Gelapnya ruangan terasa hidup. Seolah gelap itu menelan suara, menekan dada, dan membuat udara di kamar membeku di tengah napas.
Mia mencengkeram tangan Sarah begitu kuat hingga ruas jari mereka nyaris menyatu.
Ketukan yang menirukan ritme tali tadi masih bergema di kepala mereka. Lalu suara itu… suara yang hampir mirip manusia, kembali memanggil.
"Sarah…"
"Mi…" Sarah berbisik, butuh menelan udara dua kali dulu sebelum bisa bicara. Suaranya pecah, tapi ia memaksanya tetap stabil. "Pegang tangan gue. Jangan lepas, apa pun yang terjadi."
"Gue takut, Sar..." Mia bergumam, nyaris menangis.
"Gak apa-apa. Tutup terus mata lo."
Mia menutup mata rapat-rapat, tubuhnya bergetar. "Sar… kalau itu dia… di balik pintu…"
"Selama kita gak buka pintu dan gak jawab, makhluk itu bakal pergi. Ki Surya sebentar lagi juga bakal dateng."
Sarah ingin terdengar yakin. Tapi ia sendiri tidak yakin, karena bunyi lonceng tiruan di lorong tadi jelas bukan suara Ki Surya. Itu pertanda makhluk itu berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan.
Dari balik pintu, suara gesekan terdengar. Sangat pelan, seperti punggung tangan yang diseret di permukaan kayu.
Srett… srett…
Mia mencicit kecil dan menutup kedua telinganya. "Sar, gue gak tahan…"
Sarah meraih kepala Mia dan mendekapkannya ke dadanya untuk meredam suara. "Sabar… sabar… dia cuma nyari celah."
"Jangan bilang ‘cuma’, Sar. Itu bukan CUMA…"
Tiba-tiba, pintu kamar mereka berbunyi krik sangat lembut. Seperti seseorang, atau sesuatu, menyentuh gagangnya dari luar.
Mia mencengkeram baju Sarah. "Sar… SAR…"
"Tenang," Sarah menggeleng, padahal air mata hampir jatuh. "Dia cuma… nyoba. Dia gak bisa masuk."
Tapi sesuatu di suaranya sendiri terdengar salah.
Sebab dari ujung pandangannya, meski kamar gelap, Sarah bisa melihat mangkuk air di bawah kasurnya, yang tadinya hanya berkabut merah muda pucat, kini berubah lebih pekat. Seperti warna itu sedang bergerak, berkembang, dan mencari bentuknya sendiri.
Lampu kamar berkedip sekali.
Lalu menyala kembali.
Dan saat cahaya kembali, ketukan berhenti.
Tidak ada lagi gesekan. Tidak ada lagi panggilan nama.
Hanya sunyi.
Sunyi yang lebih berbahaya dari suara apa pun.
Lalu, tak sampai satu menit, langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat di lorong.
Langkah manusia.
Langkah Ki Surya.
"Sarah! Mia! Jangan buka pintunya!"
Sarah langsung berteriak balik, "Ki! Airnya berubah! Lampunya mati! Ada—"
"Diam di dalam!"
Gagang pintu kamar ditarik dari luar, bukan dibuka, hanya dicek. Lalu suara Ki Surya beralih menjadi geram.
"Dia di sini tadi."
Mia memelototkan mata ke arah Sarah, wajahnya masih pucat. "Itu Ki Surya beneran, kan?"
"Iya." Sarah mengangguk. "Langkahnya beda. Suaranya juga."
Mereka mendengar suara seretan kecil, bukan dari makhluk itu, tapi suara Ki Surya menggeser sesuatu. Lalu beberapa detik kemudian, bau harum yang sangat kuat menyeruak masuk melalui celah pintu.
Dupa.
"Jangan hirup dalam-dalam," kata Ki Surya dari luar.
Bau itu menyengat, namun anehnya, menenangkan.
Setelah beberapa menit, akhirnya Ki Surya mengetuk pintu lagi. Ritmenya normal. Ritme manusia.
"Sekarang buka. Pelan-pelan."
Sarah membuka pintu sedikit dengan perlahan dan kali ini wajah Ki Surya muncul, berkeringat, tapi matanya tajam.
"Cepat keluar. Jangan injak garis garam."
Mia berdiri dengan kaki gemetar. "Ki… itu tadi… dia ngikutin ritme loncengnya? Kok bisa?"
Ki Surya tidak menjawab langsung. Ia meraih mangkuk air dari bawah kasur, memeriksanya dengan ekspresi yang tidak menenangkan.
"Ini lebih cepat dari yang saya kira," gumamnya. "Tanda awalnya biasanya butuh dua hari. Tapi kalian…" Ia menatap Sarah, "…kalian tampaknya jadi sasaran jauh lebih kuat."
Sarah menelan ludah. "Kenapa begitu, Ki?"
"Karena kalian berdua sudah terlibat lebih dalam dari yang kalian sadari."
Mia meremas tangan Sarah. "Ki Surya… saya gak ngerti. Makhluk itu mau apa sih dari kita?"
Ki Surya menutup pintu kamar. "Nanti saya jelaskan. Tapi sekarang… kita pindah ke ruang pusat."
"Ruang pusat?"
Ki Surya mengangguk. "Ruangan paling aman di rumah ini."
Mauro muncul dari kamar sebelah, membawa senter dan sebuah tongkat besi yang penuh ukiran. "Anak-anak aman?"
Gina menyusul dari belakang, wajahnya tegang. "Ada yang ketuk pintu kamar kami tadi… tapi kami gak buka."
"Bagus," Ki Surya menepuk bahu Gina. "Takut itu wajar. Tapi buka pintu karena takut adalah kesalahan."
Mauro menatap Sarah dan Mia. "Ayo. Sini."
Sarah dan Mia berjalan di antara mereka, seperti dua anak kecil yang dijaga dari badai.
Lorong tampak lebih panjang dari sebelumnya. Cahaya dari senter Mauro memperlihatkan bahwa garis garam yang ditaburkan Ki Surya telah membentuk pola di lantai, lingkaran-lingkaran kecil, seperti perangkap.
Dan di salah satu lingkaran itu… ada bercak hitam kecil. Seperti abu atau kulit yang terbakar.
Mia menelan napas tertahan. "Ki… itu—"
"Sisanya," jawab Ki Surya singkat.
"Sisa… apa?"
"Sisa yang mencoba masuk."
Mia langsung menjauh dari lingkaran itu.
Mereka terus berjalan sampai tiba di ujung lorong, tempat sebuah pintu kayu tebal terbuka sedikit. Di dalamnya gelap, tapi berbeda. Gelapnya tetap, tidak bergerak. Tidak menekan. Seolah ruangan itu memang dirancang untuk menahan apa pun.
Ki Surya masuk lebih dulu. "Masuk. Kalian duduk dekat meja."
Sarah dan Mia melangkah masuk dengan sedikit gemetar.
Ruangan itu luas, lebih luas dari yang mereka duga. Dindingnya dipenuhi rak kayu, masing-masing berisi botol-botol kaca kecil, gulungan kertas, dan benda-benda tua yang sulit dikenali. Di tengah ruangan ada meja panjang dari kayu yang sudah sangat tua, dengan ukiran-ukiran melingkar di permukaannya.
Mauro mengunci pintu dari dalam dengan tiga kunci sekaligus. Lalu menurunkan palang besi di bagian atas.
Gina duduk dekat Sarah. "Kalian gak apa-apa?"
"Enggak, Tan," jawab Mia jujur. "Tapi untungnya kami masih hidup."
Sarah mengangguk lemah. "Ki… tadi waktu lampu mati… makhluk itu manggil nama saya."
Ki Surya berhenti menuangkan garam hitam ke dalam wadah.
Ia menoleh pelan, tatapannya berubah sangat serius. "Dia manggil nama kamu sendiri? Bukan sekedar mengetuk?"
Sarah mengangguk.
"Dia nyebut dengan suara manusia?" tanya Ki Surya lagi.
"Mirip suara manusia," jawab Sarah. "Tapi kayak… rusak."
Ki Surya mendesah panjang, menatap meja seakan mencari jawaban. "Kalau begitu… dia sudah melihat kalian. Bukan hanya mengikuti bau atau jejak."
Mia merinding. "Melihat… dari mana?"
"Dari celah yang dia buat sendiri," jawab Ki Surya datar. "Dan itu berarti kalian berdua tidak boleh sendiri mulai malam ini."
Gina menutup mulutnya. "Ki… seburuk itu?"
"Lebih buruk," Ki Surya menurunkan suara. "Dan itu baru tahap awal."
Sarah menggenggam pinggir meja. "Ki… air itu… warnanya kenapa jadi merah muda?"
Ki Surya membuka kotak kayu kecil dari rak, mengambil secarik kertas dengan ukiran simbol. "Karena dia tidak hanya mendekat. Dia mencoba menandai."
"Menandai?!" Mia terlonjak. "Apa maksudnya? Kayak… milih target?"
Ki Surya diam sebentar, lalu berkata perlahan, "Ya."
Sekarang Sarah merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Ki…" Sarah berbisik hampir tak terdengar. "Yang ditandai itu… siapa?"
Ki Surya menatap mangkuk air yang ia bawa masuk. Setelah beberapa detik, ia mengangkat tatapannya ke arah Sarah. "…kalian berdua."
Mia langsung menggenggam sarung meja sekuat mungkin. "Apa?! Kita dua-duanya?! Kenapa?!"
"Saya tidak tahu pasti alasannya. Namun, apa pun yang kalian lihat, apa pun yang kalian dengar… sudah cukup untuk membuat makhluk itu mengunci perhatian pada kalian."
Sarah merasa kakinya dingin.
"Terus… sekarang kita harus apa?" Mia menahan napas.
"Sekarang, kalian menginap di sini. Di ruangan ini. Beberapa malam ke depan," Ki Surya menegaskan. "Aku dan Mauro akan berjaga di depan pintu. Gina akan tetap di kamar untuk jaga-jaga. Tapi kalian berdua tidak boleh keluar sampai aku yakin tanda itu bisa diputus."
Sarah dan Mia sama-sama mengangguk, meski tubuh mereka masih gemetar.
Tapi sebelum Ki Surya sempat melanjutkan, ada sesuatu yang bergerak di rak atas.
Bukan sesuatu yang besar.
Bukan sesuatu yang keras juga.
Hanya gerakan kecil. Seperti botol kaca yang disentuh angin… padahal ruangan ini tidak punya jendela.
Semua kepala otomatis menoleh.
Botol itu bergetar sekali.
Hening.
Lalu…
PRANG!
Botol itu jatuh dan pecah di lantai. Pecahannya memercikkan cairan gelap ke segala arah.
Sarah dan Mia menjerit kecil.
Mauro langsung maju, siap dengan tongkatnya.
Ki Surya membeku, memandangi pecahan itu dengan wajah yang berubah pucat.
Gina menatapnya takut. "Ki… apa itu barusan?"
Ki Surya tidak langsung menjawab. Ia berjongkok, memeriksa cairan gelap yang kini mengalir pelan di lantai. Dan saat ia berdiri kembali, suaranya benar-benar bergetar untuk pertama kalinya.
"Itu… tidak mungkin dilakukan dari luar."
Mia memelototkan mata. "Maksud Ki Surya… apa…?"
Ki Surya menatap mereka semua dengan wajah pucat, takut, dan serius. "Dia sudah masuk."
Lampu ruangan berkedip dua kali.
Lalu padam.