His Contract Bride - Melawan Dalam Diam - Bab 23

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

Langkah tegap Luther menjadi satu-satunya sumber suara saat melewati lorong kantor pusat Vireaux Group. Sepi, tak ada satu pun orang lagi di jam hampir tengah malam ini. Setelah kembali dari villa milik ibunya tadi, ia harus menyelesaikan pekerjaannya di ruangan Kael. Sebuah rahasia, yang harus dilakukannya dengan cepat.

“Luther Osborn.”

Satu suara menghentikan langkah orang kepercayaan Kael itu. Gerakannya tetap tenang, meski jujur saja, ia sedikit terkejut.

“Tuan Vireaux,” sapa Luther setelah ia menoleh, menyapa pria tua yang kini menghampirinya perlahan.

“Cukup aneh melihatmu berjalan sendiri tanpa Kael.” Bastien berhenti tepat di hadapan Luther. Senyum tipisnya jelas terlihat dipaksakan. “Di mana Tuanmu itu?”

Luther tersenyum ramah, tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya sekarang. Tatapan matanya lurus mengarah pada pandangan Bastien, tapi dengan sorot lembut. “Tuan Kael sedang menikmati waktu yang sangat luar biasa dengan Nyonya Aurora.”

“Oh, really?” Bastien menyentak satu alisnya cepat. “Aku sangat tidak menyangka jika bocah ingusan itu bisa jatuh cinta.”

“Bocah ingusan yang Anda maksud itu sudah berumur 33 tahun, Tuan.” Luther kembali tersenyum.

Bastien tertawa palsu, sementara kilat matanya tajam—menyuarakan rasa tidak sukanya pada Luther. “Kau benar. Siapa sangka bocah ingusan itu sudah berusia 33 tahun.” Gemeretak samar terdengar dari giginya yang beradu. “Tapi… kau sedang apa malam-malam di sini?”

Mata Luther menyipit. Pertanyaan itu membuat Bastien terlihat sedang dalam posisi yang terpojok. Tidak biasanya pria tua itu bersikap amatir seperti ini. “Bekerja… tentu saja.”

Bastien kembali tertawa. Dia mengangkat tangan kanan dan menepuk-nepuk kencang pundak lebar Luther. “Ya… ya… kau benar. Kalau begitu, selamat bekerja.”

Luther mengangguk tipis dan Bastien berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Langkahnya mengayun cepat, terlihat gelisah.

Satu pesan masuk di ponselnya.

[Kael Vireaux: Sudah kau pasang?]

Dengan cepat Luther membalasnya.

[Luther Osborn: Done. Aku akan segera mencari tahu tentang kematian nyonya Mireille dan Isabelle dengan segera. Kurasa Bastien mulai curiga, pergerakanku pasti akan dipantau mulai saat ini.]

[Kael Vireaux: Ok. Aku hanya perlu beberapa hari ini untuk menjerat Bastien. Berikan nomor istri dari pria yang baru dilenyapkan olehnya tadi. Aku akan membuat negosiasi dengannya.]

Belum sempat Luter membalas, Kael kembali mengirim pesan.

[Kael Vireaux: Kirim juga nama pengawal Bastien yang masuk ke dalam ruang eksekusi tadi. Aku butuh bicara dengannya.]

[Luther Osborn: Baik, Tuan. Akan segera kukirim semuanya.]


“Aku tahu kau sedang membahas hal yang penting saat sorot matamu berubah menjadi gelap dan tajam.”

Kael menoleh, secara cepat mengubah sorot matanya menjadi lembut. “Jadi kau telah memperhatikanku selama ini?”

Aurora mengikat rambut panjangnya menjadi gelungan messy bun yang dengan cepat. Tawa renyahnya membuat Kael ikut tersenyum. “Aku harus mengobservasi calon korbanku sebelum menyerang.”

“Korban?” Kael mengerutkan dahi.

Aurora mengangguk polos. “Saat kau masih bersikap menyebalkan, setiap hari aku membayangkan memukulmu pada titik lemah yang membuatmu langsung terkapar dalam sekali serang. Tapi….”

“Tapi?”

“Aku tidak menemukan kelemahanmu. Menyebalkan!”

Tawa Kael kembali pecah. Ponsel yang tadi masih digenggam, kali ini telah diletakkan begitu saja di atas nakas. Pesan terakhir dari Luther sudah tidak penting lagi. “Ya… aku memang sesempurna itu.”

“Oh, jangan sombong, Husband,” ujar Aurora, jari telunjuknya menggoyang ke kanan dan kiri. “Tidak ada yang sempurna di dunia ini.”

Kael tidak menjawab. Ia merengkuh tubuh Aurora ke dalam pelukannya, kembali mendekam di balik selimut tebal kamar utama yang kini mereka gunakan. “Ayo tidur, Sayang. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi hidupku menjadi sempurna ketika bersamamu.”

“Kau siapa?” tanya Aurora, dengan nada serius.

“Sekarang kau amnesia?”

“Aku hanya belum mengenal Kael Vireaux dengan sisi yang… penuh rayuan. Kau belajar dari mana?” Aurora kembali tertawa.

“Hmmm,” gumam Kael. “Tidak ada yang perlu dipelajari saat kau melakukannya dengan tulus. Aku baru memahaminya.”

Aurora diam sejenak. Benar. Ketulusan adalah hal yang paling utama dalam satu hubungan. Bukan tanggung jawab, bukan komitmen. Bahkan dua hal itu bisa rusak tanpa ada ketulusan di dalamnya.

“Sejujurnya, aku kepikiran satu hal.” Nada bicara Aurora menjadi lebih serius.

Kael mengecup puncak kepala Aurora, dan semakin mengeratkan dekapannya. “Katakan apa pun yang ada di dalam pikiranmu.”

“Aku masih menganggap bahwa keberadaan kita di sini tidak menyelesaikan masalah. Kenapa kita tidak menyelesaikannya dengan cepat? Maksudku… pria yang masuk ke penthouse, jika memang Bastien yang mengirimnya, sudah tentu kita bisa menggunakannya untuk memperkarakan kasus itu secara hukum, bukan? Memenjarakan Bastien, dan kita aman.”

Kael tidak segera menjawab. Bagaimana caranya menyampaikan pada Aurora jika pria yang masuk ke tempat mereka malam itu telah dieksekusi oleh Bastien? Pria tua itu pintar untuk menghapus jejak.

“Semua sedang diurus, Rora. Kau tidak perlu masuk dalam ranah berbahaya.” Suara Kael mengeras.

“Bukankah kau yang memintaku untuk menjadi umpan? Umpan apa yang bersembunyi di villa ini tanpa melakukan apa pun.”

Rahang Kael mengetat. “Aku memutuskan untuk tidak menjadikanmu lagi sebagai umpan. Tidak setelah kau mengatakan langsung kalau kau menginginkanku.”

Aurora berhenti mendebat. Nada bicara Kael sudah mencapai puncak toleransinya, ia bisa merasakan. Sebagai gantinya, Aurora meraih tangan Kael dan menggenggamnya. Ia mengusap lembut punggung tangan pria itu dengan jempolnya. “Kau takut aku kenapa-napa?”

Kael menghela napas panjang. Kepalanya kini dibenamkan pada pundak Aurora. Embus napasnya yang hangat menerpa kulit polos wanita itu. “Sudah jelas, kan? Kenapa masih bertanya?”

“Rasanya menyenangkan saat mendengar langsung dari mulutmu.” Aurora menarik tangan Kael, mendekapnya semakin dekat. “Tiba-tiba memiliki seseorang yang melindungiku setelah semua hal yang terjadi, membuatku diam-diam berterima kasih pada ibuku karena telah melahirkanku walaupun tidak diinginkan.

“Dengan dia melahirkanku, aku bisa bertemu denganmu. Aku bisa mencintaimu, walaupun dengan jalan yang sedikit… yah… you know what i mean. Aku dulu selalu bermimpi mendapatkan pangeran berkuda yang penuh cinta, tapi siapa sangka aku justru mendapatkan pria dingin penuh rahasia yang penuh dengan dendam.”

“Aku seburuk itu, ya?” Kael masih membenamkan wajahnya di pundak Aurora.

“Buruk, sangat buruk. Tapi… kau juga yang terbaik bagiku. Penawaranmu, kehadiranmu, dan cintamu saat ini… adalah hal terbaik yang Tuhan berikan padaku. Berkat kau, aku tidak pernah merasa kesepian lagi.”

“Karena kau jadi sering berdebat denganku?”

“Benar!” Aurora tertawa. “Aku berdebar saat kau menatapku diam-diam. Aku hampir tidak bisa bernapas saat kau menciumku paksa. Dan aku rasanya ingin memelukmu saat tahu kau melindungiku dari pria itu sampai kau terlambat makan malam. Tapi aku terlalu gengsi.”

Kael mencium pundak Aurora pelan. “Dan kau juga membuat hidupku lebih berwarna, Rora. Kau penyelamatku, dan sekarang… ayo tidur. Aku akan mendekapmu sepanjang malam.”