Matahari pagi di desa itu bersinar terang, seolah mengejek suasana hati Sandra yang mendung kelabu.
Koper-koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil produksi. Para kru sibuk berpamitan dengan warga desa, tertawa-tawa lega karena tugas berat mereka selama sebulan akhirnya selesai. Namun, di pojok teras penginapan, Sandra berdiri mematung sambil memeluk tas selempangnya erat-erat, seolah tas itu adalah pelampung penyelamat di tengah lautan.
Matanya bengkak. Dia memakai kacamata hitam besar untuk menutupinya, tapi hidungnya yang merah tidak bisa berbohong.
Semalam, dia memberikan uang ganti rugi pada Bisma (Bab 16). Dia mencoba membeli harga dirinya kembali. Dia mencoba menarik garis batas yang tegas: ‘Kita selesai. Ciuman itu tidak ada artinya.’
Tapi hatinya berkhianat. Sepanjang malam, dia tidak bisa tidur. Sentuhan bibir Bisma, desahan napas pria itu yang memohon, dan tatapan putus asanya... semuanya menghantui Sandra.
“Woy. Melamun aja. Kesambet setan desa baru tau rasa.”
Suara berat itu membuyarkan lamunan Sandra. Dia menoleh.
Bisma berdiri di sana. Memakai jaket denim, kacamata hitam, dan topi yang ditarik rendah. Dia terlihat tampan, menyebalkan, dan... kacau. Meskipun tertutup kacamata, Sandra bisa melihat rahang Bisma yang mengeras, tanda pria itu juga sedang menahan banyak hal.
“Gue nggak melamun,” jawab Sandra ketus, membuang muka. “Gue lagi nunggu mobil jemputan.”
“Mobil jemputan lu udah penuh sama kostum,” kata Bisma datar. “Lu bareng gue.”
Sandra sontak menoleh, melotot di balik kacamatanya. “Apa?! Ogah! Gue mending naik travel!”
“Jangan mulai drama lagi, San,” Bisma mendesis pelan, melangkah mendekat hingga aroma parfum maskulinnya—aroma yang kemarin bercampur dengan air hujan—tercium jelas oleh Sandra. “Mbak Nia nyuruh kita satu mobil. Dia mau briefing soal strategi promosi pas kita sampe Jakarta nanti. Lu nggak bisa nolak produser.”
“Itu akal-akalan lu doang kan? Biar bisa... bisa...”
“Bisa apa?” potong Bisma cepat, mencondongkan wajahnya. “Bisa nyium lu lagi? Jangan pede. Bibir gue masih bengkak gara-gara lu gigit kemarin. Gue butuh istirahat.”
Wajah Sandra memerah padam. “Gue nggak gigit! Itu...”
“Udah, masuk mobil,” perintah Bisma, memotong pembelaan diri Sandra. Dia menyambar koper Sandra tanpa permisi dan menyeretnya menuju mobil Alphard hitam yang sudah menunggu.
Sandra menghentakkan kaki kesal. Dia melihat sekeliling. Nadine sedang berdiri di dekat mobil lain, menatap mereka dengan senyum miring yang membuat bulu kuduk Sandra meremang.
Ada sesuatu di mata Nadine. Sesuatu yang licik. Seolah dia memegang kartu As yang bisa mematikan permainan kapan saja.
“Awas lu, San,” gumam Sandra pada dirinya sendiri. “Jangan sampe lemah. Jangan sampe luluh.”
Perjalanan pulang ke Jakarta memakan waktu empat jam. Empat jam yang terasa seperti empat tahun di dalam neraka yang ber-AC dingin.
Di dalam mobil mewah itu, posisinya sangat canggung. Doni (manajer Bisma) duduk di depan di samping sopir. Bisma dan Sandra duduk di tengah. Nia duduk di belakang sendirian, sibuk dengan iPad-nya.
Keheningan di antara Bisma dan Sandra begitu tebal, rasanya bisa diiris pakai pisau.
Mereka duduk berjarak semaksimal mungkin, menempel ke pintu masing-masing. Sandra menatap keluar jendela, melihat sawah berganti menjadi pabrik, lalu menjadi gedung-gedung beton. Bisma pura-pura tidur, tapi tangannya yang bersedekap terlihat tegang.
“Oke, dengerin saya,” suara Nia memecah kebisuan.
Bisma membuka mata (dia memang tidak tidur). Sandra menoleh sedikit.
“Syuting selesai. Hasilnya... beyond expectation,” kata Nia. “Adegan ciuman kemarin? Angga bilang itu masterpiece. Editor nangis pas ngedit rough cut-nya semalam.”
Sandra menunduk, meremas tangannya. Dia tidak ingin membahas itu.
“Tapi,” lanjut Nia, nadanya berubah serius. “Masalah kita belum kelar. Justru baru mulai.”
“Maksud Mbak?” tanya Bisma.
“Nadine,” jawab Nia singkat. “Dia aneh. Seharian ini dia senyum-senyum sendiri. Dia nggak komplain, nggak tantrum. Dia terlalu... tenang.”
“Mungkin dia udah nyerah?” celetuk Doni dari depan.
“Ular nggak pernah nyerah, Don. Dia cuma ganti kulit,” kata Nia. “Saya curiga dia punya rencana buat pas kita sampe Jakarta. Jadi, saya minta kalian berdua hati-hati. Jangan kasih celah. Terutama kamu, Bisma. Jangan kepancing emosi.”
Bisma mengangguk kaku. Dia melirik Sandra.
“Dan kamu, Sandra,” Nia menatap Sandra lewat spion tengah. “Siapin mental kamu. Dunia entertainment di Jakarta itu kejam. Begitu teaser film keluar, sorotan bakal ke kamu. Orang bakal gali masa lalu kamu. Kamu siap?”
Sandra terdiam. Masa lalunya?
Ayahnya yang dituduh korupsi. Ibunya yang depresi. Hidupnya yang hancur.
Apakah dia siap jika semua itu diungkit lagi?
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat menggenggam tangan Sandra yang dingin dan berkeringat.
Sandra tersentak. Dia menoleh.
Bisma.
Pria itu tidak menatapnya. Dia tetap menatap lurus ke depan. Tapi tangannya menggenggam tangan Sandra erat-erat, menyembunyikannya di celah antara kursi mereka agar tidak terlihat oleh Nia.
Genggaman itu seolah berkata: ‘Gue di sini. Jangan takut.’
Sandra ingin menarik tangannya. Dia ingin konsisten dengan sikap dinginnya. Tapi rasa takut akan masa depan membuatnya lemah. Dia membiarkan tangan Bisma di sana. Dia meminjam kekuatan dari musuhnya.
“Saya... saya coba siap, Mbak,” jawab Sandra pelan.
Bisma mengusap punggung tangan Sandra dengan ibu jarinya. Gerakan kecil yang membuat jantung Sandra berdetak tidak karuan.
‘Kenapa lu kayak gini, Bis?’ jerit hati Sandra. ‘Kenapa lu bikin gue bingung? Lu aktor. Apa ini cuma akting lu lagi biar gue nggak kabur?’
Mobil akhirnya memasuki hiruk-pikuk Jakarta. Langit sudah sore, berwarna oranye kemerahan yang kotor oleh polusi.
“Anter Sandra dulu,” perintah Bisma pada sopir.
“Ke mana alamatnya, San?” tanya Doni.
Sandra menyebutkan alamat kos-kosannya yang sederhana di daerah Jakarta Selatan. Tempat persembunyiannya selama lima tahun ini.
Saat mobil berhenti di depan gang sempit kosan Sandra, realita kembali menghantam.
Ini dunianya. Dunia nyata Sandra yang sempit, sepi, dan sendirian. Berbeda jauh dengan dunia gemerlap Bisma.
“Makasih tumpangannya,” kata Sandra kaku. Dia mencoba melepaskan tangan Bisma.
Tapi Bisma menahannya.
“Gue anter sampe depan pintu,” kata Bisma.
“Nggak usah. Gue bisa sendiri. Koper gue enteng.”
“Gue bilang gue anter!” nada Bisma meninggi sedikit, membuat Nia di belakang mengangkat alis.
“Bisma, jangan ribut di pinggir jalan. Banyak orang,” tegur Nia.
Bisma mengabaikan Nia. Dia membuka pintu, turun, lalu mengambil koper Sandra dari bagasi. Sandra terpaksa ikut turun.
Mereka berdiri berhadapan di trotoar yang ramai. Suara klakson dan pedagang kaki lima menjadi backsound perpisahan mereka.
“Lu nggak perlu nganter,” kata Sandra, mengambil alih kopernya. “Pulang sana. Istana lu nunggu.”
Bisma menatap Sandra. Dia melepas kacamata hitamnya, membiarkan Sandra melihat matanya yang lelah tapi intens.
“Gue nggak mau pulang,” kata Bisma pelan.
“Terus mau ngapain? Nginep di kosan gue? Lu mau tidur di karpet?” sindir Sandra.
“Kalau lu bolehin, gue mau,” jawab Bisma cepat.
Sandra ternganga. “Gila lu.”
Bisma maju selangkah, mempersempit jarak. Orang-orang mulai menoleh, mengenali sosok Bisma Adijaya meskipun dia berpakaian kasual.
“Gue serius, San,” bisik Bisma. “Gue nggak mau pisah hari ini. Perasaan gue nggak enak. Gue takut Nadine...”
“Stop jadi paranoid!” potong Sandra. “Kita udah di Jakarta. Nadine nggak bisa macem-macem di sini. Ini bukan wilayah dia.”
“Ini wilayah Ibu gue juga, San! Lu lupa?!” desis Bisma.
Sandra terdiam. Regina.
“Gue bisa jaga diri,” kata Sandra keras kepala. “Gue udah lima tahun hidup tanpa lu, tanpa keluarga lu, dan gue baik-baik aja.”
Kalimat itu menampar Bisma.
“Baik-baik aja?” Bisma tertawa getir. “Lu sebut hidup sendirian, dihantui trauma, dan kerja keras bagai kuda itu baik-baik aja? Lu butuh gue, Sandra. Sama kayak gue butuh lu.”
“Gue nggak butuh lu!” teriak Sandra. “Gue nggak butuh rasa kasihan lu! Gue nggak butuh... cinta palsu lu!”
“Palsu?” mata Bisma menyipit. “Lu pikir ciuman kemarin palsu? Lu pikir gue meluk lu, gue ngejar lu, itu palsu?!”
“Iya! Karena lu aktor! Dan lu jago banget bikin orang percaya!” Sandra mendorong dada Bisma. “Pulang, Bis. Kembali ke hidup lu yang sempurna. Tinggalin gue sama hidup gue yang berantakan. Kita beda dunia.”
Sandra berbalik, menyeret kopernya masuk ke dalam gang.
Bisma ingin mengejarnya. Dia ingin menarik Sandra kembali, memaksanya mengerti.
Tapi dia melihat kerumunan orang mulai mengeluarkan ponsel, merekam mereka.
Bisma mengumpat. Dia tidak bisa membuat keributan di sini. Itu akan membahayakan Sandra.
“Oke,” gumam Bisma, menatap punggung Sandra yang menghilang di tikungan gang. “Lu mau main keras kepala? Gue juga bisa.”
Bisma kembali masuk ke mobil, membanting pintu.
“Jalan, Pak,” perintahnya dingin.
“Ke mana, Bos? Penthouse?” tanya Doni.
“Nggak. Ke kantor. Gue mau cek semua rekaman CCTV di lokasi syuting kemarin. Gue mau cari bukti kalau Nadine yang naruh ikan asin itu.”
Nia tersenyum tipis di kursi belakang. ‘Dasar bucin. Katanya mau pulang, malah mau jadi detektif.’
Sandra masuk ke kamar kosnya yang sempit dan pengap. Dia mengunci pintu, melempar koper, dan langsung menjatuhkan diri ke kasur busa tipisnya.
Air matanya tumpah lagi.
“Bodoh. Bodoh. Bodoh,” rutuknya sambil memukul bantal.
Kenapa dia harus mengusir Bisma? Padahal jauh di lubuk hatinya, dia ingin Bisma ada di sini. Dia ingin Bisma memeluknya lagi. Dia takut sendirian.
Suara notifikasi ponselnya berbunyi.
Sandra mengabaikannya. Paling tagihan listrik.
Bunyi lagi.
Dan lagi.
Sandra menghela napas, meraih ponselnya dengan malas.
Nomor tidak dikenal.
Dia membuka pesan itu.
Jantungnya berhenti berdetak.
Itu sebuah video.
Sandra memutarnya dengan tangan gemetar.
Di layar ponselnya yang retak, terlihat rekaman adegan ciuman kemarin. Tapi bukan dari angle kamera film. Ini dari samping. Dari balik tumpukan alat lighting.
Di video itu, terlihat jelas tangan Sandra yang mencengkeram rambut Bisma. Terlihat jelas bagaimana Sandra menarik tubuh Bisma mendekat. Terlihat jelas desahan napas Sandra saat ciuman itu dilepas.
Dan caption di bawah video itu membuat darah Sandra membeku.
Unknown Number: “Wow. Agresif banget ya, Bu Penulis? Ini bukan akting, ini nafsu. Gimana ya kalau video ini nyampe ke Tante Regina? Atau ke infotainment? Judulnya: 'Penulis Murahan Menjebak Aktor Papan Atas dengan Tubuhnya'. Keren kan?”
Sandra menjatuhkan ponselnya.
Nadine.
Itu pasti Nadine.
Ancaman itu nyata.
“Tante Regina...” bisik Sandra ngeri.
Jika Regina melihat video ini... dia akan berpikir Sandra yang menggoda Bisma. Dia akan berpikir Sandra adalah pelakor yang menjerat anaknya.
Dan ancaman Regina lima tahun lalu terngiang kembali: “Saya akan hancurkan kamu.”
Sandra meringkuk di kasurnya, memeluk lutut. Rasa aman yang dia rasakan sesaat tadi lenyap tak berbekas.
Dia sendirian. Di kota yang kejam. Melawan monster yang siap memakannya hidup-hidup.
Dan dia baru saja mengusir satu-satunya orang yang bisa melindunginya.
Di sebuah apartemen mewah di kawasan elit Jakarta.
Nadine duduk di sofa kulit, memegang gelas wine. Dia menatap layar ponselnya yang menampilkan status Read dari nomor Sandra.
“Ketakutan, kan lu?” Nadine tertawa pelan.
Dia menekan tombol Forward.
Tujuannya: Tante Regina.
“Maaf ya, San. Tapi gue nggak sabar nunggu besok. Gue mau liat kembang api malam ini.”
Sent.
Video itu terkirim ke Regina Adijaya.
Nadine bersandar, membayangkan wajah murka Regina.
“Selamat malam, Sandra. Semoga mimpi indah. Karena besok... lu bakal bangun di neraka.”