Drama

Mendadak Kawin-Awas Lu ya!-Bab 14

24 November 2025

“ASIN! Kurang garem dikit, tapi not bad lah buat menu pembuka perang dunia ketiga.”

Bisma menyeka wajahnya yang basah kuyup dengan punggung tangan. Sebutir nasi kering yang tadinya menempel di alis tebalnya jatuh ke pipi. Dia menjilat sudut bibirnya, merasakan rasa sabun pencuci piring bercampur minyak jelantah yang baru saja disiramkan Sandra ke wajah tampannya.

Kalimat sarkas itu meluncur begitu saja, memecah keheningan horor di lokasi syuting.

Sandra, yang berdiri di depannya dengan napas memburu dan ember plastik kosong di tangan, tidak tertawa. Dada bidangnya naik turun menahan amarah yang belum tuntas.

“Itu baru appetizer, Bisma,” desis Sandra, suaranya bergetar hebat. “Menu utamanya nanti. Pas gue bener-bener pergi dari hidup lu.”

“CUT!! CUT!! CUT!!”

Teriakan Nia—sang produser yang baru saja tiba di lokasi dan menyaksikan adegan siram-siraman itu—menggelegar lebih keras dari petir.

Nia berlari masuk ke set, sepatu hak tingginya menancap-nancap di tanah dengan penuh emosi. Wajahnya merah padam, matanya melotot menatap dua bintang utamanya yang kini tampak seperti korban banjir bandang.

“KALIAN PIKIR INI REALITY SHOW TAWURAN PELAJAR?!” sembur Nia tepat di depan muka Bisma dan Sandra. “Bisma! Kamu bau sampah! Sandra! Kamu bau pasar ikan! Apa-apaan ini?!”

“Dia yang mulai, Mbak!” tunjuk Sandra pada Bisma, matanya berkaca-kaca karena sisa tangis dan amarah. “Dia ngehina saya di depan semua kru! Dia bilang saya bau truk sampah!”

“Fakta, Mbak,” sahut Bisma santai, meski dia sendiri sedang menahan bau busuk yang menguar dari kemejanya yang basah. “Mbak Nia cium aja sendiri. Ikan asinnya strong banget. Hidung saya sensitif, saya nggak bisa kerja kalau lawan main saya baunya kayak pelelangan ikan muara baru.”

“Bisma!” bentak Nia. “Mulut kamu itu diasuransiin mahal-mahal bukan buat ngehina orang!”

Nia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Dia menatap sekeliling. Kru menahan tawa, beberapa menutup hidung. Nadine berdiri di pojokan dengan wajah pura-pura prihatin yang sangat palsu.

“Bubar! Break dua jam!” perintah Nia pada kru. Lalu dia menunjuk Bisma dan Sandra bergantian. “Kalian berdua. Pulang ke penginapan. Sekarang. Mandi. Keramas. Pake parfum satu botol kalau perlu. Saya nggak mau liat muka kalian sebelum kalian wangi!”

“Siap, Mbak,” kata Bisma. Dia berbalik hendak menuju mobil jemputan artis.

“Eits! Mau ke mana?” tahan Nia. “Jangan naik mobil artis. Joknya kulit mahal. Nanti baunya nempel nggak ilang-ilang.”

Bisma melongo. “Terus saya naik apa? Jalan kaki?”

“Tuh,” Nia menunjuk sebuah mobil bak terbuka (pikap) tua milik warga desa yang biasa dipakai mengangkut sayur. “Pak Sobri mau ke pasar. Kalian nebeng di bak belakang.”

“Mbak! Gila ya?! Saya Bisma Adijaya! Masa naik bak sayur?!” protes Bisma, harga dirinya tercabik-cabik.

“Bisma Adijaya yang bau comberan,” koreksi Nia sadis. “Naik. Atau honor kalian saya potong 50 persen buat biaya laundry jok mobil.”

Sandra tidak banyak bicara. Dia sudah terlalu malu. Tanpa mempedulikan Bisma, dia berjalan menuju mobil pikap itu, memanjat bak belakang dengan susah payah karena celana training-nya agak licin.

Bisma menggeram frustrasi. Dia menatap Nadine sekilas. Wanita itu tersenyum mengejek sambil menutup hidung dengan tisu cantik.

‘Awas lu, Nad. Gue tau ini ulah lu,’ batin Bisma.

Dengan langkah berat dan basah, Bisma menyusul Sandra naik ke bak pikap.


Perjalanan pulang ke penginapan adalah definisi dari komedi tragis.

Bisma dan Sandra duduk di lantai bak pikap yang beralaskan karpet plastik. Angin sore menerpa wajah mereka, mengaduk-aduk aroma busuk yang menguar dari tubuh masing-masing. Bau ikan asin dari Sandra bercampur dengan bau air cucian piring basi dari Bisma, menciptakan harmoni aroma yang bisa mematikan lalat dalam radius satu meter.

Sandra duduk memeluk lutut di pojok kiri, memalingkan wajah ke arah jalanan desa. Bahunya masih sesekali berguncang menahan isak.

Bisma duduk bersandar di dinding bak di pojok kanan, kakinya lurus. Dia menatap punggung Sandra. Rasa bersalah mulai merayap naik, mengalahkan rasa jijiknya pada bau ikan asin.

Dia ingat wajah Sandra tadi. Wajah hancur saat dia bilang “Lawan main gue baunya kayak truk sampah”.

‘Gue keterlaluan,’ rutuk Bisma dalam hati. ‘Tapi kalau gue nggak gitu, Nadine bakal lapor Mama. Dan Mama bakal ngelakuin hal yang lebih gila dari sekadar numpahin kuah ikan asin.’

Bisma menggeser duduknya sedikit mendekat, tapi tidak terlalu dekat.

“Woy,” panggil Bisma pelan.

Sandra tidak menjawab.

“Keong,” panggilnya lagi.

“Diem lu, Sampah,” balas Sandra ketus, suaranya serak.

“Galak amat. Gue cuma mau bilang... sori.”

Sandra menoleh cepat. Matanya merah dan bengkak. “Sori? Lu pikir kata sori bisa ngilangin bau ini? Bisa ngilangin malu gue di depan kru? Lu tuh jahat, Bis. Lu beneran jahat.”

“Gue terpaksa, San!” Bisma membela diri, suaranya sedikit naik karena melawan suara angin. “Lu pikir gue seneng ngatain lu? Lu pikir gue nggak tau itu ulah Nadine? Gue tau!”

“Kalau lu tau, kenapa lu malah nyerang gue?! Kenapa nggak lu labrak dia?!”

“Karena gue nggak bisa!” teriak Bisma frustrasi. “Lu nggak ngerti posisi gue! Ada hal-hal yang nggak bisa gue jelasin sekarang!”

“Ya udah, kalau gitu jangan ngomong sama gue! Gue benci sama lu! Gue benci sama bau lu! Gue benci sama mobil sayur ini!” Sandra kembali membuang muka, air matanya menetes lagi.

Bisma menghela napas panjang. Dia merogoh saku celananya yang basah. Untungnya, dompet dan ponselnya ada di tas yang dibawa asistennya tadi, jadi aman. Tapi di saku kemejanya... dia menemukan sesuatu.

Sebungkus permen mint yang sudah basah bungkusnya, tapi isinya masih aman karena terbungkus plastik lagi.

Bisma membuka bungkusnya, mengambil satu butir permen. Dia menggeser duduknya lagi, lalu menyodorkan permen itu ke arah Sandra.

“Nih. Makan.”

Sandra melirik. “Nggak mau. Nanti lu bilang mulut gue bau lagi.”

“Emang bau. Bau ikan asin. Makanya makan ini biar mendingan dikit,” kata Bisma, tapi nadanya tidak setajam tadi. “Ambil, San. Gue pegel nih tangan gue.”

Sandra akhirnya mengambil permen itu dengan kasar dan memasukkannya ke mulut. Rasa mint yang kuat sedikit mengurangi rasa mual di perutnya.

“Makasih,” gumam Sandra ketus.

“Sama-sama, Truk Sampah.”

Sandra menendang kaki Bisma. “Ngaca, woy! Lu lebih bau! Itu nasi nempel di rambut lu!”

Bisma meraba rambutnya. Benar saja. Ada sebutir nasi kering yang nyangkut di jambulnya. Dia membuangnya jijik.

“Sialan lu. Nyiram air comberan niat banget. Dapet dari mana?”

“Ember cucian piring Mang Jajang katering,” jawab Sandra polos.

Bisma tertawa. Tawa pendek yang tak tertahankan. “Gila. Istri aktor papan atas, nyiram suaminya pake air cucian piring Mang Jajang. Kalau masuk infotainment, judulnya apa coba?”

“Azab Suami Durhaka: Mati Keracunan Air Sabun,” jawab Sandra.

Untuk sesaat, di atas bak mobil sayur yang berguncang-guncang itu, ketegangan di antara mereka mencair. Mereka saling tatap—keduanya kotor, bau, dan menyedihkan—lalu sama-sama mendengus menahan tawa. Situasi ini terlalu absurd untuk dihadapi dengan serius terus-menerus.

Tapi tawa itu tidak bertahan lama. Saat mobil berhenti di depan penginapan, realita kembali menghantam.

Sandra turun lebih dulu, langsung berlari masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi.

Bisma menyusul pelan. Dia melihat Nadine berdiri di balkon lantai dua penginapan, menatap mereka sambil tersenyum miring.

Bisma menatap Nadine tajam, lalu membuat gerakan memotong leher dengan tangannya.

‘Tunggu pembalasan gue,’ ancam Bisma dalam diam.


Satu jam kemudian.

Sandra sudah mandi tiga kali. Dia memakai sabun cair, sabun batang, sampai sampo, tapi bau ikan asin itu sepertinya sudah meresap ke dalam pori-porinya. Dia menggosok kulitnya sampai merah dan perih.

“Sialan! Nggak ilang-ilang!” Sandra membanting spons mandinya ke lantai kamar mandi. Dia duduk di closet, menangis lagi karena frustrasi.

Dia merasa kotor. Dia merasa rendah. Nadine berhasil. Nadine berhasil membuatnya merasa tidak pantas ada di dekat Bisma.

Tok... Tok... Tok...

Pintu kamarnya diketuk.

“Pergi! Gue nggak mau diganggu!” teriak Sandra.

“Mbak Sandra? Ini saya, Istrinya Pak Haji Sobri,” suara ibu-ibu terdengar dari luar. “Saya bawain sesuatu dari Mas Bisma.”

Sandra terdiam. Bisma?

Dengan ragu, Sandra memakai piyamanya dan membuka pintu sedikit. Bu Haji berdiri di sana sambil membawa ember kecil berisi ampas kopi hitam yang pekat dan beberapa buah jeruk nipis.

“Ini apa, Bu?”

“Kata Mas Bisma, Mbak Sandra lagi bau amis ya? Ini disuruh luluran pake ampas kopi sama jeruk nipis. Katanya ampuh buat ngilangin bau ikan,” jelas Bu Haji ramah. “Mas Bisma tadi lari-lari ke dapur saya, minta kopi bubuk sekilo. Dia sendiri yang nyeduhin biar jadi ampas.”

Sandra menatap ember itu. Matanya panas lagi.

Bisma... si Komodo itu... memikirkan cara menghilangkan baunya? Padahal dia sendiri pasti juga sibuk mandi.

“Dia... dia bilang apa lagi, Bu?”

“Nggak bilang apa-apa lagi, Mbak. Cuma titip pesen, katanya: ‘Jangan nangis terus, nanti tambah bau.’ Gitu.”

Sandra menerima ember itu. Senyum kecil terbit di bibirnya di sela air mata.

“Makasih ya, Bu.”

“Sama-sama, Mbak. Mas Bisma itu perhatian ya, biarpun mulutnya pedes. Tadi dia juga minta tolong saya cucikan baju Mbak yang kena ikan asin itu, katanya jangan dibuang, sayang bajunya bagus.”

Sandra menutup pintu. Dia membawa ember kopi itu ke kamar mandi.

Dia meluluri tubuhnya dengan ampas kopi itu. Aromanya pahit dan segar, perlahan menutupi bau amis yang menyiksa.

Sambil menggosok lengannya, Sandra membayangkan Bisma di dapur Pak Haji, panik menyeduh kopi sekilo demi dirinya.

“Dasar Komodo Tsundere,” bisik Sandra. “Awas aja kalau besok lu jahat lagi.”

Malam harinya, setelah semua orang wangi kembali (meskipun kulit Sandra sekarang bau warkop), Bisma duduk di teras penginapan sendirian.

Dia sedang memandangi layar ponselnya. Sebuah foto yang dikirimkan Doni dari Jakarta.

Foto rekaman CCTV di kantor pusat.

Di foto itu, terlihat Regina sedang berbicara serius dengan... manajer Nadine.

Bisma mengepalkan tangannya. Dugaannya benar. Ini semua settingan ibunya. Nadine adalah eksekutornya.

“Bis.”

Bisma menoleh. Nadine keluar dari dalam rumah, sudah wangi dan cantik dengan gaun tidurnya.

“Udah wangi, Bos?” tanya Nadine mengejek.

“Bau sampah lu belum ilang, Nad,” jawab Bisma dingin, tidak repot-repot basa-basi.

Nadine tertawa renyah, duduk di kursi sebelah Bisma. “Galak banget. Padahal gue mau ngajak damai.”

“Damai? Setelah lu naruh terasi di baju Sandra?”

“Siapa bilang gue yang naruh? Buktinya mana?” Nadine mengangkat bahu. “Mungkin Sandra emang jorok.”

Bisma berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah Nadine. Matanya gelap.

“Denger gue baik-baik, Nadine. Gue tau lu mata-mata Nyokap gue. Gue tau lu laporin semua gerak-gerik gue.”

Wajah Nadine sedikit berubah, tapi dia tetap tersenyum. “Wah, teori konspirasi yang menarik.”

“Laporin ini ke dia,” bisik Bisma. “Bilang sama Ratu lu... kalau dia nyentuh Sandra lagi, gue nggak bakal diem aja. Gue bakal bikin syuting ini neraka buat lu.”

“Maksudnya?”

“Lu mau peran utama, kan? Lu mau tenar, kan?” Bisma tersenyum miring. “Gue bisa bikin chemistry kita di layar kelihatan kayak sampah. Gue bisa bikin lu kelihatan kayak aktris amatiran di setiap scene. Gue aktor terbaik tahun lalu, Nad. Gue bisa bikin lu tenggelam.”

Nadine terdiam. Ancaman itu nyata. Jika Bisma tidak kooperatif dalam akting, film ini akan gagal, dan karir Nadine akan ikut hancur.

“Lu nggak bakal berani. Tante Regina investornya,” tantang Nadine.

“Coba aja,” kata Bisma. “Mulai besok, kalau ada satu aja kejadian aneh lagi sama Sandra... gue pastikan karir lu tamat di film ini.”

Bisma berbalik dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nadine yang menggertakkan gigi karena kesal.

Di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Sandra mendengar semuanya.

Dia tadi hendak keluar untuk mengambil air minum, tapi berhenti saat mendengar suara Bisma.

Sandra menyandar di balik pintu, memegang dadanya yang berdebar kencang.

Bisma mengancam Nadine demi melindunginya? Bisma mempertaruhkan kualitas filmnya demi dia?

Air mata Sandra menetes lagi. Kali ini bukan air mata sedih.

Dia menatap kotak kayu di atas kopernya.

Mungkin... mungkin Bisma benar.

‘Gue emang belum bisa move on dari lu, Komodo.’

Sandra kembali ke tempat tidur, memeluk gulingnya erat-erat. Aroma kopi di kulitnya bercampur dengan sisa-sisa harapan yang mulai tumbuh kembali. Perang ini mungkin menyakitkan, tapi setidaknya, dia tahu dia tidak berjuang sendirian.

Namun, Sandra tidak tahu, ancaman Bisma pada Nadine justru akan memicu rencana Regina yang lebih kejam. Sebuah rencana yang tidak melibatkan bau ikan asin, tapi melibatkan rahasia masa lalu yang paling menyakitkan.