Sementara itu, di lokasi syuting yang kini hening dan canggung.
Nadine duduk di kursi lipatnya, menyeruput es kopi susu dengan santai. Di sekelilingnya, kru masih berbisik-bisik membicarakan kejadian barusan.
“Gila ya, Mas Bisma panik banget tadi. Mukanya sampe merah padam,” bisik seorang asisten kostum.
“Iya, sampe ngebentak Mas Tono katering. Padahal Mas Tono sumpah-sumpah nggak naruh ebi,” sahut yang lain.
“Jangan-jangan gosipnya bener? Mereka CLBK?”
Nadine tersenyum tipis di balik gelas plastiknya. ‘CLBK? Lebih dari itu, Sayang. Jauh lebih rumit dari itu.’
Dia mengeluarkan ponselnya. Galeri fotonya menampilkan video pendek yang sempat dia rekam diam-diam dari balik kerumunan tadi. Video saat Bisma memeluk Sandra yang sesak napas, saat Bisma berteriak marah, dan saat Bisma menggendong Sandra lari ke mobil.
Ekspresi di wajah Bisma dalam video itu... itu adalah emas murni bagi Nadine.
Itu bukan wajah rekan kerja. Itu wajah seorang pria yang sedang melihat dunianya runtuh.
Nadine menekan tombol share, lalu memilih kontak ‘Tante Regina’.
Dia mengetik pesan dengan jari-jari lentiknya yang berkuteks merah darah.
‘Tante, misi observasi selesai. Hasilnya positif. Bisma bukan cuma 'terjebak' pernikahan konyol. Dia peduli. Banget. Liat video ini. Dia ngamuk di depan satu kampung kru cuma gara-gara Sandra alergi. Dia bahkan gendong Sandra kayak putri raja. Kalau ini dibiarin, Sandra bakal jadi nyonya besar beneran, Tan.’
Sent.
Nadine meletakkan ponselnya di pangkuan, menunggu. Tidak butuh waktu lama. Dua menit kemudian, ponselnya bergetar. Panggilan masuk.
Mama Regina Calling...
Nadine mengangkat telepon itu dengan senyum kemenangan. “Halo, Tante?”
“Nadine...” Suara Regina terdengar dingin, tajam, dan berbahaya dari seberang sana. “Kamu yakin itu bukan akting?”
“Seratus persen yakin, Tan. Bisma aktor hebat, tapi dia nggak pernah akting sepanik itu kalau nggak ada duitnya. Ini murni perasaan. Dia... lemah sama cewek itu.”
Terdengar helaan napas kasar dari Regina. “Anak bodoh. Dia mengulangi kesalahan ayahnya. Jatuh cinta pada wanita rendahan yang cuma bawa sial.”
“Jadi, Tante mau aku gimana?” pancing Nadine.
“Terus awasi. Jangan biarkan mereka punya momen berdua yang... romantis. Rusak suasananya. Bikin Sandra merasa dia nggak pantes ada di sana. Dan soal 'kecelakaan' alergi ini...” Regina menjeda kalimatnya, nada suaranya berubah sedikit lebih ringan, seolah memuji. “Kerja bagus. Kamu cerdas.”
Nadine tersenyum lebar. “Makasih, Tante. Kebetulan aja aku liat toples bumbu nganggur.”
“Saya akan urus sisanya dari Jakarta. Kamu fokus di sana. Buat Sandra nggak betah. Buat dia sadar diri dan pergi sendiri. Kalau dia pergi meninggalkan Bisma, Bisma akan benci dia selamanya. Itu kuncinya.”
“Siap, Tan. Serahkan sama aku.”
Panggilan berakhir.
Nadine menatap layar ponselnya yang gelap. Bayangan wajahnya terpantul di sana. Cantik, ambisius, dan berbahaya.
“Sandra, Sandra...” gumamnya pelan. “Lu main-main sama orang yang salah. Lu pikir lu Cinderella? Di cerita gue, Cinderella nggak dapet Pangeran. Cinderella dapet racun.”
Dua jam kemudian, di ruang rawat inap klinik.
Suasana ruangan itu hening, hanya terdengar dengungan AC tua dan suara tetesan infus yang ritmis. Sandra sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa setelah kondisinya stabil.
Sandra mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang remang. Kepalanya masih terasa berat, dan tenggorokannya kering kerontang.
Dia mencoba bergerak, tapi tangannya terasa berat.
Dia menoleh ke samping.
Di kursi plastik keras di samping ranjangnya, Bisma duduk tertidur. Kepalanya terkulai di tepi kasur, tepat di samping pinggang Sandra. Tangan kanannya... menggenggam tangan Sandra erat-erat.
Sandra terpaku.
Dia menatap wajah tidur Bisma. Wajah yang biasanya sombong, menyebalkan, dan minta ditampar itu, kini terlihat... lelah. Ada kerutan halus di keningnya, seolah dalam tidurnya pun dia masih berpikir keras. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut.
Tapi genggaman tangannya hangat.
Sandra merasakan desiran aneh di dadanya. Perasaan yang sudah lama dia kubur, perasaan yang dia bawa lari lima tahun lalu, kini merangkak naik ke permukaan.
‘Kenapa lu harus sebaik ini sih, Bis? Kenapa lu nggak jahat aja terus biar gue gampang benci lu?’ batin Sandra.
Dia ingat kejadian di lokasi syuting. Dia ingat kepanikan Bisma. Dia ingat teriakan Bisma.
“Dia istri gue!”
Sandra tersenyum tipis, getir. Istri. Status yang hanya di atas kertas (yang entah sah atau tidak), status yang terjadi karena jebakan dan paksaan. Tapi Bisma menggunakannya sebagai tameng untuk melindunginya.
Sandra menggerakkan jarinya perlahan, ingin melepaskan genggaman itu.
Namun, gerakan kecil itu membuat Bisma tersentak bangun.
Bisma langsung menegakkan kepala, matanya yang merah dan sedikit bengkak langsung mencari wajah Sandra.
“San? Lu udah sadar?” suaranya serak khas orang bangun tidur. “Ada yang sakit? Pusing? Mual? Mau muntah?”
Bisma memberondong pertanyaan sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Sandra, mengecek suhu tubuhnya.
Sandra menepis tangan itu pelan. “Gue nggak demam, Bis. Cuma alergi.”
Bisma menghela napas lega, menyandarkan punggungnya ke kursi plastik yang berderit. Topeng 'Komodo'-nya perlahan kembali terpasang, menutupi kekhawatiran yang tadi sempat bocor.
“Ya sukur deh kalau sadar. Gue kira lu mau mati. Udah siap-siap gue pesen keranda.”
Sandra mendengus. “Mulut lu ya. Bukannya doain istri panjang umur.”
“Istri yang nyusahin,” koreksi Bisma. Dia mengambil gelas air di meja nakas, memasukkan sedotan, lalu menyodorkannya ke bibir Sandra. “Minum. Bibir lu kering kayak gurun pasir.”
Sandra menurut, menyedot air itu rakus. Rasanya segar luar biasa.
“Makasih,” ucap Sandra setelah selesai.
“Hm.” Bisma meletakkan gelas itu kembali.
Hening sejenak. Kecanggungan mulai merayap di antara mereka.
“Bis,” panggil Sandra pelan.
“Apa?”
“Tadi... di mobil... lu teriak-teriak bilang gue istri lu.”
Bisma membeku. Dia memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan selimut Sandra. “Gue panik. Biar sopirnya ngebut. Alasan darurat.”
“Terus di lokasi syuting... lu ngamuk sama katering.”
“Ya iyalah! Itu kelalaian kerja! Kalau lu mati di set, film gue batal tayang. Rugi bandar gue,” elak Bisma, masih tidak mau menatap mata Sandra.
Sandra tersenyum kecil. “Lu bohongnya jelek banget kalau lagi capek.”
Bisma akhirnya menoleh. Matanya menatap Sandra tajam, tapi tidak ada kemarahan di sana.
“Lu mau denger apa, San? Lu mau denger gue bilang gue khawatir? Gue takut lu kenapa-napa?”
Sandra terdiam.
“Iya,” aku Bisma, suaranya merendah. “Gue takut. Puas lu? Gue takut lu mati konyol gara-gara udang. Gue takut... gue sendirian lagi kayak lima tahun lalu pas lu ninggalin gue tanpa kabar.”
Kalimat terakhir itu menohok Sandra. Rasa bersalah menyusup ke hatinya.
“Bis, gue ninggalin lu bukan karena gue mau...”
“Udah lah,” potong Bisma cepat, berdiri dari kursinya. Dia tidak siap untuk percakapan ini. “Nggak usah dibahas. Yang penting lu idup. Itu aja.”
Bisma berjalan ke arah jendela, membelakangi Sandra. Bahunya terlihat tegang.
“Lagian,” lanjut Bisma, suaranya kembali datar. “Sekarang lu punya utang sama gue.”
“Utang?”
“Iya. Gue nyelamatin nyawa lu. Gue gendong lu—punggung gue encok, by the way. Gue bayarin klinik. Jadi lu berutang nyawa sama gue.”
Sandra memutar bola matanya, tapi senyum tidak bisa hilang dari bibirnya. “Oke, Tuan Rentenir. Lu mau dibayar pake apa? Uang gue nggak sebanyak lu.”
Bisma menoleh sedikit, profil wajahnya terkena sinar lampu jalan dari luar jendela.
“Gue nggak butuh uang lu,” kata Bisma. “Gue cuma minta satu hal.”
“Apa?”
“Berhenti sok kuat. Berhenti sok bisa sendiri,” kata Bisma serius. “Selama kita di sini, selama status konyol ini masih nempel... kalau lu sakit, lu bilang. Kalau lu butuh bantuan, lu minta. Jangan sok jadi wonder woman. Lu punya suami—biarpun suami paksaan—jadi gunain itu.”
Sandra terpaku. Kata-kata itu... sederhana, tapi menghantam benteng pertahanannya lebih keras dari apapun. Selama ini dia berjuang sendirian. Menanggung beban nama baik ayahnya sendirian. Menyembunyikan lukanya sendirian.
Mendengar seseorang—apalagi Bisma—menawarkan diri untuk menjadi tempat bersandar, rasanya menakutkan sekaligus melegakan.
“Oke,” bisik Sandra, matanya berkaca-kaca. “Gue... gue bakal coba.”
Bisma mengangguk singkat. “Bagus. Sekarang tidur lagi. Dokter bilang besok lu udah boleh pulang kalau nggak bengek lagi.”
Bisma kembali duduk di kursi plastik keras itu, melipat tangannya di dada, bersiap untuk tidur dalam posisi duduk lagi.
“Lu nggak balik ke penginapan? Kasur di sini nggak enak,” kata Sandra.
“Gue di sini,” jawab Bisma, memejamkan mata. “Jagain aset film. Biar nggak dicolong Nadine.”
Sandra tersenyum. Dia menarik selimut sampai ke dagu, menatap sosok Bisma yang mulai tertidur.
Malam ini, di klinik kecil yang bau obat itu, dinding es di antara mereka mencair sedikit lagi. Dan Sandra sadar, mungkin... hanya mungkin... Komodo di depannya ini tidak sebuas yang dia kira.
Tapi dia tidak tahu, di luar sana, badai yang sesungguhnya sedang disiapkan oleh Regina dan Nadine. Badai yang akan menguji apakah "hutang nyawa" ini cukup untuk membuat mereka bertahan bersama.