Bab 15. Twins

Penulis nyiratu
26 November 2025

"Ya, Tuan. Sekali lagi terima kasih untuk kesempatan kedua. Terima kasih telah memaafkan permintaan maaf saya," kata Nani, terlihat senang.

Henry hanya mengangguk, lalu melambaikan tangannya untuk mengusir Nani. Begitu melihat Nani keluar dari ruangan, dia menatap Pak Jo dengan tajam.

"Disiplinkan semua pelayan, Pak Jo! Jangan sampai terjadi lagi. Periksa semua calon pelayan, dan perketat keamanan di rumah belakang!" Henry memberi perintah kepada kepala pelayannya.

"Baik, Tuan. Saya akan melaksanakan perintah Anda," jawab Pak Jo sambil menundukkan kepala di hadapan tuannya untuk menunjukkan rasa hormat.

"Pergilah!" Henry kemudian memerintahkan pria tua itu keluar dari ruangannya.

Pak Jo mengangguk. Dia berpamitan dengan sopan dan meninggalkan kantor majikannya.

Setelah itu, Henry menuju kursi kerjanya. Dia bersandar dan mulai memejamkan mata. Begitu banyak yang terjadi dengan dirinya, membuat ia tidak bisa berfikir jernih. Terlebih bayangan mantan istrinya yang selalu mengusik hatinya.

"Willy, kamu juga pergilah!" Henry memerintahkan tanpa melihat ke arah asistennya. Saat ini ia butuh ketenangan.

Henry menghela napas panjang. Tangannya terulur untuk memijat pangkal hidungnya dengan frustrasi.

Henry tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran pembantunya. Jika dia pergi menemui Alana, Sonya pasti akan mengetahui pertemuannya dengan Amanda. Dan itu akan sangat berbahaya bagi mereka. Henry tahu betul siapa Sonya.

Meski ia sangat merindukan Alana, Henry menahan diri untuk tidak menemui gadis kecil yang pernah ditabraknya itu. Entah mengapa, ia selalu ingin bertemu dengan anak itu meskipun Amanda sudah menegaskan bahwa Alana bukanlah anaknya. Namun, hati kecilnya mengatakan kalau Alana adalah putri kandungnya.

Satu minggu berlalu, selama itu pula Henry tidak bertemu dengan Alana. Ia hanya mendapat kabar dari William, yang ia suruh untuk menjenguk anak itu setiap hari.

Hari ini, Alan pertama kalinya datang ke rumah sakit untuk menjenguk saudari kembarnya, Alana.

"Kondisinya sudah benar-benar membaik, Alana diperbolehkan pulang hari ini," kata dokter jaga yang memeriksa Alana pagi itu.

Gadis kecil yang duduk di ranjang rumah sakit itu tampak bahagia, spontan bersorak-sorai. Ia bahkan mengangkat kedua tangannya sambil bernyanyi.

Sementara itu, seorang perempuan yang berdiri di seberang dokter tersenyum bahagia. Amanda merasa bahagia. Setelah seminggu anaknya dirawat di rumah sakit, kini ia sudah diperbolehkan pulang. Membuatnya yakin bahwa Alana sudah sembuh total.

"Terima kasih, Dokter," ucap Amanda menyapa sang dokter seraya berpamitan meninggalkan ruang perawatan Alana.

Seorang perawat yang datang bersama dokter menghampiri Amanda. "Surat keluarnya bisa diurus di ruang administrasi nanti setelah dipanggil," katanya.

"Baiklah, saya tunggu ya," kata Amanda menanggapi perawat tersebut. "Terima kasih banyak telah merawat Alana."

"Sama-sama, Nyonya."

Setelah dokter dan perawat pergi, Amanda menatap putrinya. Dia tersenyum dengan tangan terentang seolah-olah bersiap untuk memeluk. "Kamu dengar itu? Kita akan pulang hari ini," katanya dengan gembira.

Alana langsung menyambut pelukan ibunya. Kini, Alana sudah bisa bergerak bebas karena selang infus di tangannya sudah dilepas oleh perawat.

"Kamu tidak memberi selamat padaku, Alan?" tanya Alana pada saudara kembarnya yang sedang sibuk membaca di kursi tunggu dekat tempat tidurnya.

Amanda mengajak Alan untuk menjemput Alana karena ia tahu Henry tidak akan datang ke rumah sakit dan pasti tidak akan pernah bertemu dengan Alan.

"Tidak. Itu berarti kamu akan menggangguku lagi," jawab Alan sambil bercanda, tapi gaya bicaranya seperti orang dewasa.

"Ibu," rengek Alana kepada Amanda tentang perilaku kembarannya. "Apakah dia lebih senang jika aku sakit?" Alana mengerucutkan bibirnya sambil merengek manja pada sang ibu.

Amanda menggeleng dan menghembuskan napas kasar. Pertengkaran, perdebatan, sudah sering ia hadapi karena perilaku mereka. Namun, ia yakin bahwa kedua anaknya saling menyayangi. Itu ia anggap hanya sebagai candaan saja.

"Alan, jangan seperti itu. Kamu harusnya senang Alana kembali ke rumah bersama kita," Amanda menegur anak kembarnya.

"Maaf, Bu, aku hanya bercanda tadi," jawab Alan sambil meletakkan bukunya dan menatap ibunya.

Anak laki-laki itu menyipitkan mata saat kembarannya menggodanya dengan menjulurkan lidah. Namun Alan mengabaikan hal ini, tidak ingin membuat ibunya pusing dengan perilakunya.

Meski baru berusia lima tahun, Alan sudah bisa berpikir logis, tidak seperti Alana yang masih terlihat manja dan selalu penuh rengekan. Sepertinya keadaan memang mendewasakan Alan.

"Baiklah, kalau begitu Ibu akan keluar sebentar. Kalian jangan bertengkar. Alan, jaga Alana agar tidak kabur. Kamu bisa meninggalkan ruangan ini saat aku kembali," kata Amanda kemudian.

"Iya, Bu!" teriak Alana dengan semangat sementara Alan hanya menganggukkan kepalanya saja. Meski kembar, kedua anak itu sangat berbeda, mulai dari wajah hingga karakternya.

Setelah memastikan tidak ada masalah, Amanda akhirnya meninggalkan kamar anaknya. Perawat telah memanggilnya tadi, dan kini gilirannya mengurus surat-surat kepulangan dan administrasi agar Alana dapat keluar dari rumah sakit sesegera mungkin.

Di tempat lain, Henry tampak gelisah. Meskipun dia memiliki banyak pekerjaan di depannya dan berkas-berkas yang menumpuk, pikirannya saat ini tertuju pada gadis kecil yang ditabraknya. Dia sangat ingin melihat gadis itu.

Henry menghela napas panjang sambil mendorong laptopnya. Setelah itu, ia bangkit dan melonggarkan dasi yang mencekik lehernya. Pria itu menuju ke sudut ruangan, tempat ia menyimpan minuman.

Baru saja ia akan menenggak minumannya, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. William muncul dengan beberapa berkas di tangan.

"Bos," sapa William, "apakah ada masalah? Mengapa Anda terlihat sangat tidak bersemangat?"

Henry hanya mengangkat tangannya seolah memberi isyarat kepada William untuk tidak mengomentari penampilannya. "Jangan banyak bertanya! Anda sudah tahu tentang kegelisahan saya," katanya sebelum menenggak minumannya.

Henry sangat mengkhawatirkan Alana dan sangat ingin bertemu dengan gadis itu sehingga dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya.

William terdiam. Tak ada lagi yang bisa dikatakannya walau ia tahu segalanya.

Setelah meneguk minumannya, Henry berjalan ke sofa di kamarnya. William segera mengikuti dan duduk di depannya.

"Ada apa?" tanya Henry sambil mengangkat sebelah alisnya. Dia meletakkan botolnya di atas meja.

"Ada beberapa berkas yang perlu Anda setujui, dan perlu ditandatangani," kata William sambil menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya.

Henry hanya mengangguk. "Letakkan berkas-berkas itu, aku akan memeriksanya nanti!" perintahnya.

William mengangguk. Kemudian berdiri dan meletakkan berkas-berkas itu di meja bosnya. Setelah itu, dia pamit untuk meninggalkan ruangan.

"Tunggu, William!" seru Henry.

"Ya, Bos," jawab William dengan hormat, "ada yang bisa saya bantu?"

Henry menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan William. Kemudian, dia bersandar dengan tangan terentang. Kedua kakinya bertumpu satu sama lain di atas meja di depannya.

"Bagaimana?" Henry menatap asistennya dengan tajam. "Apakah kamu mendapatkan hasil yang aku inginkan?"