Drama

Mendadak Kawin-Ciuman Dari Hati-Bab 12

24 November 2025

“Lu masih pucet. Yakin kuat syuting?”

Bisma berbisik, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sandra yang sedang duduk di kursi rias. Tangannya terulur, hendak menyentuh dahi Sandra untuk mengecek suhu, tapi tertahan di udara.

Sandra menatap pantulan Bisma di cermin. Pria itu sudah bertransformasi menjadi Nicho—karakter yang dia mainkan—dengan kemeja putih yang sedikit kusut dan rambut yang ditata messy. Tapi mata itu... mata yang menatapnya penuh kekhawatiran itu adalah mata Bisma. Bisma yang semalam menangis di klinik. Bisma yang baru saja mengetahui bahwa ibunya adalah dalang di balik kehancuran hidup Sandra.

“Gue oke, Bis. Cuma butuh blush on lebih tebal biar nggak kayak zombie,” jawab Sandra datar, menepis tangan Bisma pelan.

“Jangan dipaksa. Gue bisa bilang ke Mas Angga buat reschedule adegan ini,” desak Bisma. Dia masih merasa bersalah. Rasa bersalah yang menumpuk selama lima tahun kini bercampur dengan keinginan kuat untuk melindungi wanita di depannya ini.

“Dan bikin jadwal mundur? Nggak. Gue profesional,” Sandra berdiri, merapikan dress floral yang dia kenakan sebagai kostum Anna. Dia berbalik menghadap Bisma, menatapnya tajam. “Dan lu juga harus profesional. Apa yang kita omongin semalam di klinik... simpen dulu. Sekarang kita Anna dan Nicho. Bukan Sandra dan Bisma.”

Bisma terdiam. Dia mengagumi ketegaran Sandra, tapi di saat yang sama, dia membencinya. Dia benci bagaimana Sandra bisa membangun tembok setebal itu lagi setelah mereka sempat berbagi momen rapuh semalam.

“Oke,” kata Bisma akhirnya, suaranya memberat. “Kita profesional. Tapi kalau lu pingsan, gue nggak akan nanya dulu sebelum gendong lu keluar dari set.”

“Terserah lu, Komodo.”

Sandra berjalan melewati Bisma menuju lokasi pengambilan gambar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena sisa alergi, tapi karena dia tahu adegan apa yang menanti mereka hari ini.

Adegan 34: Nicho dan Anna bertemu kembali di taman desa saat hujan buatan turun. Pertengkaran hebat yang berujung pada ciuman penuh gairah dan kerinduan.

Ciuman.

Sandra menelan ludah. ‘Cuma akting, San. Cuma nempel bibir. Lu udah pernah ngelakuin yang lebih dari itu sama dia di pondok sialan itu. Jangan baper.’

Lokasi syuting disulap menjadi taman yang melankolis. Truk tangki air sudah bersiap untuk menciptakan hujan buatan. Angga, sang sutradara, sedang mondar-mandir dengan wajah tegang. Dia butuh shot ini sempurna. Ini adalah turning point film OPIA.

“Oke, Listen everybody!” seru Angga lewat pengeras suara. “Ini adegan krusial! Emosi harus dapet! Anna, kamu marah, kecewa, tapi kamu rindu setengah mati sama Nicho. Nicho, kamu putus asa, kamu cinta mati sama dia, dan kamu nggak mau kehilangan dia lagi! Paham?”

“Paham, Mas!” jawab kru serempak.

Bisma dan Sandra berdiri di posisi masing-masing. Hujan buatan mulai turun, membasahi tubuh mereka dalam hitungan detik. Dingin air itu menusuk kulit Sandra yang baru sembuh, membuatnya menggigil.

Bisma melihat itu. Rahangnya mengeras. Dia ingin berteriak pada kru untuk mematikan air, tapi dia ingat kata-kata Sandra: Profesional.

“ACTION!”

Bisma melangkah maju, menembus hujan. Wajahnya penuh determinasi.

“Anna! Dengerin aku dulu!” teriak Bisma (sebagai Nicho).

Sandra berbalik, wajahnya basah. “Dengerin apa lagi?! Semuanya udah jelas, Nicho! Kamu pergi! Kamu ninggalin aku!”

“Aku nggak pernah ninggalin kamu! Aku...” Bisma meraih lengan Sandra.

Sandra menepisnya. “Jangan sentuh aku!”

“CUT!” teriak Angga.

Hujan dimatikan sejenak. Angga berjalan mendekat dengan wajah tidak puas.

“Kaku! Kaku banget!” omel Angga. “Sandra, tepisan kamu itu kayak orang jijik! Bukan orang yang sakit hati! Dan Bisma, tatapan kamu kosong! Mana gairahnya? Mana rasa takut kehilangannya? Lu liat dia kayak liat tembok!”

Bisma mengusap wajahnya yang basah. “Sorry, Mas. Ulang.”

“Sandra, lu kenapa sih?” bisik Bisma saat Angga kembali ke monitor. “Tangan lu dingin banget. Lu masih sakit?”

“Gue nggak jijik sama lu, Bis,” bisik Sandra, suaranya bergetar kedinginan. “Gue cuma... gue inget semuanya. Gue inget gimana lu nggak ada waktu Ayah gue meninggal. Susah buat misahin Anna sama Sandra sekarang.”

Bisma tertegun. Dia meraih tangan Sandra, menggenggamnya erat di bawah guyuran hujan yang belum dinyalakan lagi.

“Pake itu,” kata Bisma intens. “Pake rasa sakit itu, San. Marah sama gue. Pukul gue kalau perlu. Tapi jangan anggep gue orang asing. Anggep gue Bisma yang udah nyakitin lu.”

Sandra menatap mata Bisma. Mata yang hitam, pekat, dan memohon.

“Oke,” bisik Sandra.

“ACTION!”

Hujan turun lagi. Lebih deras.

“Anna! Berhenti!” Bisma mengejar Sandra, mencengkeram bahunya dan memutarnya paksa.

Sandra menatapnya nyalang. “Lepasin! Sakit!”

“Lebih sakit mana sama aku?!” teriak Bisma, mengabaikan naskah aslinya. Dia berimprovisasi. “Kamu pikir aku hidup tenang selama lima tahun ini? Kamu pikir aku bahagia? Aku mati rasa, Anna! Aku mati rasa tanpa kamu!”

Sandra terhenyak. Itu bukan dialog Nicho. Itu dialog Bisma. Itu pengakuan dosa Bisma atas lima tahun kehampaannya.

“Kamu bohong...” suara Sandra pecah, air mata bercampur air hujan. “Kalau kamu cinta, kamu nggak akan biarin aku sendirian... kamu nggak akan biarin aku hancur...”

“Aku bodoh! Aku pengecut! Iya, aku salah!” Bisma menarik tubuh Sandra mendekat, begitu dekat hingga napas mereka beradu. “Maki aku, pukul aku, bunuh aku sekalian kalau itu bisa bikin kamu maafin aku. Tapi jangan suruh aku pergi lagi. Karena aku nggak bisa. Sumpah demi Tuhan, aku nggak bisa napas kalau nggak ada kamu.”

Intensitas di antara mereka meledak. Udara di sekitar mereka seolah bermuatan listrik. Kru di sekitar set menahan napas. Angga di monitor condong ke depan, matanya berbinar. Ini dia.

Sandra menatap bibir Bisma yang basah. Kebencian, kerinduan, rasa sakit, dan cinta yang bodoh itu bercampur aduk menjadi satu dorongan impulsif.

“Buktiin,” tantang Sandra lirih.

Dan Bisma tidak menunggu sedetikpun.

Dia menangkup wajah Sandra dengan kedua tangannya yang besar dan hangat, lalu menabrakkan bibirnya ke bibir Sandra.

Itu bukan ciuman film romantis yang lembut dan terukur.

Itu ciuman yang putus asa. Kasar. Lapar.

Bisma melumat bibir Sandra seolah dia sedang kehausan di padang pasir dan Sandra adalah satu-satunya sumber air. Dia mencurahkan semua frustrasinya, semua penyesalannya tentang pesan yang tak terbalas, tentang foto palsu dari ibunya, tentang lima tahun yang terbuang sia-sia.

Sandra, yang awalnya kaget, merasakan pertahanannya runtuh. Dia mencengkeram kemeja basah Bisma, menarik pria itu lebih dekat, membalas ciuman itu dengan sama putus asanya. Dia menumpahkan rasa sakit kehilangan orang tuanya, rasa lelah berjuang sendirian, dan rasa rindu pada "Komodo"-nya ke dalam ciuman itu.

Lidah mereka bertemu, saling membelit, saling menuntut. Tangan Bisma turun ke pinggang Sandra, meremasnya posesif, menarik tubuh Sandra menempel padanya hingga tidak ada jarak tersisa.

Mereka lupa kamera. Mereka lupa kru. Mereka lupa hujan buatan yang dingin.

Dunia menyempit. Hanya ada Bisma dan Sandra. Suami dan Istri yang terluka, yang mencoba menyembuhkan diri lewat sentuhan yang membakar.

Angga ternganga. “Gila... chemistry-nya...”

Satu menit berlalu. Ciuman itu tidak berhenti. Malah semakin dalam. Bisma memiringkan kepalanya, memperdalam pagutannya, membuat Sandra mendesah tertahan di sela ciuman mereka.

Kru mulai saling pandang dengan wajah merah. Ini sudah terlalu intim untuk sebuah syuting film rating remaja.

“Oke... CUT!” teriak Angga.

Bisma dan Sandra tidak mendengarnya. Bisma masih mencium rahang Sandra, lalu kembali ke bibirnya, menggigit bibir bawah Sandra pelan.

“CUT! BISMA! SANDRA! CUT!” Angga berteriak lewat toa.

Suara toa yang nyaring akhirnya menembus kabut gairah mereka.

Bisma tersentak. Dia melepaskan bibir Sandra, tapi dahinya masih menempel di dahi Sandra. Napas mereka berdua memburu, terengah-engah, menciptakan uap putih di udara dingin.

Mata mereka terbuka. Saling tatap dalam jarak nol sentimeter.

Realita menghantam mereka seperti truk.

Sandra mundur selangkah, tangannya menyentuh bibirnya yang bengkak dan merah. Matanya membelalak ngeri.

‘Apa yang baru aja gue lakuin?’

Bisma berdiri mematung, dadanya naik turun. Dia menatap Sandra, dan untuk pertama kalinya, dia melihat ketakutan di mata itu. Ketakutan karena menyadari bahwa perasaan itu... masih ada. Sangat ada.

“Bungkus! Break!” seru Angga, bertepuk tangan puas. “Itu take terbaik yang pernah gue liat! Gila kalian!”

Sandra tidak menunggu pujian. Dia berbalik dan lari. Dia lari secepat mungkin menuju tenda ganti, meninggalkan Bisma sendirian di tengah hujan buatan yang perlahan mati.

Bisma mengusap wajahnya kasar. Jantungnya masih berdetak gila-gilaan. Rasanya... rasanya dia ingin mengejar Sandra dan melanjutkan apa yang baru saja mereka mulai.

“Sialan,” umpat Bisma. “Gue bener-bener masih cinta sama dia.”

Namun, tidak semua orang terpesona dengan adegan itu.

Di sisi lain set, tersembunyi di balik tumpukan kotak peralatan lighting, Nadine berdiri.

Dia tidak melihat ke monitor sutradara. Dia melihat langsung.

Tangannya memegang ponsel yang diarahkan lurus ke adegan ciuman tadi. Dia merekam semuanya. Dari angle samping yang memperlihatkan betapa agresif-nya ciuman itu. Betapa tangan Sandra meremas baju Bisma. Betapa tubuh mereka menempel tanpa celah.

Video itu berdurasi dua menit. Dua menit penuh gairah yang tidak bisa disangkal.

Nadine menekan tombol stop. Dia memutar ulang video itu, men-zoom wajah Sandra yang terlihat menikmati ciuman itu.

Sebuah senyum kemenangan yang mengerikan terbit di wajah Nadine.

“Kena lu,” bisik Nadine. “Ini bukan akting. Ini nafsu. Ini bukti kalau lu, Sandra Gunawan, adalah cewek gatel yang manfaatin Bisma.”

Nadine membuka aplikasi pesan. Kontak ‘Tante Regina’ sudah ada di recent chat-nya.

Dia melampirkan video itu.

Dan dia mengetik pesan yang akan menjadi bensin bagi api kemarahan Regina.

‘Tante, liat ini. Liat betapa agresifnya perempuan itu. Ini baru take kedua, dan dia udah nyosor kayak gitu. Dia bener-bener mau ngiket Bisma lewat tubuhnya, Tan. Bisma kayak diguna-guna. Kalau ini tayang di bioskop, orang-orang bakal mikir Sandra yang godain Bisma duluan. Kita harus selamatin Bisma dari pelakor ini.’

Sent.

Nadine menatap tanda centang di layar ponselnya.

“Selesai lu, San,” gumam Nadine. “Tante Regina nggak akan tinggal diem liat anaknya di-service kayak gitu sama anak musuhnya.”

Malam harinya, suasana di penginapan terasa mencekam bagi Bisma dan Sandra.

Sandra mengurung diri di kamar, menolak makan malam. Dia malu. Dia marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia membalas ciuman pria yang keluarganya menghancurkan hidupnya? Pengakuan Bisma semalam memang membuka hatinya sedikit, tapi ciuman tadi... itu terlalu jauh.

‘Gue lemah. Gue murahan,’ rutuk Sandra sambil menatap cermin. Bibirnya masih terasa panas.

Sementara itu, Bisma duduk di teras depan, merokok (kebiasaan lama yang muncul lagi kalau dia stres berat). Dia menatap pintu kamar Sandra yang tertutup rapat.

Dia ingin mengetuk. Dia ingin bicara. Dia ingin bilang kalau ciuman tadi adalah hal paling jujur yang pernah dia rasakan selama lima tahun ini.

Tapi ponselnya bergetar.

Bisma melihat layar.

Mama Calling...

Jantung Bisma berhenti. Dia tahu. Instingnya mengatakan ibunya tahu sesuatu.

Bisma mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar. “Halo, Ma?”

“Bisma Adijaya.” Suara Regina terdengar dingin, setajam pisau bedah. Tidak ada sapaan manis. Tidak ada basa-basi.

“Mama baru saja melihat video yang... menjijikkan.”

Bisma memejamkan mata. Nadine. Pasti Nadine. Dia tahu bagaimana dekatnya Nadine dengan Ibunya.

“Itu adegan film, Ma. Tuntutan skenario,” jawab Bisma datar, berusaha tenang.

“Skenario?” Regina tertawa sinis. “Mama sudah baca skenarionya. Tertulis 'ciuman rindu', bukan 'ciuman binatang'. Perempuan itu... dia melahap kamu, Bisma. Dia menjerat kamu. Apa kamu tidak sadar? Dia menggunakan tubuhnya untuk membuat kamu tunduk!”

“Cukup, Ma! Dia Sandra! Dia profesional!”

“Dia bukan wanita baik-baik, Bisma!” suara Regina meninggi, penuh kebencian. “Dengar Mama baik-baik. Jauhi dia di luar set. Jangan biarkan dia menyentuhmu lebih dari kontrak. Atau Mama akan datang ke sana dan menyeretmu pulang. Persetan dengan film itu.”

“Mama nggak bisa ngatur aku lagi!”

“Bisa. Selama kamu masih membawa nama Adijaya, kamu milik Mama. Ingat itu. Jauhi perempuan itu, atau Mama akan buat dia menyesal pernah dilahirkan.”

KLIK.

Telepon diputus sepihak.

Bisma membanting ponselnya ke kursi kayu di sebelahnya.

“ARGHHH!”

Dia menjambak rambutnya sendiri. Frustrasi. Marah.

Bisma menatap pintu kamar Sandra lagi. Kali ini dengan tatapan penuh rasa sakit.

Dia mencintai Sandra. Ciuman tadi membuktikannya.

Tapi cintanya... adalah bahaya terbesar bagi Sandra. Semakin dia mendekat, semakin ibunya akan menyerang Sandra.

Bisma menyadari satu hal malam itu. Untuk melindungi Sandra, dia mungkin harus menjadi apa yang Sandra benci. Dia harus menjadi bajingan lagi. Dia harus menjauh.

Setidaknya, sampai dia menemukan cara untuk melawan ibunya.

Di dalam kamar, Sandra mendengar teriakan frustrasi Bisma. Dia ingin keluar. Dia ingin bertanya.

Tapi dia menahan diri. Dia memeluk lututnya, menangis dalam diam.

Malam itu, ciuman pertama mereka setelah lima tahun bukan menjadi awal kebahagiaan, melainkan awal dari perang dingin yang baru. Dan di Jakarta, Sang Ratu sedang menyusun rencana untuk memberikan mimpi buruk yang sesungguhnya.