Drama #Romance

Tiba-tiba Cinta _Dalam Bahaya_Bab 29

Penulis MIA
26 November 2025

“Terlambat datang bulan?” Adrian bertanya setengah terkejut. “M-maksudmu apa?”

Lelaki itu dengan tidak sabar mendekati sang dokter.

Dokter Muda itu mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil perlahan mendorong tubuh Adrian yang terlalu dekat dengannya sebab ingin tahu.

“Suami macam apa kau ini? Apa kau tidak tahu kapan periode menstruasi istrimu seharusnya datang?” celoteh sang dokter dengan nada mencemooh yang kental.

Adrian menoleh pada Maya kemudian. Tetapi ekspresi Maya sama sekali tak menunjukan bahwa wanita itu mau berbicara dengannya.

Melihat bahwa mata istrinya tertuju pada sang dokter, Adrian merasa marah. Tetapi ia tahu itu tak ada gunanya. Mungkin kemarahan Maya semalam masih belum selesai sehingga wanita itu seolah mengabaikannya sekarang.

“Seharusnya belum, Dokter.” Sambil menjawab, Maya menundukan kepalanya. Wajahnya tampak tersipu, ketika pokok pembahasan tentang urusan wanita ini diangkat oleh dua orang lelaki di antaranya. Pun sang Dokter tersenyum memperhatikan Maya.

“Kau tidak boleh terlalu stres, karena itu dapat merusak siklus menstruasimu,” kata dokter itu lagi, sembari menutup pulpen di tangannya.

Adrian merasa sangat tidak nyaman dengan perhatian sang dokter pada Maya. Dirinya pun tak tinggal diam, ia mendorong sang dokter dengan gerakan cukup kasar, walaupun tanpa tenaga.

“Apa urusanmu dengan siklus menstruasinya? Apa tidak ada pertanyaan lain yang seharusnya kau tanyakan sebagai seorang Dokter? Dasar kau lajang tua?”

Ketika Adrian berkata, nadanya setengah kesal sekaligus mencemooh. Dan itu membuat sang dokter tak terima hingga menunjukan reaksi tak suka.

“Bertanya tentang kondisi pasienku juga adalah tugasku. Siapa tahu dia hamil, aku bisa mengantisipasi lebih awal dan tidak membahayakan nyawa pasienku beserta janin di dalam kandungannya dengan meresepkan obat-obatan yang diproduksi khusus untuk ibu hamil,” jelas sang Dokter panjang lebar, yang tentunya berhasil membuat Maya maupun Adrian termangu sesaat.

“Ha-hamil?” tanya Maya yang lebih dulu bisa mengendalikan dirinya.

Kalau dipikir-pikir, Maya memang belum mendapatkan periode menstruasinya. Tetapi seingatnya, dirinya belum sampai di tahap terlambat. Sehingga dugaan hamil seperti yang dikatakan sang dokter, belumlah terpikirkan olehnya.

“Aku belum bisa memastikan. Sebab hasil pemeriksaan labmu ditunda karena kau baik-baik saja. Tetapi kemarin kau sempat memuntahkan semua isi perutmu dan tidak sanggup menelan apapun setelahnya. Aku rasa mungkin ada sesuatu di perutmu,” kata sang Dokter lagi.

Mendengar ucapan Dokter Raven, Maya terdiam dengan jantung yang berdebar tak terkendali. Perasaan takut yang belum pernah Maya rasakan di waktu yang cukup lama, menderanya saat ini.

Pun dengan Adrian. Entah kenapa, bukannya bahagia, dirinya malahan takut mendengar berita bahwa Maya hamil.

“Tolong, jangan setegang ini. Aku bilang belum pasti, karena itulah aku bertanya padamu, Nona Maya.” Sang dokter menenangkan keduanya.

Dari gelagat Adrian kemarin ketika merangsek masuk ke ruangannya dan menanyakan kondisi Maya, dokter itu tahu ada yang tak biasa dengan pasiennya yang satu ini.

Adrian adalah pasien prioritas di rumah sakit ini, sehingga dirinya sangat mengenal lelaki yang merupakan putra Walikota itu. Dan semenjak keberadaan Adrian di rumah sakit ini sebagai pasien prioritas, sang dokter diperlakukan bukan lagi seperti dokter pada umumnya. Sebab ia juga berperan sebagai teman Adrian.

Jadi, perubahan sekecil apapun dari pasien sekaligus temannya ini, dirinya dapat melihat sedetail mungkin.

Pun saat ini, ketika dirinya menduga bahwa Maya hamil, Adrian tampak tak suka. Ia pun menyadarinya.

“Kalau begitu, periksalah dengan jelas. Jangan bicara sembarangan tanpa bukti. Kau ini dokter, kenapa bergosip?” Sambil mendorong sang dokter keluar pintu, Adrian berceloteh, menutupi reaksi takut dan khawatirnya dari Maya.

Setelah sang dokter pergi dan menutup pintu ruangan itu, Adrianendekat pada Maya dan duduk di tepian ranjang.

Keduanya sama-sama canggung, dan ragu untuk memulai berbicara. Sampai lama kemudian, Adrian memilih untuk memulai mengeluarkan kata.

“Maya, apa kau takut hamil?”

Maya langsung terperangah mendengar pertanyaan itu. Dan ia menunduk kemudian.

Tak bisa bohong bahwa dirinya memang takut ketika tadi sang dokter melontarkan dugaannya. Tetapi sebetulnya dirinya lebih takut dengan dugaannya sendiri.

Dugaan bahwa bila benar dia hamil, mungkin hal itu memang sudah direncanakan oleh Adrian

Pasalnya, semenjak pertama kali mereka melakukan percintaan, Adrian bahkan sama sekali tak meminta Maya untuk meminum pil kontrasepsi, lelaki itu juga tak repot-repot menggunakan alat kontrasepsi yang lainnya.

“Maya,” panggil Adrian, ketika lama Maya tak menjawab pertanyaannya dan malahan melamun.

“Aku … aku tidak tahu,” jawabnya penuh ragu kemudian.

Adrian menghela napas dan meraih tangan Maya. Namun dengan spontan, Maya menghindari bersentuhan dengan Adrian. Sehingga suaminya itu hanya bisa pasrah, menurunkan tangannya dan berkata lembut kemudian.

“Dokter bilang belum pasti, kau jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu. Maaf untuk waktu yang aku lewatkan tanpa kau didekatku,” ucapnya lirih. Penuh penyesalan sebab telah meninggalkan Maya beberapa waktu lalu.


Kegelapan yang melingkupi area parkir di bawah tanah itu membuat Maya merinding. Cahaya dari lampu besar di ujung pintu tak mampu menerangi dan membuat langkah Maya berhenti dengan keraguan.

Ketakutan akan bahaya yang sedang mendekat padanya, membuat Maya berpikir ulang untuk melanjutkan langkah.

Dan ketika itu, dirinya merasa sangat terlambat menyadari. Bahwa bila benar paman Rowmannya ingin bertemu dengannya, pamannya itu pasti akan melakukan segala cara, tanpa harus membuat Maya berada dalam bahaya.

Memikirkan hal itu, membuat Maya memundurkan langkah. Memutuskan untuk kembali pada pintu lift untuk segera lari dari bahaya yang ia rasa semakin mendekat.

Detak jantung yang semakin memburu didorong oleh kesadaran nyata bahwa dirinya sedang ditipu, membuat Maya gemetaran. Kakinya pun terasa amat berat untuk ia melangkah. Dan ketika ia dapat dengan tegas mengangkat kaki, dia pun dengan cepat berbalik badan.

Namun sayang, ketika baru saja selangkah ia menggerakkan kaki, lengan mungilnya dicekal kuat, dicengkeram oleh jemari kokoh dari tangan kuat yang kemudian menariknya dalam pelukan. Dan sosok bertubuh besar itu membungkam mulutnya supaya tak berteriak meminta pertolongan.

Maya memberontak, memukul dan mencakar dengan spontan, menggunakan segala kekuatan yang ia bisa dalam upaya melepaskan diri dan melakukan perlawanan pada sang penjahat.

Namun ketika dia menyadari perbedaan kekuatan mereka yang ternyata sangat jauh, Maya memilih diam. Sebab memberontak malah membuat tubuhnya bergemeretak, seakan sengaja dipatahkan.

Lelaki bertubuh besar dan tinggi itu menyeret Maya dan membawanya pada tempat yang jauh lebih gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari Brake Light yang membuat Maya bisa melihat jelas wajah lelaki itu dari dekat, ketika lelaki itu memilih melepaskannya dan membisikan sesuatu, sebelum Maya sempat berteriak.

“Diamlah, Maya. Aku hanya ingin menunjukan sesuatu padamu, bukannya ingin melakukan hal buruk. Aku tidak pernah ingin menyakitimu,” bisik lelaki itu, sebelum akhirnya melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Maya.

Terlepas dan merasa bebas bergerak, Maya segera menjauh, dan berbalik badan. Namun jarak diantara mereka tak cukup jauh hingga Maya masih mampu mengenali sosok itu walaupun dalam kegelapan.

“K-kau ….”

Bersambung ….

Pagi-pagi udah mendung. Lagi males bikin pantun.😅