“Kau … siapa?”
Netranya melebar dengan sempurna. Maya berhadapan dengan sosok tinggi dan tegap yang nyaris sama persis dengan mendiang ayahnya.
Dari cahaya temaram yang dihasilkan oleh brake light yang berada cukup jauh darinya, Maya bukan hanya dapat melihat jelas postur tubuh lelaki itu, tetapi juga struktur wajah lelaki itu yang cukup identik dengan mendiang sang ayah. Bahkan walaupun lelaki itu mengenakan topi yang membuat separuh wajahnya tertutup oleh bayangan dari topi itu sendiri.
Namun saat lelaki itu tersenyum, Maya tahu dia bukanlah ayahnya. Ayahnya memiliki senyum yang sangat lembut. Walaupun ingatannya nyaris memudar, tetapi wajah ayahnya masih sangat diingat oleh Maya. Dan senyuman yang baru saja terlintas di depannya, itu bukan senyuman milik Zayden.
Dan jelas, lelaki di hadapannya pasti bukan ayahnya.
“Aku paman kecil, Maya … apa kau masih ingat?” Raiden memasang senyum dan memindai setiap perubahan ekspresi Maya.
Lelaki itu tahu, bahwa Maya tak mengingatnya dengan jelas.
Dulu, ketika Maya kecil dan berada di rumah besar keluarga Nort, Raiden tak begitu mempedulikannya. Selain karena takut bila kakaknya yang gila itu akan marah, Maya dan ibunya tak pernah bertahan lama di rumah besar Nort. Sebab Zayden tak suka jika sesuatu yang merupakan miliknya, ditatap orang lain. Bahkan meskipun itu keluarganya sendiri.
Dan baginya sangatlah wajar jika Maya tak mengingatnya, gadis itu masih sangat kecil saat itu.
“Paman kecil?” tanya Maya dalam kebingungan.
Alisnya yang mengkerut melunturkan sedikit ekspresi takut di wajahnya. Membuat Raiden tersenyum dan mendekat membisikan sesuatu lagi.
“Percayalah, aku tidak akan menyakitimu, Maya. Kau putri kakakku, dan kau adalah keponakanku.”
Seraya membalikan tubuh Maya perlahan, dia menunjuk ke arah yang lain. Berjarak sekitar 6-7 meter dari tempatnya berdiri bersama Maya, ada orang lain yang juga berada di sana.
Maya sendiri setengah terkejut mendengar penuturan Raiden. Dia tak menyangka, bahwa lelaki itu adalah adik dari ayahnya.
“Aku hanya ingin menunjukan sesuatu padamu. Dan kau pasti akan berterimakasih padaku untuk yang satu ini,” bisiknya lagi di samping telinga Maya, ketika Maya mulai berbalik badan.
Maya bukan hanya takut, tetapi juga menegang penuh kewaspadaan. Walaupun begitu, gadis itu tetap melihat ke arah yang ditunjuk oleh Raiden.
Di sana Maya melihat sosok lelaki dengan jaket jeans yang terasa tak asing.
Lelaki itu membelakanginya dan di depannya ada dua orang lainnya yang berhadapan dengan lelaki berjaket jeans itu.
Kepulan asap rokok dari lelaki itu menguar ke udara, beterbangan dan menodai udara di sekitarnya. Membuat Maya mendengar suara wanita lain terbatuk-batuk.
Yang tak disangka olehnya, ada sosok lain di balik lelaki itu yang tak terlihat oleh matanya. Dan ia baru menyadarinya ketika sosok itu terbatuk.
Wanita itu berlutut di hadapan lelaki berjaket jeans itu?
Sebenarnya, siapa mereka? Dan apa yang sedang mereka lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggema di kepala Maya. Membuat Maya mengerutkan keningnya. Akan tetapi, Maya tak memilih bertanya pada Raiden, ia hanya diam menahan segala perasaan kacau yang mendera jiwanya.
“Pertunjukan akan segera dimulai, Maya. Persiapkan dirimu, dan persiapkan mentalmu.” Raiden berbisik lagi. Menggunakan suara paling lirih yang bahkan tak akan disadari oleh siapa pun juga.
Di detik pertama, setelah Raiden menyelesaikan ucapannya, bola mata Maya melebar lagi. Gadis itu menutup mulutnya dengan satu telapak tangan, ketika dia melihat bahwa lelaki tinggi dengan jaket jeans itu menikamkan sebilah pisau pada wanita yang tak terlihat olehnya itu.
Pekikan wanita itu terdengar amat nyata di telinga Maya. Membuat Maya nyaris ikut memekik.
Dengan sangat kejam, lelaki berjaket jeans itu menikam lagi dan lagi. Tanpa ekspresi dan tanpa sepatah kata pun. Membuat Maya menegang di tempatnya.
Lelaki berjaket jeans itu kemudian membuang puntung rokoknya. Lalu berkata. “Bereskan sisanya.” Lelaki itu memerintah dengan suara tegas.
Maya tersentak. Dia merasa bahwa suara itu pun tak asing, selain jaket jeans dan postur tubuh ramping dan tinggi yang ….
Maya semakin terkejut ketika lelaki itu membalikan badan menghadapnya dan mengusap wajahnya yang kotor oleh darah dengan sapu tangan.
“Adrian?!”
Suara itu tak sengaja terlepas dari tenggorokannya, ketika dia melihat jelas dan menemukan bahwa lelaki itu adalah suaminya.
Sosok Adrian berjalan ke arahnya dengan sangat mengerikan. Tak menyadari bahwa ia akan segera mendapati wanitanya.
Dan ketika Adrian mendengarnya, mendengar suara Maya yang tak sengaja, lelaki itu langsung berhenti. Langkahnya membatu, dan tangannya jatuh begitu saja melepaskan sapu tangan dari genggamannya.
Adrian terdiam dipenuhi keterkejutan. Layaknya si pencuri tertangkap basah, tak bisa mengelak.
Maya meneteskan air mata dengan perasaan takut, marah dan kecewa, sementara langkahnya mundur tanpa sadar.
Ketika Maya menoleh ke belakang seolah mencari perlindungan, Maya tak mendapati Raiden di sana.
Lelaki itu telah menghilang entah ke mana dan hanya meninggalkan topi beserta sweater tebal yang agaknya merupakan bentuk penyamarannya.
Mungkin, lelaki itu telah berkamuflase bersama pasien atau bahkan petugas lainnya di rumah sakit itu.
Pengetahuan itu membuat Maya semakin takut menghadapi kenyataan, bahwa lelaki yang telah dinikahinya adalah seorang penjahat. Lelaki yang nyaris dicintainya adalah seorang iblis yang menjelma sebagai malaikat.
“M-maya,” panggil Adrian berusaha menghentikan langkah Maya.
Adrian tampak gemetar. Seakan-akan ia takut bila Mayanya akan salah paham.
“Maya, dengarkan aku … aku bisa jelaskan,” katanya lagi putus asa, sambil melangkah ke arah Maya.
“Jangan mendekat!” teriak Maya sangat takut.
“Maya aku … aku ….”
Dipenuhi kebingungan dan kekacauan, Adrian tak bisa berkata-kata. Dunianya hancur dan ia merasa takut kehilangan Maya.
Sementara itu, Maya masih terus memundurkan langkahnya dalam tangis.
“Apa bagimu, nyawa manusia begitu tak berharga?” tanya Maya lirih penuh kekecewaan.
Adrian tak bisa menjawab. Bibirnya bergetar, tetapi semua kalimat telah hilang ditelan ketakutan yang nyata.
Adrian tak pernah sebimbang ini, dia tak pernah setakut ini dan ia tak pernah menyesali apa yang ia lakukan.
Tetapi kali ini, tertangkap basah oleh Maya ketika menghabisi orang, Adrian merasa sangat bersalah sekaligus malu.
“Kau bukan Tuhan, dan kau tidak berhak memutuskan apakah orang itu harus mati atau hidup.”
“Maya, aku … aku hanya–”
“Aku tidak menyangka, seperti ini wujud aslimu,” simpul Maya.
Tak kuat dengan apa yang baru saja dilihatnya, Maya memilih pergi. Melangkah cepat membalikan badan dan meninggalkan Adrian. Namun ketika sekilas tampak tangan Adrian bercucuran noda darah, sebab tak sempat dibersihkan, Maya langsung merasa pening dan tubuhnya lunglai.
Di detik selanjutnya, Maya kehilangan kesadaran dan ambruk.
Adrian melangkah cepat, menangkap tubuh Maya dengan kedua lengan panjangnya yang cekatan. Dan ia berlutut di sana, membawa Maya dalam pelukannya.
Mata Adrian berkabut penuh rasa takut dan keputusasaan. Takut karena Maya pasti akan membencinya saat gadis itu sadarkan diri nanti. Sebab gadis itu kini telah tahu, bahwa dirinya sebenarnya adalah iblis yang tengah menjelma.
“Maya … kau harus tetap berada di sisiku!”
Bersambung ….
Dadar Telur Pake Merica
Cabe Ijo Dipotong-potong
Ada Salam nih Buat yang Baca
Balasnya di Kolom Komen Dong 😅