Drama

Mendadak Kawin-Masa Lalu Terungkap-Bab 11

24 November 2025

Suara dengung pendingin ruangan di klinik kecil itu terdengar seperti lebah yang terjebak di dalam kepala Sandra.

Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari.

Sandra terbangun dengan napas tersentak. Mimpi buruk itu datang lagi. Mimpi yang selalu sama selama lima tahun terakhir. Lorong rumah sakit yang panjang, bau obat-obatan yang menyengat, dan punggung tegap ayahnya yang perlahan menjauh, meninggalkannya sendirian dalam kegelapan.

“Hah... hah...” Sandra mencengkeram dadanya. Jantungnya berpacu cepat, keringat dingin membasahi dahi meskipun ruangan itu dingin.

“San? Kenapa? Sesek lagi?”

Suara berat di sampingnya membuat Sandra menoleh cepat.

Bisma.

Pria itu masih di sana. Duduk di kursi plastik yang tidak nyaman, kakinya yang panjang diselonjorkan dengan canggung, tangannya bersidekap di dada. Wajahnya terlihat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Tapi matanya... mata itu waspada, langsung menatap Sandra dengan sorot khawatir yang tidak bisa disembunyikan.

Sandra menggeleng pelan, berusaha menetralkan napasnya. “Nggak. Gue... gue cuma mimpi.”

Bisma menghela napas kasar, menegakkan duduknya. Dia menuangkan air dari teko ke dalam gelas, lalu membantunya minum. Gerakannya cekatan, seolah dia sudah melakukan ini ribuan kali.

“Minum. Muka lu pucet banget kayak mayat idup,” omel Bisma, meski tangannya lembut saat menahan gelas agar tidak tumpah.

Sandra meneguk air itu rakus. Rasa dingin membasuh tenggorokannya yang kering. “Makasih.”

“Lain kali kalau mimpi buruk nggak usah pake teriak. Jantung gue belum sembuh dari kaget tadi siang,” gerutu Bisma, meletakkan gelas kembali ke meja.

Sandra menatap Bisma. Pria ini baru saja menyelamatkan nyawanya. Pria ini, yang seharusnya dia benci, yang keluarganya telah menghancurkan hidupnya, duduk di sini semalaman menjaganya.

“Kenapa lu masih di sini?” tanya Sandra, suaranya serak. “Lu bisa balik ke penginapan. Kasur di sana lebih empuk.”

“Dan ninggalin lu sendirian di sini? Biar lu mati konyol kalau susternya ketiduran?” Bisma mendengus. “Ogah. Gue udah bayar mahal buat pengobatan lu, gue harus pastiin investasi gue aman.”

Alasan klise. Sandra tahu itu bohong. Dia melihat cara Bisma menatapnya tadi siang. Itu bukan tatapan investor pada asetnya.

“Bis...” panggil Sandra pelan.

“Apa lagi? Laper? Mau sate?”

“Kenapa lu nggak bales?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sandra, tanpa filter, didorong oleh emosi sisa mimpi buruk dan kelelahan fisik.

Bisma terdiam. Dia menatap Sandra, keningnya berkerut bingung. “Bales apa? Chat lu? Kapan?”

“Lima tahun lalu,” bisik Sandra. Matanya mulai memanas. Pertahanan dirinya yang biasanya kokoh kini runtuh. “Waktu gue telepon lu berkali-kali. Waktu gue kirim pesan kalau gue butuh lu. Waktu... waktu Ayah gue meninggal.”

Hening yang mencekam turun di antara mereka. Hanya suara bip pelan dari monitor infus yang terdengar.

Wajah Bisma berubah. Dari bingung menjadi tegang.

“Lu... lu telepon gue?” tanya Bisma pelan. “Kapan?”

“Jangan pura-pura lupa!” Sandra mendesis, rasa sakit yang dia pendam selama ini meledak keluar. Dia mencoba duduk tegak, mengabaikan rasa pusing di kepalanya. “Tiga hari berturut-turut, Bis! Gue telepon lu ratusan kali! Gue kirim WA! Gue mohon-mohon biar lu angkat! Tapi apa? Lu malah upload foto pesta di kapal pesiar! Lu seneng-seneng sementara gue lagi nguburin Ayah gue!”

Bisma terpaku. Wajahnya memucat.

“Kapal pesiar...?” gumam Bisma. Ingatannya melayang ke masa itu. Acara ulang tahun perusahaan ayahnya. Pesta wajib yang diadakan ibunya di tengah laut.

“Gue... gue nggak dapet notifikasi apa-apa, San,” kata Bisma, suaranya terdengar jujur, tapi bagi Sandra itu terdengar seperti alasan pengecut. “Sinyal di laut jelek. HP gue... HP gue dipegang asisten Mama waktu itu karena gue harus standby buat tamu.”

“Alasan!” potong Sandra tajam. Air matanya menetes. “Lu baca, Bis. Centang biru. Dua centang biru! Lu baca pesan gue yang bilang Ayah gue meninggal, dan lu nggak bales satu katapun! Lu biarin gue sendirian!”

Bisma menggeleng, bingung dan frustrasi. “Sumpah demi Tuhan, San. Gue nggak baca. Gue nggak tau Ayah lu meninggal waktu itu. Gue baru tau lu ilang seminggu kemudian pas gue balik ke darat dan ke rumah lu, tapi lu udah nggak ada. Kosong.”

“Bohong,” isak Sandra. “Lu tau. Keluarga lu tau. Ibu lu tau!”

“Apa hubungannya sama Ibu gue?!” nada Bisma meninggi. Dia berdiri, emosinya mulai terpancing. “Jangan bawa-bawa Nyokap gue! Gue cari lu, San! Gue cari lu ke mana-mana! Gue ke kampus, gue ke kontrakan lama lu, gue tanya temen-temen lu! Nggak ada yang tau!”

“Gue lari karena gue hancur, Bisma!” teriak Sandra, tidak peduli lagi kalau pasien di kamar sebelah bangun. “Ayah gue dipecat! Dituduh korupsi sama perusahaan bokap lu! Dia kena serangan jantung karena nggak kuat nanggung malu! Dan lu... lu anak dari pemilik perusahaan itu... lu malah ilang pas gue butuh sandaran!”

Bisma mundur selangkah, syok. “Dipecat? Korupsi? Gue... gue nggak tau soal itu. Ayah cuma bilang ada masalah internal...”

“Masalah internal yang ngebunuh Ayah gue!” Sandra menuding dada Bisma dengan jari gemetar. “Dan lu tau apa yang paling sakit? Saat gue nungguin lu di rumah sakit, berharap lu dateng, berharap lu beda dari keluarga lu... lu malah posting foto ketawa-ketiwi sambil pegang gelas sampanye. Caption-nya: ‘Hidup ini indah’.”

Sandra tertawa getir, air matanya mengalir deras. “Indah buat lu, Bis. Neraka buat gue.”

Bisma terdiam. Dia ingat foto itu. Itu foto yang diposting oleh admin media sosialnya atas suruhan Regina—ibunya, untuk menjaga citra perusahaan. Dia bahkan tidak memegang ponselnya saat itu.

“San... itu bukan gue yang post...” Bisma mencoba menjelaskan, suaranya melemah. Rasa bersalah mulai merayapinya. Jika benar Sandra menghubunginya saat itu... dan dia tidak ada...

“Udah lah,” Sandra menghapus air matanya kasar. Dia memalingkan wajah ke jendela gelap. “Percuma dibahas. Nasi udah jadi bubur. Ayah gue udah nggak ada. Ibu gue nyusul sebulan kemudian karena depresi. Gue yatim piatu, Bis. Gara-gara keluarga lu. Gara-gara lu.”

Bisma merasa seperti ditonjok tepat di ulu hati.

Dia menatap sosok rapuh di ranjang itu. Selama ini dia mengira Sandra meninggalkannya karena bosan. Karena ada pria lain. Karena Sandra tidak tahan dengan gaya hidupnya.

Ternyata... Sandra meninggalkannya karena Sandra sedang sekarat sendirian, dan Bisma tidak ada di sana untuk menyelamatkannya.

Tapi tunggu.

Ada satu hal yang mengganjal di benak Bisma. Satu hal yang membuatnya bertahan dalam kebencian selama lima tahun ini.

“Kalau lu emang sehancur itu...” Bisma bertanya pelan, suaranya bergetar menahan emosi yang lain. “...kenapa Nyokap gue bilang lu mau nikah?”

Sandra menoleh cepat. “Apa?”

Bisma merogoh dompetnya. Mengeluarkan secarik kertas foto yang sudah lecek karena terlalu sering diremas. Bukan foto polaroid kenangan mereka. Tapi foto lain.

Dia melempar foto itu ke pangkuan Sandra.

“Liat itu,” perintah Bisma dingin.

Sandra mengambil foto itu dengan tangan gemetar.

Itu foto candid. Diambil dari jarak jauh.

Di foto itu, Sandra terlihat berdiri di depan sebuah rumah sederhana di desa (rumah tantenya). Dia memakai kebaya sederhana. Di sebelahnya, berdiri seorang pria—sepupunya, Mas Danang—yang sedang merangkul bahunya sambil tersenyum lebar. Di latar belakang, ada tenda biru.

“Ini...” Sandra mengernyit. “Ini pas acara sunatan keponakan gue di Solo. Ini Mas Danang, sepupu gue.”

Bisma ternganga. “Sepupu?”

“Iya! Sepupu! Ini acara sunatan!”

“Nyokap gue bilang...” Bisma menelan ludah, tenggorokannya tercekat. “Nyokap gue bilang itu foto lu lamaran. Dia bilang lu pulang kampung buat nikah sama pilihan orang tua lu. Dia bilang lu udah bahagia dan move on dari gue.”

Sandra menatap Bisma tak percaya. “Ibu lu bilang gitu?”

“Iya. Dia ngasih foto ini pas gue lagi hancur-hancurnya nyari lu. Dia bilang, ‘Lupain dia, Bis. Dia udah nemu yang lebih baik’.” Bisma tertawa sumbang, menyisir rambutnya dengan frustrasi. “Dan gue percaya. Gue percaya lu ninggalin gue buat cowok lain. Makanya gue benci sama lu, San. Makanya gue jadi bajingan selama lima tahun ini.”

Hening.

Kepingan puzzle itu perlahan menyatu, membentuk sebuah gambar yang mengerikan.

Sandra menatap foto di tangannya, lalu menatap Bisma.

“HP lu dipegang asisten Ibu lu waktu di kapal,” bisik Sandra, menyadari sesuatu.

“Iya,” jawab Bisma.

“Berarti... yang baca chat gue... yang liat panggilan gue...”

“...Nyokap gue,” sambung Bisma, wajahnya menggelap.

Darah Sandra mendidih. Bukan pada Bisma kali ini. Tapi pada sosok wanita elegan yang wajahnya sering dia lihat di majalah bisnis. Regina Adijaya.

Wanita itu tahu.

Regina tahu Ayah Sandra meninggal. Regina tahu Sandra memohon bantuan Bisma.

Tapi Regina memilih untuk menghapus pesan itu. Menyembunyikannya dari Bisma. Dan kemudian, menggunakan foto sepupu Sandra untuk memfitnah Sandra agar Bisma berhenti mencari.

“Dia iblis,” desis Sandra. “Ibu lu iblis, Bis.”

Bisma tidak membela ibunya. Dia tidak bisa. Fakta-fakta ini terlalu brutal. Ibunya memanipulasi ketidakhadiran Bisma untuk memisahkan mereka secara permanen.

Bisma jatuh terduduk di kursi plastiknya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Gue nggak tau, San,” suara Bisma pecah. “Demi Tuhan, gue nggak tau lu menderita sendirian. Gue pikir lu bahagia. Gue pikir lu yang buang gue.”

Sandra melihat bahu Bisma berguncang.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dinding kebencian di antara mereka retak. Bukan hancur sepenuhnya, tapi retak cukup besar untuk melihat kebenaran di seberangnya.

Mereka berdua adalah korban. Korban dari permainan orang dewasa yang kejam. Korban dari kesalahpahaman yang dirancang dengan rapi.

Sandra mengulurkan tangannya. Ragu-ragu.

Dia menyentuh lutut Bisma.

“Gue nggak pernah nikah, Bis,” kata Sandra pelan. “Gue nggak pernah punya cowok lain. Gue sibuk bertahan hidup. Gue sibuk nulis buat bayar utang pengobatan Ayah Ibu gue.”

Bisma mengangkat wajahnya. Matanya merah. Dia menatap Sandra dengan tatapan yang begitu dalam, begitu penuh penyesalan, hingga membuat dada Sandra sesak.

“Maafin gue,” bisik Bisma. “Maafin gue nggak ada di sana.”

Sandra ingin memeluknya. Ingin menangis di bahunya seperti yang seharusnya dia lakukan lima tahun lalu. Tapi rasa sakit itu masih ada. Luka itu masih basah. Dan status mereka sekarang sebagai suami istri karena kecelakaan—membuat segalanya semakin rumit.

“Gue nggak bisa maafin lu sekarang, Bis,” jawab Sandra jujur. “Sakitnya masih ada. Dan fakta kalau keluarga lu yang bikin gue jadi yatim piatu... itu nggak bisa diubah.”

Bisma mengangguk lemah. “Gue ngerti. Gue nggak minta dimaafin sekarang. Gue cuma pengen lu tau... gue nggak pernah berhenti nyari lu. Sampai foto sialan itu dateng.”

Bisma mengambil foto lecek itu dari tangan Sandra. Dia merobeknya menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Hingga menjadi serpihan kecil.

Dia membuang serpihan itu ke tempat sampah.

“Mulai sekarang,” kata Bisma, suaranya kembali tegas, ada tekad baru di matanya. “Nggak ada lagi kebohongan. Nggak ada lagi rahasia.”

Dia menatap Sandra.

“Gue bakal cari tau apa yang sebenernya terjadi sama Ayah lu. Gue bakal tanya ke bokap gue... atau ke siapa aja. Kalau emang perusahaan keluarga gue salah... gue bakal tebus dosa itu.”

Sandra menatapnya skeptis. “Lu berani ngelawan Ibu lu?”

Bisma tersenyum miris. “Dia udah ngambil lima tahun gue, San. Dia bikin gue kehilangan lu. Lu pikir gue masih peduli?”

Bisma bangkit berdiri, membetulkan letak selimut Sandra.

“Tidur. Lu butuh istirahat. Setelah syuting ini selesai, kita pulang.”

“Pulang ke mana?”

“Ke Jakarta. Ke 'Kandang Komodo',” jawab Bisma. “Kita selesaiin ini. Gue, lu, dan semua setan masa lalu kita.”

Sandra memejamkan mata. Lelahnya luar biasa. Tapi malam ini, mimpi buruknya mungkin tidak akan datang. Karena penjaganya—si Komodo yang ternyata juga terluka—duduk terjaga di sampingnya, siap menggigit siapapun yang berani mengganggu tidur istrinya.

Dan di luar sana, fajar mulai menyingsing, membawa cahaya pada kebenaran yang selama ini tertutup kabut kebohongan.