"Bos, kita sudah sampai," kata William.
Tanpa disadari, mobil yang dikemudikan William telah membawa Henry ke kantor. Henry sedang melamun, sehingga ia tidak tahu bahwa kendaraan yang ia tumpangi telah berhenti di depan kantor.
Lamunan Henry buyar seketika. CEO BARA Corporation itu keluar terlebih dahulu tanpa menunggu William membukakan pintu. Henry berjalan dengan cepat, masuk ke dalam gedung, diikuti oleh William di belakangnya.
Beberapa staf menyambut Henry dengan anggukan kepala penuh hormat. Henry membalasnya dengan lirikan mata. Kemudian, mereka memasuki lift khusus.
William tidak masuk ke dalam ruang kerja CEO karena pekerjaannya sudah menumpuk sejak ia pergi menemani Henry menunggu Alana pulang sekolah. Namun, baru beberapa menit berlalu, Henry sudah memanggilnya.
"Halo, Bos. Ada apa?" William bertanya.
"Datanglah ke kantorku sekarang juga. Ada yang ingin aku tanyakan," perintah Henry.
"Baik, Bos. Saya akan segera ke sana." Panggilan telepon pun berakhir.
William memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Ia berjalan cepat menuju ruangan Bosnya, yang berada di lantai yang sama dan tidak jauh dari ruangannya.
William mengetuk pintu dua kali. Dia masuk setelah mendengar seruan dari dalam. William berjalan cepat dan berdiri di depan meja bosnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bos?" tanyanya.
"Mengapa kamu hanya berdiri di sana? Duduklah!" perintah Henry.
"Baiklah." William duduk di kursi di depan meja CEO. Dia khawatir Bosnya akan menanyakan tentang Alana lagi.
Henry meletakkan bolpoin di samping map-map di atas meja. Kemudian dia menatap William dengan tajam.
"Aku ingin memastikan. Apakah benar yang kamu lihat tadi adalah Sonya? Apakah dia benar-benar mengikuti kita di sekolah Alana?" Henry bertanya, ingin memastikan bahwa dia bisa lebih tegas pada tunangannya.
Jantung William sempat berhenti berdetak selama sepersekian detik. Namun, William menjawabnya dengan tenang meski penuh dengan kebohongan.
"Iya, Bos." William menjawab tanpa ragu-ragu.
Henry menyipitkan matanya. "Bagaimana kamu tahu itu Sonya?" Henry menuntut lagi.
"Sejak awal, mobil itu sudah menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, Bos." William berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Kalau itu orang tua murid, kenapa mereka pergi saat mobil kita pergi? Belum ada anak-anak yang masuk ke dalam mobil. Jika mobil itu searah dengan kita, mengapa mobil itu juga berhenti di depan sekolah Alana dan terus mengikuti kita saat saya berputar untuk mengecohnya?"
Henry mencerna penjelasan asistennya. Apa yang dikatakan William sangat masuk akal. Tidak mungkin itu hanya kebetulan. Ia juga sempat memerhatikan kalau mobil di belakangnya selalu mengikutinya, bahkan sampai depan kantor.
"Mengingat Nona Sonya yang mengirim Nani sebagai mata-mata di rumah Bos, masuk akal kalau Nona Sonya juga punya andil dalam melakukan hal seperti ini," lanjut William.
"Maaf kalau saya lancang, Bos." William menoleh ke arah Henry. "Lebih baik kalau Anda tidak akan menemui Alana di sekolahnya lagi."
"Apa maksudmu, kenapa kamu melarangku?" protes Henry.
"Tolong jangan salah paham, Bos." William menyela, lalu menambahkan, "Akan sangat berbahaya bagi Alana jika Nona Sonya tahu bahwa Anda sangat memperhatikan anak itu. Saya juga khawatir tunangan Anda akan mengetahui bahwa Alana adalah putri Nyonya Amanda."
Henry terdiam dan mendengarkan penjelasan William hingga akhir. Dia telah ceroboh karena tidak memikirkan keselamatan Amanda dan Alana.
"Saya berjanji, saya akan mengatur pertemuan antara Bos dan Alana. Tapi, Anda harus mengikuti instruksi saya. Bagaimana, Bos?" William memberikan penawaran kepada bosnya.
Henry memikirkan kata-kata William. Henry juga khawatir Sonya akan menyakiti Alana yang tidak tahu apa-apa. "Aku menunggu janjimu, Willy."
"Saya akan memenuhi janji, Bos," kata William, "Anda tak ingin Alana terluka, kan?" William mencoba membujuk Henry lagi.
"Baiklah, aku serahkan masalah ini padamu." Henry akhirnya menyerah. Apa yang dikatakan William memang benar. Ia juga harus memikirkan Alana dan Amanda. Jangan sampai keegoisannya mencelakakan orang-orang yang dicintainya.
Malam harinya, di kediaman Henry, pembantu baru bernama Nani sedang menelepon seseorang di tempat yang sepi.
"Ya, Nona, saya akan mencari tahu dan melapor nanti."
Tepat setelah dia mengatakan bahwa panggilan telepon terputus, Nani langsung menghela napas lega. Matanya tampak terpejam sejenak sambil menggenggam erat ponselnya.
"Ini benar-benar situasi yang sulit," gumamnya lirih dengan sedikit rasa frustrasi.
Wanita itu meletakkan ponselnya kembali di atas meja dan keluar dari kamarnya. Hari sudah mulai malam, yang berarti para pelayan lainnya sudah beristirahat. Nani melangkah dengan gontai di lorong kamar pelayan yang ditempatinya.
"Nani!" panggil Pak Jo.
Saat kakinya melangkah keluar dari pintu, sebuah sapaan keras mengagetkan Nani. Ia hampir menjerit, tapi untungnya tangannya cepat-cepat menutup mulutnya. Melihat siapa yang berdiri di depannya membuat Nani menghela napas dengan kasar.
"Pak Jo, Anda mengagetkan saya," keluh Nani dengan wajah sedikit pucat sambil memegangi dadanya. "Saya gemeteran, Pak Jo."
"Apa yang sedang kamu lakukan? Mau ke mana malam-malam begini? Kenapa kamu tidak istirahat?" tanya Pak Jo berbalik menatap Nani tajam. Ia curiga Nani akan melakukan hal yang melanggar peraturan rumah itu.
"Sebenarnya, saya baru saja mendapat kabar terbaru dari Nona Sonya. Saya ingin melaporkannya kepada Tuan Henry," jawab Nani, "saya tidak bisa menunggunya sampai esok."
"Sekarang? Sudah malam!" Pak Jo mengerutkan alisnya, membuat kerutan di wajah tuanya semakin terlihat jelas. "Tuan Henry pasti sudah tidur," tambahnya.
"Lalu bagaimana, Pak Jo?" tanya Nani bingung.
"Laporkan saja kepada Tuan William, biar dia yang mengurusnya dan melaporkannya kepada Tuan Henry besok," kata Pak Jo memberi solusi.
Senyum Nani mengembang. "Lalu di mana dia sekarang, Pak Jo?" tanya Nani, "saya khawatir lupa jika menundanya."
"Ikuti saya!" perintah Pak Jo. Dan langsung berbalik badan dan meminta Nani untuk mengikutinya. Mereka berjalan ke depan rumah, melewati taman yang terlihat gelap gulita di malam hari. Sesampainya di halaman depan, Pak Jo berhenti berjalan.
"Tunggu di sini, Tuan William akan segera datang-"
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya William, memotong ucapan kepala pelayan di rumah bosnya.
Sebelum Pak Jo sempat menyelesaikan kalimatnya, orang yang ditunggunya tiba-tiba muncul. William berjalan dari pintu utama, membawa tas kerja dan bersiap untuk pergi.
Pak Jo dan Nani secara refleks membungkuk hormat.
"Selamat malam, Tuan William. Maaf mengganggu waktu Anda sebentar, Nani bilang ada yang ingin disampaikan," kata Pak Jo menanggapi pertanyaan William.
William mengernyitkan dahinya, penuh kebingungan. "Informasi apa?" tanyanya.
Nani melangkah mendekati William dan berkata, "Saya baru saja ditelepon Nona Sonya. Dia meminta saya untuk menyelidiki siapa yang akan ditemui Tuan Henry di taman kanak-kanak."
"Lalu?" tanya William lagi.
"Nona Sonya selalu membuntuti Anda dan Tuan Henry," kata Nani, "maaf kalau saya lancang, tapi saya harus mengatakannya. Anda harus hati-hati, Tuan. Setiap gerak-gerik Anda dan Tuan Henry selalu dalam pengawasan Nona."
'Jadi orang yang ada di dalam mobil itu benar-benar Nona Sonya? Untung saja saya cepat-cepat pergi dari sana,' gumam William setelah mendengar kata-kata Nani.