His Contract Bride - Misi Manipulasi - Bab 28

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

Sedikit canggung selama perjalanan kembali ke Vallmont. Dan menjadi lebih canggung lagi ketika mereka sampai di sebuah rumah dengan lantai satu di kawasan elite Vallmont yang memiliki penjagaan berlapis.

Yang artinya, akan sulit bagi selain penghuni perumahan untuk mengakses kawasan ini.

Kael terus menunjukkan sikap over protektif-nya terhadap Aurora. Ezra tampaknya tidak begitu peduli dengan itu. Ia hanya terlihat sedang mengagumi semua hal yang ada di dalam rumah baru mereka. Sementara Aurora, berusaha dengan keras untuk tetap menjaga suasana di antara Kael dan Ezra menjadi sedikit… normal.

Sang kakak yang setiap detik ingin memenggal kepala sang adik. Dan sang adik yang tidak memiliki takut untuk melewati batas teritorial yang telah ditetapkan sang kakak, terutama mengenai interaksi dengan Aurora.

“Aku tidak mengerti kenapa kau sampai harus mengamankan situasi.” Ezra memperhatikan sekeliling rumah. “Apakah ada hal mengerikan yang pernah terjadi?”

Satu pertanyaan itu berhasil membuat kael menurunkan stick golf yang akan dimasukkan ke dalam tas. Aurora menghela napas, sedikit waspada dengan gerakan tangan Kael yang seakan siap mengayun kapan saja.

“Ada banyak hal yang telah terjadi.” Di luar dugaan, Kael mengalihkan pandangannya dan memasukkan stick golf itu ke dalam tas. Sepintas, Aurora menghela napas lega.

“Bisa kau ceritakan padaku?” Ezra kembali melanggar batas itu. Napasnya tertahan sejenak saat sorot mata Kael menebas rasa ingin tahunya. “Well… setidaknya biar aku mengerti dan bisa ikut berperan kalau ada sesuatu hal yang terjadi lagi.”

Langkah Kael berat menuju posisi Ezra. Kedua tangannya terbenam di saku celana, tatapan dingin tak ada niat untuk diturunkan. “Jika ada hal besar lagi terjadi di rumah ini, aku bisa langsung tahu siapa yang menyebarkan informasi tentang tempat ini.”

Ezra menelan ludah. Langkahnya mundur satu jengkal, kedua tangannya kini terangkat sampai batas dada. “Okay, relax, Brother. Aku hanya ingin membantu. Itu saja.”

Sebelum sempat Kael mengatakan ancamannya lagi, Aurora telah menggandeng lengan sang suami dengan senyum yang dipaksakan. “Husband, aku lelah. Bisa kita ke kamar?”

Wajah Kael berubah saat menatap Aurora. Sorot dingin itu tak lagi ada, senyum tipis dan anggukan pelan akhirnya mengakhiri situasi itu.

Ezra yang menyadari perubahan ekspresi itu hanya bisa berdecak sebal. Selebihnya, ia hanya mengedikkan sebelah alis. “Kau harus lebih keras lagi untuk melindunginya, Brother,” desisnya, nyaris tak terdengar.

Sementara itu, di kamar utama, Aurora sedang menyipitkan mata ke arah Kael. Seperti biasa, pria itu tetap tenang, duduk di sofa dekat jendela—bersandar dengan kaki bersilang dan tangan berlipat. Sudut-sudut bibirnya bahkan terlihat berkedut samar ketika menyaksikan sikap Aurora. Tak terganggu sama sekali dengan usaha Aurora yang sedang mencoba mengintimidasi.

“Apa-apaan itu tadi, Tuan Vireaux?”

“What?” Kepala Kael sedikit miring, kilat matanya terselip sedikit jenaka.

“Kau terlihat sedang mengancam Ezra. Kau sadar, kan?” Kali ini tangan Aurora mulai berkacak pinggang.

Tak ada jawaban, hanya sorot mata Kael yang sedikit berubah tajam.

“Aku menunggu jawabanmu.” Bibir Aurora mengerucut.

“Kemarilah.” Tangan Kael menarik pelan lengan istrinya, sampai membuatnya terjatuh di pangkuan. “Aku jadi ingin menanyakan satu hal padamu, Sayang.”

Decakan pelan terdengar. Aurora melirik kesal ke arah Kael. “Kurasa kau tahu aturannya. Pertanyaan dilarang dijawab dengan pertanyaan.”

Alih-alih menjawab, Kael justru mendekat, menghirup lekat-lekat leher Aurora dan mengecupnya pelan.

“K-Kael… ini bukan waktunya.”

Seolah kalimat itu tak pernah terucap, Kael tetap mengecup ceruk leher Aurora. Perlahan, dengan semakin merapatkan pelukan, semakin erat—membuat wanita itu mendesah pelan.

“Kenapa kau sangat percaya bahwa bocah itu adalah adik kita?” Pertanyaan itu terucap setelah kecupan lembut mulai mengarah pada bawah dagu.

Pelukan Aurora mengencang. Ia tak lagi terduduk menyamping. Entah sejak kapan, posisinya telah menghadap lurus pada Kael—menantang.

“Buktinya… sudah jelas…”

Aurora tak mampu melanjutkan ucapannya lagi ketika tangan Kael menelusup lembut di lekuk tubuhnya. Satu hal curang yang akhir-akhir ini sering dilakukan Kael padanya. Setiap mereka berada dalam situasi yang hampir panas, maka pria itu semakin ‘memanaskannya’ dengan hal yang berbeda—yang tak pernah bisa ditolak oleh Aurora.

“Aku tidak melarangmu untuk percaya.” Kael menggigit pelan ujung bibir Aurora. “Tapi… kau juga tidak bisa melarangku untuk terus memiliki rasa curiga padanya.”

Aurora tak mampu menahannya. Semua gerakan Kael yang terasa ‘tanggung’, membuatnya menjadi semakin liar. “Fair enough, Husband.”

“Good,” ucap Kael, nada suaranya semakin berat. “Karena kau tak lagi mempermasalahkannya, kurasa aku bisa memberimu satu hal saat ini.”

“Shut up, Kael!”

Aurora tak lagi bisa menunggu. Bibirnya telah membekap bibir Kael, melumatnya cepat dengan deru napas kasar.

“Kau semakin tidak sabaran, Nyonya Vireaux.” Aurora terkekeh.

“Don’t blame me. Kau yang membuatku seperti ini.”


“Kau sudah di sana?” Bastien mengayun cerutu di tangan kiri, lalu menyesapnya kuat sambil mendengarkan seseorang di telepon.

[Boleh aku bertanya sesuatu?]

Alis Bastien mengedik cepat. “Katakan.”

[Apakah kau akan melakukan hal yang buruk padanya?]

Seringai sinis itu tersungging tegas. Cerutu yang masih panjang diletakkan di atas asbak. “Tugasmu hanya satu, dan kau sudah memahaminya dengan baik, i guess. Dan untuk urusan yang lain, kau tidak perlu tahu.”

[Tapi—]

“Atau aku akan melenyapkan adik kecilmu itu. Pilihan ada di tanganmu.”

Hening sejenak. Hanya helaan napas dari seseorang di ujung telepon.

[Very well, aku akan melakukan tugasku dengan baik. Tapi kuharap, kau tidak menyakitinya.]

“Perlu kuberitahu satu hal, Anak muda.” Bastien menggeram samar. “Perasaan murahan yang mungkin sedang kau alami itu hanya akan merusak duniamu. Dan ketika kau sadar, segalanya sudah terlambat.”

[Cinta tidak pernah salah, Tuan Vireaux. Kau yang tidak pernah bisa memahami maknanya.]

“Dan kau terlalu bodoh karena telah memercayai cinta.” Bastien kembali mengambil cerutu di atas asbak dan mengisapnya dalam. “Jangan mengajariku soal apa pun, dan lakukan tugasmu dengan baik. Nasib adikmu ada di tanganku.”

[Jangan sekali-kali kau sentuh tanganmu padanya, Bastien!]

“Semua tergantung padamu.” Seringai tertarik di salah satu sudut bibir Bastien. “Semakin kau bersikap kurang ajar padaku, semakin aku ingin menghancurkan hidupnya.”

[Don’t dare you!]

“Kalau begitu bersikaplah baik dan patuh. Jangan ikut campur pada hal yang bukan bagianmu. Lakukan tugasmu segera. Kau sudah kehabisan waktu.”

Helaan napas berat terdengar lagi dari seseorang itu.

[Akan kucoba, dan jauhi adikku!]

Sambungan terputus.

Bastien menarik gagang telepon dari telinganya, menatapnya sejenak dengan tetap mempertahankan seringainya. Masih dengan sikap tenang, ia meletakkan gagang itu pada tempatnya dan berdiri perlahan.

“Kael Vireaux,” gumamnya. “Andai saja kau tidak bersikap keras kepala, semua hal yang sedang berjalan ini tidak akan pernah terjadi.”

Satu tangannya mengangkat botol wine dan menuangnya sedikit ke dalam gelas. Warna merah pekat itu menguar getir. Dari sudut matanya, tampak bocah kecil dengan mata hijau yang menatapnya penuh rasa penasaran.

“Sudah saatnya istirahat, Elias.” Bastien mengulurkan tangan.

“Paman, apakah kau baru saja bicara dengan kakakku?” tanya bocah bernama Elias itu.

Bastien mengangguk sambil tersenyum. “Kakakmu sedang melakukan tugas dari Paman agar bisa segera menjemputmu pulang. Dan sekarang, ayo istirahat dulu setelah minum obatmu.”

Elias mengangguk, meraih tangan Bastien dan mengikutinya tanpa tahu bahwa nyawanya bisa saja meregang sewaktu-waktu.