“Pak, bisa lebih cepet nggak sih?! Ini nyawa orang, bukan paket kilat!”
Teriakan Bisma menggema di dalam kabin mobil MPV hitam yang melaju membelah jalanan desa yang berbatu. Tangannya mencengkeram jok pengemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya, menghapus sisa-sisa makeup syuting yang belum sempat dibersihkan.
Di pangkuannya—atau lebih tepatnya, dalam dekapan eratnya di jok tengah—Sandra terbaring lemas. Wajah wanita itu yang biasanya galak dan penuh warna kini pucat pasi, bibirnya membiru, dan napasnya terdengar menakutkan. Bunyi ngik-ngik lirih setiap kali Sandra berusaha menarik oksigen terasa seperti paku yang dipalu ke gendang telinga Bisma.
“Sabar, Mas Bisma. Ini jalannya bolong-bolong, kalau ngebut nanti malah kejungkal,” jawab sopir produksi dengan gemetar, takut pada amukan sang bintang utama.
“Gue nggak peduli mobilnya kebalik! Yang penting sampe klinik!” bentak Bisma lagi, lalu matanya kembali tertuju pada wajah Sandra.
“San... heh, Sandra! Buka mata lu!” Bisma menepuk pipi Sandra, tidak terlalu pelan. “Jangan tidur! Denger gue nggak? Jangan berani-beraninya lu pingsan di sini!”
Sandra membuka matanya sedikit, hanya celah sempit yang memperlihatkan bola matanya yang sayu dan berair.
“B-berisik...” desis Sandra, suaranya nyaris tak terdengar, serak dan lemah. “Lu... teriak... di kuping gue...”
“Bagus! Marah aja terus! Maki gue sepuas lu, asal lu tetep sadar!” Bisma mendekap tubuh Sandra lebih erat, menyalurkan panas tubuhnya pada wanita yang mulai terasa dingin itu. “Tahan, San. Dikit lagi sampe. Lu kuat, kan? Lu cewek paling keras kepala yang gue kenal. Masa kalah sama udang kering?”
Sandra ingin membalas, ingin menyikut perut Bisma dan menyuruhnya diam, tapi tenaganya hilang entah ke mana. Tenggorokannya terasa menyempit, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya dari dalam. Rasa gatal yang menyiksa menjalar di seluruh kulitnya, membuatnya ingin menggaruk hingga berdarah, tapi tangan Bisma menahan kedua tangannya dengan kuat.
“Jangan digaruk. Nanti lecet,” bisik Bisma, suaranya melembut drastis, kontras dengan teriakannya tadi. Dia mengusap punggung tangan Sandra dengan ibu jarinya, gerakan berulang yang menenangkan. “Gue di sini. Gue pegangin lu.”
Di kursi depan, Doni—manajer Bisma—memijat pelipisnya yang berdenyut. Dia menoleh ke belakang, melihat pemandangan yang bisa menjadi skandal besar jika ada wartawan yang melihat. Bisma Adijaya, aktor dengan bayaran termahal yang dikenal dingin dan profesional, sedang memeluk penulis naskahnya seperti memeluk nyawanya sendiri.
“Bis,” panggil Doni hati-hati. “Nanti pas sampe klinik, biar gue yang urus administrasi. Lu pake masker, pake topi. Jangan sampe ada yang ngenalin lu lagi gendong-gendong dia. Di desa ini banyak mata-mata amatir.”
“Persetan sama mata-mata, Don!” sergah Bisma tanpa menoleh. “Dia istri gue! Kalau ada yang nanya, gue suaminya! Puas lu?!”
Doni ternganga. Dia tahu fakta itu, tentu saja. Tapi mendengar Bisma meneriakkannya dengan lantang di depan sopir (yang untungnya adalah orang kepercayaan Doni yang budek sedikit), tetap saja membuatnya jantungan.
“Oke, oke. Serah lu dah. Yang penting Sandra selamat dulu,” Doni menyerah. Dia mengeluarkan ponselnya, bersiap menghubungi Bu Nia untuk damage control.
Mobil akhirnya berbelok tajam dan berhenti di depan sebuah klinik kecil bercat putih kusam. Plang ‘Klinik 24 Jam’ miring sedikit tertiup angin.
Belum sempat mobil berhenti sempurna, Bisma sudah membuka pintu geser. Dia melompat turun sambil menggendong Sandra ala bridal style, tidak mempedulikan punggungnya yang mungkin encok.
“DOKTER! SUSTEEER!”
Teriakan Bisma membuat beberapa pasien yang sedang antre obat di ruang tunggu terlonjak kaget.
Seorang perawat tua tergopoh-gopoh keluar. “Ada apa ini? Mas, harap tenang...”
“Tenang gundulmu! Istri... temen saya alergi parah! Butuh obat, oksigen, infus, apa aja cepetan!” Bisma nyaris menabrak perawat itu, menerobos masuk ke ruang tindakan.
“Baringkan di sini!” perintah perawat itu, menunjuk ranjang periksa yang dilapisi perlak hijau.
Bisma meletakkan Sandra dengan hati-hati, seolah wanita itu terbuat dari kaca retak. Saat punggung Sandra menyentuh kasur, tangan wanita itu refleks mencengkeram kemeja Bisma.
“Jangan... pergi...” racau Sandra, matanya terpejam rapat, keringat dingin membanjiri dahinya.
Hati Bisma mencelos. Dia menggenggam tangan Sandra yang mencengkeram bajunya.
“Gue nggak ke mana-mana. Gue di sini,” bisik Bisma tepat di telinga Sandra. “Dokter mana?! Lama banget!”
Seorang dokter muda berkacamata masuk sambil berlari kecil. Dia langsung memeriksa kondisi Sandra, mengecek denyut nadi, dan menyenter pupil matanya.
“Alergi apa?” tanya dokter cepat.
“Udang. Ebi. Seafood,” jawab Bisma, lebih cepat dari kilat. “Dia makan nasi goreng yang ada bubuk ebinya sekitar dua puluh menit yang lalu.”
Dokter mengangguk. “Suster, siapkan injeksi epinefrin dan dexamethasone. Pasang oksigen 3 liter per menit. Cepat.”
Bisma mundur selangkah, memberi ruang bagi tim medis, tapi matanya tidak pernah lepas dari wajah Sandra. Dia melihat jarum suntik menembus kulit lengan Sandra. Dia melihat masker oksigen dipasangkan ke wajahnya. Dia melihat dada Sandra yang naik turun tidak beraturan perlahan mulai stabil.
Setiap detik terasa seperti satu jam bagi Bisma.
Dia bersandar di dinding dingin ruang tindakan, kakinya terasa lemas. Baru sekarang dia sadar betapa takutnya dia.
Ketakutan ini... familiar.
Tujuh tahun lalu, saat mereka masih kuliah, Sandra pernah tidak sengaja memakan dimsum udang saat kencan pertama mereka. Reaksinya sama. Paniknya sama. Dan perasaan takut kehilangan yang mencekik ini... juga sama.
‘Sialan,’ batin Bisma, mengusap wajahnya kasar. ‘Gue kira gue udah lupa rasanya takut kayak gini. Gue kira gue udah nggak peduli.’
Tapi detak jantungnya sendiri mengkhianatinya. Jantungnya berdetak bukan karena adrenalin marah, tapi karena ketakutan murni. Takut Sandra kenapa-napa. Takut dia terlambat.
Takut dia kehilangan Sandra untuk kedua kalinya.
“Pasien harus tetap di sini beberapa jam lagi untuk observasi. Setelah itu baru kita pindahkan ke ruang rawat inap,” ucap Dokter yang menangani Sandra.
“Baik, Dokter. Terima kasih.”
“Saya permisi.”
Dokter dan perawat berjalan meninggalkan stasi tempat Sandra terbaring. Bisma mendekati tempat tidur Sandra dan duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam tangan Sandra.
“Gue akan cari tahu siapa dalang dari ebi di nasi goreng itu!”
Tiba-tiba tirai stasi itu terbuka. Wajah manager Bisma muncul dan berjalan mendekati Bisma.
“Gimana Sandra, Bis?” tanya Doni yang datang setelah menyelesaikan administrasi di depan.
“Dia sudah mulai membaik. Setelah observasi beberapa jam, dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap.”
“Syukurlah.” Doni menghelakan napas lega. Dia duduk di samping Bisma. “Ternyata Sandra punya alergi separah ini.”
“Hmm.. Dia alergi seafood, terutama udang.”
“Kok kamu bisa tahu tentang hal itu, Bis?” Doni menatap bingung Bisma.
“Itu... Itu karena Sandra pernah tanpa sengaja menceritakannya. Ya, seingatku pernah.,” karang Bisma berusaha tidak panik.