Drama

Mendadak Kawin-Pesan Singkat Bencana-Bab 16

25 November 2025

“Cut! Oke, istirahat satu jam! Bisma, Sandra, chemistry kalian hari ini bagus. Aneh, tapi bagus.”

Angga berteriak dari balik monitor, memberikan jempol ke arah dua bintang utamanya.

Sandra menghela napas panjang, bahunya merosot turun. Kakinya gemetar, bukan karena akting, tapi karena menahan berat tubuhnya sendiri yang terasa seperti memanggul karung beras.

Sejak pagi, dia dan Bisma menjalankan instruksi Nia: Pura-pura akur dan profesional di set.

Mereka berhasil. Di depan kamera, mereka saling menatap, tersenyum, bahkan Bisma sempat membetulkan kerah baju Sandra dengan gerakan yang terlihat natural (padahal sambil berbisik, "Kerah lu miring, bikin gue sakit mata"). Nadine, yang menonton dari kejauhan, tampak semakin masam dan uring-uringan karena diabaikan.

Rencana Nia berhasil. Tapi tubuh Sandra tidak.

Efek sisa syok anafilaktik kemarin, ditambah guyuran air hujan buatan berjam-jam, dan stres mental menghadapi Nadine, akhirnya menagih bayaran.

Kepala Sandra berdenyut hebat seolah ada orkestra rock yang sedang konser di dalam tengkoraknya. Pandangannya berkunang-kunang. Setiap kali dia menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti diamplas.

“San, lu oke?”

Sandra menoleh. Bisma berdiri di sampingnya, menyerahkan botol air mineral. Wajahnya datar, tapi matanya meneliti wajah Sandra dengan tajam.

“Oke. Cuma laper,” bohong Sandra, suaranya serak. Dia tidak mau terlihat lemah. Dia ingat kata-kata Bisma di klinik: ‘Lu punya gue.’ Tapi dia juga ingat gengsinya sendiri. Dia tidak mau merepotkan Bisma lagi.

“Muka lu merah banget. Jangan bilang lu demam,” Bisma hendak menempelkan punggung tangannya ke dahi Sandra.

Sandra menepisnya cepat. “Jangan pegang-pegang. Nanti Nadine liat, dikira kita mesum lagi.”

“Gue cuma mau cek suhu, bego. Badan lu panas kayak oven,” desis Bisma.

“Ini efek blush on ketebelan dan matahari. Udah ah, gue mau ke kamar. Mau tidur siang sebentar.”

Sandra berbalik, memaksakan kakinya melangkah tegap menuju penginapan. Dia tidak menoleh lagi, takut Bisma melihat kalau dia sebenarnya berjalan sambil menyeret kaki.

Bisma menatap punggung Sandra yang menjauh. Perasaannya tidak enak.

“Bos, makan yuk? Sate kambing Pak Haji lagi ready nih,” ajak Doni yang muncul entah dari mana.

“Lu aja. Gue mau balik ke penginapan. Mau... ambil charger,” alibi Bisma, padahal baterai HP-nya masih 80 persen.


Malam harinya, hujan deras mengguyur desa itu. Suara guntur bersahut-sahutan, menambah kesan suram di penginapan tua milik Pak Haji Sobri.

Bisma mondar-mandir di ruang tengah. Sudah jam 8 malam. Waktunya makan malam bersama kru. Tapi pintu kamar nomor 4, kamar Sandra—belum terbuka sejak siang tadi.

“Nggak makan, Bis?” tanya Nadine yang duduk di sofa sambil scroll Instagram, sesekali melirik Bisma dengan tatapan menyelidik.

“Nanti,” jawab Bisma singkat.

“Nungguin siapa? Sandra? Dia kan princess, mungkin makanannya minta dianter ke kamar,” sindir Nadine.

Bisma mengabaikannya. Tapi hatinya gelisah. Dia sudah mengetuk pintu Sandra dua kali dengan alasan “Woy, skrip besok mana?”, tapi tidak ada jawaban.

‘Apa dia pingsan?’

Ketakutan itu mencengkeram Bisma. Dia tidak peduli lagi dengan Nadine. Dia berjalan cepat menuju kamar Sandra. Kali ini dia tidak mengetuk. Dia mengeluarkan kunci cadangan (yang masih dia simpan dan belum dikembalikan ke Pak Haji).

Klik.

Bisma menerobos masuk.

Gelap. Kamar itu gelap gulita, hanya diterangi kilatan petir dari jendela.

“San?”

Tidak ada jawaban. Hanya suara napas yang berat dan tersengal.

Bisma menyalakan lampu tidur di nakas. Cahaya kuning remang menerangi ruangan.

Dan di sana, di atas tempat tidur yang seprai-nya berantakan, Sandra meringkuk di balik selimut tebal. Tubuhnya menggigil hebat, giginya gemeretuk.

“Ya Tuhan, Sandra!”

Bisma langsung melompat ke sisi tempat tidur. Dia menyentuh dahi Sandra.

Panas. Sangat panas. Kulitnya membara seperti setrika.

“San! Bangun, San!” Bisma menepuk pipi Sandra pelan.

Sandra membuka matanya sedikit. Tatapannya sayu, tidak fokus. Dia menatap Bisma, tapi sepertinya tidak mengenali siapa yang ada di depannya.

“Ayah...” rintih Sandra lirih. “Ayah... jangan pergi... Sandra takut...”

Jantung Bisma berhenti berdetak sedetik.

Ayah.

Sandra sedang mengigau. Panas tinggi membawanya kembali ke masa lalu. Ke trauma terbesarnya.

“Sshh... iya, ini gue,” bisik Bisma, suaranya melembut. “Gue di sini.”

“Ibu mana, Yah? Ibu... Ibu jangan nangis...” Sandra mulai menangis dalam tidurnya. Air mata panas meleleh dari sudut matanya. Tangannya menggapai-gapai udara, mencari pegangan. “Sakit, Yah... Dada Sandra sakit...”

Bisma menangkap tangan Sandra yang melayang. Dia menggenggamnya erat.

Rasa bersalah menghantam Bisma seperti ombak pasang. Dia tahu kenapa Sandra memanggil orang tuanya. Dia tahu keluarganyalah alasan kenapa Sandra menjadi yatim piatu yang kesepian seperti ini.

“Maafin gue, San,” bisik Bisma, suaranya pecah. “Maafin gue nggak bisa balikin Ayah Ibu lu. Tapi gue di sini sekarang. Gue nggak akan ninggalin lu.”

Bisma beranjak cepat. Dia berlari ke kamar mandi, mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Dia juga mengambil botol air minum dan obat penurun panas dari kotak P3K pribadinya yang selalu dia bawa (siap sedia karena dia tahu Sandra ceroboh).

Dia kembali ke sisi Sandra. Dengan telaten, dia mengompres dahi Sandra. Dia membantu Sandra duduk setengah berbaring untuk meminum obat.

“Pait...” rengek Sandra seperti anak kecil, menolak obat itu.

“Emang pait. Kalau manis namanya janji politisi. Ayo telen,” bujuk Bisma sabar.

Setelah obat masuk, Bisma membaringkan Sandra lagi. Dia menyelimutinya sampai leher.

Tapi Sandra masih menggigil. “Dingin... dingin banget...”

Bisma bingung. Selimut sudah tebal. AC sudah dimatikan.

Dia menatap Sandra yang gemetar. Tubuh kecil itu terlihat begitu rapuh di kasur yang besar.

Tanpa berpikir panjang, didorong insting purba untuk melindungi miliknya, Bisma naik ke tempat tidur. Dia berbaring di sebelah Sandra, di luar selimut.

Dia menarik tubuh Sandra yang terbungkus selimut ke dalam pelukannya.

“Sini. Gue kompor berjalan,” gumam Bisma.

Sandra, merasakan sumber kehangatan, secara naluriah bergeser mendekat. Dia membenamkan wajahnya di dada Bisma (meski terhalang selimut). Napasnya perlahan menjadi teratur.

Bisma mematung. Dia bisa mencium aroma rambut Sandra, aroma sampo stroberi dan keringat demam.

Di luar, hujan masih deras. Di dalam kamar itu, kehangatan yang aneh menyelimuti mereka.

“Komodo...” gumam Sandra dalam tidurnya.

Bisma tersenyum tipis. Bahkan dalam igauan, Sandra masih memanggilnya dengan nama hewan itu.

“Iya, ini Komodo. Tidur yang nyenyak, Keong,” bisik Bisma. Tangannya mengusap kepala Sandra pelan, berulang-ulang, sampai dia sendiri merasa kantuk menyerang.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, mereka tidur di ranjang yang sama. Tanpa nafsu. Tanpa pertengkaran. Hanya dua jiwa yang lelah, saling mencari kehangatan di tengah badai.


Sinar matahari pagi yang menyilaukan membangunkan Sandra.

Kepalanya masih pening, tapi badannya terasa jauh lebih ringan. Keringat sudah kering di tubuhnya. Panasnya sudah turun.

Sandra membuka mata perlahan. Dia menatap sekeliling, bingung. Kenapa ada handuk kompres yang jatuh di bantalnya? Kenapa ada botol air kosong di meja?

Dan kenapa... ada jaket kulit hitam yang familiar tersampir di kursi rias?

Sandra mencoba bangun. Dia menyibakkan selimut.

Lalu dia melihatnya.

Di sofa kecil di sudut kamar (bukan di kasur, Bisma pindah saat subuh karena takut ketahuan), Bisma sedang tertidur.

Posisi tidurnya sangat tidak nyaman. Kakinya yang panjang menggantung di lengan sofa. Tangannya memeluk bantal kursi. Mulutnya sedikit terbuka, dan astaga dia mendengkur halus.

Sandra tertegun.

‘Dia... dia di sini semalaman?’

Ingatan samar-samar mulai kembali. Suara lembut yang menyuruhnya minum obat. Tangan hangat yang mengusap kepalanya. Pelukan yang menghilangkan rasa dinginnya.

Itu Bisma.

Hati Sandra berdesir hebat. Pria ini... pria yang kemarin mempermalukannya di depan kru, pria yang dia sebut musuh... rela tidur menekuk di sofa sempit demi menjaganya?

Sandra turun dari kasur tanpa suara. Dia berjalan mendekati sofa.

Dia menatap wajah tidur Bisma. Tanpa topeng arogansinya, Bisma terlihat... polos. Seperti anak laki-laki yang kelelahan main bola.

Sandra tersenyum. Tanpa sadar, tangannya terulur, ingin merapikan poni Bisma yang jatuh menutupi mata.

Namun, sebelum tangannya menyentuh rambut Bisma, sebuah getaran menghentikannya. Ponsel Bisma yang tergeletak di meja kopi, tepat di samping kepala Bisma, menyala.

Sebuah pesan WhatsApp masuk.

Layarnya menyala terang, menampilkan preview pesan itu dengan jelas.

Sandra membeku. Matanya terkunci pada nama pengirim dan isi pesan itu.

Sender: Nadine “Thanks buat yang semalam ya, Bis. Seru banget. Ternyata lu lebih liar dari dugaan gue. Next time di kamar gue lagi ya? ;)”

Dunia Sandra runtuh dalam sedetik.

Senyum di bibirnya lenyap, digantikan oleh rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongan.

‘Semalam?’

‘Seru banget?’

‘Kamar Nadine?’

Otak Sandra berputar cepat, menyusun skenario terburuk.

Jadi... Bisma tidak menjaganya semalaman?

Mungkin Bisma hanya mampir sebentar, memberinya obat, lalu pergi ke kamar Nadine? Atau mungkin Bisma baru datang ke sini setelah bersenang-senang dengan Nadine?

Atau yang lebih parah... mungkin kebaikannya semalam hanyalah rasa bersalah? Rasa bersalah seorang suami yang baru saja berselingkuh dari istri yang sedang sakit?

“Brengsek,” bisik Sandra, suaranya bergetar. Air mata yang semalam sudah kering kini kembali menggenang.

Rasa hangat di hatinya berubah menjadi es yang tajam.

Sandra mundur selangkah. Kakinya menabrak kaki meja, menimbulkan bunyi duk pelan.

Bisma menggeliat. Matanya mengerjap, lalu terbuka.

Dia melihat Sandra berdiri di depannya dengan wajah pucat dan mata merah.

Bisma langsung bangun, mengucek matanya. “San? Lu udah bangun? Gimana? Masih pusing?”

Bisma tersenyum lega melihat Sandra sudah bisa berdiri. Dia mengulurkan tangan, ingin memegang lengan Sandra.

“Jangan sentuh gue!”

Sandra menepis tangan Bisma kasar.

Bisma terlonjak kaget. “Hah? Kenapa? Lu mimpi buruk lagi?”

“Mimpi buruk gue itu lu!” desis Sandra. Dia menunjuk ponsel Bisma di meja. “Ambil HP lu. Dan keluar dari kamar gue. Sekarang.”

Bisma bingung. Dia melihat ponselnya yang layarnya sudah mati. “Kenapa sama HP gue?”

“Baca aja sendiri! Temen tidur lu kangen tuh!”

“Temen tidur?” Bisma mengernyit. Dia mengambil ponselnya, menyalakannya.

Dia membaca pesan dari Nadine.

Mata Bisma membelalak. ‘Apa-apaan ini?!’

“San, ini salah paham!” seru Bisma panik. “Gue nggak ke kamar Nadine! Gue di sini semaleman! Gue tidur di sofa itu!”

“Bohong!” potong Sandra. “Lu pikir gue bodoh? Nadine nggak mungkin ngirim kayak gitu kalau nggak ada apa-apa! ‘Lebih liar dari dugaan gue’? Jijik gue dengernya, Bis!”

“Demi Tuhan, San! Gue nggak ngapa-ngapain sama dia! Gue cuma papasan sama dia pas gue ambil es batu di dapur jam dua pagi! Kita cuma ngobrol dua menit!”

“Ngobrol apa sampe dia bilang ‘next time di kamar gue’?!”

Bisma terdiam. Dia ingat. Semalam, saat Sandra demam tinggi, Bisma kehabisan air dingin untuk kompres. Dia lari ke dapur umum. Di sana ada Nadine yang sedang minum air. Nadine sempat menggoda, “Wah, buru-buru amat. Mampir kamar gue dulu yuk?” Dan Bisma menjawab asal, “Kapan-kapan kalau gue lagi mabok.” Cuma sarkasme!

Tapi Nadine memutarnya. Nadine menjebaknya.

“Gue cuma sarkas sama dia, San! Dia mancing gue!”

“Alasan!” Sandra mendorong bahu Bisma ke arah pintu. “Keluar! Gue nggak butuh penjelasan dari cowok yang main gila pas istrinya lagi sekarat!”

“Gue nggak main gila! Gue ngerawat lu!”

“Ngerawat gue karena kasihan, kan? Atau buat nutupin dosa lu?!” Sandra membuka pintu kamar lebar-lebar. “KELUAR!”

Teriakan Sandra membuat beberapa kru yang lewat di lorong menoleh.

Bisma panik. Dia tidak bisa ribut di sini.

“Oke, gue keluar. Tapi kita belum selesai, Sandra. Gue bakal buktiin gue nggak salah,” kata Bisma dengan rahang mengeras. Dia menyambar jaketnya dan berjalan keluar.

Sandra membanting pintu tepat di belakang punggung Bisma.

BLAM!

Di dalam kamar, Sandra merosot di balik pintu, menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit. Lebih sakit daripada demam semalam. Dia baru saja mulai percaya, dan kepercayaan itu langsung dihancurkan.

Di luar pintu, Bisma berdiri mematung. Dia menatap ponselnya, menatap pesan Nadine dengan tatapan membunuh.

‘Lu bener-bener cari mati, Nadine,’ batin Bisma.

Dia tidak tahu, di ujung lorong, Nadine sedang mengintip dari balik pintu kamarnya sendiri sambil memegang segelas jus jeruk.

Nadine tersenyum puas.

“Checkmate, Sandra. Bisma itu milik gue. Kalau gue nggak bisa dapetin hatinya, seenggaknya gue bisa bikin dia dibenci sama lu.”

Pagi itu, tembok es di antara Bisma dan Sandra yang semalam sempat mencair, kini membeku kembali. Lebih tebal. Lebih tinggi. Dan kali ini, dipenuhi duri kesalahpahaman yang dirancang sempurna.