Drama

Mendadak Kawin-Penthouse-Bab 22

27 November 2025

Bunyi beep digital dari kunci pintu penthouse terdengar nyaring di keheningan malam, diikuti dengan desiran halus pintu otomatis yang terbuka.

Sandra melangkah masuk dengan ragu, kakinya yang masih memakai sandal jepit karet murahan terasa tidak pantas menginjak lantai marmer Italia yang dingin dan mengkilap itu. Matanya menyapu sekeliling.

Ini bukan apartemen. Ini istana di atas awan.

Dinding kaca setinggi langit-langit membentang dari ujung ke ujung, menampilkan panorama lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip seperti hamparan berlian di atas beludru hitam. Ruang tamunya saja mungkin tiga kali lipat lebih besar dari seluruh luas kamar kos Sandra. Sofa kulit hitam berbentuk L yang terlihat sangat empuk mendominasi tengah ruangan, menghadap ke televisi layar datar yang ukurannya tidak masuk akal.

“Masuk. Jangan bengong kayak orang ilang,” suara Bisma membuyarkan kekaguman (dan rasa minder) Sandra.

Bisma berjalan melewatinya, melempar kunci mobil ke meja konsol yang terbuat dari kaca tebal. Dia melepas jaket kulitnya sembarangan, menyisakan kaus oblong putih yang sedikit kotor terkena debu jalanan dan darah kering di buku jarinya—sisa perkelahian dengan bodyguard ibunya tadi.

“Ini... rumah lu?” tanya Sandra, suaranya terdengar kecil di ruangan yang luas itu.

“Kandang Komodo,” koreksi Bisma datar. Dia berjalan ke dapur bersih yang dilengkapi island marmer hitam, membuka kulkas dua pintu raksasa, dan mengambil botol air mineral dingin.

“Minum,” Bisma melemparkan botol itu ke arah Sandra.

Sandra menangkapnya dengan canggung. “Makasih.”

“Kamar lu di situ,” Bisma menunjuk sebuah pintu kayu jati tinggi di koridor sebelah kanan. “Itu kamar tamu. Ada kamar mandi dalem. Ada walk-in closet—walaupun gue tau baju lu cuma satu koper.”

Sandra menatap pintu itu, lalu menatap koper bututnya yang tergeletak menyedihkan di lantai marmer. Perbedaan kasta di antara mereka terasa begitu nyata malam ini.

“Bis,” panggil Sandra pelan.

Bisma yang sedang meneguk air, berhenti. Dia menoleh, menatap Sandra dengan mata lelahnya.

“Kenapa? Kurang gede? Mau kamar utama? Itu punya gue, jangan ngelunjak.”

“Bukan,” Sandra menggeleng. Dia meremas botol air di tangannya. “Gue cuma mau nanya... kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa lu bawa gue ke sini? Lu bisa aja taruh gue di hotel. Atau di rumah Doni. Kenapa harus di sini? Tempat pribadi lu?”

Bisma terdiam. Dia meletakkan botol airnya di meja island. Tatapannya melembut, namun ada kepedihan di sana.

“Karena hotel bisa dibeli sama Ibu gue. Rumah Doni bisa digrebek,” jawab Bisma. “Tempat ini... ini satu-satunya aset yang gue beli pake duit gue sendiri, atas nama gue sendiri, sebelum gue masuk manajemen keluarga. Ini satu-satunya tempat di mana Regina Adijaya nggak punya kunci cadangan.”

Bisma berjalan mendekat, berhenti dua langkah di depan Sandra. Dia menatap lebam di pipi Sandra—bekas tamparan ibunya. Tangan Bisma terkepal di sisi tubuhnya, menahan diri untuk tidak menyentuh luka itu.

“Gue bawa lu ke sini bukan karena gue mau macem-macem, San,” lanjut Bisma, suaranya serak. “Gue bawa lu ke sini karena di luar sana... lu mangsa. Dan gue nggak mau liat lu dimakan.”

Sandra menelan ludah. ‘Kenapa dia harus ngomong kayak pahlawan kesiangan sih? Bikin gue susah benci.’

“Tapi kita... kita ini aneh, Bis,” kata Sandra. “Kita musuh. Kita nikah paksa. Dan sekarang... tinggal bareng?”

“Anggep aja survival mode,” kata Bisma, kembali memasang topeng cueknya. “Anggep kita lagi syuting film thriller dan kita harus sembunyi di satu bunker biar nggak dibunuh monster.”

Sandra tersenyum tipis. Analogi yang pas. Monster itu bernama Regina.

“Oke,” kata Sandra. “Tapi gue punya syarat.”

“Dih, numpang kok ngasih syarat,” cibir Bisma.

“Gue nggak mau numpang gratisan. Gue bakal masak. Gue bakal bersih-bersih. Anggep gue... asisten rumah tangga lu yang part time nulis novel.”

Bisma menatap Sandra lekat-lekat. Dia tahu harga diri wanita ini setinggi langit. Sandra tidak akan mau menerima belas kasihan.

“Oke,” setuju Bisma. “Tapi masakan lu harus enak. Kalau nggak enak, gue pecat. Dan satu lagi...”

Bisma berjalan ke laci meja console, mengambil gulungan lakban hitam besar. Dia melemparkannya ke Sandra.

“Batesin wilayah,” kata Bisma.

Sandra menangkap lakban itu, bingung. “Hah?”

“Gue nggak mau barang-barang lu yang 'penuh kenangan' itu berceceran di wilayah gue. Gue nggak mau liat naskah lu di meja makan gue. Dan gue nggak mau liat... lu keluyuran pake anduk doang di ruang tengah.”

Wajah Sandra memerah. “Siapa juga yang mau keluyuran pake anduk?!”

“Jaga-jaga aja,” Bisma mengangkat bahu. “Mulai besok, kita bikin garis bates. Wilayah Komodo, dan wilayah Keong. Jangan sampe ada invasi. Paham?”

Sandra mendengus, tapi dia merasa sedikit lega. Adanya aturan membuat situasi gila ini terasa lebih terkendali.

“Paham, Komodo,” jawab Sandra.

“Bagus. Sekarang masuk kamar. Kunci pintunya. Gue mau tidur. Tangan gue sakit abis nonjok orang.” Bisma memijat buku jarinya yang memar.

Sandra menatap tangan itu. Tangan yang memukul demi melindunginya.

“Bis...”

“Apa lagi? Mau ngucapin selamat malam sambil cium pipi? Nggak usah, makasih.”

“Obatin tangan lu,” kata Sandra pelan. “Kotak P3K di mana?”

Bisma tertegun. “Di laci dapur bawah wastafel.”

Tanpa menunggu perintah, Sandra meletakkan kopernya. Dia berjalan ke dapur, mengambil kotak P3K, lalu kembali ke hadapan Bisma.

“Duduk,” perintah Sandra.

“Gue bisa sendiri.”

“Duduk atau gue injek kaki lu,” ancam Sandra.

Bisma menurut, duduk di kursi bar yang tinggi. Sandra berdiri di antara kakinya (posisi yang sebenarnya intim tapi mereka pura-pura tidak sadar), membersihkan luka di tangan Bisma dengan alkohol dan kapas.

Bisma meringis perih.

“Tahan. Katanya aktor laga,” ledek Sandra, tapi tiupannya di luka Bisma terasa lembut.

Bisma menatap wajah Sandra yang serius mengurus lukanya. Dia melihat bulu mata lentik Sandra. Dia melihat lebam di pipi Sandra yang mulai membiru.

Hatinya sakit.

“Sakit nggak?” tanya Bisma tiba-tiba.

“Apanya? Tangan lu? Ya sakit lah.”

“Pipi lu,” koreksi Bisma. “Bekas tamparan Mama.”

Tangan Sandra berhenti bergerak sejenak. Dia tidak mendongak.

“Lumayan. Tangan Ibu lu... berat. Pantesan dia jadi Ratu.”

“Gue minta maaf,” bisik Bisma.

Sandra mendongak. Mata mereka bertemu. Jarak mereka hanya sejengkal.

“Bukan salah lu, Bis. Ini... resiko jadi istri lu, kan?” Sandra tersenyum getir. “Istri paksaan dari anak konglomerat gila.”

Bisma ingin menyentuh pipi itu. Ingin mengusapnya. Tapi dia menahan diri.

“Udah selesai,” kata Sandra, menempelkan plester terakhir. Dia mundur, menciptakan jarak aman. “Sana tidur. Muka lu jelek kalau kurang tidur.”

Bisma tertawa kecil. “Lu juga. Mata lu kayak panda.”

“Bodo amat.”

Sandra mengambil kopernya dan berjalan masuk ke kamar tamu.

“San,” panggil Bisma sebelum pintu tertutup.

Sandra menoleh.

“Kunci pintunya,” ulang Bisma. “Bukan karena gue bakal masuk. Tapi biar lu ngerasa aman.”

Sandra mengangguk. “Makasih, Bis. Buat... nyelamatin gue.”

“Hm.”

Pintu tertutup. Terdengar bunyi kunci diputar. Klik.

Bisma menghela napas panjang di ruang tengah yang sunyi. Dia melihat tangan kanannya yang diperban.

Dia sendirian lagi. Di istana megah yang dingin ini. Tapi malam ini, rasanya sedikit berbeda. Karena di balik pintu kayu itu, ada seseorang. Seseorang yang keras kepala, menyebalkan, tapi entah kenapa membuat rumah ini terasa lebih... hidup.

“Selamat datang di neraka, Sandra,” gumam Bisma.