His Contract Bride - Jejak yang Tertinggal - Bab 24

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

Kosong.

Semua ruangan sunyi.

Aurora terus membuka semua pintu villa dengan cepat. Tatapannya panik, gerakannya tergesa, tidak lucu jika Kael menghilang setelah mimpi buruk yang menyentaknya pagi ini.

“Kael?”

Hening.

Napas Aurora semakin memburu ketika pintu terakhir dibuka. Tidak ada.

“Kael!!!”

Hanya suara deru angin dari pintu belakang yang terbuka. Helai rambut Aurora berantakan, tangannya menyibak pelan—tampak bergetar.

“Kael….”

Suara putus asa itu berganti dengan isak tangis pelan. Kakinya tak lagi kuat untuk melangkah. Ia terjatuh, lututnya membentur keras lantai kayu. Serat kayunya yang halus terlihat menjejak di kulitnya; dikelilingi memar memerah.

“Kau bilang tidak akan pergi,” isaknya. “Tapi kenapa… kenapa?!”

Angin berhenti berembus. Telinganya bahkan sampai berdenging berkat sunyi. Satu kelebat sontak membuat Aurora menoleh. Seorang pria dengan wajah tersembunyi di balik tudung hoodie hitam berlari cepat, derapnya membuat Aurora tercekat.

Dan saat pria itu semakin dekat, Aurora hanya mampu berteriak.

“KAEL!!!”

“Hei!”

Tunggu. Suara itu…

Aurora mengendurkan kepalan tangannya.

“Sayang??” Rora!!”

Telinga Aurora berdenging kencang. Suara itu terdengar samar, seperti berada di dalam air. Bukan…

Bukan ‘suara itu’ yang berada di air, tapi dirinya lah yang sedang tenggelam. Aurora panik. Tangannya menggapai, mencoba meraih apa pun yang bahkan tidak bisa ia lihat. Napasnya tercekat, berat tubuhnya semakin membawanya ke dasar.

“Aurora, sadarlah!!”

Bagaimana Aurora sadar jika tubuhnya terus ditarik oleh pekatnya dasar… sungai? Atau danau?

‘Ah, apakah aku tenggelam di danau belakang villa? Ironis sekali hidupku,’ batin Aurora, pasrah.

“Fuck! Aurora, wake up!!”

Wake up?

Aurora mengejang. Dalam satu sentakan kasar, kini matanya telah terbuka. Alih-alih di dasar danau, tubuhnya justru terduduk di atas kasur—masih di kamar. Dan Kael? Pria itu segera memeluk erat Aurora dengan tangan gemetar.

“Kau tidak bernapas selama beberapa detik, Rora!” sentaknya kasar, bukan pada Aurora, melainkan pada keadaan yang membuatnya cemas setengah mati.

“A-aku tadi di dalam danau, tenggelam….”

“Dari tadi kau di sini. Merintih kesakitan, lalu tidak bernapas. Kau benar-benar membuatku gila!” Suara Kael pecah. Sikap tenangnya nyaris lenyap.

Tidak segera menjawab, Aurora hanya merasakan debar jantung Kael yang berdetak kencang—sangat kencang. Pria itu tidak berbohong dengan rasa khawatirnya. Pelukan yang gemetar, detak tak beraturan, Aurora merasakannya.

“Kael… aku tidak bisa bernapas—”

“Kau bernapas! Kau masih hidup!”

“T-tapi… Kalau kau… terus mendekapku seperti ini, aku akan mati.”

Dekapan Kael mengendur. Meskipun begitu, masih jelas gerakannya enggan ketika menarik tangannya untuk duduk tegak menghadap Aurora. “Maafkan aku.”

Senyum tipis tertarik, lengkungannya samar, tapi ada gurat lega di sorot mata Aurora. “Aku lega itu cuma mimpi.”

Jika saja hal yang membuat Aurora kesusahan saat ini ada wujudnya, sudah pasti Kael akan melawan dan menyingkirkannya. Namun jika yang dihadapi adalah mimpi, apa yang harus ia lakukan?

“Apa yang kau impikan?”

“Kau… menghilang.”

Kepala wanita itu kembali tertunduk. Rasa sesak dan gemuruh dalam dada yang menyergap napasnya seakan kembali ia rasakan. Bayangan tangannya yang menggelepar ke atas, mencoba menarik ruang kosong di dalam danau tadi kembali teringat. Dan pria mengenakan hoodie, siapa dia?

Di tengah semua pertanyaan dan kilasan rasa sesak yang masih bisa Aurora rasakan, Kael dengan perlahan menggenggam tangannya. Perasaan hangat yang tadi sempat lenyap, kini kembali menjalar—memenuhi serat tubuhnya.

“Aku di sini, tidak kemana-mana.” Rahang Kael mengeras, tangannya kembali merengkuh Aurora, membawanya dalam dekapan.


Mansion besar milik keluarga Vireaux berdiri megah di tengah kita Vallmont. Bangunan itu sekarang lebih mirip sebagai gudang peninggalan Lucien Vireaux karena Kael tak pernah mau untuk tinggal di sana.

Luther mendorong pintu baja itu setelah mendapat izin dari tim keamanan yang mengizinkannya memasuki bangunan itu—perintah langsung dari Kael.

Seorang pelayan senior menyambut Luther. Wanita paruh baya itu mengenali Luther dengan baik. Pertama kali pria itu bekerja untuk Kael, hampir setiap hari ia datang ke mansion untuk antar-jemput. Sampai pada akhirnya, setahun yang lalu Kael meninggalkan mansion, tepat ketika Lucien Vireaux meninggal.

“Tuan Osborn, lama sekali tidak melihatmu.” Sarah, wanita yang selalu tersenyum meski kerutan di bawah matanya semakin tergurat jelas.

“Hai, Sarah. Aku mampir sebentar untuk mengambil beberapa barang milik Tuan Vireaux.” Luther tersenyum tipis.

Sarah mengangguk. “Silakan, Tuan. Saya ada di dapur kalau Tuan membutuhkan sesuatu.”

Luther hanya mengangguk tipis, sementara Sarah telah menarik diri, menjauh dari tatapannya. Kini ia mengarahkan tubuhnya ke satu ruangan yang telah menjadi incarannya sejak semalam—ruangan kerja milik Lucien Vireaux.

Kertas usang dengan tulisan milik Mireille yang dijadikan ancaman oleh Bastien pada Aurora diyakini berasal dari ruangan itu. Kael memintanya untuk menyelidiki semuanya dari sana.

Ruangan besar itu masih sama seperti dulu. Berlapis karpet tebal dengan meja kayu besar dan kursi mewah yang selama hidup Lucien dijadikan sebagai singgasananya. Tumpukan buku dan dokumen masih rapi di tempatnya. Tidak ada seorang pun yang berani untuk mengusik—atau sekedar memindahkan. Kael dengan tegas melarang para pelayan untuk menata ulang ruangan itu.

Debu halus menyeruak, menusuk rongga hidung Luther—hampir membuatnya bersin. Suasananya kontras dengan aula depan mansion yang terawat bersih. Debu menumpuk tipis di setiap sisi, kecuali…

Mata Luther menyipit. Mata tajamnya menangkap hal aneh di sebelah sofa baca yang ditempatkan di sudut ruangan. Selimut rajut yang dulu selalu tersampir di sandaran sofa, kini teronggok di lantai, menutup sehelai lembar lusuh yang hanya terlihat pucuknya saja.

“Hmm…”

Luther mengarah ke sana dan menarik selimut itu. Sebuah kertas berukuran sama dengan yang dikirim pada Aurora. Di rak yang berada di belakang sofa, satu file folder terlihat tidak sejajar dengan deretan yang lain.

Luther masih memegang kertas itu, lalu mengambil file folder dan membukanya. Kumpulan sajak yang ditulis oleh Mireille. Tulisan tangannya sama, serupa juga dengan yang tergores pada kertas usang yang dikirim pada Aurora.

“Dia berlagak menguasai segalanya, tapi dia tidak memainkannya dengan rapi.” Luther menyeringai sinis. “Apa yang membuatnya sampai lupa menghapus jejak di ruangan ini?”

Luther memotret bukti itu dan dikirim pada Kael. Setelahnya, ia memasukkan file folder itu pada tas dan bergegas meninggalkan ruangan.

Satu notifikasi terdengar saat ia menutup pintu.

[Kael: Langsung berikan ke Rudolf untuk diperiksa sesuai hukum. Setelah itu segera jemput aku.]

Luther terkekeh pelan.

[Luther: Anda tidak perlu segera datang kesini, Tuan. Nikmati saja dulu waktu Anda dengan nyonya Aurora. Aku akan update perkembangannya lagi setelah ini.]

Belum sampai Luther meraih pintu utama, balasan Kael kembali muncul di notifikasi ponselnya.

[Kael: Kau sengaja meninggalkanku di sini?]

[Luther: Sebelum pertempuran sesungguhnya, Anda sebaiknya menghabiskan waktu bersama dengan istri Anda. Lagipula, aku takut ada orang yang mengikutiku kesana kalau harus menjemput Anda saat ini.]

[Kael: Kau sangat pintar untuk membuat alasan. Pastikan tidak ada yang terlewat.]

[Luther: Copy that. Have fun, Tuan.]