Drama

Mendadak Kawin-Kubu Kanan-Bab 15

24 November 2025

Malam itu, penginapan Pak Haji Sobri yang biasanya tenang berubah menjadi seperti salon spa darurat yang kehabisan stok air bersih.

Di kamar mandi luar (karena kamar mandinya sendiri mampet akibat sisa ampas kopi), Sandra masih berjongkok di depan ember besar. Dia sudah membilas tubuhnya lima kali. Kulitnya merah, perih, dan sekarang berbau seperti espresso berjalan dicampur jeruk nipis.

“Sialan. Sialan. Sialan,” rutuk Sandra sambil menyiramkan air gayung terakhir ke kepalanya. “Gue penulis novel best seller. Gue bukan tukang ikan di pasar pelelangan. Kenapa hidup gue jadi kayak sinetron azab begini?”

Dia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit kepala dan piyama flanel bergambar beruang. Langkahnya gontai. Dia lelah fisik dan mental.

Saat dia berjalan di lorong menuju kamarnya, dia berpapasan dengan Bisma.

Bisma juga baru keluar dari kamar mandinya. Rambutnya basah, berantakan, dan dia mengenakan kaus oblong putih polos serta celana pendek basket. Dia sedang mengendus-endus lengannya sendiri dengan wajah kritis.

Mereka berhenti. Saling tatap di tengah lorong yang remang-remang.

Dua jam yang lalu, mereka saling siram air kotor dan saling maki di atas bak mobil sayur. Sekarang, mereka berdiri berhadapan seperti dua anak kecil yang baru saja dihukum orang tua karena main lumpur.

Bisma memecah keheningan. Dia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Sandra, mengendus udara di sekitar wanita itu.

“Lu bau Americano,” komentar Bisma datar.

Sandra memutar bola matanya, terlalu lelah untuk marah. “Dan lu bau sabun sereh Pak Haji. Lu ngabisin sabun beliau, kan?”

“Sabun gue abis gara-gara nyuci kemeja gue yang lu siram air comberan itu,” balas Bisma defensif. “Gue harus ngucek tiga kali sampe tangan gue keriput.”

“Salah lu sendiri. Mulut lu sampah, badan lu jadi sampah. Adil,” sahut Sandra ketus, hendak melangkah pergi.

Tapi Bisma menghalangi jalannya. Dia merentangkan satu tangan ke dinding, memblokir Sandra (ala kabedon, tapi versi canggung dan bau warkop).

“Minggir, Bis. Gue mau tidur. Gue capek,” kata Sandra lemah.

“Kita perlu bicara,” kata Bisma, suaranya serius. Tidak ada nada mengejek kali ini.

“Bicara apa lagi? Mau ngatain gue lagi?”

“Soal Nadine,” bisik Bisma, matanya melirik ke arah tangga, memastikan tidak ada orang yang menguping.

Sandra mendongak, menatap mata Bisma. Di sana, dia melihat sesuatu yang jarang dia lihat: kejujuran.

“Kenapa sama dia?” tanya Sandra.

Bisma menurunkan tangannya, lalu menghela napas kasar. Dia terlihat frustrasi.

“Lu tau kan itu ulah dia? Ikan asin di baju lu. Itu Nadine.”

“Gue tau,” jawab Sandra. “Tapi lu malah nyerang gue di depan semua orang.”

“Gue terpaksa, Sandra!” desis Bisma tertahan. “Lu pikir gue mau? Lu pikir gue seneng liat lu nangis dan lari kayak gitu? Gue panik! Gue liat Nadine senyum-senyum di pojokan. Kalau gue belain lu saat itu juga, dia bakal lapor.”

“Lapor ke siapa?”

“Ke... produser eksekutif. Ke orang yang punya kuasa buat mecat kita berdua detik ini juga.” Bisma belum berani menyebut nama ibunya.

Sandra terdiam. Dia mencari kebohongan di mata Bisma, tapi tidak menemukannya.

“Jadi lu ngorbanin harga diri gue demi nyelamatin karir gue?” tanya Sandra sinis.

“Demi nyelamatin kita,” koreksi Bisma. “Denger, San. Nadine itu mata-mata. Dia laporin setiap gerak-gerik gue. Kalau gue kelihatan care sama lu, dia bakal bikin hidup lu lebih neraka dari sekadar bau ikan asin. Dia bisa bikin lu dipecat, di- blacklist, atau lebih parah.”

Sandra menelan ludah. Dia ingat ancaman Nadine di toilet pesta. Dia ingat pesan teror itu. Ternyata Bisma tahu. Bisma sadar ada bahaya yang mengintai.

“Terus lu mau gue gimana?” tanya Sandra, suaranya mulai bergetar. “Gue capek, Bis. Gue sendirian di sini. Gue nggak punya siapa-siapa.”

Kalimat itu—gue nggak punya siapa-siapa—menghantam dada Bisma. Dia teringat kejadian di rumah sakit lima tahun lalu. Sandra sendirian saat ayahnya meninggal.

Bisma tidak bisa menahannya lagi. Tanpa permisi, dia menarik Sandra ke dalam pelukannya.

Sandra tersentak kaget. Dia ingin mendorong, tapi tangan Bisma menahan punggungnya dengan kuat namun lembut.

“Lu punya gue,” bisik Bisma di puncak kepala Sandra yang terbungkus handuk. “Lu punya gue, San. Walaupun gue brengsek, walaupun gue Komodo, gue suami lu. Gue nggak bakal biarin lu sendirian lagi.”

Sandra membeku. Aroma sabun sereh dari tubuh Bisma menyeruak masuk ke hidungnya, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

“Bis...” bisik Sandra, matanya memanas. “Lu bau.”

“Lu juga,” balas Bisma, tapi dia tidak melepaskan pelukannya.

Mereka berdiri di lorong itu selama beberapa detik, saling memeluk dalam diam. Dua orang yang terluka, bau, dan lelah, mencoba saling menguatkan di tengah badai yang mereka ciptakan sendiri.

Namun, momen manis itu hancur seketika.

“EKHEM!”

Suara dehaman keras terdengar dari ujung lorong.

Bisma dan Sandra langsung melompat menjauh satu sama lain.

Nia berdiri di sana, bersedekap dada, wajahnya seram seperti guru BP yang menangkap murid bolos. Di belakangnya, Doni (manajer Bisma) berdiri dengan wajah cemas.

“Bagus,” kata Nia dingin. “Tadi sore perang dunia, sekarang peluk-pelukan kayak Teletubbies. Kalian ini punya kepribadian ganda atau gimana?”

“Mbak Nia...” Bisma mencoba menjelaskan.

“Diem!” potong Nia. Dia menunjuk pintu kamar Sandra. “Masuk semua ke kamar Sandra. Kita rapat darurat. Sekarang.”


Di dalam kamar Sandra yang sempit, suasana tegang. Sandra duduk di kasur, Bisma duduk di kursi rias, sementara Nia mondar-mandir di depan mereka. Doni berjaga di dekat pintu, memastikan tidak ada yang menguping (terutama Nadine).

“Saya capek,” Nia memulai, menatap tajam ke arah Bisma dan Sandra. “Sumpah, saya capek. Saya produserin film ini buat cari duit, bukan buat ngurusin drama rumah tangga kalian yang nggak jelas statusnya.”

“Ini bukan drama rumah tangga, Mbak. Ini sabotase,” kata Bisma membela diri.

“Saya tau!” bentak Nia. “Kamu pikir saya buta? Saya tau ada yang ngerjain Sandra. Bau ikan asin itu nggak mungkin muncul sendiri.”

Sandra mengangkat kepalanya. “Mbak tau?”

“Saya udah 20 tahun di industri ini, Sandra. Saya tau mana kecelakaan mana kerjaan orang sirik,” kata Nia. Dia menghela napas, lalu duduk di tepi meja. “Masalahnya, kita nggak punya bukti. Dan kalaupun ada bukti, Nadine itu... dilindungi.”

“Dilindungi siapa?” tanya Sandra polos.

Bisma dan Nia saling pandang.

“Investor,” jawab Nia singkat. “Ada investor besar yang nitip dia di sini. Saya nggak bisa mecat dia sembarangan tanpa bikin produksi ini bangkrut.”

Bisma mengepalkan tangannya. Dia tahu siapa investor itu. Ibunya.

“Jadi kita harus diem aja?” tanya Sandra, tidak terima. “Saya harus terima disiram sampah, diracun udang, cuma karena dia punya backing?”

“Nggak,” kata Nia tegas. “Mulai besok, strateginya ganti.”

Nia menatap Bisma dan Sandra bergantian.

“Kalian nggak bisa lagi main kucing-kucingan. Semakin kalian kelihatan berantem, semakin Nadine seneng. Semakin kalian kelihatan lemah, semakin dia nyerang.”

“Terus?” tanya Bisma.

“Mulai besok,” kata Nia, tersenyum licik. “Kalian harus jadi pasangan paling profesional dan paling chemistry-nya kuat di lokasi syuting. Bikin Nadine panas. Bikin dia sadar kalau semua usahanya buat misahin kalian itu sia-sia karena di depan kamera, kalian itu satu.”

“Maksud Mbak?” Sandra bingung.

“Akting, Sandra!” seru Nia. “Gunakan bakat kalian! Di luar set, kalian boleh bunuh-bunuhan. Tapi begitu masuk set, begitu ada Nadine... kalian harus saling dukung. Bisma, kamu jaga Sandra. Sandra, kamu jangan mancing keributan. Buat Nadine merasa dia cuma nyamuk yang nggak penting.”

Bisma tersenyum miring. Dia suka rencana ini. “Psikologis, ya?”

“Tepat,” kata Nia. “Nadine itu haus perhatian. Kalau kalian nyuekin dia dan malah fokus kerja berdua... dia bakal gila sendiri. Dan kalau dia gila, dia bakal bikin kesalahan. Saat dia bikin kesalahan fatal yang kelihatan semua orang... saat itulah saya punya alasan buat nendang dia, persetan sama investor.”

Sandra menatap Nia, lalu menatap Bisma.

“Bisa?” tanya Nia.

Bisma menatap Sandra. “Gue bisa kalau dia bisa.”

Sandra menarik napas panjang. Dia teringat pelukan Bisma tadi. ‘Lu punya gue, San.’

“Bisa,” jawab Sandra mantap. “Saya bakal bikin dia nyesel udah main-main sama saya.”

“Bagus,” Nia berdiri. “Sekarang tidur. Besok kita punya jadwal padat. Dan Bisma...”

“Ya, Mbak?”

“Jangan masuk kamar Sandra lagi malem-malem. Doni bilang Pak Haji Sobri mulai curiga kenapa kuncinya ‘rusak’ terus tiap malem.”

Wajah Bisma memerah. Doni menahan tawa di pojokan.

“Keluar!” usir Sandra, melempar bantal ke arah Bisma.

Bisma menangkap bantal itu sambil tertawa. “Galak bener. Awas mimpiin gue.”

“Najis!”

Bisma, Nia, dan Doni keluar dari kamar.

Sandra mengunci pintu (kali ini benar-benar dikunci dengan kunci utama). Dia bersandar di pintu, memegang dadanya.

Jantungnya masih berdebar kencang karena pelukan di lorong tadi.

“Kita lawan dia, Bis,” bisik Sandra pada keheningan malam. “Kita lawan bareng-bareng.”


Di kamar sebelah, Nadine sedang menempelkan gelas ke dinding, berusaha menguping. Tapi dinding penginapan ini ternyata cukup tebal (atau mungkin Nia bicara terlalu pelan). Dia tidak bisa mendengar apa-apa selain tawa Bisma di akhir.

Nadine menjauhkan gelas itu dengan kesal.

“Ketawa lu sekarang, Bis,” gumam Nadine. “Besok lu nangis.”

Nadine mengambil ponselnya. Dia membuka galeri. Ada satu foto baru yang dikirimkan oleh orang suruhannya di Jakarta.

Foto sebuah dokumen lama dari rumah sakit.

Rekam Medis Pasien: Gunawan Sutiyoso. Penyebab Kematian: Serangan Jantung. Penanggung Jawab Administrasi: PT. Kencana Group (perusahaan Ayah Bisma).

Nadine tersenyum jahat.

“Sandra nggak tau kalau perusahaan Bapaknya Bisma yang nanggung biaya rumah sakit Bapaknya Sandra setelah memecatnya. Itu namanya uang tutup mulut, Sayang.”

Nadine menatap foto itu.

“Gimana perasaan lu, San... kalau lu tau suami lu adalah anak dari orang yang nyoba nyogok keluarga lu biar diem soal kematian Bapak lu?”

Nadine tidak akan menyebarkan ini sekarang. Ini adalah kartu As-nya. Dia akan menyimpannya untuk momen yang paling menyakitkan.

Malam itu, di bawah atap penginapan yang sama, tiga kubu menyusun strategi perang mereka masing-masing. Dan esok hari, medan pertempuran bukan lagi soal fisik atau bau, tapi soal mental dan hati.