Gar duduk di sofa ruang tamu kecil itu. Ia tampak tenang, meski kenyataannya ia hanya menunggu sambil berusaha menata napas.
Pakaiannya sederhana: kaus hitam polos yang membingkai bahunya yang lebar, dipadukan dengan celana jeans gelap dan jam tangan yang memantulkan cahaya lampu. Casual tapi mahal jenis outfit yang memberikan kesan santai, namun jelas menunjukkan kualitasnya.
Berbeda dengan Queen, yang sudah menghilang hampir setengah jam di kamar.
Ia ingat pesan abang Queen: “Tampil sederhana saja.” Queen juga mengingatnya.
…Sayangnya lemari Gar tidak mendukung kesederhanaan.
Setiap pakaian yang disentuhnya terasa seperti memanggil, Pilih aku. Pakai aku. Tampil cantik, Queen.
Maka keputusan pun diambil.
Klik. Pintu kamar terbuka.
Queen melangkah keluar.
Ia tidak mandi, tapi wajahnya telah dirias tipis dengan sentuhan ringan: blush lembut, lip balm berwarna alami, dan maskara yang membuat matanya tampak lebih hidup. Rambutnya bergelombang disisir rapi, tergerai lembut hingga bahu dengan kilau sehat.
Gaun yang ia kenakan adalah gaun sederhana, setidaknya menurut standar Queen berbahan satin lembut warna ivory champagne. Potongannya simpel, A-line, tali tipis di bahu, rok setengah betis. Namun karena Queen yang mengenakannya, gaun itu tampak seperti busana yang dijahit khusus oleh desainer terkenal.
Aroma parfum lembut tercium ketika ia mendekat sweet vanilla yang bercampur dengan wangi bunga segar.
Gar menoleh.
Dan dunia langsung berhenti.
Ia membeku. Matanya membesar. Jantungnya memukul tulang rusuknya begitu keras hingga ia sangat yakin meja di depannya ikut bergetar.
Queen berdiri dengan percaya diri, senyuman kecil tersungging di bibirnya.
“Bagaimana?” Ia memutar perlahan, gaunnya mengikuti gerakan tubuhnya seperti gelombang kecil yang manis. “Apakah aku seperti bidadari?”
Gar tersenyum tipis. Senyuman yang berusaha menutupi betapa ia sebenarnya sedang kacau, gugup, dan... terpesona.
Tatapannya tidak bisa lepas dari Queen. Sama seperti malam pertama kali ia melihat gadis itu.
Dan tanpa sadar…
Pikiran Gar jatuh kembali pada malam itu. Malam ketika semuanya berubah.
Sebenarnya malam itu, Gar sama sekali tidak berniat pergi ke klub apalagi membeli seorang wanita. Itu bukan dirinya. Tidak pernah.
Ia hanya ingin pulang ke tempat persembunyiannya, tempat di mana ia bisa bernapas tanpa keluarga dan tanpa istrinya tahu. Setelah pertemuan bisnis yang melelahkan, kepalanya penuh tekanan tentang pernikahan palsu yang ia jalani. Pernikahan yang dipaksakan keluarga demi reputasi.
Ia sudah memutuskan: patuh saja. Mengalah. Seperti biasanya.
Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok yang membuat dadanya tiba-tiba panas.
Pak Surya. Ayahnya.
Surya berdiri di area parkiran hotel, sama sekali tidak menyadari mobil Gar hanya beberapa meter darinya.
Dan di sampingnya, seorang wanita dewasa berpenampilan anggun, jauh lebih cantik dari ibu Gar terlihat seperti seseorang yang sudah lama mengisi hidup Surya. Selain itu ada satu wanita muda, high-class, cantik, glamor… terlalu dekat dengan ayahnya.
“Tuan… bukankah itu Tuan Surya?” bisik Deko pelan.
Gar tidak menjawab. Ia hanya menatap penuh ketegangan ketika ketiga orang itu berjalan menuju mobil Surya yang tepat terparkir di sebelah mobilnya.
Ia ingin pergi. Tapi naluri membuat langkahnya membeku.
Lalu ia mendengar suara itu.
“Papa, besok kita jalan lagi ya.”
Seketika bola mata Gar membesar.
Papa. Wanita muda itu memanggil ayahnya Papa.
Dunia Gar seperti berhenti.
Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu di dadanya yang terasa pecah, membanjiri tubuhnya dengan emosi yang selama ini dikubur dalam-dalam.
Ia selama ini berjuang sendirian, mempertahankan keluarga yang bahkan tidak ia pilih. Ia menjalani pernikahan paksa demi citra keluarga. Ia menahan diri bertahun-tahun untuk menjaga nama baik ibunya.
Dan ayahnya?
Diam-diam memiliki keluarga lain.
Gar ingin keluar, ingin menegur, ingin berteriak, tapi saat melihat bagaimana Surya menggenggam lembut tangan wanita dewasa itu… dan tersenyum hangat pada wanita muda tadi.
Gar tahu ia tidak berarti apa-apa.
Ia tidak memiliki hak untuk merusak kebahagiaan yang bahkan bukan miliknya.
Namun, amarahnya meledak.
“Deko,” suaranya rendah, dingin, nyaris bergetar, “aku mau wanita malam ini.”
Deko terbelalak. “Tuan?”
“Wanita paling cantik. Paling mahal.”
Itu bukan Gar yang ia kenal. Tapi Deko hanya menunduk dan melaksanakan.
Ia menghubungi mami klub terkenal.
“Tuan,” ucap Deko hati-hati, “ada satu yang paling terkenal. Julukannya Queen. Tapi katanya malam ini dia tidak bisa.”
“Bayar dia berapa pun dia mau.”
“Tapi, Tuan… dia tetap menolak.”
Gar yang emosi masih menggebu mendengar itu. Semua rasionalitas dalam dirinya hilang.
“Semua wanita sama saja,” ucap Gar lirih tapi sinis, matanya masih menatap punggung ayahnya yang semakin jauh. “Gila harta. Gila uang.”
Deko menerima pesan baru di ponsel, lalu berkata pelan, “Tuan… Dia bilang, dia mau, lima miliar.”
Gar tertawa kecil, getir, dingin.
“Lima miliar untuk semalam?” Ia menatap kosong ke depan.
“Bayar saja.”
“Tapi—”
“Aku terlalu banyak mengalah,” potong Gar dengan suara patah. “Kalau ayahku bisa menghamburkan uang untuk wanita… maka aku pun bisa.”
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Gar ingin merasakan bagaimana rasanya tidak mengalah.
Dan tanpa ia sadari… keputusan buruk yang lahir dari amarah itu membawanya kepada Queen.
Wanita yang mengubah segalanya.
Gar berkedip, tetapi bayangan masa lalu itu masih menempel di belakang kepalanya. Malam ketika hidupnya berubah, malam ketika Queen masuk ke dunianya tanpa permisi masih terasa seperti baru terjadi lima detik lalu.
Namun suara lembut Queen kembali menariknya ke realitas.
“Tuan Gar?” Queen mencondongkan kepala sedikit, alisnya naik, gemes karena Gar sejak tadi hanya menatapnya tanpa berkedip.
“Aku…” Gar berdeham, mencoba mengumpulkan wibawanya yang tercecer entah di mana. “Kau… sangat cantik.”
Queen langsung tersenyum lebar, bangga. “Tentu lah. Aku memang cantik. Tapi kau boleh memujiku lebih sering, tahu?”
Gar hanya menggeleng kecil entah kesal atau jatuh cinta, ia sendiri bingung.
Queen lalu mengangkat ujung gaunnya sedikit, memperlihatkan bagaimana pakaian itu pas sempurna di tubuhnya. “Aku pilih yang sederhana lho.” Ia menatap Gar penuh harap. “Abangku pasti bangga melihatku kayak gini.”
Gar kembali teringat perkataan Queen tadi.
“Abangmu itu benar-benar menakutkan ya?” Nada Gar seperti sedang memastikan apakah lawannya adalah mafia internasional atau hanya abang biasa.
Queen mengangguk penuh percaya diri. “Tentu! Dia paling jago membela aku!”
Deko mengetuk pintu. “Tuan, mobil sudah siap.”
Queen menepuk tangan excited. “Ayo! Kita beli motor! Kau janji kan? Jangan bohong lagi!”
“Aku tidak pernah bohong soal itu.” Gar berdiri, merapikan jasnya. “Lagipula aku harus buktikan sesuatu padamu.”
Queen menyipitkan mata dramatis. “Bahwa kau tidak kere?”
“…itu juga.” Gar pasrah.
Queen tertawa kecil, lalu berbalik sambil berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
“Jangan jatuh cinta padaku ya.”
Gar membeku.