Drama

Mendadak Kawin-Survival Mode-Bab 23

27 November 2025

Pagi harinya, perang "Operasi Selotip" dimulai.

Sandra bangun pukul 6 pagi. Dia tidak bisa tidur nyenyak di kasur king size yang terlalu empuk itu. Dia merindukan kasur busa tipisnya—tidak, dia bohong. Kasur ini enak sekali.

Sandra keluar kamar, siap melaksanakan tugasnya sebagai "asisten rumah tangga".

Tapi dia disambut dengan pemandangan aneh.

Lantai ruang tengah penthouse itu penuh dengan garis-garis lakban hitam.

Garis itu membelah ruang tamu menjadi dua. Membelah meja makan. Bahkan membelah karpet bulu mahal.

Bisma sedang berjongkok di dekat kulkas, menempelkan lakban vertikal di pintu kulkas.

“Lu ngapain?” tanya Sandra, melongo.

Bisma menoleh. Dia sudah mandi, segar, dan wangi. Memakai celana training dan kaus sleeveless yang memamerkan otot lengannya.

“Bagi wilayah,” jawab Bisma santai. Dia menunjuk sisi kiri kulkas. “Rak kiri punya lu. Rak kanan punya gue. Jangan sampe telor lu nyebrang ke rak gue.”

“Lu gila? Kulkas dibagi dua? Terus freezer-nya gimana?”

“Freezer zona netral. Buat es batu sama es krim. Siapa cepet dia dapet.”

Sandra memijat keningnya. “Bis, lu umur berapa sih? Lima tahun?”

“Ini penting, San. Biar nggak ada sengketa lahan,” kata Bisma serius. Dia berdiri, menunjuk garis di lantai ruang tengah. “Itu bates suci. Sisi sofa yang deket jendela itu spot baca skrip gue. Lu nggak boleh duduk di situ. Sisi yang deket dapur, itu wilayah lu. Lu boleh nulis novel menye-menye lu di situ.”

“Novel gue nggak menye-menye! Itu best seller!” protes Sandra.

“Terserah. Pokoknya jangan berisik di jam reading gue.”

“Terus kamar mandi tamu?” tanya Sandra.

“Itu teritori lu mutlak. Gue punya kamar mandi di kamar gue. Tapi inget...” Bisma menunjuk pintu kamar utamanya. “Pintu itu... Forbidden City. Kota Terlarang. Jangan pernah masuk ke sana tanpa izin tertulis, materai 6000, dan tanda tangan gue.”

“Dih! Siapa juga yang mau masuk sarang Komodo? Bau naga!” cibir Sandra.

“Bagus. Kesepakatan sah.”

Sandra geleng-geleng kepala. Pria ini benar-benar ajaib. Di luar dia terlihat dingin dan berwibawa, di rumah dia seperti anak TK yang posesif sama mainannya.

“Sekarang, mana sarapan gue? Katanya mau masak,” tagih Bisma, duduk di kursi bar (sisi kanan, wilayahnya).

Sandra mendengus. Dia berjalan ke dapur (wilayah netral). Dia membuka kulkas.

Isinya menyedihkan. Hanya ada air mineral, beberapa butir telur, saus sambal, dan... selai kacang yang sudah kadaluarsa.

“Bis...”

“Apa?”

“Lu orang kaya, kan?”

“Iya. Kenapa?”

“Kulkas lu isinya kayak kulkas anak kos akhir bulan. Lu makan apa tiap hari? Angin?”

“Gue sibuk. Gue makan di lokasi atau pesen delivery,” jawab Bisma defensif.

“Oke. Berarti tugas pertama gue bukan masak. Tapi belanja,” kata Sandra. “Mana duitnya?”

“Pake duit lu dulu, nanti gue ganti reimburse,” canda Bisma.

“Enak aja! Gue miskin gara-gara dipecat Nadine secara tidak langsung!”

Bisma tertawa. Dia mengambil dompetnya yang tergeletak di meja, mengeluarkan kartu kredit black card miliknya.

“Nih. Pake ini. Beli apa aja yang lu butuh. Penuhin kulkas. Beli baju ganti buat lu juga. Gue nggak mau liat lu pake daster itu tiap hari. Sakit mata gue.”

Sandra menatap kartu hitam mengkilap itu. Kartu yang limitnya mungkin bisa buat beli harga diri Sandra.

“Lu... percaya sama gue? Megang kartu ini?” tanya Sandra ragu.

“Pin-nya tanggal jadian kita dulu,” kata Bisma santai, lalu meminum kopinya.

DEG.

Sandra membeku. Jantungnya berdegup kencang.

“Hah?”

Bisma tersedak kopinya sendiri. Wajahnya memerah. Dia sadar dia baru saja kelepasan ngomong.

“Maksud gue... tanggal... tanggal... ah elah! Iya! Tanggal itu! Gue males ganti pin dari jaman kuliah! Jangan GR lu!” Bisma salah tingkah, memalingkan wajahnya yang merah.

Sandra menahan senyum. Hatinya menghangat.

“Oke. Gue belanja,” kata Sandra, mengambil kartu itu. “Awas lu kaget liat tagihannya. Gue bakal beli semua jenis ikan asin di supermarket.”

“JANGAN BAWA IKAN ASIN KE PENTHOUSE GUE!” teriak Bisma saat Sandra berlari kecil menuju kamarnya untuk ganti baju.

Pagi itu, di tengah garis-garis lakban hitam yang memisahkan mereka, ada jembatan kecil yang mulai terbangun kembali. Jembatan yang terbuat dari kenangan tanggal jadian dan kepercayaan berupa kartu kredit.


Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Siang harinya, saat Sandra sedang asyik belanja di supermarket mewah di bawah penthouse (memakai masker dan topi agar tidak dikenali), ponselnya bergetar.

Panggilan video. Dari Nia.

Sandra mengangkatnya. Wajah Nia terlihat panik di layar.

“Sandra! Kamu di mana? Sama Bisma nggak?”

“Nggak, Mbak. Saya lagi belanja. Bisma di unit. Kenapa?”

“Pulang sekarang. Nyalain TV. Buka berita infotainment.”

“Kenapa, Mbak? Ada apa?”

“Nadine,” desis Nia geram. “Si Ular itu mulai bergerak. Dia nggak nyebarin video ciuman kalian. Dia ngelakuin sesuatu yang lebih licik.”

“Apa?”

“Dia bocorin ke akun gosip kalau kamu... punya penyakit menular yang berbahaya. Dan karena kamu deket sama Bisma... sekarang orang-orang spekulasi kalau Bisma juga kena.”

“APA?!” Sandra menjatuhkan keranjang belanjaannya. Jeruk menggelinding ke mana-mana.

“Penyakit apa?!”

“Dia nggak nyebut spesifik. Cuma bilang 'penyakit kotor'. Netizen langsung liar, San. Mereka bilang kamu bawa sial. Kamu bawa penyakit buat Pangeran mereka.”

Sandra lemas. Lututnya gemetar.

Ini serangan ke karakter. Pembunuhan karakter yang keji. Nadine tidak menyerang dengan fakta pernikahan, tapi dengan fitnah yang menjijikkan.

“Dan yang paling parah,” lanjut Nia, suaranya merendah. “Wartawan sekarang lagi ngepung lobi apartemen Bisma. Mereka tau kamu di sana. Nadine bocorin kalau kamu 'dikarantina' sama Bisma.”

Sandra menatap pintu keluar supermarket. Di luar kaca, dia melihat kerumunan orang dengan kamera berlari ke arah lobi apartemen.

Dia terjebak.

“Mbak... saya harus gimana? Saya nggak bisa naik. Lobi penuh.”

“Jangan lewat lobi! Ada pintu belakang buat staf. Bisma pasti tau. Telepon dia! Cepet!”

Sandra mematikan telepon. Dia mencoba menelepon Bisma.

Tidak diangkat.

Sekali lagi.

Tidak diangkat.

“Sialan! Bisma! Angkat dong!”

Sandra tidak tahu, di penthouse lantai 50, Bisma sedang mandi (di kamar mandinya sendiri), bernyanyi keras-keras, tidak mendengar ponselnya yang berdering di meja ruang tamu yang dibelah lakban.

Sementara di luar, di tengah kerumunan wartawan, Nadine berdiri dengan kacamata hitam, tersenyum pada kamera.

“Saya cuma prihatin sama Bisma,” kata Nadine pada wartawan, memasang wajah sedih yang sempurna. “Dia terlalu baik. Dia nggak tau kalau Sandra itu... yah... punya riwayat kesehatan yang kurang baik. Saya cuma takut Bisma ketularan.”

Lampu kilat menyala. Berita itu tersebar detik itu juga.

Reputasi Sandra hancur. Dan Bisma, yang tidak tahu apa-apa, sedang bersiul di kamar mandi, mengira hari ini akan damai.

Sandra, sendirian di parkiran basement, memeluk kantong belanjaannya yang berisi bahan makanan untuk "suaminya". Air matanya menetes.

‘Lu bener, Bis. Ini survival mode. Dan monsternya... baru aja ngeluarin taringnya.’