Sementara Kael dan Luther berusaha menjauhkan Aurora dari kekacauan, di tempat lain, seorang pria terengah dalam ruangan gelap tanpa penerangan. Cahaya malam yang menyusup melalui celah angin-angin menjadi satu-satunya yang mampu menampilkan lekuk samar wajahnya yang kini penuh memar dan lelehan merah pekat di pelipis, menjejak kental, menyebar bau anyir tipis.
Napas terengah dan geraman menjadi suara yang mendominasi. Kali ini disertai dengan suara retakan nyaring dari rahang yang dihantam buku jari milik Bastien Vireaux. Sudut bibir pria itu pecah—darah menciprat, memercik para bidang kosong di tembok yang menghimpit.
“Mereka… tahu ka-kau pelakunya… Tuan,” sengal pria itu. Rambutnya basah terkena peluh, menutup semua sisi wajahnya yang tertunduk.
“Dan kau yang akan menanggung akibatnya karena pekerjaanmu yang tidak becus!”
Pukulan demi pukulan semakin agresif. Pria itu tak lagi memiliki tenaga untuk berontak atau hanya sekedar meminta ampun. Kebas di tiap pukulan telah menggantikan panas dan perih di awal. Entah berapa lama lagi nyawanya akan bertahan. Bastien terus melampiaskan situasi yang tak diharapkan pada pria itu.
“Tuan,” sela seorang berjas hitam lengkap di sebelah pintu, wajahnya datar, tapi sudut matanya berkedut samar tiap pria muda itu mengejang pada posisinya yang duduk terikat pada kursi besi berkarat. “Anda akan membunuhnya jika terus seperti ini.”
Gerakan Bastien terhenti. Kepalanya menoleh penuh, dengan seringai iblis yang tak banyak orang tahu. “Apa aku peduli?”
Bastien vireaux menarik pistol dari holster—terpasang pada belt yang melingkar di pinggangnya. Dalam sekejap, HK USP Elite tergenggam di tangannya, mengarah tanpa ragu pada pria yang tak lagi mampu untuk menggerakkan tubuhnya. Napasnya tersengal, telinganya berdenging kencang, dan Bastien menyeringai—menikmatinya.
Grip pistol semakin digenggam erat. Bastien menyipitkan sebelah mata. Sudut tangannya sempurna ketika jarinya menarik trigger dengan gerakan dramatis.
Pria berjas di sebelah pintu mengalihkan pandangannya. Menyaksikan rekannya berakhir seperti itu bukanlah hal yang tertera pada kontrak kerja. Namun ia tak memiliki nyali untuk melawan Bastien. Semua kekuatannya digenggam erat oleh pemegang kuasa yang kini mulai takut tahtanya akan terancam.
Tanpa Kael Vireaux, Bastien akan naik menjadi satu-satunya pemegang kendali. Dan satu-satunya cara untuk membuatnya berdiri tanpa bayang-bayang dan pesaing, maka ia harus melenyapkan keponakannya yang tak berguna itu.
“Urus mayatnya, beri kompensasi pada keluarganya.” Bastien menyimpan kembali pistolnya dengan santai, seolah melenyapkan nyawa adalah hal yang tak ada artinya.
Sebelum keluar, pria tua itu merapikan coat yang dikenakan dan mengusap pelan sisi rambutnya yang selalu terlihat klimis. Langkahnya tetap stabil dan mengintimidasi. Ketika berada tepat di sebelah pria berjas, ia menoleh dan menatapnya tajam. “Kirim pria itu. Rencana kedua akan kita jalankan.”
“Baik, Tuan.” Pria berjas itu menunduk, membukakan pintu dan menghela napas panjang setelah Bastien berlalu.
Kini ia berbalik, menatap datar tubuh pria muda yang tak bernyawa di hadapannya. “Kalau saja kau menurutiku untuk mundur dari misi dan kabur, kau pasti akan melihat putramu lahir dan tumbuh.”
Perapian di ruang tengah menciptakan suara gemeretak pelan dari kayu kering yang dilahap api. Sulurnya saling menjilat, dikelilingi percikan bunga api yang meletup. Di ujung sofa, Aurora duduk bersila dengan terus memperhatikannya. Kobaran panas yang terlindung oleh kaca tebal itu berhasil membuatnya sedikit tenang dari heningnya tempat ini.
Tak ada suara musik, tak ada gumaman pelan dari pembaca cuaca di TV, hanya ada deru angin yang terus menggugurkan daun terakhir musim gugur—Bosan, itu adalah kata lainnya.
Satu jam yang lalu Kael masuk ke dalam kamar kerja barunya untuk menelepon Luther. Entah apa yang sedang mereka bicarakan sampai pria itu membutuhkan tempat tertutup. Mungkin membicarakan tentang penyerangan malam itu, atau mungkin juga hanya tentang seputar pekerjaan kantor. Dengar-dengar—saat Aurora sedikit menguping dalam perjalanan ke villa, resort baru di kawasan Venloar mengalami masalah. Ada beberapa keanehan yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar manusia.
Entahlah… Aurora pikir mungkin resort itu berhantu. Mengingat betapa asingnya Venloar dari jajaran negara yang ada di Eropa. Bahkan tak banyak orang yang mengetahuinya. Cukup membuatnya heran karena Kael memutuskan untuk membangun satu resort mewah di sana.
“Aku kira kau sudah tidur.”
Suara rendah Kael sontak membuat Aurora menoleh. Wanita itu menghela napas, cukup menjelaskan rasa bosan yang sedang dirasakan. “Angin di luar memaksaku untuk terus terjaga.”
Sebelah mata Kael menyipit, diiringi dengan kekehan pelan saat kakinya melangkah ringan menuju sofa tempat Aurora membenamkan tubuhnya. “Aku baru tahu kau takut dengan angin.”
Aurora melengos. “Yang benar saja… aku hanya tidak suka dengan suasananya. Entah kenapa rasanya terlalu suram, berbeda sekali dengan saat senja tadi.”
“Dan kau juga yang mengatakan mampu menghabiskan hidupmu di sini hanya untuk melihat senja.” Nada menggoda Kael, mulai terdengar ramah di telinga Aurora.
“Yah, well… sebenarnya aku tidak terlalu membenci suasananya. Aku hanya bosan. Rasanya seperti ditarik dari peradaban.”
“Kau berlebihan. Di sini hanya tidak ada TV dan mesin kopi otomatis kita, ponselmu masih berfungsi dengan normal. Kau bahkan bisa mengakses internet.”
Dasar tidak peka!
“Pengalamanmu tentang hubungan romansa dengan wanita ternyata memang nol, huh?” Nada sinis sengaja dipilih oleh Aurora.
Kael terdiam sejenak, mencari letak kesalahannya sampai membuat Aurora kesal. “Kau memang wanita yang pertama bagiku. Tidak ada yang lain.”
“Bohong!”
Kael duduk di sebelah Aurora, menarik lembut pinggangnya dari belakang dan mendekapnya erat. “Semua yang kulakukan padamu, adalah pertama kalinya dalam hidupku. Dan aku tidak berbohong.”
“Kau tidak lupa kalau aku pernah bertemu dengan mantan tunanganmu, kan?” Mata Aurora menyipit.
Kael mengedikkan satu alis. “Aku tidak mencintainya. Semua yang kulakukan dengannya tanpa cinta. Dan kau satu-satunya wanita yang membuatku melakukan semuanya dengan cinta.”
Dada Aurora memanas. Tidak, bukan hanya dada, wajahnya pun rasanya terbakar. Bagaimana bisa Kael mengatakan hal itu dengan nada santai?
“Kau pernah melakukannya dengan orang lain?” tanya Kael, nyaris berbisik di telinga Aurora.
“Tidak!” Aurora menoleh cepat, seakan menegaskan bahwa tuduhan Kael itu salah. “Semua yang kulakukan denganmu adalah yang pertama. Tapi—”
“Apa?” potong Kael. Nadanya semakin rendah, nyaris bergetar dengan kedua tatapannya yang tajam mengunci fokus Aurora.
“T-tapi… kau—aku…” Aurora tergagap, seiring dengan wajah Kael yang menunduk semakin dekat. “... lebih peka darimu.”
“Kau bosan karena aku tidak menemanimu?” bisik Kael pelan.
Aurora tercekat. Semua kedekatan ini masih terasa asing baginya. Namun tentu saja, tubuhnya merespon dengan cara lain. Sebelah tangannya dengan lancang telah menjelajah rahang tegas milik Kael. “Dan kau baru menyadarinya sekarang?”
Seringai tipis menarik satu sudut bibir Kael. “Sayang….”
Dan panggilan baru itu… membuat Aurora menjadi selalu menginginkan lebih dari apa yang Kael telah lakukan padanya.
“... kau tak perlu merajuk hanya karena menginginkan perhatianku.” Kael mencium lembut bibir Aurora. “Kau hanya perlu datang padaku, lalu duduk di pangkuanku dan aku akan menegaskan bahwa tidak ada wanita lain yang mampu membuatku tergila-gila selain dirimu.”
Aurora tercekat. Saat ia selalu memiliki rasa ingin yang lebih pada Kael—seakan mampu membaca pikirannya—pria itu akan membalasnya lebih dari yang pernah ia sangka. “Jadi… apa yang kau bicarakan dengan Luther, Husband?” Suaranya tak lagi tegas, kewarasannya telah runtuh.
“Sesuatu… tidak penting untuk kita bahas saat ini, right?”
Aurora terengah, tak lagi mampu menjawab ketika Kael membungkamnya dalam lumatan hangat.