Keheningan setelah kata-kata Ki Surya terasa lebih menusuk daripada jeritan makhluk itu sendiri.
Mia masih berdiri membatu, wajahnya pucat, bibirnya bergetar tanpa suara. Sarah memegang tangannya, mencoba memberi kekuatan, walau jantungnya sendiri berdetak terlalu cepat untuk dihitung.
Ki Surya menutup mata sejenak, seakan menimbang sesuatu yang berat, lalu membuka kembali. "Aku tidak bisa mengatakannya," ujarnya, pelan namun tegas.
Mia langsung menggeleng. "Ki… tolong… saya harus tau—"
"Kamu tidak boleh tahu," potong Ki Surya. "Kalau aku menyebutkan namanya, kemungkinan jalur takdir makin terikat padamu. Itu sama saja… membantu makhluk itu mempercepat pilihannya."
Mauro maju satu langkah. "Ki, tapi—"
"Tidak," Ki Surya kembali menggeleng, kali ini lebih keras. "Kalian harus menerima bahwa jawabannya… bukan sesuatu yang boleh diucapkan. Bahkan olehku."
Mia memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa suara. Sarah merangkulnya erat, mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Gina memalingkan wajah, tak sanggup melihat mereka semakin hancur.
Setelah beberapa detik panjang, Ki Surya memecah keheningan.
"Kalian tetap harus pergi dari sini sebelum matahari terbenam. Tapi sebelum itu…" Ia kembali ke meja, mengambil kotak kayu kecil yang tadi belum sempat disinggungnya. "Ada sesuatu yang harus kalian bawa."
Ia membuka kotak tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat empat kantung kecil dari kain hitam, diikat benang merah tua.
Gina menatapnya dengan bingung. "Itu… jimat?"
"Bukan sekadar jimat," jawab Ki Surya. "Ini adalah penahan sementara. Dia tidak akan bisa menyentuh kalian selama kalian memakainya."
Mia mengangkat wajah, suaranya bergetar. "Jadi… kami aman?"
"Untuk sementara," Ki Surya mengangguk. "Hanya selama satu minggu. Setelah itu… perlindungannya akan memudar."
Mauro menelan ludah. "Dan… selama seminggu itu, makhluk itu gak bisa muncul? Gak bisa masuk mimpi? Gak bisa ikut kita ke mana pun kita pergi?"
Ki Surya mengangguk. "Dia hanya bisa mengamati dari jauh. Tidak bisa menyentuh kalian."
Ia memandang satu per satu wajah mereka. "Gunakan minggu ini untuk bernapas. Untuk hidup normal. Tapi jangan lengah. Kalian juga harus mulai mencari tahu bagaimana cara untuk menghentikan cermin itu sebelum korbannya semakin banyak."
Sarah terlihat gugup. "Apa Ki Surya gak tau caranya?"
Ki Surya menggeleng. "Yang aku tahu pasti, cermin itu hanya bisa dihancurkan dengan cara yang hanya diketahui oleh pemilik asli atau keturunannya. Dan kalian, terutama kamu, Sarah, harus mencari tahu secara langsung dengan mengunjungi Kota Indahpura dan menemui mereka."
Sarah mengangguk pelan. Lalu, menerima kantung hitam terakhir dari Ki Surya. Saat jemari Sarah menggenggamnya, ia merasakan sesuatu berdenyut pelan di dalamnya. Hangat, seperti nadi kecil.
"Kapan kami tahu… siapa target barunya?" tanya Sarah, mencoba menggali informasi yang gagal didapat oleh Mia sebelumnya.
Ki Surya terdiam lama. "Kalian akan tahu dengan sendirinya jika saatnya tiba."
"Maksud Ki Surya—"
"Biarkan takdir melakukan bagiannya," Ki Surya memotong. "Jika kalian berusaha mencari tahu… kalian hanya memberi makhluk itu alasan untuk mendekat."
Sarah menunduk. "Tapi saya gak mau ada yang mati lagi…"
"Kematian itu…" Ki Surya menarik napas panjang. "Bukan sesuatu yang bisa kalian cegah saat takdir sudah bergerak."
"Tapi saya berhasil mencegah Mia dari kematian waktu wajahnya pertama kali muncul di cermin itu," ucap Sarah dengan yakin.
Ki Surya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Aku akui bahwa kamu beruntung saat itu. Tapi, apa menurutmu keberuntungan akan terus datang?"
Sarah menunduk perlahan dan terdiam. Keyakinan di wajahnya sirna dan digantikan dengan kekhawatiran.
Ruangan kembali sunyi.
Dan setelah itu, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain berkemas, mengenakan jimat yang sudah dibagikan, dan bersiap kembali menjalani hidup seolah-olah malam itu tidak pernah terjadi.
Hari demi hari berlalu. Tidak ada gangguan. Tidak ada ketukan di jendela. Tidak ada bayangan merayap di langit-langit kamar. Tidak ada bisikan. Tidak ada tawa makhluk yang menggores telinga mereka. Tidak ada wajah baru yang muncul di cermin itu.
Semuanya terasa... normal.
Sarah bangun pagi tanpa rasa takut di dadanya. Mia bisa pergi kemana-mana sendiri tanpa takut diikuti. Mauro bekerja seperti biasa. Begitu pula dengan Gina yang bisa bekerja kembali tanpa harus mengkhawatirkan Sarah di rumah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidup mereka terasa… damai.
Karena mereka belum mengetahui siapa target selanjutnya yang dimaksud oleh Ki Surya, atas saran Mauro dan Gina, Mia menginap di rumah Sarah selama beberapa hari pertama.
Kehidupan Sarah dan Mia terasa normal layaknya remaja seusia mereka. Mereka menonton film bersama, makan mi instan tengah malam, mengerjakan tugas bersama yang diberikan oleh dosen, dan mencoba bercanda agar rumah tidak terasa terlalu tenang.
Sarah sempat bertanya-tanya apakah jimat itu benar-benar bekerja atau hanya sugesti. Tapi setiap kali ia menyentuh kantung hitam di lehernya, ia merasakan denyut kecil itu, meyakinkannya bahwa mereka benar-benar dilindungi.
"Gue gak nyangka bisa hidup tenang lagi kayak gini," ucap Mia memecah keheningan.
Sarah tersenyum, lalu menaruh gelas yang baru saja ia sesap isinya ke atas meja. "Sama. Semoga ketenangan ini berlangsung lama. Rasanya gue kangen banget hidup begini."
Ekspresi wajah Sarah mendadak murung sepersekian detik setelahnya. "Maaf ya, Mi. Gara-gara gue, hidup lo jadi berantakan. Lo juga jadi harus ngalamin kejadian menakutkan itu."
Mia menggeleng, lalu menggeser posisi duduknya ke sebelah Sarah. Ia mengalungkan tangan pada pundaknya. "Lo gak salah, gak usah minta maaf."
Mia melepaskan tangannya, lalu menghela napas panjang. "Kalau dipikir-pikir, lo udah berusaha buat gak ngasih cermin itu ke gue kok. Cuma emang karena gue yang keras kepala aja mau ngaca pakai cermin lo, jadi gini deh."
Sarah menoleh ke arahnya. Bibirnya melengkung ke bawah seperti ingin menangis. "Gue nyesel banget beli cermin itu. Kalau aja gue gak ke luar sendirian waktu itu dan masuk ke toko barang antik yang bahkan gak ada penjaganya... mungkin Ken dan Dilla masih hidup sekarang. Reza juga gak akan dipenjara."
Mia terdiam sejenak. Ia kembali membawa Sarah ke dalam pelukannya. "Yang udah berlalu gak mungkin bisa kita ubah. Lo gak sepenuhnya salah, Sar. Mending sekarang kita fokus buat cari cara gimana biar cermin itu hancur."
Sarah mengangguk setuju. "Kayaknya gue beneran harus balik ke Indahpura."
Mia mengernyitkan alis, lalu melepaskan pelukannya. "Lo yakin? Kenapa gak coba kita bakar atau buang ke laut aja cerminnya?"
Sarah tertawa miris. "Lo pikir, gue belum coba buat hancurin cermin itu sebelumnya? Di sana, gue bahkan udah coba buang cermin itu dari lantai 4 hotel. Tapi, lo tau apa yang terjadi? Cermin itu masih utuh. Malah habis itu langsung berpindah tangan ke Reza. Terus..."
Sarah tidak sanggup melanjutkannya.
Mia menghela napas, lalu menepuk pundak Sarah, berusaha menenangkan. "Kalau emang lo harus balik ke sana buat hancurin cermin itu, biar gue temenin. Gue gak akan biarin lo ke sana sendirian."
"Makasih banyak, Mi," ucap Sarah sambil menyeka air mata di ujung matanya.
Mia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Keduanya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bahkan sebelum mereka tiba di Kota Indahpura.