Drama

Mendadak Kawin-Gue Bau Ikan Asin, Lu Bau Sampah!-Bab 13

24 November 2025

Pagi itu, matahari terbit dengan enggan di ufuk timur desa, seolah tahu bahwa hari ini tidak akan berjalan sehangat kemarin.

Sandra terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Bibirnya masih terasa bengkak, sisa dari ciuman gila dan putus asa di bawah hujan buatan kemarin sore. Ingatan tentang bagaimana Bisma menatapnya, bagaimana tangan pria itu merengkuhnya seolah dia adalah satu-satunya pegangan di dunia, membuat pipi Sandra memanas seketika.

‘Dia bilang dia nggak bisa napas tanpa gue,’ batin Sandra, menggigit bibir bawahnya sambil menatap langit-langit kamar yang kusam. ‘Itu bukan akting. Gue yakin itu bukan akting.’

Ada secercah harapan yang mekar di dada Sandra. Mungkin... mungkin ini saatnya mereka berhenti berlari. Mungkin Bisma benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Kejadian di klinik dan ciuman di lokasi syuting adalah buktinya.

Dengan semangat baru, Sandra melompat turun dari kasur. Dia mandi lebih cepat dari biasanya, mematut diri di cermin, bahkan memoleskan sedikit lip tint agar terlihat lebih segar. Dia ingin menyapa Bisma pagi ini. Dia ingin bertanya, “So... what are we now?”

Sandra menyambar naskahnya dan berlari kecil keluar kamar menuju ruang makan penginapan. Biasanya, Bisma sedang ngopi di sana jam segini sambil baca berita bola.

Namun, ruang makan itu kosong.

Hanya ada gelas kopi yang isinya masih setengah dan sudah dingin.

“Mbak Sandra? Nyari Mas Bisma?” tanya Pak Haji Sobri yang sedang menyapu halaman depan.

Sandra menoleh. “Iya, Pak. Bisma mana? Masih di kamar?”

“Walah, Mas Bisma udah berangkat dari setengah jam yang lalu, Mbak. Sama Mas Doni. Katanya mau reading pagi-pagi di lokasi,” jawab Pak Haji.

Sandra mengernyit. Berangkat duluan? Tanpa dia? Biasanya Bisma akan gedor-gedor pintunya sambil teriak, ‘Woy Keong, bangun! Telat gue potong honor lu!’

“Oh... oke. Makasih, Pak.”

Sandra mencoba berpikir positif. Mungkin Bisma grogi. Mungkin dia butuh waktu sendiri setelah ledakan emosi kemarin. Sandra pun berjalan kaki menuju lokasi syuting yang tidak terlalu jauh, hatinya berdebar menanti pertemuan mereka.


Sesampainya di lokasi, suasana sudah sibuk. Sandra melihat Bisma duduk di kursi lipatnya di pojok, sedang membaca naskah dengan earphone terpasang di telinga. Dia terlihat tertutup, dingin, dan tidak tersentuh.

Sandra menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian, lalu menghampirinya.

“Pagi, Bis,” sapa Sandra ceria, mencoba mencairkan suasana. “Tumben ninggalin gue. Takut gue tagih utang nyawa ya?”

Bisma tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada kertas di tangannya. Dia bahkan tidak melepas earphone-nya.

Sandra mengerutkan kening. Dia melambaikan tangan di depan wajah Bisma. “Halo? Bumi memanggil Komodo. Masuk, ganti.”

Perlahan, Bisma melepas satu earphone-nya. Dia menoleh ke arah Sandra.

Tidak ada tatapan hangat. Tidak ada sorot mata yang memohon seperti kemarin. Yang ada hanyalah tatapan kosong, datar, dan sedingin es batu.

“Apa?” tanya Bisma singkat.

Senyum Sandra luntur seketika. “Lu... lu kenapa? Kok ninggalin gue?”

“Gue butuh konsentrasi. Lu berisik kalau pagi,” jawab Bisma ketus, lalu kembali memasang earphone-nya.

Sandra terpaku. Rasanya seperti disiram air es.

“Bis, soal kemarin...” Sandra mencoba lagi, suaranya merendah. “Soal ciuman itu...”

Bisma mendengus kasar. Dia meletakkan naskahnya dengan keras, lalu berdiri menjulang di depan Sandra.

“Lu mau bahas itu?” Bisma menatap Sandra tajam. “Oke, kita bahas. Itu kesalahan.”

“Kesalahan?” ulang Sandra, tidak percaya.

“Iya. Gue kebawa suasana. Hujan, emosi, capek. Gue aktor, San. Kadang gue terlalu mendalami peran sampai lupa kalau lawan main gue itu... lu,” ucap Bisma. Setiap katanya dirancang khusus untuk melukai.

Sakit. Hati Sandra mencelos.

“Tapi... lu bilang lu mati rasa tanpa gue...”

“Itu dialog, Sandra. Improvisasi,” potong Bisma cepat. “Jangan baper. Kita di sini kerja. Gue nggak mau drama murahan kayak kemarin ngerusak reputasi gue lagi. Cukup sekali gue kelihatan lemah.”

Bisma mendekatkan wajahnya, tapi kali ini bukan untuk mencium.

“Mulai sekarang, jaga jarak. Gue suami lu di kertas, tapi di sini, kita cuma rekan kerja. Paham?”

Tanpa menunggu jawaban, Bisma berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Sandra yang mematung dengan mata berkaca-kaca.

Di balik kacamata hitamnya, mata Bisma terpejam erat menahan rasa sakit. Tangannya mengepal di dalam saku celana.

‘Maafin gue, San,’ batin Bisma, terngiang ancaman ibunya semalam. ‘Kalau gue deket sama lu, Mama bakal hancurin lu. Gue harus jadi bajingan biar lu selamat.’


Di sisi lain tenda, Nadine memperhatikan interaksi itu dengan senyum lebar. Dia sedang duduk sambil dikipasi oleh asistennya.

“Trouble in paradise, huh?” gumam Nadine.

Rupanya, telepon Tante Regina semalam benar-benar ampuh. Bisma langsung menjaga jarak. Tapi bagi Nadine, itu belum cukup. Dia melihat tatapan terluka Sandra. Luka itu masih mengandung harapan. Nadine harus mematikan harapan itu sampai ke akar-akarnya.

“Mbak Nadine, ini kostum buat scene selanjutnya,” panggil wardrobe.

Nadine menoleh. Adegan selanjutnya adalah adegan makan malam romantis di sebuah restoran desa (yang diset agak mewah). Anna (Sandra) akan memakai gaun satin biru muda yang cantik.

“Oh, taruh situ aja dulu. Gue mau cek jahitan,” kata Nadine.

Setelah wardrobe pergi, Nadine mendekati gantungan baju tempat gaun Sandra berada. Dia melihat sekeliling. Sepi.

Nadine merogoh tasnya. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil bekas spray wajah. Tapi isinya bukan air mawar.

Isinya adalah air rendaman ikan asin peda dan terasi yang sudah dia diamkan selama dua hari. Baunya... busuk, amis, dan menyengat luar biasa.

“Alergi udang gagal bikin lu dipecat,” bisik Nadine. “Mari kita lihat, gimana reaksi Sang Pangeran kalau Tuan Putrinya bau kayak pasar ikan busuk.”

Nadine menyemprotkan cairan itu ke bagian dalam gaun, terutama di bagian ketiak dan leher dalam. Kain satin itu menyerap cairan dengan cepat tanpa meninggalkan noda yang terlalu terlihat, tapi baunya... astaga.

Nadine menahan napas sambil tersenyum licik. “ Have fun, Sandra.”


“Action!” seru Angga.

Lampu-lampu temaram menghiasi set restoran. Musik jazz lembut mengalun. Suasananya seharusnya romantis.

Sandra duduk di kursi, berusaha menahan air matanya. Dia harus berakting bahagia. Dia harus berakting jatuh cinta pada pria yang baru saja menginjak-injak hatinya pagi ini.

Bisma duduk di hadapannya, tampak gagah dengan jas kasual. Wajahnya datar, tapi matanya tidak berani menatap Sandra lama-lama.

“Malam ini indah ya, Anna,” ucap Bisma (sebagai Nicho), mengangkat gelas jus (ceritanya wine).

“Iya, Nicho. Makasih udah ajak aku ke sini,” jawab Sandra. Dia merasa tidak nyaman. Ada bau aneh yang menguar dari tubuhnya sejak dia memakai gaun ini. Bau amis yang samar-samar, tapi semakin lama semakin kuat karena panas lampu sorot.

Bisma mengendus pelan. Hidungnya kembang kempis.

‘Bau apaan nih? Kayak bangkai tikus campur ikan asin,’ batin Bisma.

“Kamu cantik malam ini,” lanjut dialog Bisma. Sesuai skenario, Bisma harus berdiri, berjalan memutari meja, lalu memeluk Sandra dari belakang dan mencium lehernya.

Sandra menahan napas. Dia tahu dia bau. Dia mencoba menggeser duduknya, tapi bau itu menempel di gaunnya.

Bisma berdiri. Dia berjalan mendekati Sandra.

Saat Bisma membungkuk di belakang Sandra, bau busuk itu menghantam hidungnya dengan kekuatan penuh.

“Huek!”

Bisma refleks menutup hidung dan mundur selangkah. Adegan romantis itu hancur seketika.

“CUT!” teriak Angga. “Bisma! Kenapa lu mau muntah?! Itu adegan romantis!”

Suasana hening. Semua mata tertuju pada mereka.

Bisma menatap Sandra. Dia melihat wajah Sandra yang memerah menahan malu. Bisma tahu ini bukan salah Sandra. Sandra orang yang sangat menjaga kebersihan. Ini pasti sabotase.

Insting pertamanya adalah membela Sandra. Dia ingin berteriak, “Siapa yang ngerjain istri gue?!”

Tapi suara Regina bergaung di kepalanya. ‘Jauhi dia. Atau Mama hancurkan dia.’

Jika Bisma membelanya sekarang, Nadine akan melapor. Regina akan bertindak.

Bisma harus memilih. Menjadi pahlawan yang membahayakan Sandra, atau menjadi bajingan yang menyelamatkannya.

Bisma memasang wajah jijik. Wajah paling kejam yang bisa dia buat.

“Sori, Mas Angga,” kata Bisma lantang, suaranya menggema di ruangan sunyi itu. “Gue nggak bisa konsentrasi. Lawan main gue... baunya kayak truk sampah.”

DEG.

Sandra menoleh cepat, menatap Bisma dengan mata terbelalak. Hancur. Harga dirinya hancur berkeping-keping di depan puluhan kru.

Beberapa kru mulai berbisik-bisik dan menutup hidung.

“Bisma! Jaga omongan lu!” tegur Angga.

“Fakta, Mas!” Bisma mengangkat bahu, meski hatinya berdarah melihat air mata yang mulai menggenang di mata Sandra. “Gue nggak tau dia abis ngapain. Main di pasar ikan? Atau emang lupa mandi? Sori, gue profesional, tapi gue nggak bisa adegan mesra sama tong sampah.”

“Lu...” bibir Sandra bergetar hebat. “Lu jahat banget, Bis.”

“Gue jujur,” balas Bisma dingin. “Sana mandi dulu. Atau ganti baju. Bikin ilfeel aja.”

Sandra tidak tahan lagi. Dia berdiri, menutupi wajahnya dengan tangan, dan berlari keluar set sambil menangis. Bau amis itu mengikutinya, menjadi jejak kehinaannya.

“SANDRA!” panggil Angga.

Bisma tetap berdiri di tempatnya. Tangannya di dalam saku mengepal begitu erat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

‘Maafin gue, San. Maafin gue,’ teriaknya dalam hati.

Di pojok ruangan, Nadine tertawa pelan. Dia memotret kejadian itu.

“Rasain lu. Itu baru permulaan,” gumam Nadine.

Sandra berlari ke kamar mandi umum di dekat lokasi. Dia mengunci diri di salah satu bilik, melepas gaun sialan itu dengan kasar hingga robek di bagian ritsletingnya.

Dia melempar gaun itu ke lantai yang basah.

Baunya memang menjijikkan. Bau ikan asin busuk. Dia tahu ini bukan kebetulan. Seseorang menaruh sesuatu di gaunnya. Nadine. Pasti Nadine.

Tapi yang membuat dadanya sesak bukan bau itu.

Melainkan kata-kata Bisma.

“Lawan main gue baunya kayak truk sampah.” “Bikin ilfeel aja.”

Sandra merosot duduk di kloset tertutup, memeluk dirinya sendiri yang kini hanya berbalut pakaian dalam. Dia menangis tersedu-sedu.

Semalam, pria itu menggenggam tangannya saat dia sakit. Semalam, pria itu bilang dia takut kehilangan Sandra. Hari ini, pria itu mempermalukannya di depan semua orang.

“Lu pembohong, Bisma,” isak Sandra. “Lu bener-bener Komodo. Lu cuma pura-pura peduli. Lu jahat.”

Rasa sakit di hatinya berubah menjadi amarah. Amarah yang membakar air matanya.

Sandra menghapus pipinya kasar. Dia membuka tas jinjingnya yang dia bawa, mengambil baju ganti—kaus oblong dan celana training biasa.

Dia berpakaian dengan cepat.

“Oke,” desis Sandra pada cermin yang retak. “Lu mau main jahat? Lu mau bikin gue malu?”

Sandra menatap pantulan dirinya. Matanya bengkak, tapi nyalang.

“Gue nggak akan pergi. Gue nggak akan nangis di pojokan biar lu puas. Gue bakal selesain film ini, ambil duit gue, dan gue bakal pergi jauh dari hidup lu selamanya.”

Sandra keluar dari kamar mandi. Dia tidak kembali ke set untuk minta maaf. Dia berjalan menuju tenda katering, mengambil seember air bekas cucian piring yang kotor dan berminyak.

Lalu dia berjalan kembali ke set, di mana Bisma masih duduk santai (pura-pura santai) sambil main HP.

Nadine melihat kedatangan Sandra dan menyenggol lengan asistennya. “Eh, liat tuh. Si bau ikan asin balik.”

Bisma mendongak saat merasakan kehadiran seseorang.

Sandra berdiri di depannya. Membawa ember.

“San, lu udah...”

BYUUUUR!

Sandra menyiramkan seember air cucian piring itu tepat ke wajah dan tubuh Bisma.

Sisa nasi, minyak, dan sabun membasahi kemeja mahal dan rambut Bisma yang sudah ditata rapi.

Satu lokasi syuting terpekik kaget. Hening total.

Bisma ternganga, air kotor menetes dari hidungnya.

Sandra membanting ember plastik itu ke kaki Bisma.

“Sekarang,” kata Sandra, suaranya tenang tapi mematikan. “Kita impas. Gue bau ikan asin. Lu bau sampah. Sekarang kita bisa syuting, kan, Suamiku?”

Sandra menekankan kata 'Suamiku' dengan tatapan penuh kebencian.

Bisma menyeka wajahnya. Dia menatap Sandra.

Dan di dalam hatinya yang terdalam, di balik topeng dinginnya, Bisma tersenyum bangga.

‘Itu istri gue. Nggak ada takut-takutnya.’

“Oke,” kata Bisma, berdiri. “Panggil wardrobe. Kita take ulang.”

Nadine melongo. Rencananya untuk membuat Sandra minder dan pergi sambil menangis... gagal total. Sandra justru membalas dengan deklarasi perang.

Perang dingin di antara mereka resmi menjadi perang terbuka. Dan baunya... sungguh tidak sedap.