Beberapa hari berada di villa membuat Aurora menjadi semakin kehilangan antusiasnya. Bahkan senja yang di awal mengubah pikirannya untuk tinggal di sini saja, sekarang mulai samar. Ditambah Kael yang melarangnya untuk keluar dari kawasan villa, merasa seakan sedang dipenjara dengan fasilitas mewah.
Dan sekarang, ketika kael dengan terpaksa meninggalkannya untuk rapat direksi yang mewajibkannya pergi, akhirnya Aurora memiliki sedikit waktu untuk menjelajah kawasan itu.
Perbatasan Vallmont dan Ravelle selalu menyediakan pesona yang tidak akan pernah didapatkan di Vallmont. Polusi dan kericuhan tiap langkah semakin memudar. Helaan napas pun berubah menjadi lebih… sehat? Aurora sedikit kesulitan untuk mendeskripsikannya. Tidak terlalu magis, tapi juga tidak sesak seperti Vallmont. Semua yang ada di perbatas ini terasa pas.
“Kurasa Ravelle atau Ednoar akan lebih baik,” gumamnya.
Menjelang malam, cahaya keemasan dari senja adalah salah satu favoritnya. Hangat dan romantis, mengingatkan saat ia duduk di balkon mansion keluarga Vallen dengan membaca novel picisannya.
“Kau pasti orang baru di sini.”
Satu suara membuat Aurora berjingkat. Rendah, lembut, dan ramah. Secara refleks tubuhnya berbalik untuk melihat seseorang yang menyapanya. Tatapan lembut dari manik mata hijau zamrud, terlihat menghanyutkan. Sayangnya, sorotnya tak semenawan mata cokelat hangat Kael yang menenggelamkan. Pria asing itu melengkungkan senyum, menampilkan lesung di pipi kiri.
“Oh, hallo,” sapa Aurora ramah.
Pria itu sempat terdiam sejenak. Senyum ramahnya sedikit mengendur, tapi dengan cepat bisa menguasai keadaan lagi. Tatapannya lekat, lalu menggumam. “Wah, mata ambermu cantik sekali.”
Aurora mengerjap beberapa kali. Agak risih ketika pria asing langsung mengomentari matanya saat baru pertama bertemu. “Say thanks to my dad. Mata kami serupa.”
“I see, kau sangat beruntung.” Pria itu kembali tersenyum, lalu menyodorkan tangannya. “Senang bertemu denganmu, Amber girl.”
“Amber girl?” Kening Aurora mengerut.
Pria itu mengangguk. “Kau,” ucapnya sambil menunjuk Aurora menggunakan telunjuk kanan. “Karena matamu berwarna amber, dan aku belum tahu namamu, jadi aku menyebutmu Amber girl.”
Beberapa detik mencerna maksud pria itu, Aurora langsung tertawa kecil. “Namaku Aurora Vireaux.”
Tubuh pria itu mengejang. Seakan Aurora baru saja memberikan satu kejutan listrik yang membuat tubuhnya kaku. “Kau… Vireaux?”
“Suamiku,” jawab Aurora cepat. “Kael Vireaux adalah suamiku, dan margaku sendiri Vallen.”
“Ternyata benar,” gumam pria itu lirih.
Aurora tidak begitu mengerti dengan apa yang dimaksud pria itu. Apanya yang benar? “Sorry?”
“Well, kalau tidak keberatan aku ingin bertanya satu hal.” Pria itu melangkah satu kaki. “Apakah nama ibumu Isaballe Lambert?”
Kali ini giliran Aurora yang mengejang. “Darimana kau tahu nama ibuku?” Tatapan ramahnya berganti cepat.
Helaan napas panjang terdengar sebelum pria itu tertawa dramatis. “Aku pernah percaya keajaiban itu ada, tapi aku tidak pernah tahu jika hal ajaib itu datang dengan sangat kebetulan.”
Merasa ada yang salah, Aurora mundur beberapa langkah. Tangannya mengepal erat, bersiap jika saja memerlukan serangan dadakan untuk menyelamatkan diri.
“Maaf membuatmu takut,” ucap pria itu, tatapannya awas menyadari ketidaknyamanan Aurora. “Aku harus mengenalkan diriku dulu agar kau tidak bingung. Namaku Ezra Vireaux.”
Aurora mengernyitkan wajahnya. Vireaux? Tak ada orang lain yang memiliki marga itu selalu keturunan Vireaux di Vallmont.
“Vireaux? Tidak mungkin,” lirih Aurora, lebih pada dirinya sendiri.
Ezra tersenyum, seakan telah menyangka akan ada respon seperti itu dari Aurora. Kedua tangannya menyelinap ke saku celana, menjejalnya dalam—masih dengan senyum itu. “Aku melihat fotomu di album peninggalan mom. Kupikir aku tadi salah melihat dan rasanya tidak mungkin kalau aku melihatmu di sini. Tapi, benar-benar tidak kusangka akan melihatmu di sini. Kupikir tidak ada keturunan Vireaux dan Vallen yang akan menginjakkan kaki di tanah yang lebih mirip seperti tanah pengasingan ini.”
Kaki Aurora mundur beberapa langkah. Jantungnya berdebar kencang, seiring dengan pandangannya yang mulai bergetar. “Siapa kau?”
“Wajar jika kau tidak mengenaliku, karena aku adalah anak yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun.” Ezra menghela napasnya pelan. “Isabelle Lambert adalah ibuku, dan Lucien Vireaux adalah ayahku.”
No way!
Hal tergila yang pernah didengar oleh Aurora dari segala kekacauan di dalam hidupnya adalah memiliki seorang adik. Dan hal mengejutkan lain, pria itu juga merupakan adik dari Kael.
Geraman teredam berasal dari Kael yang menunduk, mengepalkan tangannya dengan gemuruh di dalam dada yang jelas berusaha mendobrak amarahnya. Di satu sisi ia tidak bisa menerima ketika Aurora melanggar larangannya untuk tidak meninggalkan villa—dan seharusnya ia tahu bahwa Aurora tipe orang yang tidak mendengar larangan, belajar dari ruang rahasia—karena terlalu berbahaya. Di sisi lain ia menyangsikan pengakuan dari pria yang mengaku sebagai bagian dari Vireaux.
“Aku tidak akan meng-claim warisanmu, asal kau tahu.” Ezra, satu-satunya penyebab dari situasi berat ini angkat bicara.
Gerakan kepala Kael berat. Aurora menelan ludah ketika sorot tajam Kael bersisipan dengan pandangannya yang menyipit. Degup jantung Aurora tak karuan. Ia hampir tak memiliki kuasa untuk menggeser tangannya dari atas pahanya meski posisi duduknya saat ini tidak nyaman.
“Apa tujuanmu mengenalkan dirimu sebagai putri seorang Vallen dan Vireaux?” Kael tak ingin basa-basi.
“Well….”
Ezra mengayun langkahnya lagi di halaman depan villa. Beberapa saat yang lalu, Kael kembali dari Vallmont dan mendapati Ezra sedang mengintimidasi Aurora—setidaknya itu yang terlihat dari sudut pandangnya. Ia tak pernah menyangka akan menemukan drama rumah tangga di sela usahanya untuk meruntuhkan Bastien.
“... aku hanya ingin menyapa kakakku yang ternyata cantik, dan… kakakku yang… menyeramkan?” Ezra berusaha keras untuk mendeskripsikan Kael. “Aku tidak menyangka kalian berdua akan menikah.”
Ezra mendekat pada Aurora. “Sister, kalau boleh jujur… kau tidak begitu cocok dengan pria kaku itu.”
Rahang Kael mengetat, bersamaan dengan tangannya yang hampir terayun. Aurora yang menyadari itu segera menahan Kael dengan mengapit lengan suaminya itu.
“Kael, please… kau tidak perlu meladeni ucapan tak bernilai seperti itu.”
Kael menunduk cepat, menatap wajah panik Aurora yang sedang memohon. “Dan kau seharusnya tidak pernah keluar dari tempat ini, Rora,” desisnya.
“See?” Ezra kembali melempar umpan. “Dia terlalu kaku. Sama seperti dad.”
“Stop it!” sentak Aurora. “Well… aku tadi terlalu kaget untuk menilai semuanya dengan logika. Rasanya tidak mungkin jika tiba-tiba saja adikku dan adik Kael muncul di tempat yang seharusnya bukan menjadi wilayah kami, benar begitu? Bagaimana bisa kebetulan bisa terlihat sejelas ini?”
Kael sedikit mengendur. Ucapan Aurora membuatnya sedikit bisa bernapas. Wajahnya memaling dari Aurora, kini menatap tajam pada Ezra. “Kau bilang Lucien Vireaux adalah ayahmu. Ok, bawa buktinya kesini.”
Ezra terdiam sejenak. Tak sampai Kael sempat untuk melemparkan ucapannya lagi, ia telah berkata, “Aku selalu menyimpan bukti-bukti itu, Brother. Karena aku tahu, kau adalah orang pertama yang jelas akan menyangkal jika Lucien Vireaux memiliki putra lain selain dirimu.”
Senyum Ezra tersungging, tak ada keraguan sedikit pun. Sementara Aurora menahan napasnya tanpa sadar. Dalam hatinya penuh gejolak. Benarkan Ezra memiliki hubungan dengan Isabelle dan Lucien?