Bab 20. Twins

Penulis nyiratu
27 November 2025

William segera kembali ke rumah yang jarang ditempati itu. Dia menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bosnya.

"Ini sangat nyaman." William berbaring dan memejamkan mata. "Memang tidak sebagus rumah sang bos, tapi rumah sendiri jauh lebih nyaman."

Lelaki itu dengan cepat pergi ke alam mimpi. Dia benar-benar merindukan suasana kamar di rumahnya sendiri. William tidur dengan nyenyak sampai alarm membangunkannya.

Dia bergegas mandi dan menjemput tuannya. Suasana pagi hari benar-benar membuat William lebih segar. Selain karena sudah cukup tidur, ia juga merasa lega karena Alan dan Alana akan pindah sekolah.

William mengetuk pintu kamar majikannya sambil memanggil nama bosnya.

Suara ketukan pintu membuat Henry menoleh. Ia tidak beranjak, melainkan melanjutkan aktivitasnya mengancingkan kancing kemejanya dan menyuruh asistennya untuk masuk.

"Selamat pagi, Bos." William menghampiri bosnya dan membantunya mengenakan jas. Ia merapikan beberapa lipatan yang menonjol di tubuh majikannya.

"Apa kita punya jadwal pertemuan penting?" Henry bertanya tiba-tiba.

William segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, bos."

"Lalu kenapa kamu datang begitu cepat? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Henry bertanya dengan heran.

William telah datang ke rumahnya setiap pagi untuk mengingatkannya tentang pertemuan atau pertemuan penting di pagi hari.

William pasti akan mempersiapkan segalanya. Namun, Henry telah memeriksa jadwalnya semalam, dan dia tidak menemukan jadwal yang mendesak pagi ini.

"Saya hanya ingin melaporkan sesuatu kepada Anda, Bos," kata William kemudian.

Henry mengernyitkan alisnya, lalu beranjak duduk di sofa. Dia meraih cangkir kopi yang telah disiapkan kepala pelayan, menyesapnya perlahan, dan menikmatinya.

Baru setelah itu dia bertanya lagi, "Informasi apa?"

William mendekat dan berdiri di samping Henry dengan kepala tertunduk. "Tadi malam, Nani mengatakan kepada saya bahwa dia disuruh Nona Sonya untuk mencari tahu tentang siapa yang Anda temui di taman kanak-kanak."

"Hmm ... begitu rupanya," ucap Henry, terlihat santai.

"Kalau begitu... sebaiknya Anda tidak menemui Alana tanpa saya, Bos. Nona Sonya sangat curiga sekarang, saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu," kata William tegas.

Yang sebenarnya ia khawatirkan adalah keselamatan Amanda dan si kembar, tapi William tidak ingin mengatakannya di depan Henry.

"Kenapa harus begitu? Bukankah itu seharusnya menjadi urusanku?" Henry bertanya dengan tegas.

"Bos, Anda tahu seperti apa Nona Sonya saat dia putus asa?" William balik bertanya, mencoba mengingatkan.

Membuat Henry menghela napas kasar. "Baiklah, baiklah," katanya kemudian, terlihat pasrah dan tampak patuh.

William tersenyum mendengarnya. Namun, Henry merasa kesal dan terlihat sangat muram di wajahnya.

Merasa bahwa William telah merusak paginya, Henry segera pergi tanpa menyentuh sarapannya. Dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor sekarang juga. Tak pelak lagi, William pun segera menyusul.

Sesampainya di kantor, Henry menyibukkan diri dengan berkas-berkas pekerjaannya. Pria itu terlihat begitu fokus dan tenggelam dalam perannya sebagai CEO.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Henry merasa gelisah. Ia sangat ingin bertemu dengan Alana, gadis yang pernah ditabraknya.

Keinginan itu terasa sangat kuat di hati Henry. Ia berusaha menahannya dan mengingat kata-kata William. Namun, kerinduan itu terasa semakin kuat, hingga membuatnya nekat meninggalkan kantornya.

"Anda mau ke mana, Bos?" tanya William, yang tiba-tiba melihatnya.

"Aku ingin pergi ke kafe di depan, kepalaku pusing karena pekerjaan, dan aku ingin bersantai sejenak," jawab Henry karena ia tidak ingin asistennya mengetahui kemana ia akan pergi.

"Mengapa Anda tidak bilang saja? Saya bisa membawakan minuman yang Anda inginkan," kata William, mencoba menahan Henry.

"Tidak, aku juga ingin menghirup udara segar. Jangan khawatir, Willy, aku tidak akan pergi kemana-mana. Kamu bisa kembali bekerja dengan tenang!" Tanpa menghiraukan tanggapan William, Henry segera pergi.

Pria itu berbohong, dia tidak pergi ke kafe untuk menenangkan diri. Sebaliknya, ia pergi ke sekolah Alana karena ia tahu sudah waktunya anak-anak TK pulang.

Entah apa yang terjadi, tapi Henry tampak antusias. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Alana. Bahkan, dia rela membeli boneka kelinci kecil sebagai hadiah kedua untuk gadis itu.

Sesampainya di sekolah, Henry turun dari mobil. Ia sengaja menunggu di depan gerbang, berkumpul dengan para orang tua yang akan menjemput anaknya.

"Mengapa aku terlihat seperti orang tua yang sedang menunggu anaknya pulang sekolah?" gumam Henry dalam hati sambil celingukan mencari Alana, yang kemudian membuatnya tertawa kecil.

Pikiran itu baru saja terlintas di benaknya, tapi entah bagaimana, hal itu membuat hatinya senang.

Henry sesekali mengecek jam di tangannya. Menghitung setiap detik yang berlalu. Terlihat tidak sabar dan sangat gelisah.

Akhirnya, dia mendengar bel sekolah berbunyi. Senyum Henry mengembang. Itu pertanda anak-anak sekolah sudah pulang, yang berarti dia akan segera bertemu dengan Alana.

Melihat bagaimana anak-anak kecil itu berlari keluar dari pintu gerbang dan langsung menghampiri orang tua mereka masing-masing, membuat Henry merasa senang. Senyumnya tidak pernah pudar, dan ia menganggap hal itu lucu.

Henry terus menunggu, sesekali meraih boneka kelinci kecil di tangannya. Ia terus tersenyum dan tak sabar hingga beberapa kali ia melongok ke dalam sekolah untuk mencari keberadaan Alana.

"Kenapa dia belum juga muncul?" Henry bergumam.

Waktu terus berlalu hingga para orang tua murid mulai beranjak pergi setelah menjemput anak-anak mereka, sementara Henry masih berdiri di depan pintu gerbang. Dia tak kenal lelah dalam usahanya untuk bertemu Alana. Dia bahkan tidak peduli kakinya kesemutan.

"Halo, selamat siang. Siapa Anda? Dan sedang apa Anda di sini?"

Seseorang tiba-tiba menghampiri Henry, yang membuat Henry terkejut. Setelah memperhatikan, Henry mulai menyadari bahwa orang yang menghampirinya adalah salah satu guru yang bertanggung jawab di sekolah taman kanak-kanak ini.

Henry menyapanya dengan akrab. "Saya ingin bertemu dengan salah satu anak yang bersekolah di sini. Saya pernah bertemu dengannya, dan saya ingin memastikan dia baik-baik saja."

Sang guru tampak mengerti. Wanita yang masih tampak muda itu membalas Henry dengan senyuman.

"Tapi sepertinya Anda terlambat. Semua anak sudah pulang, dan tidak ada yang tersisa di sekolah," kata guru cantik itu.

Henry benar-benar terkejut. "Apakah Anda yakin?"

Jawaban sang guru yang memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tersisa, membuat Henry akhirnya memutuskan untuk kembali. Dia berpikir bahwa Alana mungkin tidak akan datang ke sekolah hari ini dan dia akan menemuinya lagi besok.

Namun, sekeras apapun Henry berusaha, tetap saja sia-sia. Dia datang ke sekolah hampir setiap hari, bahkan lebih awal dari biasanya. Namun, Alana tidak terlihat. Henry tidak pernah menemukan Alana lagi.

Entah mengapa, hal ini membuat hatinya sedih. Henry sangat merindukan Alana.

"Di mana sebenarnya kamu, Nak?"