Cairan Hitam

Penulis Levanter
26 November 2025

Gelap yang muncul kali ini berbeda. Bukan gelap biasa. Bukan gelap yang datang karena lampu padam. Ini gelap yang terasa seperti seseorang memalingkan wajah dunia ke arah lain, seperti ada yang menutup langit dengan tangan raksasa yang dingin.

Mia menjerit pelan dan langsung meraih lengan Sarah. "Sar… dia masuk? Ki Surya bilang dia masuk…"

Sarah tidak menjawab. Dia tidak sanggup. Tenggorokannya terlalu kering, dadanya terlalu sesak. Yang bisa ia rasakan hanyalah hawa dingin yang mendadak merayap dari lantai ke tulang kakinya.

Mauro mengibaskan tongkat besinya pelan, siap memukul apa pun. "Ki, cepat bilang. Kita harus apa?!"

"Aku harus nyalakan lilin penjaga," Ki Surya membalas dengan suara rendah namun tegang. "Tapi jangan ada yang bergerak dulu."

"Tapi, Ki… ruangan ini gelap total," Gina berbisik, menggenggam bahu Mauro. "Bagaimana kalau makhluk itu—"

"Dia tidak bisa sepenuhnya menampakkan diri di sini," Ki Surya memotong. "Tapi dia bisa mengacak energi. Itu yang membuat lampu mati."

Sebuah suara kecil terdengar dari sudut ruangan.

*Tek. Tek. Tek.

Bukan langkah kaki.

Bukan suara makhluk itu.

Suara itu lebih terdengar seperti… kuku. Kuku panjang yang mengetuk lantai kayu.

Mia menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak berteriak. Sarah mengenggam tangannya.

"Ki…" Suara Mauro berat sekali. "Apa dia bisa menyentuh kita di ruangan ini?"

"Belum," Ki Surya menjawab, meski terdengar ragu. "Selama lingkar pelindung di meja ini tetap utuh."

Sarah menelan ludah. "Ki… lingkar itu tadi retak waktu botol pecah, kan?"

Hening beberapa detik.

Lalu Ki Surya menjawab dengan suara yang jauh lebih pelan. "Ya."

Sebelum Sarah sempat memproses jawabannya, ada gesekan lembut di sisi kanan ruangan. Seperti sesuatu yang merayap di dinding.

Gina langsung memeluk pinggang Mauro dari belakang. "Ki… tolong bilang itu cuma hewan kecil atau serangga…"

"Bukan." Ki Surya akhirnya bergerak. Ia meraba meja sampai menemukan korek api kecil di laci samping. "Makhluk itu sedang mencari titik masuk."

Mia langsung merapat ke Sarah, tubuhnya kaku. "Sar… gue gak sanggup kalau gelap terus begini."

"Tenang," bisik Sarah, meski hatinya sendiri berdegup liar. "Sebentar lagi Ki Surya nyalain lilin."

Lalu tiba-tiba terdengar suara tawa kecil. Tawa pendek. Tawa yang jelas bukan manusia.

Semua orang membeku.

Mia menutup telinga, tersedu-sedu. "Itu… suara dari mana, Sar?"

Ki Surya berhasil menyalakan korek. Api kecil di ujungnya seperti satu-satunya cahaya yang masih percaya pada mereka. Lalu ia segera menyalakan sebuah lilin hitam di atas meja.

Begitu lilin itu menyala, ruangan seperti bernapas kembali. Gelap mundur sedikit. Bukan hilang, tapi menyingkir beberapa langkah, seperti makhluk yang tertolak oleh cahaya kecil itu.

Mauro berseru, "Ki! Di pojok! Ada bayangan!"

Sarah memutar kepala cepat... dan memang benar.

Di sudut kanan ruangan, ada bayangan yang tidak seharusnya ada. Bayangan itu menempel di sudut, memanjang ke atas, bentuknya tidak stabil. Seperti seseorang berdiri di sana, tapi tubuhnya mengalir seperti kabut hitam pekat.

Mia hampir jatuh mundur. "Itu… itu dia…"

"Jangan lihat langsung!" Ki Surya membentak. "Arahkan pandangan kalian ke meja!"

Sarah menutup matanya erat. Mia mengubur wajahnya di bahu Sarah sambil menangis tanpa suara.

Sambil gemetar, Ki Surya mulai merapalkan mantra pelan, bahasa tua yang Sarah tidak mengerti, namun nadanya seperti seseorang yang sedang berbicara pada sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih berbahaya daripada manusia.

Bayangan itu bergerak.

Kali ini lebih jelas.

Sesuatu di dalam gelap mencoba maju.

Ki Surya menghantamkan tongkat kayunya ke lantai. "Jangan lewati garis!"

Mauro mengangkat tongkat besinya untuk berjaga.

Sarah membuka mata satu detik dan langsung menutupnya lagi. Ia hanya melihat sekilas. Tapi itu sudah terlalu banyak.

Bayangan itu tidak punya wajah, hanya cekungan gelap seperti rongga kosong, tapi cekungan itu bergerak seperti… serpihan kulit. Seolah makhluk itu mencoba “mengisi” bentuknya sendiri.

Sarah tersengal. Dunia terasa terlalu kecil tiba-tiba.

Mia memeluknya semakin erat. "Sar… gue mau pulang… gue mau pulang…"

"Tahan bentar. Tahan bentar aja, Mi," Sarah memastikan suaranya tidak pecah. "Ki Surya bakal ngusir dia."

Ki Surya memperkuat mantranya.

Mantra itu berubah dari bisikan menjadi suara berat yang menggema di dada. Cahaya lilin hitam memanjang, seperti ditarik ke arah bayangan itu.

Makhluk itu mengeluarkan suara seperti tarikan napas panjang. Atau mungkin teriakan. Tapi teriakan dari tenggorokan yang tidak punya bentuk.

Tiba-tiba, bayangan itu tersentak mundur dua langkah. Gelap di sudut ruangan bergetar, seperti diguncang dari dalam.

"Bagus…" Ki Surya berkata dengan napas berat. "Dia terdesak."

Tapi belum tiga detik berlalu—

**Tek. Tek. Tek.

Ritme ketukan itu kembali.

Namun kali ini… dari plafon.

Semua orang otomatis mendongak.

Suara itu berjalan perlahan di atas kepala mereka, seperti makhluk itu merayap di langit-langit, mencari celah baru.

Mia menggigil. "Sar… dia tau kita ada di sini… dia di atas kita… dia beneran di atas kita…"

Sarah mengusap punggungnya pelan. "Tutup telinga. Fokus sama suara gue."

Ki Surya kembali menyalakan dua lilin tambahan, keduanya lilin putih. Cahaya itu menyebar, membuat ruangan tidak sepenuhnya gelap.

Plafon tidak menunjukkan apa-apa.

Tapi suaranya… masih ada.

**Tek. Tek. Tek.

Teratur. Seolah sedang menghitung waktu.

"Dia tidak bisa bertahan lama dalam wujud ini," Ki Surya menggertakkan gigi. "Kalau kita tahan sedikit lagi… dia akan mundur."

Namun saat itulah… sesuatu menetes dari plafon.

Cairan hitam yang pekat dan lengket, menetes tepat di atas meja.

Gina menjerit tertahan. "Ki! Itu apa?!"

Ki Surya merapatkan kedua telapak tangannya. "Itu bagian dari bentuknya, dia mencoba merobohkan batas."

Sarah memandang tetesan itu.

Cairan itu bergerak seperti hidup. Seperti sedang mencari ruang untuk menjalar.

"Ki…" Mauro memundurkan Gina. "Kalau cairan itu nyentuh lantai di dalam lingkar… apa yang terjadi?"

Ki Surya tidak menjawab.

Sarah menggenggam tepi meja semakin kuat. "Ki… jawab."

"Kalau cairan itu masuk lingkar… dia tidak perlu pintu lagi untuk masuk."

Mia membenamkan wajahnya di dada Sarah, menangis ketakutan.

Tetesan kedua jatuh.

Lalu ketiga.

Lingkar pelindung mulai basah oleh cairan hitam.

Ki Surya menoleh cepat ke Mauro. "Mauro! Siapkan garam hitamnya!"

Mauro mengangguk dan membuka tas kain kecil di sisi meja, tangannya gemetar saat menuangkan garam hitam ke telapak tangan Ki Surya.

Ki Surya mengangkat tangannya, lalu menyebarkan garam itu di udara.

Garam hitam itu tidak jatuh. Tidak berhamburan. Melainkan berhenti di udara, melayang, membentuk tabir tipis di bawah plafon.

Makhluk itu berhenti mengetuk.

Sunyi.

Lalu terdengar suara berat.

***DUM *

Seperti dua telapak besar menghantam dari atas.

Lalu sekali lagi.

**DUM.

Mia berteriak ketakutan.

Ki Surya menekan meja, menjaga mantranya tetap stabil. "Tahan! TAHAN! Dia mencoba menembus tabir!"

Tabir garam mulai retak seperti kaca yang pecah perlahan.

Sarah menahan napas, jantungnya seperti dipelintir dari dalam. "Ki! Retakannya makin besar!"

"Aku tahu!" Ki Surya memekik. "TAPI JANGAN ADA YANG KELUAR LINGKAR!"

Tepat saat retakan itu hampir runtuh, pintu ruangan bergetar sangat keras.

Semua orang memutar kepala dengan panik.

Mauro mengangkat tongkatnya. "Ada yang di luar?! Ki?!"

Pintu bergetar sekali lagi. Lalu sebuah suara terdengar. Suara yang terdengar sangat manusia.

"Ki Surya! Ki Surya, buka! Ini Rano!"

Mauro mematung. "Rano? Dari desa sebelah?"

Ki Surya merapal mantranya lebih cepat. "Jangan buka pintunya!"

"Tapi Ki—"

"Bukan dia! SUARANYA BENAR, TAPI RITMENYA SALAH!"

Pintu digedor keras. Dan suara itu berubah.

"Ki Surya…" Sekarang suaranya serak. Seperti pita suaranya robek. "Saya lihat sesuatu… tolong…"

Mia menutup telinga dan meringkuk. "Sar… Sar... tolong jangan buka…"

Sarah memeluknya erat, menekan wajah Mia ke pundaknya. "Gak ada yang buka. Kita tunggu perintah Ki Surya."

Pintu kembali bergetar lebih kuat. Lalu suara itu berubah total. Suaranya memanjang dan tidak manusiawi.

"Bukaaa…"

Ki Surya menggenggam tongkat kayunya tinggi-tinggi. "Jangan melangkah sedikit pun!"

Lalu tabir garam pecah. Cairan hitam jatuh menetes di tepi lingkar pelindung. Dan sebelum siapa pun sempat bergerak, lampu lilin hitam meledak kecil.

Cahaya padam.

Makhluk itu tertawa.

Dan ruangan tiba-tiba tersentak dalam kegelapan total sekali lagi.