Hujan buatan mulai turun membasahi lokasi syuting, menciptakan tirai air yang dingin dan melankolis di tengah terik matahari sore yang dipaksa redup oleh lighting.
Ini adalah hari terakhir syuting di desa. Dan sesuai jadwal, hari ini adalah pengambilan gambar untuk adegan paling krusial dalam film "OPIA": Ciuman rekonsiliasi antara Nicho dan Anna di bawah hujan.
Namun, suasana di set jauh dari kata romantis.
Bisma berdiri di bawah standby tent, handuk melingkar di lehernya, matanya menatap kosong ke arah hujan buatan. Tangannya yang kemarin terluka akibat pecahan gelas sudah diperban rapi, tapi rasa perih di hatinya belum sembuh.
Sejak insiden bubur yang tumpah dan makan siang dengan Alex kemarin, Bisma dan Sandra tidak bicara sepatah katapun. Mereka berinteraksi hanya seperlunya saat reading naskah pagi tadi, itu pun dengan nada dingin dan mata yang enggan bertemu.
"Oke, Everybody stand by!" seru Angga lewat pengeras suara. "Sandra, Bisma, position!"
Sandra keluar dari tenda rias. Dia mengenakan dress putih sederhana yang akan basah kuyup sebentar lagi. Wajahnya pucat, matanya bengkak—untungnya sesuai dengan karakter Anna yang diceritakan sedang depresi.
Bisma menatapnya sekilas, lalu membuang muka. Dia melepas handuknya, berjalan menuju titik tengah di bawah guyuran hujan buatan.
Sandra menyusul, berdiri berhadapan dengannya.
Air dingin langsung membasahi mereka. Rambut Sandra lepek menempel di pipi. Kemeja Bisma basah mencetak tubuhnya. Mereka menggigil, tapi bukan cuma karena dingin.
"Inget briefing-nya!" teriak Angga. "Ini ciuman penuh gairah dan kerinduan! Kalian udah pisah lima tahun! Luapin semua rasa kangen kalian! Jangan nahan diri!"
Sandra menelan ludah. ‘Gairah? Kerinduan? Yang ada gue pengen nonjok mukanya.’
Bisma menatap Sandra. Tatapannya datar, tak terbaca.
"Siap?" tanya Bisma, suaranya hampir tenggelam oleh suara air.
"Buruan kelarin," jawab Sandra ketus.
"Oke! Camera rolling... SPEED... ACTION!"
Bisma melangkah maju. Sesuai skrip, dia harus menarik lengan Sandra yang hendak pergi.
"Anna! Tunggu!" teriak Bisma.
Sandra berbalik, wajahnya basah. "Apa lagi, Nicho?! Aku capek!"
"Dengerin aku dulu!" Bisma menarik bahu Sandra.
Sandra menepisnya. "Lepasin!"
Bisma menariknya lagi, kali ini lebih kasar, membanting tubuh Sandra ke dadanya. Dia menatap mata Sandra. Seharusnya, di sini Nicho menatap Anna dengan cinta.
Tapi Bisma menatap Sandra dengan... kosong.
Dia mendekatkan wajahnya. Bibir mereka hampir bersentuhan.
Sandra memejamkan mata, menunggu.
Bisma menempelkan bibirnya.
Kaku.
Dingin.
Seperti mencium tembok.
Bisma hanya menempelkan bibirnya selama tiga detik, lalu melepaskannya.
"CUT!" teriak Angga, suaranya frustrasi.
Hujan dimatikan sejenak. Angga berlari masuk ke set, cipratan air mengenai celananya.
"Bisma! Sandra! Apa-apaan itu?!" semprot Angga. "Itu bukan ciuman rindu! Itu kayak ciuman sepupu jauh pas lebaran! Kaku banget! Mana chemistry kalian?!"
Bisma mengusap wajahnya kasar. "Sori, Mas. Ulang."
"Sandra, lu juga! Badan lu kayak kayu! Lemes dikit kenapa sih? Lu cinta sama dia, bukan takut sama dia!"
Sandra menggigit bibirnya. "Iya, Mas. Maaf."
"Oke, reset! Makeup, touch up dikit! Kita ulang lima menit lagi!"
Angga kembali ke monitor sambil mengomel.
Sandra dan Bisma dibiarkan berdiri di tengah set yang becek.
"Lu bisa nggak sih profesional dikit?" desis Bisma tiba-tiba, tanpa menatap Sandra.
Sandra menoleh, tersinggung. "Gue? Lu yang nyiumnya kayak robot! Bibir lu keras banget kayak batu bata!"
"Gue nggak nafsu nyium cewek yang pikirannya ke cowok lain," balas Bisma tajam.
"Maksud lu Alex?! Gue nggak ada apa-apa sama dia!"
"Bodo amat. Mau lu ada apa-apa, mau lu suap-suapan, bukan urusan gue. Gue cuma mau adegan ini kelar biar gue bisa balik ke Jakarta dan ngejauh dari lu."
Kalimat itu menusuk Sandra tepat di ulu hati. Ngejauh dari lu.
"Oke," kata Sandra, suaranya bergetar karena marah dan sedih. "Lu mau kelar? Ayo kita kelarin. Gue juga muak liat muka lu."
Sandra mendekat, mencengkeram kerah kemeja basah Bisma. Dia menatap mata hitam itu dalam-dalam.
"Anggep aja ini ciuman perpisahan, Bisma. Anggep ini terakhir kalinya kita ketemu sebelum lu balik ke... Nadine lu itu."
Bisma tertegun mendengar nada putus asa dalam suara Sandra. Dia melihat air mata Sandra yang bercampur dengan air hujan palsu.
‘Sialan,’ batin Bisma. ‘Kenapa dia harus nangis?’
"Masuk posisi!" teriak asisten sutradara.
Hujan dinyalakan lagi. Deras.
"Action!"
Kali ini, Bisma tidak menunggu.
Dia tidak menarik lengan Sandra. Dia langsung menerjang.
Bisma mencengkeram wajah Sandra dengan kedua tangannya, menahan kepala wanita itu agar tidak bisa berpaling.
"Lu nggak akan ke mana-mana, Anna," geram Bisma, tapi itu bukan suara Nicho. Itu suara Bisma.
Dan dia menciumnya.
Kali ini, tidak ada kelembutan. Tidak ada keragu-raguan.
Bisma melumat bibir Sandra dengan kasar, penuh amarah, penuh frustrasi. Dia menyalurkan semua rasa cemburunya pada Alex, semua rasa sakitnya karena ditolak Sandra, dan semua ketakutannya akan kehilangan wanita ini.
Sandra terkesiap. Ciuman itu mengejutkan, mendominasi, dan... memabukkan.
Awalnya Sandra ingin mendorong. Dia ingin memukul dada Bisma. Tapi rasa hangat dari bibir Bisma di tengah dinginnya hujan meluluhlantakkan pertahanannya.
Sandra menyerah.
Dia melingkarkan lengannya ke leher Bisma, menarik pria itu lebih dekat, memperdalam ciuman itu. Dia membalas setiap lumatan Bisma dengan rasa sakit yang sama. Rasa sakit karena dikhianati, rasa sakit karena dibohongi, dan rasa sakit karena mencintai pria yang salah.
Lidah mereka bertemu, bertarung, saling menuntut. Ini bukan lagi akting. Ini adalah percakapan dua jiwa yang terluka yang tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata.
‘Kenapa lu jahat banget, Bis?’ jerit hati Sandra di sela ciuman itu. ‘Kenapa lu nggak percaya sama gue, San?’ balas hati Bisma.
Tangan Bisma turun ke pinggang Sandra, meremasnya posesif, mengangkat tubuh Sandra sedikit hingga wanita itu harus berjinjit. Tubuh mereka menempel sempurna, basah, panas, dan bergetar.
Kru di lokasi syuting terdiam. Hening.
Bahkan Angga lupa berteriak Cut. Dia menatap monitor dengan mulut terbuka. Chemistry yang tadi nol, tiba-tiba meledak menjadi seratus juta.
Nadine, yang menonton dari balik tenda, meremas gelas kopinya hingga gepeng. Isinya tumpah ke tangannya, tapi dia tidak peduli. Matanya menyala penuh kebencian melihat bagaimana Bisma mencium Sandra. Itu bukan ciuman akting. Itu ciuman kepemilikan.
Satu menit. Dua menit.
Napas Sandra mulai habis. Bisma melepaskan bibirnya, tapi tidak menjauhkan wajahnya. Dahi mereka bersatu. Hidung mereka bersentuhan. Napas mereka yang memburu beradu di udara dingin.
Mata Bisma tertutup rapat. Tangannya masih mencengkeram pinggang Sandra erat, seolah takut Sandra akan lari jika dia lepaskan.
"Gue benci lu," bisik Bisma, suaranya serak, nyaris tak terdengar di antara suara hujan.
Sandra membuka matanya yang basah. Dia menatap bibir Bisma yang merah dan bengkak.
"Gue lebih benci lu," balas Sandra lirih.
"CUT!"
Teriakan Angga akhirnya terdengar, memecahkan gelembung waktu mereka.
Bisma tersentak. Dia membuka matanya, menatap Sandra. Realita kembali menghantamnya. Dia baru saja mencium Sandra di depan puluhan orang seolah dia ingin memakannya hidup-hidup.
Dan yang paling parah... dia menikmatinya.
Bisma melepaskan Sandra dengan kasar, seolah tubuh wanita itu tiba-tiba terbakar. Dia mundur selangkah, mengusap wajahnya yang basah dengan frustrasi.
Sandra terhuyung sedikit karena kehilangan tumpuan. Dia memegang bibirnya, masih merasakan jejak Bisma di sana.
"Bungkus! Gila! Take terbaik abad ini!" seru Angga, bertepuk tangan heboh.
Bisma tidak menunggu pujian. Dia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan set, menerobos hujan, menuju tenda ganti. Dia tidak berani menoleh. Dia tidak berani melihat wajah Sandra.
Karena dia tahu, jika dia melihat Sandra sekarang... dia akan jatuh cinta lagi. Dan itu adalah hal terakhir yang dia butuhkan.
Sementara itu, di balik bayang-bayang tenda soundman.
Nadine menurunkan ponselnya.
Dia tidak hanya menonton. Dia merekamnya.
Bukan dari monitor sutradara, tapi dari samping. Angle yang memperlihatkan betapa tangan Sandra mencengkeram rambut Bisma. Angle yang memperlihatkan betapa agresif-nya ciuman itu terlihat dari sisi Sandra.
Nadine tersenyum miring.
"Dapet lu," bisiknya.
Dia membuka aplikasi pesan.
To: Tante Regina ‘Tante, aku nemu sesuatu yang menarik. Liat deh. Ini ciuman 'profesional' versi mereka. Liat gimana cewek itu nempel banget sama Bisma. Agresif banget, Tan. Bisma kayak nggak bisa nolak.’
Nadine menekan send. Video itu terkirim.
"Selamat menikmati pertunjukan, Tante," gumam Nadine. "Bikin Bisma sadar kalau dia lagi dijebak sama cewek gatel."
Sore harinya, syuting di desa resmi berakhir.
Suasana kepulangan terasa suram bagi Bisma dan Sandra.
Bisma sibuk mengepak barangnya sendiri, menolak bantuan asisten. Pikirannya kacau. Ciuman tadi siang terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa bibir Sandra, aroma tubuhnya yang basah oleh hujan, desahan napasnya...
"Argh!" Bisma melempar baju kotornya ke dalam koper dengan kasar.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk.
"Masuk, nggak dikunci," teriak Bisma.
Pintu terbuka. Sandra berdiri di sana. Dia sudah mandi, rambutnya kering, memakai jaket tebal. Matanya sembap.
Bisma mematung. "Mau ngapain?"
Sandra melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Dia memegang sebuah amplop putih di tangannya.
"Gue mau ngasih ini," kata Sandra, meletakkan amplop itu di meja rias.
"Apaan tuh? Surat cinta?" sindir Bisma, mencoba menutupi kegugupannya.
"Uang," jawab Sandra.
Bisma mengernyit. "Uang?"
"Uang ganti rugi biaya klinik kemarin. Dan uang ganti rugi... bubur lu yang gue tumpahin."
Bisma menatap amplop itu, lalu menatap Sandra tak percaya. "Lu gila? Gue nggak butuh duit lu."
"Gue butuh bayar," kata Sandra tegas. "Gue nggak mau punya utang sama lu. Gue nggak mau ada alesan buat kita terikat lagi setelah ini."
Kata-kata itu menohok Bisma. Nggak mau terikat lagi.
"Oke," kata Bisma dingin. "Kalau itu mau lu."
Sandra berbalik hendak pergi. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu.
"Bis," panggil Sandra pelan tanpa menoleh.
"Apa?"
"Ciuman tadi..." Sandra menelan ludah. "Lupain aja. Anggep aja itu... salam perpisahan."
Bisma menatap punggung Sandra. Dia ingin berteriak, 'Gue nggak bisa lupa! Gue nggak mau pisah!'
Tapi bayangan wajah ibunya dan ancamannya terlintas.
"Udah gue lupain," jawab Bisma bohong. "Rasanya biasa aja."
Bahu Sandra merosot. "Bagus."
Sandra keluar dan menutup pintu.
Bisma langsung terduduk di tepi kasur, menjambak rambutnya sendiri.
"Bohong," bisiknya pada ruangan kosong itu. "Itu ciuman terbaik seumur hidup gue."
Di luar, Sandra bersandar di pintu kamar Bisma, air matanya menetes lagi. Dia menyentuh bibirnya.
"Kenapa harus lu sih, Bis?" isaknya pelan. "Kenapa harus lu?"
Mereka berdua terluka, berbohong, dan saling menjauh. Sementara di Jakarta, video yang dikirim Nadine sudah sampai di tangan Regina.
Dan Sang Ratu sedang tersenyum, menyiapkan sambutan selamat datang yang akan menghancurkan mereka berdua.