Bab 11. Twins

Penulis nyiratu
26 November 2025

"Dia mengigau," kata William setelah mendengar ocehan gadis kecil yang masih memejamkan mata. "Alana, bangunlah, Sayang." William mengusap pipi Alana dengan lembut karena anak itu terlihat sangat gelisah dan berkeringat.

Alana membuka matanya dan menangis. "Paman, aku melihat ayahku datang," kata Alana.

"Lalu mengapa kamu menangis?" tanya William, "apakah dia membuatmu sedih?"

Alana menggelengkan kepalanya sambil menangis. "Aku belum melihat wajahnya, tapi Paman membangunkan aku."

"Ya Tuhan, kalau begitu maafkanlah Paman." William mengatupkan kedua tangannya sambil meminta maaf kepada gadis itu. "Kamu terlihat gelisah tadi, jadi Paman membangunkanmu."

"Tidak apa-apa, Paman. Aku tidak marah padamu." Alana tersenyum sambil menggenggam tangan William. "Ayahku ingin membawaku pergi, tapi aku tidak mau berpisah dengan Ibu, Alan, dan Paman. Aku lebih menyayangi Ibu daripada ayahku karena ayahku tidak menyayangiku dan Alan."

William membelai kepala anak itu dengan lembut. "Alana, anak yang baik, jangan bicara seperti itu. Tidak ada orang tua yang tidak mencintai anaknya."

"Ya, Paman. Maafkan aku." Alana menundukkan kepalanya.

"Sekarang kamu tidurlah, Paman akan menemanimu di sini."

"Paman baik, terima kasih sudah menjagaku."

"Kamu dan Alan adalah keponakan terbaik. Tentu saja Paman akan selalu menyayangi kalian."

"Ya, Paman." Alana menggenggam tangan William. "Jangan pergi Paman, aku tak ingin ayahku membawaku pergi. Kamu harus menghentikannya jika dia datang untuk membawaku lagi."

"Itu berarti kamu juga harus tertidur agar kamu bisa masuk ke alam mimpimu." William mencubit hidung Alana. "Kamu tidurlah dulu, dan aku akan menyusulmu nanti."

"Baiklah, Paman." Alana memejamkan matanya sambil menggenggam tangan William.

'Dia membutuhkan kasih sayang ayahnya,' gumam William dalam hati.

William masih duduk di samping tempat tidur Alana sampai anak itu tertidur lelap.

"Selamat malam, Sayang. Semoga kamu mendapatkan mimpi indah bersama ayah dan ibumu." William mencium tangan Alana, lalu melepaskan genggamannya. Kemudian dia mencium kening anak itu. "Paman tidur dulu."

William beranjak ke sofa dan merebahkan tubuhnya yang panjang di sana. Ia segera memejamkan mata karena tubuhnya benar-benar lelah.

Baru beberapa jam ia tidur, alarm di ponselnya berbunyi. William sengaja menyetel alarm tersebut agar ia tidak bangun kesiangan dan terlambat ke kantor.

Pria tersebut langsung mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju ganti yang sengaja ia bawa.

Setelah keluar dari kamar mandi, ia melihat Alana sudah bangun, dan ada juga Amanda di samping gadis itu.

"Terima kasih sudah merawat Alana dengan baik," kata Amanda dengan tulus.

"Dia adalah keponakan saya. Tentu saja saya akan selalu menjaga Alan dan Alana," jawab William.

William sudah sangat menyayangi anak kembar bosnya, yang selama ini ia rawat.

"Alana, Paman akan membawa Paman Henry kemari. Dia sangat ingin bertemu denganmu," kata William sambil menatap wajah polos anak itu, "tidak apa-apa kan?"

"Karena dia bos Paman baik. Aku mau bertemu dengannya." Alana tersenyum.

"Gadis yang baik." William mencium kening Alana. "Tapi jangan bilang pada Paman Henry kalau saya ada di sini bersamamu semalam."

" Mengapa?" Alana tampak bingung.

"Dia akan marah pada paman karena Paman Henry ingin datang kemari semalam." William mengusap kepala anak itu sambil tersenyum.

"Baiklah. Aku mengerti, Paman."

"Saya pergi dulu." William segera pamit dan langsung menuju ke rumah Henry untuk menjemput bosnya.

Sesampainya di sana, seorang kepala pelayan menghampiri William. "Permisi Tuan, maaf mengganggu. Ada yang ingin saya bicarakan kepada Anda." Pak Jo mengatakannya dengan berbisik.

Dia khawatir pelayan yang baru telah mendengar percakapan mereka. Pak Jo yakin ada sesuatu yang dirahasiakan oleh pelayan baru itu.

"Ada apa, Pak Jo?" William menyipitkan matanya. Tidak biasanya pelayan itu berbicara dengan berbisik-bisik seperti ini. "Apakah ada sesuatu yang penting?"

"Ya, Tuan, ini sangat penting," jawab Pak Jo sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.

Melihat gerak-gerik kepala pelayan itu, William yakin ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam rumah.

"Pak Jo, ikuti saya." William pergi ke ruang kerja bosnya untuk mendengarkan apa yang dikatakan kepala pelayan itu. William memilih tempat itu agar tidak ada yang menguping pembicaraannya.

"Duduklah Pak Jo!" William memerintahkan kepala pelayan di rumah Henry begitu mereka berada di ruang kerja. "Apa yang ingin Pak Jo katakan? Katakanlah, di sini aman."

"Baiklah, Tuan, saya curiga dengan pelayan baru kita," kata Pak Jo, "dia telah menanyakan banyak hal tentang Tuan Henry kepada para pelayan lainnya. Terutama tentang bagaimana keadaan Tuan Henry saat pulang kemarin sore."

Pak Jo mendapat laporan dari pelayan lama yang ditanyai oleh pelayan baru tentang majikannya.

Banyak pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi benak William.

"Lalu apa lagi yang dia katakan?" William mencoba menyelidiki sejauh mana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pelayan tersebut.

"Dia bertanya kepada pelayan lain mengapa baju Tuan Henry banyak noda darahnya?" ujar Pak Jo menirukan pertanyaan pelayan lama yang ditanyakan oleh pelayan baru yang mencurigakan itu.

William mengira ada sesuatu yang disembunyikan pelayan itu. Dia yakin ada sesuatu yang tidak beres, tapi William belum berkomentar. Ia menunggu penjelasan kepala pelayan itu terlebih dahulu.

"Saat Tuan Henry pulang, pelayan baru itu tidak ada di rumah karena sedang keluar. Dan saya langsung membuang pakaian itu atas perintah Tuan Henry. Jadi, bagaimana dia tahu kalau baju itu ada begitu banyak noda darah?"

Dari situlah muncul kecurigaan terhadap pembantu baru di rumah Henry.

"Baiklah, Pak Jo, terima kasih atas informasinya. Tolong kembali bekerja dan awasi pembantu baru itu!" William memerintahkan kepala pelayan.

"Baik, Tuan." Kepala pelayan membungkuk dengan hormat sebelum keluar dari ruang kerja tuannya.

William menyandarkan tubuhnya sambil mengistirahatkan kakinya. "Bagaimana saya bisa ketinggalan berita seperti ini," gumamnya.

"Saya harus mencari tahu. Siapa sebenarnya pelayan itu? Dan mengapa dia berani bertanya tentang Boss Henry kepada pelayan lain. Selama ini, tidak ada pelayan yang bersikap sekasar itu. William tenggelam dalam pikirannya hingga suara ponselnya membuyarkan lamunannya.

William menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya. "Pagi, Bos," sapa William.

"William, di mana kamu?" tanya Henry dari seberang telepon, "aku sudah menunggumu."

"Saya sudah di rumah Anda, Bos," jawab William sambil bangkit dari tempat duduknya, "barusan Pak Jo menyampaikan informasi penting yang terjadi di rumah ini."

"Informasi apa?" tanya Henry penasaran.

"Informasi tentang-"

"Kita akan membicarakannya nanti di kantor." Henry memotong ucapan William. "Kita harus bergegas. Aku yakin Sonya ada di kantor dan dia akan bertanya kenapa kita terlambat. Aku terlalu malas untuk berdebat dengan wanita itu."

William menghentikan langkahnya ketika dia berada di depan pintu kamar. "Saya rasa saya tahu siapa dalang di balik semua ini."