Drama

Mendadak Kawin-Genderang Perang Berbunyi-Bab 21

26 November 2025

Sandra tersentak bangun saat mendengar suara gedoran di pintu kosnya.

DOK! DOK! DOK!

Suara itu kasar, tidak sabaran, dan menakutkan.

Sandra melirik jam dinding. Pukul 11.30 malam.

Siapa?

Apakah Bisma?

Sandra turun dari kasur dengan kaki gemetar. Dia mendekati pintu, tapi tidak membukanya. Dia mengintip lewat lubang kunci.

Bukan Bisma.

Di depan pintunya, berdiri dua orang pria berbadan besar dengan setelan safari hitam. Wajah mereka kaku, tanpa ekspresi. Di belakang mereka... berdiri seorang wanita yang membuat darah Sandra berhenti mengalir.

Regina Adijaya.

Sang Ratu datang ke sarang tikus.

Sandra mundur selangkah, tangannya menutup mulut agar tidak menjerit. Regina menemukannya. Secepat ini.

“Buka pintunya, Sandra Gunawan. Atau anak buah saya yang akan membukanya paksa,” suara Regina terdengar tenang dari balik pintu, namun wibawanya menembus kayu yang lapuk itu.

Sandra panik. Dia melihat sekeliling kamar kosnya yang sempit. Tidak ada jalan keluar lain. Jendela belakang dipasang teralis besi mati. Kamar mandi tidak ada ventilasi besar. Dia terjebak.

DOK! DOK!

“Saya hitung sampai tiga,” kata Regina. “Satu.”

Sandra berlari mengambil ponselnya. Dia mencoba menyalakannya. Lowbat. Mati total.

“Dua.”

Sandra mencari senjata. Apa saja. Sapu? Gantungan baju? Semuanya terlihat konyol melawan dua bodyguard raksasa itu.

“Tiga. Dobrak.”

BRAK!

Pintu kayu murah itu tidak berdaya menghadapi tendangan bodyguard Regina. Sekali hantam, kuncinya jebol. Pintu terbuka lebar, menghantam dinding.

Regina melangkah masuk.

Aroma parfum mahal Chanel No. 5 langsung memenuhi ruangan yang berbau lembab itu, menciptakan kontras yang memuakkan. Regina memandang sekeliling kamar Sandra dengan tatapan jijik, seolah dia baru saja masuk ke kandang babi.

Dia mengangkat gaun mahalnya sedikit agar tidak menyentuh lantai.

“Menyedihkan,” komentar Regina. Matanya kemudian tertuju pada Sandra yang berdiri memojok di sudut ruangan, memegang gagang sapu dengan tangan gemetar.

“Mau apa Anda ke sini?” tanya Sandra, berusaha terdengar berani meski suaranya pecah.

Regina tersenyum tipis. “Menjenguk calon menantu yang tak diinginkan, tentu saja.”

Regina memberi isyarat tangan. Salah satu bodyguard mengambil kursi plastik satu-satunya di kamar itu, mengelapnya dengan sapu tangan, lalu mempersilakan Regina duduk.

Regina duduk bak ratu di singgasana plastik.

“Letakkan sapu itu, Nak. Kamu terlihat konyol,” kata Regina.

Sandra tidak meletakkannya. “Keluar dari kamar saya! Ini properti pribadi!”

“Properti?” Regina tertawa kecil. “Gedung kos kumuh ini bisa saya beli sekarang juga beserta isinya kalau saya mau. Termasuk kamu.”

Regina mengeluarkan tabletnya. Dia memutar video yang dikirim Nadine. Video ciuman itu. Suaranya memenuhi ruangan kecil itu.

Sandra memejamkan mata. Suara desahan napasnya sendiri di video itu terdengar seperti ejekan.

“Agresif sekali,” komentar Regina. “Sama seperti ibumu dulu. Arini juga suka memaksakan diri pada pria yang bukan levelnya.”

“Jangan bawa-bawa Ibu saya!” teriak Sandra.

“Kenapa? Malu?” Regina berdiri, berjalan mendekati Sandra. “Dengar baik-baik, Sandra. Saya tahu permainanmu. Kamu pikir dengan menjebak Bisma, kamu bisa masuk ke keluarga Adijaya? Kamu pikir kamu bisa balas dendam atas kematian ayahmu yang menyedihkan itu dengan cara merebut anak saya?”

“Saya nggak menjebak Bisma! Bisma yang...”

“DIAM!” bentak Regina. Wajah tenangnya retak, memperlihatkan kebencian yang murni. “Bisma anak laki-laki. Dia bodoh kalau soal wanita. Tapi saya ibunya. Saya tahu mana cinta, mana nafsu, dan mana parasit.”

Regina mencengkeram dagu Sandra dengan tangannya yang berkuku tajam.

“Saya kasih kamu pilihan. Pergi dari Jakarta malam ini juga. Kembali ke desa, atau ke mana pun asal jangan pernah muncul di depan Bisma lagi. Saya akan kasih kamu cek kosong. Isi berapa pun yang kamu mau. Anggap itu uang duka untuk orang tuamu.”

Sandra menepis tangan Regina kasar.

“Saya nggak butuh uang Anda! Uang Anda haram! Uang Anda yang bikin Ayah saya mati!”

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Sandra.

Regina menamparnya.

Sandra terhuyung, memegangi pipinya yang panas. Sudut bibirnya berdarah.

“Kurang ajar,” desis Regina. “Dikasih hati minta jantung. Baik. Kalau cara halus tidak bisa...”

Regina memberi kode pada bodyguard-nya.

Dua pria besar itu maju, mencengkeram lengan Sandra kiri dan kanan.

“Lepasin! Tolong! Maling! Rampok!” teriak Sandra.

“Percuma teriak,” kata Regina dingin. “Satu gedung ini sudah saya bayar untuk tuli malam ini.”

Regina mendekatkan wajahnya ke wajah Sandra yang tertahan.

“Kamu punya waktu 24 jam untuk menghilang. Kalau besok saya masih dengar nama kamu disebut-sebut di dekat Bisma... video ini akan jadi headline berita nasional. 'Penulis OPIA Ternyata Pelacur yang Menjebak Aktor'. Karir kamu tamat. Nama baik orang tua kamu yang sudah mati itu... akan semakin hancur.”

Regina tersenyum kejam.

“Paham?”

Sandra menangis. Dia tidak menangis karena sakit fisik. Dia menangis karena ketidakberdayaan ini. Kekuasaan Regina terlalu besar.

Tiba-tiba...

CIIIT!

Suara ban mobil yang direm mendadak terdengar dari luar gang. Diikuti suara langkah kaki berlari yang terburu-buru menaiki tangga besi kosan.

“SANDRA!”

Suara itu.

Mata Sandra membelalak.

Bisma.

Regina menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Wajahnya berubah tegang.

Bisma muncul di ambang pintu, napasnya terengah-engah, matanya liar. Di belakangnya ada Doni yang juga ngos-ngosan.

Bisma melihat pemandangan itu. Ibunya berdiri angkuh. Dua bodyguard memegangi Sandra. Pipi Sandra yang merah dan berdarah.

Dunia Bisma menjadi merah.

“LEPASIN ISTRI GUE, BANGSAT!”

Bisma tidak berpikir. Dia menerjang.

Dia melompat ke arah bodyguard sebelah kiri, melayangkan tinju mentah tepat ke rahang pria itu.

BUGH!

Pria besar itu terhuyung mundur, melepaskan pegangannya pada Sandra.

Bodyguard satu lagi hendak menyerang, tapi Doni—yang ternyata jago berantem jalanan—menahan tangannya.

Bisma menarik Sandra ke belakang punggungnya. Dia berdiri di depan Sandra, menjadi tameng hidup. Dadanya naik turun, matanya menyalang menatap ibunya sendiri.

“Bisma! Apa-apaan kamu?!” teriak Regina, kaget melihat putranya memukul orangnya.

“Apa-apaan Mama?!” balas Bisma, suaranya menggelegar. “Mama apain dia?! Mama nampar dia?!”

Bisma melihat pipi lebam Sandra. Tangannya mengepal sampai gemetar.

“Mama nyentuh dia...” bisik Bisma, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang menakutkan. “Aku udah bilang kan, Ma? Jangan pernah sentuh milik aku.”

“Dia bukan milikmu! Dia parasit!”

“DIA ISTRIKU!” teriak Bisma lagi, kali ini lebih keras, lebih yakin. “Dan mulai malam ini... dia ikut aku.”

Bisma berbalik, menatap Sandra. Dia menghapus darah di sudut bibir Sandra dengan jempolnya, lembut sekali, kontras dengan amarahnya barusan.

“Kemas barang lu,” perintah Bisma pelan. “Sekarang.”

“Bis... tapi...” Sandra masih syok.

“Kemas. Lu nggak aman di sini. Lu ikut gue.”

“Kamu mau bawa dia ke mana?!” cegah Regina. “Kalau kamu bawa dia keluar dari sini, Mama pastikan video itu kesebar detik ini juga!”

Bisma menoleh ke ibunya. Dia tersenyum. Senyum yang sama liciknya dengan Regina.

“Sebar aja, Ma,” tantang Bisma. “Sebar videonya. Biar semua orang tau.”

Regina tertegun. “Kamu... kamu nggak takut karirmu hancur?”

“Karir?” Bisma tertawa getir. “Mama pikir aku peduli sama karir kalau istri aku diancam dibunuh pelan-pelan sama ibuku sendiri?”

Bisma mengambil tangan Sandra.

“Ayo, San. Kita pergi.”

Bisma menyeret Sandra keluar, melewati Regina yang mematung dan bodyguard yang masih kesakitan.

“BISMA! KEMBALI!” teriak Regina. “KAMU LEBIH MILIH DIA DARIPADA MAMA?!”

Bisma berhenti sejenak di tangga. Dia tidak menoleh.

“Aku milih waras, Ma. Dan Mama... Mama udah gila.”

Bisma dan Sandra menuruni tangga, meninggalkan Regina yang berteriak histeris di kamar kos sempit itu.

Malam itu, Bisma tidak membawa Sandra ke hotel. Dia tidak membawa Sandra ke rumah Doni.

Dia membawa Sandra ke satu-satunya tempat di mana Regina tidak bisa menyentuhnya secara hukum.

Ke Penthouse pribadinya. Ke "Kandang Komodo".

Dan saat pintu penthouse itu tertutup di belakang mereka, Sandra tahu... hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia baru saja masuk ke dalam perang yang sesungguhnya.