His Contract Bride - Lawan Seimbang Kael Vireaux - Bab 26

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

Ezra tak hanya bicara omong kosong saat mengatakan menyimpan bukti bahwa dirinya juga merupakan seorang Vireaux. Karena Kael menolak untuk pergi ke rumah Ezra yang berada di kawasan yang tidak jauh dengan villa milik orang tua Luther, pria bermata hijau zamrud itu membawa sertifikat kelahirannya ke villa.

Selembar kertas tebal masih terselip di tangan Kael. Keasliannya, sangat sulit untuk diragukan. Hasil tes DNA pun disertakan dengan hasil 99.9% memiliki kesamaan dengan Lucien Vireaux.

“Tidak mungkin.” Kael bergumam pelan.

Alis Ezra mengedik cepat, seolah ia sudah bisa memprediksi reaksi dari Kael.

“Aku tidak pernah berniat untuk mengklaim diriku sebagai bagian dari Vireuax, Brother. Tapi aku juga butuh bukti yang kuat kalau-kalau… aku harus membuktikan siapa diriku sebenarnya.” Ezra menghela napasnya berat. “Hidup sebagai anak haram, bukankah itu hal yang paling berat? Terlebih hasil dari skandal besar Lucien Vireaux dan Isabelle Lambert.”

Di sebelah Kael, Aurora mengejang. Semua informasi ini terlalu berlebihan untuknya. Selama ini… benar ia menginginkan sosok saudara, tapi bukan berarti datang begitu saja dengan hasil dari perselingkuhan ibunya.

Sial, bahkan Isabelle saja tak pernah mengakui Aurora sebagai anaknya.

“Amber girl, kita ini senasib.” Ezra mengarahkan pandangannya.

Aurora memperhatikan sinis laki-laki itu. Sekilas memang ia tampak lebih muda darinya—dari cara bicara dan pembawaannya pun cocok sekali untuk menjadi seorang berusia di bawahnya. Garis wajahnya, jika diperhatikan hampir serupa dengan Kael, hanya Ezra terlihat jauh lebih muda.

Mungkinkah Ezra benar-benar adik Kael? Well… adik mereka berdua.

“Kenapa dari tadi kau menyebutnya seperti itu?” Kael mendesis, tak senang. Sikap protektifnya semakin tebal.

Ezra tertawa mendengarnya, seolah menertawakan sikap dasar Kael yang sulit untuk santai. Aurora sedikit takjub dengan dua kepribadian berbeda di dalam ruangan ini—yang sedang berdebat hanya karena satu nama panggilan.

“Karena matanya berwarna amber. Kau selama ini melewatkan hal paling cantik di wajah istrimu?” Ezra, dengan mulut berdosanya.

Rahang Kael kembali mengencang. Jelas ia telah menatap mata indah itu ribuan kali—bahkan pada setiap ekspresi yang telah diberikan padanya—Ucapan bocah tengil itu membuatnya meluap. Jika saja ia tak mengingat tentang reputasinya yang harus dijaga, mungkin satu pukulan telah melayang pada wajah tengilnya.

“Biasanya aku tidak akan segan mencongkel mata yang menikmati milikku dengan sangat kurang ajarnya.” Kael menekankan kalimat itu dengan dingin dan tegas.

Ezra mundur selangkah, mengangkat kedua tangannya sampai batas dada sambil menyeringai tipis. “Relax, Brother. Ucapanmu sungguh kompak dengan wajahmu.”

Alis Kael berkedik cepat. “Apa maksudmu?”

“Tajam, tidak berperasaan.” Ezra kembali menarik satu sudut bibirnya, seolah menikmati respons yang diberikan Kael.

Aurora tidak ingin menyela perdebatan itu. Cukup menghibur saat mendengar dua pribadi yang berbeda sedang berdebat hanya karena hal sepele. Terutama bagi Kael. Pria itu tampaknya mendapatkan lawan yang seimbang—yang tidak takut pada sorot dinginnya.

Sementara Kael dan Ezra terus berdebat, Aurora mundur dan masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepi kasur, memperhatikan ranting meranggas yang berayun pelan dari balik kaca jendela yang mulai mengembun. Gelap, tapi ia masih bisa melihatnya.

Meskipun bukti yang ditunjukkan oleh Ezra sudah cukup kuat, tapi entah kenapa rasanya ada yang sedikit aneh. Kenapa tempat tinggalnya bisa berada di kawasan yang sama dengan villa milik orang tua Luther? Kebetulan itu tidak selalu terjadi di dunia nyata, benar? Dan itu sedikit terlalu… fairy tale.

Menemukan saudara kandung di tengah persembunyian. Aurora memutuskan untuk tidak terlalu memercayainya.

Pintu dibuka perlahan. Kael masuk dengan wajah mengerut. Aurora terkekeh melihatnya. Jelas suaminya tersebut tidak sedang dalam situasi hati yang baik.

“Dia sudah pergi?” Aurora berdiri, lalu memeluk pria itu erat.

Kael menghela napasnya, seolah menemukan oase dalam badai emosi yang baru saja terjadi. “Sudah, tapi sepertinya dia akan kembali mengganggu kita.”

Aurora mendongak, menyipitkan sebelah matanya. “Dari mana kau tahu?”

Helaan napas Kael terasa berat. “Dia mengatakan, ‘see you in breakfast’ lalu pergi begitu aja.”

Desahan frustrasi lolos dari bibir Aurora. “Bukankah dia terlalu…. mudah bergaul?”

Kael mengangguk pelan. Rahangnya kembali mengencang. “Aku alergi dengan manusia seperti itu.”


Paginya…

Ezra benar-benar datang!

Ia membawa satu loyang salad kentang dan senyuman lebar. Aurora sedikit ragu dengan apa yang harus ia lakukan, tapi laki-laki itu sudah menerobos masuk tanpa permisi.

“Hey!”

Tentu saja Ezra tidak menanggapi seruan Aurora. Namun dengan cepat, satu tangan besar menjepit leher Ezra tanpa ampun. Urat yang menonjol dari lengan itu, menandakan bahwa Kael tidak main-main dengan serangannya.

“Bro…the…r….”

“Aku bisa membunuhmu dalam sekali gerakan. Apa yang kau lakukan?!” geram Kael.

“Kael, jangan.” Aurora menggelengkan kepala, tidak ingin situasinya menjadi lebih buruk lagi.

“A–aku… hanya mau sa…ra…pan bersama k-kalian.” Susah payah Ezra mengeluarkan kalimatnya karena lengan Kael masih memiting lehernya kencang.

“Kael, lepas!” Aurora mulai panik. “Jangan sampai kau membunuhnya.”

Kael menoleh cepat, protes dengan sorot matanya.

“Well, setidaknya…. jangan bunuh dia di sini. Kita tidak mau membuat villa orang tuanya Luther jadi lokasi pembunuhan.”

Kael melepas lengannya, membuat Ezra terbatuk-batuk. Tangannya menunjuk ke arah Kael dan Aurora bergantian. “Wah! Kalian benar-benar kejam!” Dia terbatuk lagi. “Walaupun aku baru muncul, tapi aku ini adik kalian.”

Kael hampir mengunci leher Ezra lagi saat Aurora menariknya cepat.

“Kael, hentikan. Aku tidak mau kau kena masalah hanya karena dia,” ujarnya, sambil menatap tajam pada Ezra yang kembali menodongkan loyangnya.

“So, kita bisa sarapan bersama, kan?” Senyum lebar itu, terlihat tulus.

Namun, kecurigaan yang besar masih tak bisa ditepis dari prasangka Kael dan Aurora. Kehadiran Ezra yang tiba-tiba, jelas menciptakan banyak pertanyaan di antara keduanya.

Kael berdecak kasar, suaranya nyaris seperti geraman. “Ok, kita sarapan.”

“Yes!” Ezra meninju udara dengan penuh semangat. Ia lalu berjalan cepat ke arah meja makan dan meletakkan loyang itu di sana. “Kalian tahu? Aku selalu ingin melakukan hal seperti ini. You know… makan bersama keluarga.”

Kael dan Aurora saling menatap. Makan bersama keluarga? Hal itu pun tidak pernah mereka lakukan dengan benar sebelumnya. Jika memang benar Ezra adalah saudara kandung mereka, well… kutukan keluarga ini begitu mengerikan—memiliki keluarga, tapi tak pernah benar-benar memilikinya.

“Selama ini kau tinggal di sini sendiri?” Aurora tak bisa menahan rasa penasarannya.

Ezra memiringkan kepalanya sejenak dengan memutar kedua matanya. Aurora terkejut. Gerakan itu, adalah kebiasaan Isabelle yang ia rekam setiap kali wanita itu merasa tidak ingin membicarakan sesuatu, tapi harus mengatakannya.

“Hampir sepanjang waktu.” Ezra menghela napas panjang. “Aku sebenarnya tidak ingin membicarakan hal ini, tapi kalian pasti akan bertanya, kan?”

Aurora membeku. Benar. Ezra sedang merasakan hal yang serupa. Bagaimana bisa laki-laki itu juga memiliki gestur yang sama dengan ibunya?

Kael tak benar-benar mendengarkan. Ia hanya menuruti ucapan Aurora untuk tidak membuat masalah.

“Dari kecil aku sudah dibawa kesini. Ingatanku hanya sampai aku berada di sini. Sebelum itu, aku tidak begitu mengingatnya. Yang jelas, aku sempat bersama dengan mom sebelum dia meninggal.”

“Mom?” ulang Aurora.

Ezra mengangguk. “Iya, Isabelle, ibu kita berdua. Beberapa bulan sebelum mom meninggal, dia mendatangiku di sini, tinggal di sini bersamaku dan menceritakan sedikit tentang kalian berdua.”

“Apa yang terjadi setelahnya?” Aurora mulai terpancing rasa penasaran.

“Suatu hari dia pamit pergi ke Vallmont, dan tidak kembali selama beberapa hari sampai aku tahu beritanya tentang Isabelle Lambert yang kembali pada mantan suaminya, Matthew Vallen dan berakhir dengan tewas mengenaskan.”

Aurora terdiam. Ia tak pernah memperhatikan bagaimana ritme kehidupan ibunya selama ini. Bahkan ketika Isabelle memutuskan untuk kembali dengan Matthew, ada beberapa kali ibunya itu menghilang beberapa lama dengan pria lain dan kembali lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sampai akhirnya… wanita itu tewas mengenaskan.

Kael yang menyadari perubahan emosi dari istrinya, ikut memusatkan perhatiannya pada percakapan itu. Tatapan awas tetap tertuju tiap Ezra mengubah posisinya.

“Apa mom mengakuimu sebagai anak?” Aurora kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih berhati-hati.

Pertanyan membuat Ezra tersenyum getir. Ia memainkan garpu di atas piring, sebelum kembali mendongak dengan cengiran lebarnya yang khas. “Kurasa, itu lebih pada hanya karena aku satu-satunya yang bisa dia dekati waktu itu.”

Aurora mengerutkan keningnya, meraba-raba maksud dari ucapan Ezra.

“Mom terlalu malu padamu. Dia menyayangimu, tapi tidak memiliki muka lagi untuk menghadapimu. Dan aku, hanya seorang anak haram yang setiap hari menanyakan kapan dia pulang. Jadi, kurasa karena itulah… pada akhirnya dia tinggal bersamaku beberapa waktu.” Nada bicara Ezra sedikit pecah, seakan tidak ada kebohongan sedikit pun di dalamnya.

Aurora menunduk, emosinya mulai menguasai. Tanpa mengalihkan pandangannya, ia kembali berkata, “Kalau begitu, ceritakan padaku lebih banyak lagi tentang mom.”

Ezra tersenyum. Matanya berkilat sepintas, tapi dengan cepat berganti dengan senyum yang lebih lebar. “Tentu saja, Rora. Kau mau aku cerita dari mana?”