Semua yang diceritakan oleh Ezra, semua yang digambarkan mengenai sosok Isabelle Lambert, itu semua sangatlah… Isabelle Lambert. Aurora seakan sedang melihat tayangan ulang bagaimana kehidupan ibunya yang tak pernah bisa ia jangkau dari kalimat demi kalimat yang Ezra lontarkan.
Mungkin, Aurora mulai bisa menerima jika ternyata ia memiliki seorang adik.
Sedikit.
Belum sepenuhnya, namun ada setitik rasa percaya pada alur kehidupan yang dipresentasikan oleh laki-laki itu.
Sementara Kael, jelas ia masih berada pada titik dinginnya. Ucapan dan bukti yang disodorkan padanya dimentahkan begitu saja.
“Dia memiliki hasil tes DNA itu, Luther,” desis Kael, ketika ia tersambung dengan Luther.
[Dan Anda percaya dengan hasil selembar kertas itu?]
“Jelas tidak. Tapi aku tidak bisa membuat Rora membuka matanya. Sepertinya dia mulai percaya dengan bocah tengik itu.”
[Aku harus menyelidikinya dulu untuk memastikan apakah Ezra benar-benar putra dari Tuan Lucien dan Isabelle. Jika dia datang tidak memiliki maksud apa-apa, mungkin saja… dia memang benar-benar keturunan Vireaux yang disembunyikan.]
“Mengingat banyaknya rahasia yang disembunyikan pria tua itu, mungkin saja itu bisa terjadi. Tapi untuk saat ini, aku masih belum bisa memercayainya.”
[Menaruh rasa curiga adalah salah satu bentuk pertahan, Tuan. Anda tidak salah. Banyak hal yang patut dicurigai yang berada di sekeliling Anda.]
Kael menggeram pelan. “Apa yang harus kulakukan? Sekarang yang ada di pikiranku hanya menyingkirkannya.”
[Jangan. Sebelum kita tahu betul Ezra itu lawan atau kawan, kita harus pastikan dia ada di dekat kita. Mengawasi musuh terkadang lebih baik dilakukan dengan jarak dekat.]
“Kalau ternyata dia musuh?”
[Kita bisa langsung menebasnya tanpa perlu berisik.]
“Ok, penyelidikan tentang kematian mom dan Isabelle hentikan saja dulu. Fokuskan pada pergerakan Bastien dan kejelasan siapa Ezra. Mungkin kau akan sedikit sulit untuk mencari tahu kalau benar ada sangkut pautnya dengan Bastien.”
[Aku mengerti, Tuan. Aku akan menjaga posisi Anda di sini.]
Sambungan terputus. Kael menurunkan ponselnya dengan rahang mengetat. Situasi ini membutuhkan insting yang kuat. Semua hal di sekitarnya tidak bisa dipercayai begitu saja, terlebih lagi tentang Ezra.
“Brother!”
Kael menoleh cepat ke arah pintu kamar. Suara Ezra dari luar membuatnya menyipitkan mata.
“Kita sudah kelaparan. Kau mau makan tidak??”
Terlalu berisik. Kael yakin keturunan Vireaux tidak ada yang seceria Ezra.
Sementara itu di ruang makan, Aurora telah menyajikan makan siang dengan keahlian yang ‘seadanya’. Jangan salahkan, ia memang tak pernah diajarkan caranya memasak. Membuat telur tidak gosong saja sudah merupakan kemajuan baginya.
Pintu kamar terbuka. Aurora segera mendongak dan tersenyum pada Kael. Tatapan pria itu, terlalu dingin untuk siang yang hangat. Namun wanita itu tak menyalahkannya. Ada banyak hal yang harus Kael pelajari untuk menjadi manusia normal—diantaranya adalah berbaur dengan adiknya sendiri.
“Bukan menu makan siang yang mewah, tapi setidaknya ini tidak beracun.” Aurora menyambut Kael dengan pelukan hangat dan kecupan di bibir—kakinya berjinjit sedikit untuk menjangkau bibir itu.
Kael tak segera melepaskan pelukan Aurora. Ia menyesap dalam aroma tubuh wanitanya, berharap itu bisa membuatnya menjadi sedikit lebih kuat untuk menahan rasa ingin menendang Ezra jauh-jauh dari sekitarnya.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Aurora.
Kael tidak segera menjawab. Matanya melirik pada Ezra, tak berkedip sama sekali. “Tidak selama dia di sini.”
Ezra menghela napasnya panjang, duduknya terempas ke kursi makan—menciptakan derit pelan. “Aku tahu kau tidak menyukai kehadiranku, tapi kau tidak bisa menampik kalau aku adalah adikmu… adik kalian berdua.”
Kael duduk tanpa menjawab. Namun jelas tatapannya berbicara.
“Brother, kurasa kau butuh terapi agar hidupmu tidak terlalu kaku.”
Kael mendelik. Ezra tidak peduli, dan Aurora hanya menggeleng pelan.
“Lebih baik cepat selesaikan makan siangnya sebelum kalian saling pukul satu sama lain.” Aurora menyodorkan segelas air putih di hadapan Kael.
Ezra tidak menjawab. Tangannya segera sibuk dengan makanannya sambil memperhatikan interaksi Kael dan Aurora. Sekilas sorot mata itu berubah, tapi segera berganti saat Kael melempar perhatian padanya. Dan Aurora, benar-benar telah memercayai Ezra sepenuhnya—semakin membuat Kael frustrasi.
Sialnya, situasi itu berlanjut sampai beberapa bulan kemudian.
Meskipun selama itu tidak pernah ada hal yang membahayakan Aurora, tapi insting Kael masih tetap berada dalam mode waspada. Di matanya, Ezra tetaplah mencurigakan.
“Letakkan saja kantong sampahnya,” kata Ezra cepat, saat melihat Aurora yang akan mengangkat dua kantong besar berwarna hitam itu. “Akan kubawa sekalian pulang.”
Aurora menegakkan badannya. “Oh, thanks! Kau memang pengertian sekali.”
“Kau baru menyadarinya?” Ezra bersikap dramatis.
“Tutup mulutmu sebelum kupatahkan lehermu.” Kael menyahut kasar. “Cepat bawa kantong sampahnya dan pulang.”
Ezra berdecak pelan, tapi tidak protes sama sekali. Dia mengambil dua kantong besar itu, lalu menoleh pada Aurora. “Rora, aku pulang dulu. Besok aku akan kembali.”
“Sure, Ez—”
“Besok kami kembali ke Vallmont.” Kael memotong cepat ucapan Aurora.
Kening Ezra mengerut dalam, sedangkan Aurora menoleh cepat. “Kita kembali?”
Kael menjawab dengan anggukan. “Aku sudah menemukan tempat baru untuk kita, dan tidak ada yang bisa menemukan kita di sana.” Dia mengalihkan pandangannya pada Ezra. “Kecuali ada orang terdekat kita yang membocorkannya pada Bastien.”
Kael terang-terangan menyebut nama Bastien di depan Ezra. Ia ingin melihat reaksi dari seseorang yang masih mengaku sebagai adiknya itu. Namun tidak ada respon aneh yang bisa ditangkap. Ezra hanya mengayun pelan kantong sampah di tangannya itu dan bertanya dengan nada sangat natural.
“Siapa Bastien?”
Aurora menoleh sejenak pada Kael, meminta konfirmasi agar pertanyaan itu dijawab.
“Kau tidak tahu siapa Bastien Vireaux?” Kael mengangkat satu alisnya. “Apakah Isabelle tidak menceritakan siapa orang itu padamu?”
Aurora berdeham sekali. Nada bicara Kael terdengar lebih dingin dari sebelumnya.
“Tidak,” Ezra menggeleng tipis. Keningnya mengerut, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang mungkin saja terselip dari memorinya. “Kurasa mom tidak pernah menyebut nama itu. Siapa dia?”
Kael tertawa sinis pelan sambil duduk di kursi makan. Tubuhnya bersandar sepenuhnya pada sandaran kursi kayu dengan kedua tangan terlipat di dada. “Kau harus bertemu dengannya. Sudah seharusnya kau mengenal pamanmu sendiri, benar begitu?”
Ezra mengangguk pelan, gerakannya nyaris tak menunjukkan kecurigaan sama sekali. “Kalau kau mengizinkan, tentu saja aku mau menemuinya. Tapi, apakah dia bisa menerimaku sebagai seorang Vireaux? Aku…. anak haram, remember?”
Seringai Kael tertarik tipis di satu sudut bibirnya. “Jika kau anak haram Vireaux, kurasa Bastien mengetahuinya dengan sangat baik.” Tubuhnya menegak, kali ini kedua tangannya menyiku di atas meja. Telapak tangannya bertumpu, menutupi hidungnya. “Semua rahasia Lucien Vireaux, Bastien pasti mengetahuinya. Benar begitu, Brother?”
Untuk pertama kalinya Kael menyebut Ezra dengan sebutan ‘brother’. Alih-alih terdengar sebagai sebuah penerimaan, panggilan itu justru seakan sedang memprovokasi Ezra. Sikap tenang pria itu sedikit terusik, terlihat dari kilatan gelap di matanya yang tertangkap Kael hanya dalam beberapa detik.
“Berarti…” sela Aurora. “... seharusnya Bastien mengetahui tentang siapa sebenarnya Ezra?”
Kael mengangguk. “Kalau dia memang benar-benar bagian dari Vireaux, pasti Bastien mengetahuinya. Atau… mungkin bagian dari lainnya yang kita tidak pernah tahu.”
“Maksudnya?” Aurora mengerutkan keningnya.
Kael menoleh, tatapannya berubah menjadi lebih lembut saat memperhatikan istrinya tersebut. “Aku juga belum tahu, Sayang. Yang jelas, kita bertiga akan kembali ke Vallmont besok pagi.”
“Kita bertiga?” Ezra menyipitkan matanya cepat. “Maksudmu… kau ingin aku pergi bersama kalian?”
Kael mengangguk tanpa berpikir ulang. “Sudah saatnya kau mengenalkan siapa dirimu sebenarnya. Bukan begitu, Ezra?”