“Gue keluar. Tapi kita belum selesai, Sandra. Gue bakal buktiin gue nggak salah.”
Suara Bisma terdengar berat dan frustrasi saat dia berjalan keluar dari kamar Sandra, meninggalkan wanita itu yang masih gemetar menahan tangis dan amarah di balik pintu yang tertutup rapat.
Bisma menyusuri lorong penginapan dengan langkah cepat, mengabaikan tatapan beberapa kru yang kebetulan lewat dan mendengar keributan tadi. Dia tidak peduli lagi dengan citra "aktor ramah" atau "suami pura-pura". Yang dia pedulikan sekarang hanyalah membersihkan namanya dari tuduhan selingkuh—tuduhan yang ironisnya, datang dari istri paksaannya sendiri.
“Sialan Nadine,” geram Bisma sambil mengepalkan tangannya.
Dia berjalan menuju teras belakang penginapan, tempat yang biasanya sepi. Dia butuh berpikir. Dia butuh strategi.
Bisma mengeluarkan ponselnya lagi, menatap pesan dari Nadine dengan kebencian murni.
‘Thanks buat yang semalam ya, Bis. Seru banget...’
Pesan itu dirancang dengan sempurna untuk menghancurkan. Nadine tahu persis kapan harus mengirimnya. Dia tahu persis bagaimana membuat Bisma terlihat bersalah.
Bisma mencoba mengingat kejadian semalam.
Jam dua pagi. Dia memang keluar dari kamar Sandra sebentar karena kehabisan air dingin untuk kompres. Dia pergi ke dapur umum penginapan untuk mengambil es batu dari kulkas.
Di dapur itulah dia bertemu Nadine.
Nadine sedang minum air mineral, memakai piyama sutra yang terlalu tipis.
“Lho, Bisma? Belum tidur?” sapa Nadine waktu itu, suaranya serak menggoda.
“Ambil es,” jawab Bisma singkat, tidak menoleh.
“Buat Sandra, ya? Perhatian banget sih,” Nadine mendekat, menyandarkan pinggulnya ke meja dapur. “Tapi lu kelihatan capek, Bis. Tegang. Mau gue pijitin? Atau... mampir kamar gue dulu? Gue punya wine enak.”
Bisma ingat dia mendengus sinis. “Kapan-kapan kalau gue lagi mabok dan buta.”
Itu sarkasme! Sarkasme kasar!
Tapi Nadine memelintirnya. Nadine menjadikannya senjata.
Bisma membanting ponselnya ke meja kayu di teras.
“Gila,” gumam Bisma. “Dia bener-bener gila.”
Dia tidak bisa membiarkan ini. Dia harus menjelaskan pada Sandra. Tapi bagaimana caranya? Sandra sedang dalam mode landak—menusuk siapa saja yang mendekat.
Dan yang paling parah, Bisma menyadari satu hal: Dia takut.
Dia takut Sandra membencinya. Bukan benci main-main seperti dulu. Tapi benci karena kecewa.
Dan ketakutan itu... terasa lebih menyakitkan daripada pukulan apapun.
Pagi harinya, suasana di penginapan Pak Haji Sobri terasa seperti kutub utara. Dingin dan membekukan.
Bisma bangun lebih awal dari biasanya. Dia tidak bisa tidur nyenyak di kursi teras (dia tidak berani kembali ke kamar Sandra atau ke kamarnya sendiri karena takut ketemu Nadine).
Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa sedikit melunakkan hati Sandra.
Dia pergi ke dapur.
Bisma bukan koki. Keahlian masaknya terbatas pada mie instan dan telur ceplok gosong. Tapi hari ini, dia bertekad membuat bubur.
Bubur ayam. Makanan orang sakit.
Dia menonton tutorial YouTube sambil mengaduk beras di panci. Dia memotong ayam (dengan potongan yang sangat tidak rapi). Dia bahkan mencoba membuat kaldu sendiri (yang berakhir agak hambar).
Satu jam kemudian, bubur itu jadi. Tidak terlihat seperti bubur restoran, tapi setidaknya matang.
Bisma menuangkannya ke mangkuk, menaruhnya di nampan bersama segelas teh hangat. Dia membawanya menuju kamar Sandra.
Jantungnya berdegup kencang. Dia merasa seperti anak sekolah yang mau nembak gebetan, tapi versi lebih tragis karena gebetannya adalah istri yang sedang marah besar.
Bisma sampai di depan pintu kamar nomor 4.
Tok... tok...
Hening.
“San? Ini gue,” panggil Bisma pelan.
Tidak ada jawaban.
“Gue bawain sarapan. Bubur. Gue bikin sendiri,” lanjut Bisma, berharap nilai usahanya dihargai.
Pintu terbuka.
Tapi bukan Sandra yang membukanya lebar-lebar. Sandra hanya membukanya sedikit, rantai pengaman pintu masih terpasang. Wajahnya muncul di celah sempit itu. Pucat, mata bengkak, dan dingin.
“Ngapain lu ke sini?” tanya Sandra datar.
“Bawain makan,” Bisma mengangkat nampan itu, mencoba tersenyum. “Lu belum makan dari semalem. Nanti sakit lagi.”
Sandra melirik bubur di nampan itu. Lalu melirik Bisma.
“Gak butuh,” kata Sandra.
“San, ayolah. Dengerin gue dulu...”
“Gue bilang gak butuh!” potong Sandra. “Taruh aja di situ kalau lu maksa. Atau kasih aja ke temen tidur lu.”
Bisma menghela napas, kesabarannya mulai menipis. “Demi Tuhan, Sandra! Gue nggak tidur sama Nadine! Itu fitnah!”
“Buktinya ada di HP lu, Bisma! Lu mau nyangkal apa lagi?!”
“Itu teks sepihak! Dia yang nulis, bukan gue yang bales!”
“Tapi lu ngasih celah! Lu ngasih dia kesempatan buat ngomong gitu! Kalau lu nggak ngasih harapan, dia nggak bakal seberani itu!”
Sandra benar. Bisma tahu dia salah karena sempat meladeni Nadine walau hanya sarkasme.
“Oke, gue salah,” aku Bisma, merendahkan suaranya. “Gue salah karena gue nggak tegas. Tapi gue sumpah, San... gue nggak nyentuh dia. Gue semaleman di sini jagain lu. Lu inget kan gue kompres lu? Lu inget gue meluk lu?”
Mata Sandra berkaca-kaca. Itu yang paling menyakitkan. Ingatan tentang kelembutan Bisma yang kini tercemar oleh bayangan pengkhianatan.
“Justru itu yang bikin gue jijik,” bisik Sandra. “Lu meluk gue... pake tangan yang mungkin abis megang dia.”
BRAK!
Sandra menutup pintu tepat di depan wajah Bisma.
Bisma mundur selangkah. Nampan di tangannya miring. Bubur ayam buatannya tumpah.
Jatuh ke lantai lorong yang kotor. Pecah.
Bisma menatap bubur yang berserakan itu. Usahanya. Permintaan maafnya. Hancur berantakan.
Dia menatap pintu kamar Sandra yang tertutup.
Rasa sakit di dadanya berubah menjadi amarah. Amarah pada Nadine. Amarah pada Sandra yang keras kepala. Dan amarah pada dirinya sendiri yang tidak berdaya.
“Oke,” kata Bisma pada pintu tertutup itu. “Kalau itu mau lu.”
Bisma berbalik. Dia meninggalkan bubur yang tumpah itu. Dia berjalan pergi dengan langkah lebar dan penuh emosi.
Dia tidak akan memohon lagi.
Satu jam kemudian, di ruang makan.
Sandra keluar dari kamar. Dia lapar. Sangat lapar. Emosi menguras energinya.
Dia melihat bubur yang tumpah di depan pintunya. Hatinya mencelos sedikit melihat pecahan mangkuk dan bubur yang mulai dikerubungi semut.
‘Dia beneran bikin sendiri?’ batin Sandra.
Sandra melangkahi tumpahan itu dengan hati berat. Dia berjalan ke ruang makan.
Di sana, Bisma sedang duduk makan roti. Tapi dia tidak sendirian.
Nadine duduk di sebelahnya.
Dan Nadine... sedang tertawa sambil memegang lengan Bisma.
“Lucu banget sih kamu, Bis. Sumpah, cerita kamu soal sutradara yang ngamuk itu epic,” kata Nadine manja.
Bisma tidak menepis tangan Nadine. Dia hanya diam, membiarkan Nadine menempel padanya. Wajahnya datar, tapi dia tidak menolak.
Sandra membeku di ambang pintu.
Darahnya mendidih.
Barusan Bisma memohon di depan pintunya, bilang dia tidak ada apa-apa dengan Nadine. Dan sekarang? Dia membiarkan Nadine merayunya di depan umum?
Bisma melihat Sandra datang. Mata mereka bertemu.
Sandra menunggu Bisma mendorong Nadine. Menunggu Bisma membuktikan omongannya.
Tapi Bisma tidak melakukannya.
Bisma justru mengambil cangkir kopinya, meminumnya dengan tenang, dan... tersenyum tipis pada Nadine.
“Iya, Nad. Emang lucu,” jawab Bisma, suaranya terdengar jelas.
Sandra merasa ditampar.
Ini bukan hanya pengkhianatan. Ini penghinaan.
Bisma melakukan ini dengan sengaja. Untuk membalas Sandra yang menolak buburnya.
‘Oke, Komodo. Lu mau main api? Gue siram bensin sekalian,’ batin Sandra.
Sandra berjalan masuk. Dia tidak mengambil makanan. Dia berjalan lurus ke arah Alex yang sedang duduk di ujung meja lain sambil main game.
“Lex,” panggil Sandra, suaranya dibuat manis.
Alex mendongak. “Eh, Sandra. Kenapa? Udah sembuh?”
“Udah. Makasih ya, Lex. Kemarin lu panik banget pas gue sakit,” kata Sandra, sengaja mengeraskan suaranya.
Dia duduk di samping Alex. Sangat dekat.
“Gue laper banget nih, Lex. Tapi tangan gue masih lemes. Boleh tolong ambilin nasi goreng nggak?” pinta Sandra dengan nada manja yang belum pernah dia gunakan seumur hidupnya.
Alex kaget, tapi senang bukan main. “Boleh! Boleh banget! Pake telor ceplok ya?”
“Iya. Yang setengah mateng. Kesukaan gue.”
Di meja seberang, Bisma berhenti minum kopi.
Dia melihat Sandra yang menempel pada Alex. Dia mendengar nada manja itu.
Rahang Bisma mengeras. Gelas di tangannya retak sedikit karena cengkeramannya yang terlalu kuat.
Nadine, yang menyadari perubahan mood Bisma, tersenyum lebar.
“Tuh kan, Bis. Sandra emang gampang banget nempel sama cowok. Kemarin sama kamu, sekarang sama Alex. Murahan ya?” bisik Nadine, memanas-manasi.
Biasanya Bisma akan membela Sandra. Biasanya dia akan membentak Nadine.
Tapi kali ini, sakit hatinya menutupi logikanya.
“Iya,” jawab Bisma dingin, matanya menatap tajam ke arah Sandra yang sedang tertawa (palsu) mendengar lelucon Alex. “Murahan.”
Sandra mendengar itu.
Dia menoleh. Tatapannya bertemu dengan tatapan Bisma.
Perang dingin jilid dua resmi dimulai. Dan kali ini, tidak ada lagi rasa bersalah. Yang ada hanya keinginan untuk saling menyakiti.
“Makasih nasinya, Lex,” kata Sandra, menerima piring dari Alex. “Suapin dong. Tangan gue beneran lemes.”
PRANG!
Gelas di tangan Bisma pecah. Kopi tumpah ke meja.
Semua orang menoleh kaget.
Bisma berdiri, tangannya berdarah terkena pecahan kaca. Tapi dia tidak peduli.
“Gue kenyang,” kata Bisma dingin.
Dia berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan Nadine yang kaget dan Sandra yang menatapnya dengan kemenangan yang terasa hampa.
Sandra melihat darah menetes dari tangan Bisma ke lantai.
Hatinya sakit. Dia ingin lari, ingin mengobati tangan itu.
Tapi dia menahan diri. Dia memakan nasi goreng itu dengan susah payah, menahan air mata yang ingin tumpah.
‘Kita sama-sama sakit, Bis. Kita sama-sama bodoh.’
Di kamarnya, Bisma membalut tangannya yang luka dengan tisu seadanya. Darah merembes.
Dia menatap lukanya.
“Sakit,” gumam Bisma. “Tapi nggak sesakit liat lu minta disuapin cowok lain.”
Dia mengambil ponselnya. Membuka galeri. Menatap foto box yang dia ambil dari koper Sandra waktu itu (dia sempat memfotonya diam-diam sebelum dikembalikan).
“Kenapa lu harus sekeras kepala itu, San? Kenapa lu nggak bisa percaya sama gue sekali aja?”
Bisma melempar ponselnya ke kasur.
Dia mengambil kunci motor Pak Haji Sobri yang tergeletak di meja.
Dia butuh angin. Dia butuh lari.
Bisma keluar lewat pintu belakang, menyalakan motor bebek butut itu, dan melaju kencang menembus jalanan desa yang berdebu. Tanpa tujuan. Hanya ingin menjauh dari rasa sakit yang bernama Sandra Gunawan.