Jangan Buka Pintu

Penulis Levanter
25 November 2025

Senja merayap masuk melalui kisi-kisi jendela, membawa aroma tanah basah dan rasa waswas yang menempel di kulit seperti embun dingin. Ruangan itu sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkan, lebih seperti keheningan yang mengintai, menunggu sesuatu bergerak dari balik bayang-bayang.


"Ki… apa yang bisa kami lakukan?"

Ki Surya perlahan berdiri, lalu melangkah ke salah satu lemari besar di sudut ruangan. Ia membuka pintunya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran tua yang tampak seperti diukir tangan puluhan tahun lalu.

"Pertama," katanya sambil meletakkan kotak itu di meja, "kalian harus tinggal di sini selama beberapa hari. Rumah ini dipagari oleh mantra pelindung yang tidak bisa ditembus makhluk itu."

Mia menghela napas lega, walau napas itu tetap terasa bergetar. "Jadi… kita aman di sini?"

"Aman," Ki Surya mengangguk. "Selama kalian tidak keluar setelah matahari terbenam dan mengikuti aturannya."

Sarah merasakan sentakan dingin di tengkuknya. "Berarti… seminggu di sini?"

"Kurang lebih," jawab Ki Surya. "Sampai ritme jejak kalian stabil kembali. Sampai aku bisa memastikan arah takdir itu sudah jelas… atau setidaknya tidak berubah-ubah lagi."

Mauro menatap Ki Surya, seperti baru menyadari sesuatu. "Ki… kalau takdir itu belum jelas, berarti kami belum tahu siapa target barunya?"

"Tepat," Ki Surya mengangguk. "Dan kalian tidak boleh mencoba menebak-nebak. Semakin kalian fokus pada seseorang, semakin kuat pula kemungkinan jejak itu tertarik ke orang tersebut."

Mia menelan ludah. "Jadi… cuma karena saya kepikiran seseorang, makhluk itu bisa nargetin dia?"

"Bisa," jawab Ki Surya. "Itulah bahayanya. Pikiranmu adalah benang yang mengikat. Ketakutanmu adalah jalurnya."

Sarah merinding mendengarnya. "Jadi Mia harus… tidak mikirin siapa pun?"

"Ya," Ki Surya tersenyum tipis. "Ironis, bukan? Untuk menyelamatkan orang lain… pikiran kamu harus kosong."

Mia menunduk, terlihat frustasi. "Saya… gak tau apa saya bisa atau enggak."

"Makanya kalian tinggal di sini," Ki Surya berkata lembut. "Aku akan bantu memurnikan jejaknya. Aku akan memeriksa bayangan kalian tiap malam. Dan jika takdir itu menunjukkan diri… kita akan siap."

Tiba-tiba terdengar suara ketukan lembut dari arah belakang rumah. Tidak seperti ketukan manusia, lebih seperti sentuhan pada kayu yang berulang dan ritmis, seakan seseorang menelusuri dinding dari luar.

Semua orang menegang.

Mia memegang lengan Sarah. "Ki… itu…"

Ki Surya tidak tampak panik, tapi matanya mengeras. "Dia sudah menemukan batas rumah ini."

Sarah menahan napas.

"Tenang saja," Mauro mencoba berkata, meski suaranya jelas goyah. "Dia tidak bisa masuk, kan?"

"Benar," Ki Surya mengangguk. "Tapi dia bisa mengintip. Dia bisa mengamati. Dia bisa mencoba membaca jejak baru."

Mia menutup wajahnya, suara tangis tertahan terdengar samar. "Ki… makhluk itu bakal tahu siapa target barunya?"

Ki Surya menatap jendela yang perlahan menggelap oleh senja.

"Dalam beberapa hari," katanya pelan, "takdir itu akan memilih sendiri."

Senja meresap perlahan, berubah menjadi ungu gelap yang menggantung rendah di balik pepohonan besar. Rumah Ki Surya terasa semakin sunyi, tetapi sunyi yang berbeda, sunyi yang seperti mendengarkan balik.

Mia mengusap matanya, mencoba menghapus sisa air mata. "Ki… kalo takdir itu milih sendiri, apa itu berarti… kita sama sekali gak punya kendali?"

Ki Surya menarik kursinya dan duduk lagi, menatap Mia dengan lembut tetapi tegas. "Takdir memang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Tapi bisa diarahkan."

Sarah memeluk dirinya sendiri. "Ki… kalau makhluk itu sekarang lagi ‘ngintip’ dari luar batas rumah… apa dia bisa lihat kita?"

"Tidak secara langsung," jawab Ki Surya. "Yang dia lihat bukan wujud kalian. Dia membaca getaran hidup kalian. Gelombang takdir. Bayangan yang menempel pada jiwa kalian."

Gina berpindah tempat duduk, lalu memegang tangan Sarah, berusaha menenangkannya. "Berarti dia gak bisa lihat bentuk kita… tapi bisa ngerasain kita?"

"Betul," Ki Surya mengangguk. "Itulah kenapa kalian harus tetap tenang selama tinggal di sini. Jangan memikirkan seseorang terlalu intens. Jangan takut berlebih. Dan… jangan membuka pintu atau jendela setelah matahari tenggelam."

Mia berkedip, terkejut. "Jendela juga gak boleh?"

"Makhluk itu bukan manusia," Ki Surya berkata pelan. "Batas pelindung di rumah ini bekerja seperti kulit. Kuat, tapi tetap ada pori-porinya. Membuka jendela malam hari sama saja membuat pori itu melebar."

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Hening yang membuat detak jam tua di pojok ruangan terdengar seperti gema dari dunia lain.

"Baik," Ki Surya akhirnya berdiri lagi. "Aku akan tunjukkan kamar kalian."

Mereka bangkit pelan-pelan. Ki Surya berjalan memimpin, melewati lorong panjang yang dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan tua. Beberapa di antaranya seperti memandangi mereka kembali.

Sarah berbisik pada Mia, "Rumahnya… kayak museum."

Mia mengangguk pelan. "Tapi museum yang… horor."

"Dan hidup," tambah Sarah, hampir tidak terdengar.

Ki Surya berhenti di depan dua pintu kayu besar.

"Sarah dan Mia akan tidur di kamar sebelah kiri. Mauro dan Gina di sebelah kanan." Ki Surya meletakkan telapak tangannya di daun pintu kamar Sarah dan Mia. "Kamar ini sudah dipagari mantra ringan. Tidak setebal ruang utama, tapi cukup untuk membuat makhluk itu tidak bisa mendengar apa pun dari kalian."

Mia mengangkat tangan. "Ki, kalau nanti tengah malam kedengeran suara… kayak ketukan tadi… apa kita harus bangunin Ki Surya?"

"Tidak perlu," Ki Surya menggeleng tegas. "Jangan buka pintu. Jangan bersuara. Tunggu sampai suara itu hilang."

Mia menelan ludah. "Kalau suaranya… gak hilang-hilang?"

Ki Surya menatapnya lama, lalu berkata pelan, "Ia akan hilang. Karena ia tahu batasnya."

Sarah menyadari tangannya bergetar. "Ki… tadi waktu makhluk itu nyentuh batas rumah, kenapa suaranya kayak… lembut? Padahal waktu ngejar kami suaranya… keras banget."

Ki Surya menghela napas. "Di luar radius kekuasaannya, ia seperti bayangan yang kehilangan bentuk. Ia hanya bisa meraba-raba. Suaranya lembut bukan karena tidak menyeramkan… tapi karena ia sedang bertanya. Sedang mengintai."

"Ngintai siapa?" Sarah bertanya cepat.

"Semua. Tapi ia hanya butuh satu jawaban," Ki Surya menatap mereka bergantian, "jawaban tentang siapa yang akan menjadi takdir barunya."

Mia menggenggam lengan Sarah lebih erat.

Setelah Mauro dan Gina masuk ke kamar mereka, Sarah dan Mia masuk ke kamar sebelahnya.

Kamar itu luas, dengan lampu kuning redup dan jendela besar yang ditutup rapat tirai tebal. Ada dua kasur kecil dengan selimut abu-abu. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan lentera minyak kecil.

Sarah duduk di kasurnya. "Mi… lo baik-baik aja, kan?"

Mia menggeleng cepat. "Enggak. Tapi… gue juga gak mau lo merasa bersalah atau apa. Ini salah cermin sialan itu."

"Lo gak sendirian," Sarah menatap Mia. "Lo sama gue. Sampai semuanya kelar."

Mia tersenyum kecil. "Thanks…"

Mereka terdiam sejenak.

Jam dinding di ruang tamu berdentang pelan.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Ki Surya muncul kembali di depan pintu kamar. Ia membawa mangkuk kecil berisi air dan seikat daun yang tampak seperti sudah sangat tua.

"Ini," katanya, menyerahkan mangkuk itu kepada Sarah. "Letakkan di bawah kasur kalian. Kalau airnya berubah warna, panggil aku."

Mia mengintip ke dalam mangkuk. "Airnya… biasa aja. Kenapa harus berubah?"

"Air adalah cermin paling jujur," Ki Surya menjawab. "Ia merekam apa yang bergerak di sekelilingnya. Jika bayangan makhluk itu mencoba menyusup, meskipun tidak bisa masuk, air akan mendeteksinya."

Sarah mengangguk. "Terima kasih, Ki."

Ki Surya mengangguk kembali. "Ingat. Jangan buka pintu."

"Kalau begitu, gimana cara kita panggil Ki Surya kalau gak boleh buka pintu?"

Ki Surya menunjuk ke sudut ruangan. Sebuah tali tipis berwarna cokelat tua tergantung dari langit-langit, ujungnya diikat dengan simpul kecil. "Tarik tali itu tiga kali. Loncengnya langsung berbunyi di ruanganku. Aku akan datang tanpa kalian perlu keluar."

Mia menatap tali itu lama, seolah memastikan itu bukan jebakan. "Ki… makhluk itu gak bisa ikut lewat tali, kan?"

Ki Surya tersenyum tipis, namun sorot matanya tetap serius. "Tidak. Tali itu hanya untuk memanggilku. Tidak membuka celah apa pun."

Sarah mengangguk pelan. Lega, tapi sekaligus takut, karena kini bahkan tali pun terasa seperti garis tipis terakhir yang menjaga mereka tetap hidup.