“Oke, stand by! Kamera rolling... Action!” seru Angga.
Suasana set hening seketika.
Sandra (sebagai Anna) berdiri berhadapan dengan Bisma (sebagai Nicho). Mata mereka bertemu. Kali ini, tidak ada kecanggungan. Hanya ada emosi karakter yang melebur dengan emosi nyata mereka.
“Kamu nggak pernah ngerti perasaan aku, Nicho!” teriak Sandra, air mata buatan (atau mungkin asli?) mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kamu pikir dengan ngasih uang, ngasih barang, semuanya selesai? Aku butuh kamu! Bukan dompet kamu!”
“Aku ngelakuin semuanya buat kita, Anna!” balas Bisma, suaranya bergetar menahan amarah. Dia maju selangkah, mencengkeram bahu Sandra. “Aku kerja keras biar kita punya masa depan! Biar orang tua kamu nggak ngeremehin aku lagi!”
Dialog itu... menusuk dada Bisma. Itu bukan hanya dialog Nicho. Itu jeritan hati Bisma masa lalu. Dulu, dia merasa diremehkan oleh keluarga Sandra yang sederhana tapi harmonis, sementara dia anak orang kaya yang broken home. Dia berusaha membuktikan diri, tapi malah kehilangan Sandra.
Sandra menatap mata Bisma. Dia melihat luka di sana. Luka yang sama yang dia lihat semalam di kamar.
“Masa depan apa?” bisik Sandra, air matanya menetes. “Masa depan di mana kita asing satu sama lain? Aku capek, Nicho. Aku capek nunggu kamu sadar kalau yang aku mau cuma waktu kamu.”
Sandra melepaskan cengkeraman Bisma. Dia berbalik, hendak pergi.
“Anna! Tunggu!”
Bisma menarik tangan Sandra. Dia memeluknya dari belakang. Erat.
Pelukan itu tidak ada di skrip.
Angga di monitor mengangkat alis, tapi tidak berteriak "Cut".
Sandra membeku dalam pelukan Bisma. Dia bisa merasakan detak jantung Bisma di punggungnya. Cepat dan keras.
“Jangan pergi,” bisik Bisma di telinga Sandra. Suaranya pecah. “Tolong... jangan pergi lagi.”
Itu bukan Nicho. Itu Bisma.
Sandra memejamkan mata. Hatinya hancur. Dia ingin berbalik dan memeluk Bisma kembali. Dia ingin bilang kalau dia juga merindukannya. Kotak di kopernya adalah buktinya.
Tapi kemudian, bayangan wajah Ayahnya muncul. Bayangan penghinaan Regina. Bayangan hidupnya yang hancur karena nama Adijaya.
Sandra membuka matanya. Dia melepaskan tangan Bisma perlahan tapi tegas.
“Terlambat,” ucap Sandra dingin.
Dia berjalan keluar frame.
“CUT!” teriak Angga. “BAGUS BANGET! GILA! EMOSINYA DAPET PARAH!”
Kru bertepuk tangan.
Sandra terus berjalan, menjauh dari set, menuju pohon besar di pinggir lapangan. Dia butuh udara. Dia butuh sendiri. Kakinya lemas.
Bisma masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Sandra yang menjauh. Tangannya masih terasa hangat bekas memeluk Sandra.
‘Sialan. Gue kebawa suasana,’ rutuk Bisma dalam hati.
Dari kejauhan, Nadine menonton adegan itu dengan tatapan tak terbaca. Dia tidak bertepuk tangan.
Matanya menyipit.
‘Pelukan itu... tatapan itu...’ batin Nadine. ‘Itu bukan akting. Nggak ada aktor yang bisa natap lawan mainnya kayak gitu kalau cuma rekan kerja. Mereka punya masa lalu. Pasti.’
Kecurigaan Nadine kini berubah menjadi keyakinan.
Dan keyakinan itu berbahaya.
Jam makan siang.
Sandra duduk sendirian di bangku taman, jauh dari tenda katering. Dia tidak nafsu makan. Adegan tadi menguras energinya.
Tiba-tiba, sebuah kotak nasi diletakkan di sampingnya.
“Makan. Nanti lu pingsan, gue yang repot ngangkutnya.”
Sandra menoleh. Bisma berdiri di sana, tangannya dimasukkan ke saku celana, wajahnya memandang ke arah lain—sok cuek.
“Gue nggak laper,” tolak Sandra.
“Gue nggak nanya lu laper apa nggak. Gue bilang makan,” kata Bisma, duduk di ujung bangku, memberi jarak aman. “Di dalemnya gue minta request khusus ke katering. Nggak pake udang. Gue tau lu alergi.”
Sandra tertegun. Dia menatap kotak nasi itu.
Bisma masih ingat?
Tujuh tahun berlalu, dan pria brengsek ini masih ingat dia alergi udang?
“Lu... masih inget?” tanya Sandra pelan.
“Otak gue isinya bukan cuma skrip doang,” jawab Bisma ketus. “Lagian dulu lu pernah bengkak semuka gara-gara makan bakwan udang di kantin. Muka lu kayak ikan buntal. Susah dilupain.”
Sandra tertawa kecil. Tawa yang tulus. “Sialan lu.”
“Buruan makan. Gue nggak mau dituduh KDRT gara-gara istri gue kurus kering,” gumam Bisma pelan, kata 'istri' diucapkan sangat samar.
Sandra membuka kotak nasi itu. Nasi goreng ayam. Tanpa udang. Tanpa ebi.
Hatinya menghangat.
“Makasih, Bis,” ucap Sandra tulus.
“Hm.”
Sandra mulai makan. Suapan pertama terasa enak. Dia baru sadar dia sangat lapar.
Namun, di suapan ketiga, Sandra merasakan sesuatu yang aneh.
Tenggorokannya gatal.
Awalnya sedikit. Lalu semakin parah. Lidahnya terasa tebal. Napasnya mulai berat.
Sandra menjatuhkan sendoknya. Dia memegang lehernya.
“Uhuk... uhuk...”
“San? Kenapa? Keselek?” tanya Bisma, menoleh.
“Gatel... sesek...” rasau Sandra. Wajahnya mulai memerah. Bintik-bintik merah muncul di lehernya dengan cepat.
Bisma langsung panik. Dia mengenali tanda-tanda ini.
“Alergi?! Lu makan apa?!” Bisma menyambar kotak nasi Sandra. Dia mencium baunya.
Bau gurih yang tajam. Bau terasi? Bukan... ini bau ebi. Udang kering yang ditumbuk halus.
“Sialan! Ada ebi-nya!” teriak Bisma. “Siapa yang naruh ebi di sini?! Gue udah bilang NO SEAFOOD!”
Sandra mulai terengah-engah. “Bis... obat... di tas...”
Bisma tidak menunggu. Dia langsung menyambar tas Sandra, mengobrak-abrik isinya sampai menemukan obat alergi.
Tapi Sandra sudah terlalu lemas untuk menelan.
“Air! Mana air?!” teriak Bisma ke arah kru yang mulai berkerumun. “BAWA AIR WOY!”
Alex berlari membawa botol air. “Kenapa, Bis? Sandra kenapa?”
“Minggir!” Bisma merebut botol itu. Dia memapah Sandra, memasukkan obat ke mulutnya, dan membantunya minum.
“Telan, San. Ayo, telan,” perintah Bisma, suaranya panik luar biasa. Tangannya gemetar memegang tengkuk Sandra.
Sandra berhasil menelan obat itu. Dia bersandar lemas di dada Bisma, napasnya masih bunyi ngik-ngik.
Bisma memeluknya erat, matanya menyala penuh amarah menatap kerumunan kru.
“SIAPA YANG NGURUS KATERING?!” bentak Bisma. Suaranya menggelegar, membuat semua orang kaget. “GUE UDAH BILANG DIA ALERGI UDANG! SIAPA YANG NARUH EBI DI MAKANAN DIA?!”
Kru katering maju dengan wajah pucat. “Mas... sumpah, saya nggak naruh ebi. Pesanan Mas Bisma khusus ayam.”
“TERUS INI APA?!” Bisma melempar kotak nasi itu ke tanah. “BAUNYA EBI!”
Di tengah kekacauan itu, Nadine berdiri di belakang kerumunan. Wajahnya datar, tapi ada kepuasan di matanya.
‘Panik banget, ya, Bis? Sampe meluk-meluk gitu di depan umum?’ batin Nadine.
Dia melihat betapa protektifnya Bisma. Betapa ketakutannya Bisma kehilangan Sandra.
Itu bukan reaksi teman. Itu bukan reaksi profesionalitas semata.
“Oke, Bisma,” gumam Nadine pelan. “Teori gue terbukti. Kalian emang ada apa-apa.”
Nadine berbalik, meninggalkan kerumunan. Dia mengambil ponselnya.
Saatnya melapor ke Ratu.
To: Tante Regina ‘Tante, kayaknya kita punya masalah. Bisma bukan cuma 'terjebak' sama Sandra. Dia peduli banget sama cewek itu. Tante harus liat sendiri gimana dia ngamuk cuma gara-gara Sandra sakit.’
Sementara itu, Bisma menggendong Sandra ala bridal style. Dia tidak peduli lagi dengan tatapan orang.
“Siapin mobil! Kita ke klinik sekarang!” perintah Bisma pada Doni.
“Bis... gue berat...” bisik Sandra lemah.
“Diem. Lu enteng kayak kapas,” kata Bisma, suaranya bergetar. “Jangan tidur, San. Awas lu tidur.”
Bisma berlari membawa Sandra menuju mobil, meninggalkan lokasi syuting yang heboh. Dia tidak sadar bahwa hari ini, rahasia hatinya sudah telanjang di depan mata seorang musuh yang berbahaya.