Malam turun perlahan, seperti tirai berat yang menutup semua celah cahaya. Di kamar yang diterangi lampu kuning redup, Sarah dan Mia duduk bersandar di kasur masing-masing. Udara di sekitar terasa aneh. Hening, tapi sekaligus penuh tekanan halus yang membuat dada mereka sesekali mengencang. Seolah rumah itu sendiri sedang menahan napas.
Sarah memejamkan mata sebentar. "Mi… lo masih kebayang suara ketukan tadi?"
Mia tidak menjawab langsung. Ia menarik lutut ke dada dan menatap mangkuk air di bawah kasur Sarah. "Gue… takut suara itu muncul lagi. Kayak dia nunggu kita salah gerak sedikit."
"Ki Surya bilang dia gak bisa masuk," Sarah mencoba menenangkan, meski dirinya pun tidak sepenuhnya yakin.
"Tapi dia bisa ‘ngintip’." Mia memelototkan matanya, berbisik. "Ngintip, Sar. Makhluk apa coba yang ngintip dari balik batas mantra? Itu lebih serem daripada dia nabrak langsung."
Sarah terdiam. Tidak ada yang bisa ia bantah.
Jam di ruang tamu berdentang lagi, samar, mungkin dari kejauhan, mungkin juga dari dunia lain. Suaranya seperti menggores udara, menandai bahwa waktu bergerak tapi terasa sama tegangnya.
Mia memaksa dirinya untuk berbaring. "Gue coba tidur dulu. Kalo gue terus bangun… pikiran gue malah ke mana-mana."
"Gue juga," Sarah mengangguk, ikut berbaring.
Namun mata mereka sama-sama tidak menutup.
Beberapa menit berlalu, atau mungkin jam, mereka tidak tahu. Lampu redup membuat bayangan di dinding tampak bergerak sedikit. Perubahan cahaya dari lentera di meja membuat setiap detail kamar seperti ikut bernapas.
Sarah tiba-tiba tersentak kecil. "Mi…"
"Hmm?"
"Lo… denger sesuatu?"
Mia mengangkat kepalanya. "Apa?"
"Sssh," Sarah mengangkat telunjuk.
Hening.
Lalu… terdengar gesekan halus. Seperti kain tipis diseret di lantai.
Tapi tidak dari dalam kamar.
Dari lorong.
Mia langsung duduk tegak. "Itu Ki Surya, kan? Ki Surya lagi jalan, kan?"
"Enggak," Sarah menggeleng cepat. "Kalau itu Ki Surya, pasti kedengeran langkahnya. Itu bukan langkah. Itu kayak… suara sesuatu yang lagi ngesot."
Mia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Suara itu berhenti.
Diam total.
Mia berpindah mendekat ke sisi Sarah, lalu meremas lengannya. "Sar… tali pemanggil itu jauh gak?"
Sarah melirik sudut ruangan. "Enggak. Lo bisa jangkau kalau berdiri."
Mia menghela napas, mencoba bernalar. "Tapi Ki Surya bilang… jangan panggil dia kalau gak ada tanda dari air."
Sarah menelan ludah. "Iya… tapi kalau ada yang ngesot di lorong, menurut gue itu tanda juga."
Tiba-tiba…
**Tok.
Mia langsung melompat kecil. "Apa itu?!"
**Tok… Tok… Tok.
Tidak keras. Tidak seperti ketukan pintu normal. Lebih seperti… ketukan dari sesuatu yang tidak punya tulang.
Sarah langsung berbisik cepat, "Itu bukan pintu kita… itu pintu papa sama mama."
Mia membeku. "Sar… kita harus apa?!"
Sarah memejamkan mata, berpikir cepat. "Kalau itu makhluk itu, Ki Surya bilang… jangan buka pintu. Biar Ki Surya yang dateng."
"Tapi Ki Surya belum dateng!" Mia hampir menangis. "Sar… kita panggil aja, ya? Tarik talinya. Tarik aja!"
Sarah mengangguk, tapi tetap menunggu setengah detik lagi untuk memastikan suara itu hilang.
Namun yang terjadi malah kebalikannya.
Ketukan itu berubah ritme.
Tidak lagi tiga kali.
Sekarang… lima kali.
Lalu berhenti.
Lalu dua kali.
Lalu tiga lagi.
Seolah memberi kode.
Atau menirukan pola ketukan manusia.
Sarah tidak menunggu lagi. Ia bangkit dan meraih tali pemanggil. Tangannya gemetar saat menarik simpul itu.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lonceng kecil jauh di suatu tempat terdengar berbunyi… samar, tapi jelas.
Mereka menunggu dengan napas tertahan.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki Ki Surya terdengar dari arah ruang utama. Langkah yang cepat, padat, dan berbeda jauh dari suara gesekan tadi.
Pintu kamar Sarah dan Mia diketuk.
Tapi kali ini… ritmenya manusia.
"Sarah. Mia. Ini aku."
Sarah buru-buru membuka sedikit pintunya sebagian, hanya cukup untuk memastikan.
Ki Surya berdiri di lorong, membawa dupa dan kaleng kecil berisi garam hitam.
"Airnya berubah?" tanyanya cepat.
"Belum," jawab Sarah, "tapi ada sesuatu yang… ngesot di lorong. Terus... ketuk pintu mama sama papa."
Ki Surya mengernyit. "Dia mencoba meniru. Makhluk itu bodoh dalam wujudnya yang terpisah, tapi cukup pintar untuk mencoba menyesuaikan diri."
"Ki… itu bahaya banget, kan?" Mia menelan ludah.
"Tidak bahaya bagi kalian. Tapi bagi yang pikirannya berantakan… iya."
Ki Surya menoleh ke pintu kamar Gina dan Mauro.
Sunyi.
"Ki… mereka gak bersuara sama sekali…" Sarah berbisik.
Ki Surya memicingkan mata. Ia mengangkat kaleng garamnya, lalu menaburkan sedikit di bawah pintu Mauro dan Gina. Garam itu langsung mengeluarkan suara cesss, seperti menyentuh sesuatu yang panas.
Sarah dan Mia terangkat sedikit dari lantai karena kaget.
"Ada bayangan menempel," Ki Surya mendesis.
Ia memutar gagang pintu, tidak membuka, hanya memastikan keadaannya.
"Pintu terkunci dari dalam," gumamnya. "Mereka mengikuti instruksi."
Ki Surya menurunkan tangannya, lalu berbalik ke arah Sarah dan Mia. "Sekarang kembali ke kamar. Jangan keluar sampai aku bilang aman."
"Tapi Ki…" Mia setengah berbisik, setengah menangis.
"Cepat," Ki Surya memotong, suaranya rendah namun tidak bisa dibantah.
Mereka kembali ke kamar dan menutup pintu. Sementara Ki Surya berjalan menjauh, suara langkahnya mengecil sampai menghilang.
Lorong kembali sepi.
Mia langsung jatuh terduduk. "Gue benci banget rumah ini, Sar…"
Sarah duduk di kasurnya, menenangkan napas. "Gue ngerti… tapi ini satu-satunya tempat aman."
Lampu kuning menerangi wajah mereka yang tegang. Mangkuk air di bawah kasur tetap jernih.
Untuk beberapa menit, semuanya tenang.
Sangat tenang.
Terlalu tenang.
Sarah baru saja ingin berbaring kembali. Namun, ia melihat Mia mematung dengan wajah paniknya.
"Mi?!" Sarah langsung meraih lengannya. "Kenapa?!"
Mia memandang ke bawah kasur Sarah… tepat ke mangkuk air.
"Sar," bisiknya, "airnya berubah warna."
Sarah langsung berlutut dan menunduk untuk melihat.
Air yang tadi bening kini berkabut tipis.
Bukan keruh.
Bukan hitam.
Tapi… berwarna merah muda pucat, seolah ada sesuatu yang terlarut di dalamnya.
Mia menampar pelan mulutnya agar tidak berteriak. "Sar… itu warna apa?! Kenapa kayak gitu?!"
Sarah mengguncang bahunya. "Tarik talinya! Sekarang!"
Mia melompat dan menarik tali pemanggil itu tiga kali cepat, bahkan hampir empat kali karena kepanikannya.
Lonceng kembali berbunyi.
Tapi kali ini… suaranya terdengar lewat dua tempat. Satu dari ruang Ki Surya.
Dan satu lagi… dari lorong.
Nada yang sama.
Ritme yang sama.
Seolah ada sesuatu di sana… yang menirukan suara lonceng itu.
Mia membeku total.
"Sa-Sar…" napas Mia patah-patah. "Itu… itu berarti… dia udah bisa—"
Tiba-tiba… lampu kamar berkedip sampai padam.
Gelap.
Gelap total.
Sarah meraih tangan Mia dengan cepat. "Jangan bergerak! Jangan buka mata! Jangan lep—"
Namun ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Karena dari balik pintu kamar mereka... sesuatu mengetuk.
Dengan ritme yang tepat sama seperti Mia menarik tali tadi.
Tiga kali cepat.
Tok. Tok. Tok.
Dan suara dari balik pintu terdengar pelan, hampir seperti bisikan yang rusak.
“Sarah…”