Kegelapan itu seperti menelan seluruh dunia sekaligus. Tidak ada cahaya. Tidak ada arah. Hanya suara napas mereka yang kacau dan tawa makhluk itu yang menggores udara seperti kuku yang menggores logam.
Mia menjerit tanpa suara, tubuhnya memeluk Sarah erat seakan kalau ia melepaskan sedikit saja, dunia akan runtuh. Sarah menutup mata kuat-kuat, mencoba mengingat bahwa masih ada Ki Surya. Bahwa mantra tadi mungkin belum benar-benar runtuh. Bahwa mereka masih punya waktu beberapa detik untuk tetap hidup.
"Semua diam!" Ki Surya memerintah dalam gelap. Suaranya patah, tetapi tetap tegas. "Dia masih butuh celah untuk masuk. Selama kalian tidak memberikan itu, dia tidak bisa menyentuh kalian!"
"Tapi lilinnya mati!" Mauro berseru, hampir tak terdengar. "Ki, kita butuh cahaya!"
"Aku tahu," jawab Ki Surya, napasnya terdengar memburu. "Jangan panik. Jangan beri dia celah. Jangan beri dia suara yang bisa diikuti."
Tawa makhluk itu berhenti tiba-tiba. Digantikan suara berbisik kecil. Sangat kecil. Seperti seseorang menyentuh lantai dengan ujung rambutnya.
**Ssssrk…
Mia mengejang. "Sar… Sar… dia di bawah kita…"
Sarah menggenggam lengan Mia lebih kuat, berusaha menemukan kalimat yang bisa menenangkan, tapi otaknya kosong. Kosong oleh ketakutan yang mengalir sampai ke tulang.
Lalu—
**BRAK!
Sesuatu menghantam sisi ruangan. Bukan pintu, bukan dinding, lebih seperti makhluk itu menabrakkan seluruh tubuhnya untuk mencari retakan terakhir. Celah yang ia cari.
Gina menahan napas, suaranya pecah. "Ki… kita harus kabur… kita gak bisa di sini…"
"Tidak." Ki Surya menahan mereka. "Kalau kalian bergerak, dia bisa merasakan pergeseran udara. Pada kondisi gelap seperti ini, itu lebih buruk daripada membuka pintu."
Semuanya terdiam.
Lalu, hening.
Sunyi.
Dan tiba-tiba…
Cairan hitam di meja bergerak.
Sarah mendengar suara itu, suara basah kecil, seperti sesuatu yang sedang merayap naik. Ia refleks menarik Mia mundur sedikit. "Ki… cairannya bergerak…" Suaranya nyaris tidak keluar.
"Aku tahu. Jangan sentuh apa pun."
"Ki," Mauro memanggilnya, kali ini benar-benar terdengar ketakutan. "Kalau cairannya sampai jatuh ke lantai… apa kita—"
"Kita mati," Ki Surya memotong cepat.
Semua orang membeku. Tidak ada yang bernapas terlalu keras. Tidak ada yang berani bergerak.
Kemudian, dari kegelapan paling dekat dengan mereka, terdengar suara lain.
**Krekkk…
Plafon.
Seperti ada sesuatu yang merayap turun dari atas.
Mia menjerit dan menutup telinga. "Sar… dia turun… dia turun…"
Sarah memeluknya erat, punggungnya menegang hingga terasa sakit. "Mia… fokus sama suara gue. Jangan dengerin yang lain."
"Gimana caranya?! Suaranya ada di mana-mana!"
Benar. Suaranya seolah datang dari setiap arah, seperti ruangan itu berkubah dan makhluk itu berjalan di balik dindingnya.
**Tek.
**Tek.
**Tek.
Kali ini suara kuku itu sangat dekat.
Ki Surya akhirnya bergerak, merogoh sesuatu dari saku jubah tuanya, sebuah batu kecil yang memancarkan cahaya merah samar.
Sarah menahan napas.
Batu itu menyala pelan, cukup untuk memperlihatkan wajah Ki Surya yang basah oleh keringat dingin.
"Ki, itu apa?" tanya Mauro.
"Batu penanda," Ki Surya membalas pendek. "Kalau ini redup… berarti dia sudah masuk."
Cahaya batu itu bergetar. Menjadi lebih redup.
Dingin merayap dari lantai, dari dinding, dari langit-langit, seperti makhluk itu kini berada di tengah-tengah mereka.
Gina memeluk Mauro sambil menangis. "Ki… batu itu redup… Ki…"
Ki Surya menelan ludah, suaranya pecah. "Tetap diam. Dia belum menembus lingkar. Dia hanya… sangat dekat."
Tiba-tiba, udara di depan mereka berubah. Seolah ada sesuatu yang lewat, menggeser angin dengan gerakan perlahan tapi pasti.
Sarah tahu itu bukan manusia. Bukan hewan. Dan bukan sesuatu yang pernah mereka lihat seumur hidup. Ia memejamkan mata rapat-rapat.
"Aku bisa lihat kalian…" Suara makhluk itu berdesah, samar tapi jelas.
Mia tertunduk, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.
"Ki…" Sarah berbisik. "Lakukan sesuatu…"
"Aku sudah coba…" Ki Surya menggertakkan gigi. "Tapi dia terlalu kuat. Cahaya lilin lain tidak akan mampu—"
Lalu, seolah dunia menelan napasnya sendiri, semua suara berhenti. Termasuk suara makhluk itu.
Cahaya batu di tangan Ki Surya perlahan padam.
"Ki…?" Mauro memanggilnya, suaranya sangat kecil. "Kenapa… kenapa dia diam?"
Ki Surya tidak menjawab.
Sarah merasa seluruh tubuhnya membeku. "Ki… makhluk itu pergi?"
"Tidak," Ki Surya membalas dengan bisikan. "Dia sedang memilih."
"Memilih? Lagi? Bukannya tadi Ki Surya bilang kami berdua sudah ditandai?"
"Betul. Lebih tepatnya, dia sedang… memutuskan untuk memilih siapa di antara kalian yang paling mudah."
"Maksud Ki Surya? Paling mudah untuk... apa?"
Ki Surya tidak menjawab. Dan diamnya Ki Surya, membuat Mia gemetar.
Sarah memeluknya, menempelkan pipinya ke kepala Mia. "Gak apa-apa…semuanya bakal baik-baik aja."
Tiba-tiba, seperti seseorang meniupkan angin dari balik lembah, semua hawa dingin itu hilang. Begitu saja.
Dan tak lama kemudian, dari luar rumah, terdengar kicauan burung dan ayam berkokok. Tanda pagi telah tiba.
Sarah membuka mata.
Makhluk itu tidak lagi ada. Cairan hitam di meja mengering seperti abu. Tabir garam yang tadi retak… kini hanya tersisa debu tipis.
Mauro adalah orang pertama yang bersuara, nadanya terdengar seperti seseorang yang baru kembali dari ambang kematian. "Ki… dia… dia pergi?"
Ki Surya menutup mata, menarik napas dalam. "Pagi memaksa dia kembali ke tempatnya. Untuk sementara."
Mia langsung ambruk di lantai, menangis keras. Sarah merangkulnya, ikut gemetar.
Gina membungkuk, memegangi tubuhnya yang masih goyah. "Ki… apa sekarang kita aman?"
Tidak ada yang siap untuk jawaban Ki Surya.
Tidak satu pun.
Ki Surya berdiri perlahan, wajahnya pucat, bukan hanya karena kelelahan, tapi ketakutan yang sengaja ia sembunyikan sejak malam itu dimulai. "Aku tidak bisa membantu kalian lagi."
Mauro menatapnya tidak percaya. "Apa maksud Ki Surya? Kita baru saja selamat dari makhluk itu yang hampir masuk, dan sekarang Ki Surya bilang… Ki Surya gak bisa bantu?!"
Ki Surya menggeleng pelan. "Makhluk itu sudah berada di level yang tidak lagi bisa aku hadapi sendirian. Dia terlalu kuat. Terlalu lapar. Dan… jejak takdir itu sudah berubah terlalu jauh."
Sarah merasa jantungnya berhenti. "Maksud Ki Surya… kita harus pergi dari sini?"
"Kalian harus pergi," Ki Surya mengulang. "Sebelum matahari terbenam nanti. Rumah ini tidak akan bisa menahan serangannya lagi malam berikutnya."
Mia berhenti menangis. "Ki… tapi kalau kita keluar… kita makin gampang dikejar dan jadi target…"
"Aku tahu," Ki Surya menjawab dengan suara yang sangat pelan. "Tapi kalau kalian tetap di sini… dia pasti menang dan kejadian terburuk akan menimpa kita semua."
Mauro menatapnya lama. "Jadi… kita harus ke mana?"
Ki Surya menunduk. "Aku tahu satu tempat. Tapi… perjalanannya tidak akan mudah."
Sarah memaksa tubuhnya tegak. "Di mana, Ki?"
Ki Surya menatapnya. Mata tuanya bergetar. "Ke tempat di mana takdir itu pertama kali tercipta. Ke tempat di mana cermin kematian itu pertama kali ada."
Sarah merasakan punggungnya merinding. Ia bergumam, "Indahpura."
"Dan sebelum kalian pergi… ada satu hal yang harus kalian tahu…" Ki Surya berjalan mendekat. Ia menatap Mia. "Makhluk itu… sekarang sudah memilih."
Mia memucat, suaranya gemetar. "S-siapa, Ki?"