘Istri.’ Kata itu bergaung di kepalanya. Ya, Sandra memang istrinya. Istri sah yang dinikahkan di depan penghulu dan saksi, meskipun dalam keadaan konyol.
Bisma membuang muka, berusaha menutupi kegugupannya. “Rekan kerja. Gue nggak suka rekan kerja gue diomongin yang nggak-nggak.”
“Profesional banget,” sindir Nadine. “Tapi... profesionalitas itu nggak ngejelasin kenapa semalam aku liat kamu keluar dari kamar Sandra.”
DEG.
Bisma membeku. Botol di tangannya nyaris remuk. Dia menoleh perlahan ke arah Nadine. Wajah wanita itu terlihat tenang, tapi ada kilatan licik di matanya.
“Lu... liat apa?” tanya Bisma, suaranya serak.
“Liat kamu. Keluar dari kamar nomor 4. Kamar Sandra,” bisik Nadine, mendekatkan wajahnya. “Jam sepuluh malem. Pas semua orang udah tidur. Dan muka kamu... senyum-senyum sendiri.”
Bisma menelan ludah. Sialan. Dia pikir lorong itu sepi.
“Lu salah liat,” elak Bisma cepat.
“Mata gue masih minus nol, Bis. Gue nggak salah liat,” Nadine tersenyum miring. “Kalian backstreet, ya? Atau... friends with benefits?”
Darah Bisma mendidih. Tuduhan Nadine semakin liar. Dia harus menghentikan ini sebelum Nadine menyebarkan gosip murahan yang bisa menghancurkan Sandra.
“Gue ke sana mau ambil skrip!” bohong Bisma, suaranya sedikit naik. “Skrip gue ketinggalan pas reading sorenya. Sandra lupa balikin. Gue ketok, dia nggak denger, pintunya nggak dikunci, jadi gue masuk ambil sendiri. Puas lu?”
Nadine menatapnya lekat-lekat. Mencari celah kebohongan. Alasan itu terdengar masuk akal, tapi ekspresi Bisma terlalu tegang untuk sekadar urusan skrip.
“Oh... skrip,” Nadine mengangguk pelan, pura-pura percaya. “Kirain. Soalnya aneh aja. Sandra kan orangnya tertutup. Masa pintunya nggak dikunci?”
“Rumah tua, kuncinya dol,” kata Bisma, mengulangi alasan yang dia berikan pada Sandra semalam.
“Oke, oke. Case closed,” Nadine mengangkat tangan tanda menyerah. “Tapi hati-hati, Bis. Tembok di sini punya kuping. Kalau orang lain yang liat... gosipnya bisa beda.”
Nadine menepuk bahu Bisma pelan, lalu berjalan pergi meninggalkan Bisma yang masih tegang.
Bisma menghela napas panjang. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Nadine bukan orang bodoh. Dia pengamat yang teliti. Bisma sadar dia harus lebih hati-hati.
Dan dia harus memperingatkan Sandra.