Drama

Mendadak Kawin-Ratu Keabadian Turun Gunung-Bab 20

26 November 2025

Cahaya kebiruan dari layar ponsel yang retak itu menjadi satu-satunya penerangan di kamar kos Sandra yang sempit dan pengap.

Sandra duduk meringkuk di sudut kasur busa tipisnya, lutut ditekuk rapat ke dada, matanya terpaku pada video berdurasi dua menit yang terus berputar berulang-ulang ( looping ) di layarnya.

Di video itu, terlihat sosok wanita yang mengenakan dress putih basah kuyup—dirinya sendiri—sedang mencengkeram kerah kemeja seorang pria. Wanita itu menarik pria tersebut mendekat, lalu melumat bibirnya dengan nafsu yang terlihat begitu... putus asa.

Dari angle samping yang diambil Nadine, adegan itu tidak terlihat seperti ciuman romantis dua orang yang saling mencintai. Itu terlihat seperti seorang wanita murahan yang sedang memaksakan dirinya pada seorang bintang besar yang pasrah.

“Wow. Agresif banget ya, Bu Penulis?”

Kalimat di pesan Nadine terngiang-ngiang di kepala Sandra, berpadu dengan suara detak jam dinding yang terdengar seperti bom waktu.

Sandra melempar ponselnya ke ujung kasur seolah benda itu baru saja membakar tangannya. Napasnya memburu. Dia merasa mual. Bukan karena masuk angin atau alergi, tapi karena ketakutan murni yang membekukan sumsum tulangnya.

Dia tahu apa artinya ini.

Video itu sudah dikirim ke Regina.

Sandra memejamkan mata, dan seketika itu juga, memori lima tahun lalu menyerbu masuk tanpa permisi.

Dia ingat hari itu. Hari di mana ayahnya pulang dengan wajah abu-abu, membawa kardus berisi barang-barang kantornya. Dia ingat suara dingin pengacara keluarga Adijaya yang datang ke rumah kontrakan mereka dulu. “Ibu Regina tidak suka ada skandal. Sebaiknya Bapak dan keluarga menghilang, atau kami pastikan tidak ada perusahaan yang mau menerima Bapak lagi.”

Ancaman itu nyata. Ayahnya tidak pernah bekerja lagi sampai serangan jantung merenggut nyawanya.

Dan sekarang, sejarah itu akan terulang padanya.

“Gue bodoh,” bisik Sandra, menjambak rambutnya sendiri yang masih lepek. “Gue bodoh. Harusnya gue nggak cium dia. Harusnya gue nggak lemah.”

Ponselnya bergetar lagi. Sandra tersentak, jantungnya nyaris copot.

Dia merangkak pelan, mengintip layar.

Bukan Nadine. Bukan Regina.

Komodo Calling...

Nama itu berkedip-kedip di layar. Bisma.

Sandra menatap panggilan itu dengan mata berkaca-kaca. Ada dorongan kuat untuk mengangkatnya. Dia ingin mendengar suara Bisma. Dia ingin berteriak, “Bis, tolong gue! Gue takut!”

Tapi bayangan wajah Regina yang murka menahannya. Jika dia melibatkan Bisma sekarang, jika dia mengadu... Regina akan semakin yakin bahwa Sandra adalah parasit yang bergantung pada anaknya. Dan Nadine akan semakin gencar menyebarkan video itu ke publik.

‘Gue harus hadapin ini sendiri. Gue nggak boleh nyeret Bisma ke lubang yang sama dua kali.’

Sandra menekan tombol merah. Decline.

Ponsel berhenti bergetar. Sedetik kemudian, bergetar lagi. Bisma menelepon lagi.

Sandra me- reject -nya lagi. Lalu dengan tangan gemetar, dia mematikan daya ponselnya.

Layar menjadi hitam. Kamar kembali sunyi.

Sandra memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya. Di luar jendela kamar kosnya yang berteralis besi, langit Jakarta yang kelabu seolah ikut berduka atas nasibnya. Dia sendirian. Benar-benar sendirian di kota yang siap memangsanya.


Sementara itu, di sebuah mansion mewah di kawasan Menteng.

Suasana di ruang keluarga kediaman Adijaya terasa begitu dingin, padahal perapian elektrik menyala hangat di sudut ruangan.

Regina Adijaya duduk di sofa beludru merah marunnya, memegang segelas wine mahal yang harganya mungkin setara dengan biaya sewa kos Sandra selama lima tahun. Di tangannya yang lain, dia memegang tablet keluaran terbaru.

Video itu sedang diputar di layar tablet yang jernih.

Mata Regina yang tajam, dihiasi eyeliner sempurna, menyipit menatap layar. Dia tidak berkedip. Dia melihat bagaimana tangan Sandra meremas rambut putranya. Dia melihat bagaimana tubuh mereka menempel tanpa jarak.

“Menjijikkan,” desis Regina pelan. Suaranya halus, tapi penuh racun.

Dia meletakkan gelas wine-nya dengan gerakan anggun namun tegas. Tak.

Regina mengambil ponselnya, menghubungi nomor Nadine.

“Halo, Tante?” suara Nadine terdengar riang di seberang sana, jelas sedang menunggu panggilan ini.

“Video itu,” kata Regina datar. “Kapan diambilnya?”

“Tadi sore, Tante. Pas take terakhir. Itu take kedua, Tante. Yang pertama sutradara bilang kurang dapet, eh yang kedua si Sandra langsung nyosor kayak gitu. Bisma sampe kaget, Tante bisa liat sendiri kan badannya kaku awalnya?” Nadine memanasi dengan lancar.

“Bisma kaku?” Regina mendengus. “Di mata Tante, Bisma terlihat... menikmati.”

Hening sejenak di ujung telepon. Nadine salah langkah.

“Maksud Tante...”

“Bisma laki-laki, Nadine. Laki-laki itu lemah sama godaan murahan. Apalagi kalau yang menggoda itu perempuan yang punya masa lalu sama dia. Perempuan yang tahu titik lemahnya,” ucap Regina dingin. “Sandra Gunawan... dia persis ibunya. Arini.”

Nama itu diucapkan dengan kebencian yang sudah mengendap puluhan tahun.

“Jadi... Tante mau aku sebarin videonya ke lambe-lambean?” tanya Nadine antusias.

“Jangan bodoh!” bentak Regina. “Kamu mau menghancurkan karir Bisma? Kalau video ini keluar sekarang, image Bisma yang rusak! Orang akan bilang dia tidak profesional karena terlibat cinta lokasi murahan!”

Nadine terdiam, ciut. “Terus... gimana, Tan?”

“Simpan videonya. Itu kartu As kita. Tapi jangan disebar ke publik dulu,” perintah Regina. Dia berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke kolam renang. Bayangannya terpantul di kaca—sosok wanita berkuasa yang tidak pernah mau kalah.

“Saya yang akan urus perempuan itu. Saya akan pastikan dia sadar diri siapa dia dan siapa lawannya.”

Regina mematikan telepon.

Dia menekan tombol interkom di dinding.

“Pak Asep,” panggilnya pada kepala keamanan rumah.

“Ya, Nyonya?”

“Siapkan mobil. Dan panggil dua orang pengawal. Saya mau jalan-jalan malam ini.”

“Baik, Nyonya. Ke mana tujuannya?”

“Ke tempat sampah,” jawab Regina dingin. “Saya mau bersih-bersih.”


Di kantor manajemen artis, Bisma membanting ponselnya ke meja kaca hingga menimbulkan bunyi BRAK yang nyaring.

“Kenapa lagi, Bos? Rusak ntar HP lu, belum lunas cicilannya. Eh lupa, lu kan kaya,” celetuk Doni yang sedang makan mie ayam di sofa.

“Dia matiin HP-nya,” geram Bisma. Dia mondar-mandir di ruangan itu seperti hewan buas yang terkurung. “Gue telepon sepuluh kali, di-reject dua kali, abis itu mati total. Sialan.”

“Mungkin dia tidur, Bis. Capek kali abis nangis-nangisan di pinggir jalan tadi,” kata Doni santai. “Lagian lu juga aneh. Tadi sok-sokan ninggalin, sekarang nelponin kayak orang gila. Tsundere lu akut banget.”

“Bukan itu masalahnya, Don!” Bisma mengacak rambutnya frustrasi. “Perasaan gue nggak enak. Gue ngerasa... ada yang nggak beres.”

Bisma berjalan ke meja komputernya. Di layar monitor besar, terpampang rekaman CCTV yang baru saja dia dapatkan dari pihak keamanan lokasi syuting di desa (tentu saja dengan sedikit ‘uang rokok’).

Dia memutar ulang rekaman di area tenda katering kemarin siang.

Di layar, terlihat jelas saat Nadine berdiri di dekat meja properti. Terlihat tangan Nadine bergerak cepat menaburkan sesuatu ke atas nasi goreng Sandra, lalu mengaduknya.

“Liat ini!” tunjuk Bisma. “Nadine beneran ngeracunin dia! Ini buktinya!”

Doni tersedak mie ayamnya. Dia buru-buru mendekat. “Anjir. Beneran? Gue kira lu cuma parno.”

“Gue nggak pernah parno soal keselamatan Sandra,” kata Bisma serius. “Dan kalau Nadine berani ngelakuin ini di lokasi syuting yang rame... dia pasti berani ngelakuin hal yang lebih gila di Jakarta.”

Bisma mengambil jaket kulitnya.

“Gue mau ke tempat Sandra.”

“Sekarang? Udah jam sebelas malem, Bos! Lu mau digrebek warga lagi? Nanti dikawinin lagi lho, jadi dua kali nikah,” canda Doni, tapi melihat wajah Bisma, tawanya mati.

“Gue nggak peduli. Gue harus mastiin dia aman. Gue takut Nadine... atau Nyokap gue... udah bergerak.”

“Oke, oke. Gue ikut. Gue sopirin,” kata Doni, sadar situasi sedang genting. “Daripada lu nyetir sambil emosi terus nabrak pohon.”