Bab 10. Twins

Penulis nyiratu
26 November 2025

Henry kembali menelepon asistennya. "Willy, tolong tangani rapat sore ini. Aku mau pulang, kepalaku pusing."

"Baiklah, Bos," jawab Wiliam, "kalau begitu saya antar Anda pulang dulu." William melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu dua jam sebelum rapat."

"Baiklah. Aku juga takut menyakiti orang lagi jika aku menyetir." Henry menutup telepon dan bersandar sambil memutar kursinya.

Dalam waktu kurang dari dua menit, William sudah berada di ruangan Henry karena ruang kerja mereka berada di lantai yang sama.

William berdiri di depan meja bosnya. "Mari, Bos."

Henry bangkit dan melangkah keluar kantor terlebih dahulu.

William mengikuti langkah panjang Bosnya sambil bergumam dalam hati. 'Bos pasti sedang memikirkan Alana dan Amanda. Meskipun dia ayah kandung Alana, pasti ada ikatan di antara mereka.

"Apakah Anda ingin bertemu Alana terlebih dahulu, Bos?" tanya William sambil membukakan pintu untuk Bosnya.

"Sebenarnya, aku ingin menemuinya, tapi Sonya marah kepadaku dan mencurigaiku. Aku khawatir dia mengikuti kita."

Henry tidak ingin keegoisannya mencelakakan Alana jika Sonya mengetahui bahwa anak yang ditabraknya adalah anak mantan istrinya.

"Baiklah." William mengemudikan kendaraannya menuju kediaman Bos dengan kecepatan sedang.

"Willy, setelah urusan kantor selesai, kamu temui Alana dulu dan pastikan dia baik-baik saja!" Henry memerintahkan saat mereka dalam perjalanan pulang.

"Baik, Bos. Aku akan mampir ke rumah sakit sepulang kerja."

Tak perlu disuruh, William memang akan menjenguk Alana. Putri sang boss, yang sudah dianggapnya sebagai keponakannya.

"Willy, katakan pada orang-orang di rumah untuk tidak menggangguku sampai besok pagi, aku ingin beristirahat," kata Henry sambil memijit pangkal hidungnya, "Aku benar-benar butuh ketenangan. Dan malam ini kamu pulang saja ke rumahmu."

"Baiklah, Bos."

Sesampainya di rumah Henry, William langsung memberikan instruksi kepada para pelayan di rumah tersebut untuk tidak mengganggu tuannya.

"Saya akan pulang malam ini, Pak Jo tidak perlu menunggu saya kembali." William menepuk pundak kepala pelayan itu sebelum pergi. "Bos, dia sedang tidak enak badan, jangan ganggu, tapi tetap awasi dia."

"Baik, Tuan." Pak Jo membungkuk hormat pada asisten majikannya sebelum pria berjas hitam itu pergi.

William bergegas kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang terbengkalai akibat kecelakaan itu.

Sementara itu, di dalam kamar, Henry tidak bisa tidur. Ia mencari Amanda di media sosial namun tidak dapat menemukannya karena Amanda tidak menggunakan media sosial tersebut agar Henry dan keluarganya tidak mengetahui kehidupannya selama ini.

Hingga malam hari, Henry tidak berhenti mencari tahu keberadaan mantan istrinya tanpa sepengetahuan William karena ia yakin sang asisten akan melarangnya untuk mendekati Amanda lagi.

"Aku menyerah. Dia sepertinya menutup diri setelah berpisah denganku," kata Henry sambil menutup laptopnya. "Aku harus meminta bantuan William besok. Dia mungkin akan menasehatiku, tapi aku yakin dia akan tetap membantu," gumamnya.

Henry berbaring dan mencoba memejamkan matanya agar bisa melupakan Amanda, tapi dia tidak bisa melupakan kecelakaan sore itu. Bayangan wajah Alana terus memenuhi pikirannya.

"Bagaimana keadaan Alana sekarang?" Henry bergumam. Dia tidak sabar menunggu sampai besok pagi untuk mengetahui kabar Alana.

"Kurasa aku harus segera menghubungi William dan mengajaknya untuk mengunjungi Alana di rumah sakit. Aku harus tahu bagaimana keadaannya dan harus memastikan bahwa dia baik-baik saja agar aku tidak terus memikirkannya dan dihantui rasa bersalah."

Henry bangkit dan duduk, lalu mengambil telepon genggam yang ia letakkan di atas nakas. Kemudian dia menelepon asistennya.

William terkejut karena bosnya menghubunginya selarut ini. Ia segera keluar kamar agar percakapannya tidak mengganggu Alana yang sedang tidur. "Selamat malam, Bos. Ada yang bisa saya bantu?"

"Kenapa kamu bicara pelan sekali? Di mana kamu?" Henry bertanya.

"Maaf bos, saya baru saja bangun tidur." William beralasan.

"Maaf mengganggu kamu di tengah malam seperti ini." Henry baru menyadari bahwa sudah waktunya untuk beristirahat. William juga butuh waktu untuk itu.

"Tidak apa-apa, Bos," jawab William, "apakah ada yang bisa saya bantu, Bos?"

"Aku ingin mengajakmu ke rumah sakit untuk melihat Alana. Aku tak tahu mengapa aku sangat ingin menemuinya." Henry benar-benar tak sabar menunggu sampai besok.

"Sebaiknya jangan malam ini, Bos. Saya akan bicara dulu dengan Nyonya Amanda agar Anda tidak bertemu dengan suaminya." William mencoba memberikan pengertian kepada bosnya.

"Tapi aku ingin bertemu Alana sekarang juga?" Henry tidak bisa beristirahat sampai dia bertemu dengan anak itu.

"Saya akan mencoba menghubungi Ny. Amanda terlebih dahulu. Apakah Anda bisa menemui Alana sekarang atau tidak." William berusaha mencari alasan untuk mencegah kedatangan Bosnya.

"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu."

"Ya, Bos."

William menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil memandangi gadis kecil yang tertidur di ranjang rumah sakit dengan jarum infus tertancap di tangannya.

"Apa yang harus saya katakan?" gumam William.

Beberapa detik kemudian, ia mendapat ide untuk mencegah Henry datang ke rumah sakit karena saat itu ia sedang menunggu Alana. Ia tidak ingin bosnya mengetahui kedekatannya dengan Amanda.

"Halo, Tuan. Maafkan saya karena memberikan kabar yang mungkin tidak Anda sukai," ujar William, "Ny. Amanda mengatakan bahwa yang saat ini berada di rumah sakit adalah suaminya, ayah biologis dari anak tersebut, Boss."

William harus melukai perasaan bosnya agar pria itu tidak mengganggu Amanda lagi.

"Tapi aku sangat ingin bertemu Alana," kata Henry, terdengar sedih.

"Alana baik-baik saja, Bos. Nyonya Amanda bilang dia sedang tertidur pulas sekarang."

"Setidaknya aku tahu Alana baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu, Willy," kata Henry, "Maafkan aku karena telah mengganggu istirahatmu."

"Tidak apa-apa, Bos, saya siap membantu kapan pun Anda membutuhkannya," jawab William, "besok pagi-pagi sekali, saya akan menjemputmu, dan kita akan menemui Alana sebelum berangkat ke kantor agar Anda bisa bekerja dengan tenang setelah melihat kondisinya."

"Baiklah. Saya harap saya bisa tidur nyenyak," kata Henry sebelum mengakhiri telepon.

Setelah menutup telepon, William menghampiri Alana dan duduk di kursi di samping tempat tidur. Dia menatap gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.

"Kasihan Alana, di usia sekecil itu dia harus kehilangan kasih sayang ayahnya hanya karena kesalahpahaman." William mengusap tangan anak itu dengan lembut.

Dia ingin mengatakan yang sebenarnya tentang Alana agar anak itu dapat menerima kasih sayang penuh dari orangtuanya, tetapi dia tidak berhak melakukannya sebelum mendapatkan persetujuan Amanda. Apa yang dia lakukan juga demi kebaikan anak dan mantan istri bosnya.

William berdiri dan mencium kening Alana sebelum duduk kembali di sofa. Ia tidak ingin mengganggu istirahat sang anak. "Cepat sembuh Alana, Paman merindukan senyum ceria kamu."

"Ayah ... apakah kamu ayahku?" Alana bergumam.