Bab 14. Twins

Penulis nyiratu
26 November 2025

"Tentu saja orang yang menyuruhmu memata-matai Tuan Henry," jawab William, "Kamu hanya berpura-pura bahwa Tuan Henry dan saya tidak tahu tentang rencanamu."

"Ya, Tuan."

"Saya tunggu di ruang kerja Tuan Henry satu jam lagi," kata William.

William dan ketiga satpam meninggalkan paviliun. Pak Jo mengikuti di belakang.

"Tuan William, tunggu sebentar!" Seruan Pak Jo menghentikan langkah William.

"Kalian kembali bekerja!" William memerintahkan ketiga petugas keamanan di rumah itu.

"Tuan, saya minta maaf sebelumnya karena telah mengganggu Anda."

"Ada apa, Pak Jo?"

"Maafkan saya atas pekerjaan saya yang tidak becus, saya tidak tahu kalau ada maling yang masuk ke rumah ini."

William tersenyum pada pria tua itu. "Itu bukan salah Pak Jo dan Nani juga tidak salah. Sebenarnya dia tidak mencuri, saya hanya menjebaknya untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia adalah mata-mata Nona Sonya," kata William, "terima kasih atas informasinya, Pak Jo. Tolong terus awasi dia."

"Baik, Tuan."

William melanjutkan langkahnya dan segera menemui Henry.

"Bagaimana kabarnya? Apakah dia sudah meninggalkan rumah?" tanya Henry ketika sang asisten duduk di depannya.

"Maaf, Bos. Saya tidak memecatnya. Saya memanfaatkannya untuk menjadi mata-mata kita. Saya yakin Nona Sonya mencurigai Anda dan akan terus mencari tahu tentang apa yang telah terjadi pada Anda," kata William, "melalui dia, kita akan tahu apa rencana jahat tunangan Anda."

"Aku mempercayakan semuanya padamu, Willy," kata Henry.

Satu jam berlalu, dan sekarang saatnya Nani menghadap Tuan Henry. Pak Jo segera menjemput Nani dari kamarnya.

"Pak Jo. Apakah saya akan dihukum?" tanya Nani, tiba-tiba gugup, ketika Pak Jo memanggilnya.

Pria tua dengan rambut yang hampir memutih itu menatapnya dengan lesu, tapi bagaimanapun juga, Nani tetap bersalah karena telah menyakiti majikannya.

"Saya tidak tahu karena itu bukan hak saya untuk memutuskan. Jika kamu benar-benar ingin semuanya baik-baik saja, maka patuhi kata-kata Tuan William!" Pak Jo berkata sambil menghela napas panjang.

Membuat Nani mengangguk pasrah, ia mulai berdiri sambil menautkan jari-jarinya. Kemudian mengikuti Pak Jo yang memimpin jalan.

Dada Nani bergemuruh saat ia panik di sepanjang jalan. Detak jantungnya bahkan terasa tidak normal, dan dia sering tersandung karena tidak memperhatikan langkahnya.

"Ayo, Tuan Henry sudah menunggumu, jangan lelet!" perintah Pak Jo sambil menoleh ke belakang untuk melihat Nani yang sudah jauh darinya.

"Ya, Pak," jawab Nani gugup, tidak ada senyuman di wajahnya.

Ketika ia mendekati pintu ruang kerja bosnya, Nani menarik napas panjang. Ia berusaha untuk tenang, meski tubuhnya kini gemetar.

"Masuk!"

Suara dari dalam ruangan yang terdengar begitu keras membuat Nani tersentak. Sampai-sampai, ia tidak berani mengangkat wajahnya dan terus menunduk.

"Jadi, dia orangnya?"

Suara itu menggelegar, meski diucapkan dengan nada datar, tapi Nani bisa menangkap rasa dingin di setiap kata-katanya. Secara refleks, ia tiba-tiba menjatuhkan diri.

Sikap tenang yang sudah ia persiapkan sebelumnya, lenyap seketika, digantikan oleh rasa takut bersama tubuhnya yang gemetar.

"Maaf, Tuan ... saya tidak melakukan semua ini dengan sengaja. Saya hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada keluarga saya."

Nani meraung, air matanya pecah dan kini membanjiri wajahnya. Wanita yang berpakaian pelayan itu menunjukkan penyesalannya yang mendalam.

Henry yang melihat hal itu tersenyum sinis. Mengabaikan pelayan yang membungkuk padanya, dia melangkah menuju sofa tunggal di sana.

Suasana di ruangan itu sangat tegang, karena Henry tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sebaliknya, Henry malah sibuk dengan sebatang rokok yang sedang dinyalakan.

Dia menghembuskan napas dengan kasar, yang disertai dengan kepulan asap rokok. Dia mengetuk-ngetukkan jari-jarinya dengan ritme yang semakin mencekam.

"Apa yang kamu tawarkan sebagai permintaan maaf? Aku tidak menerima maaf dengan tangan kosong. Harus ada timbal balik, karena jika tidak, aku tidak akan ragu untuk membuangmu. Untuk apa aku menerima orang yang tidak berguna?" Henry tiba-tiba berbicara dengan santai, tetapi setiap kata-katanya penuh dengan ancaman.

Nani yang mendengar hal itu segera merangkak mendekati majikannya. Harga dirinya sudah hancur. Yang ia inginkan hanyalah keluarganya selamat, juga dirinya sendiri.

"Saya bersedia melakukan apa saja, Tuan. Apa pun yang Anda inginkan, dan apa pun yang Anda perintahkan, saya pasti akan mematuhinya. Tolong beri kesempatan untuk menyelamatkan keluarga saya."

Wanita itu menangis lagi, tapi tidak sekeras sebelumnya. Dia tahu bahwa suaranya yang melengking akan mengganggu majikannya. Dan dia tidak ingin majikannya semakin marah karena perilakunya.

"Apa kamu yakin akan melakukan apa pun?" tanya Henry, mulai tersenyum sinis.

"Ya, Tuan," jawab Nani dengan sedikit terbata-bata.

"Kalau begitu, ceritakan semuanya tentang apa yang Sonya minta darimu!" perintah Henry dengan tegas.

Nada suaranya tidak terdengar senang. Bahkan wajahnya kini menunjukkan otot-otot yang menegang yang menunjukkan bahwa dia sedang marah saat ini.

"Nona Sonya ... Nona-"

"Bicaralah dengan baik, Nani!" Tiba-tiba, William menyela. Melihat pembantunya berbicara dengan gugup dan sangat sulit dimengerti, dia menegurnya.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan cepat.

"Nona Sonya meminta saya untuk melaporkan semua kegiatan Tuan padanya. Bahkan sekarang Nona Sonya sedang menyelidiki orang yang Anda tabrak, Tuan. Nona Sonya ingin tahu semuanya, dan dia tidak ingin melewatkan satu pun detail gerakan Anda."

Dahi Henry berkerut saat mendengar ini. Tanpa sadar, tangannya mengepal seolah melampiaskan kemarahannya.

"Tuan Henry, untuk saat ini sebaiknya Anda tidak menemui orang yang Anda tabrak," saran Nani.

Di tengah lamunannya, memikirkan sikap Sonya, Henry dikagetkan oleh pernyataan Nani yang tiba-tiba. Henry menatap pembantunya. "Kenapa?" tanyanya tegas.

"Agar Nona Sonya percaya bahwa Anda telah menyerahkan masalah ini ke tangan Tuan William. Anda bisa berpura-pura tidak tahu segalanya, sehingga Nona Sonya merasa yakin bisa mengelabui Anda, Tuan," kata Nani cepat.

Ia memberanikan diri menatap atasannya. Tangannya masih gemetar, tapi ia berusaha mengendalikan diri.

Nani harus memikirkan rencana selanjutnya yang harus ia lakukan tanpa sepengetahuan Sonya.

"Tuan, apa Anda benar-benar akan menjamin keselamatan keluarga saya?" celetuk Nani tiba-tiba.

William yang sedari tadi diam memperhatikan dengan sigap menghampiri dan menarik Nani menjauh dari kaki Henry. "Beraninya kamu berkata seperti itu!" bentaknya dengan marah.

Nani mengerang kesakitan dan sekali lagi memohon maaf pada William. Ia tidak sengaja bertindak seperti itu karena ia sangat mengkhawatirkan keluarganya.

"Kamu bisa menepati janjimu. Jika kamu bisa membuktikannya sendiri, memberiku kepercayaan atas tindakanmu, keluargamu aman." Henry berkata dengan santai.

Henry berdiri dengan bangga dengan tangan di saku celana sambil menatap pelayan itu. Wajahnya terlihat datar seolah-olah tidak menunjukkan ekspresi apapun. Bukannya dia tidak punya hati, tapi dia hanya pandai menyembunyikannya.

"Pergilah, kamu tidak dibutuhkan sekarang. William akan memberitahumu lagi jika aku punya misi untukmu!" perintahnya dengan tegas, dengan sorot mata yang tajam.