Drama

Sosiopat - Panggung Keangkuhan - Bab 9

Penulis Ichan
27 November 2025

Hujan telah reda, menyisakan butir-butir kecil yang jatuh dari genting dan suara mobil-mobil yang melintas dengan cipratan air. Pagi berikutnya, minimarket kembali hidup seperti biasa, lampu-lampunya menyala sebelum matahari naik sepenuhnya. Alina datang paling awal seperti biasa. Ia mengganti seragam, menyimpan tas di loker, lalu mulai mengatur barang masuk tanpa suara.

Hari itu terasa biasa.

Sampai dunia memutuskan untuk memperkenalkan nada baru dalam simfoninya.

Sekitar pukul sepuluh pagi, pintu kaca minimarket berbunyi. Bunyi yang sama, tapi langkah yang masuk bukan pelanggan biasa. Suara tawa keras, wangi parfum mahal dan nada bicara orang-orang yang tidak terbiasa ada di tempat dengan lantai licin oleh pel barusan.

Alina menoleh dan matanya berhenti pada sosok yang tidak pernah ia harapkan atau inginkan untuk muncul kembali.

Rania.

Masih seperti dulu saat SMA.

Masih dengan rambut terawat, tas branded, cara bicara yang membelah udara dan terutama pada tatapan merendahkan yang dulu ia arahkan pada siapa pun yang tidak berada di lingkaran hidupnya.

Dulu, Rania adalah ratu kecil. Populer. Manja. Selalu dikelilingi teman yang lebih mirip bayangan pengikut daripada sahabat dan Alina, meski tidak pernah menjadi korban langsung, dulu sering menjadi bahan bisikan Rania di lorong sekolah, hanya karena Alina terlalu pendiam, terlalu ‘aneh’ dan terutama karena ia yatim piatu.

Ternyata waktu tidak mengubah semuanya.

Hanya memberi Rania panggung baru untuk keangkuhannya.


“Eh, lihat deh,” kata salah satu teman kantor Rania sambil mengunyah permen karet. “Itu bukan Alina? Yang ranking satu tiap semester itu?”

“Ya ampun,” Rania tertawa ringan, penuh kepalsuan. “Alina. Hai! Kamu kerja di sini sekarang?”

Alina menatap mereka sebentar, kemudian kembali menyusun rak roti.

“Sementar, oh my God,” Rania berdecak sambil menutupi tawa. “Kamu beneran ignore aku? Serius?”

Alina tidak menjawab.

Ia tidak perlu.

Diamnya adalah jaring yang membuat orang lain makin merasa perlu membuktikan sesuatu.

Teman-teman Rania ikut tertawa. “Serius banget hidupnya. Pantes aja kerja di minimarket.”

Rania mendekat, menyandarkan siku di rak roti di samping Alina. “Gimana, Lin? Dulu kamu kan paling jenius. Masa akhirnya kerja di tempat beginian?”

Alina tersenyum kecil. Jangan salah. Bukan senyum tersinggung. Hanya respons otomatis yang tidak bernyawa. Seperti topeng.

“Hidup orang berbeda-beda,” ujar Alina singkat.

“Ooh, iya. Beda banget,” Rania menyapu Alina dari atas ke bawah. “Aku sekarang kerja di perusahaan papaku punya koneksi. Lumayan sih. Kerjaannya enak. Banyak yang bantu.”

Salah satu temannya menimpali, “Gila, kalau bisa sukses ya, harus punya koneksi. Skill doang tuh nggak cukup.”

Rania mengangguk sok bijak. “Betul banget. Dunia sekarang tuh bukan buat orang pintar, tapi buat orang yang punya keluarga kuat. Kamu ngerti kan, Lin? Kamu tuh pintar, tapi.”

Ia memiringkan kepala, tatapannya menusuk, lalu memberi senyum yang jelas-jelas dibuat untuk menyakitkan.

“Kalau kamu nggak punya siapa-siapa, ya mau jadi apa?”

Teman-temannya tertawa pelan, setengah menahan, setengah sengaja mempermalukan.

Alina tetap tidak menoleh.

Ia mengambil roti baru dari kardus, menyusun perlahan, tanpa satu pun gerakan yang goyah. Tidak ada amarah. Tidak ada ketegangan. Tidak ada reaksi manusia normal dan itu justru membuat Rania sedikit gelisah.

Karena orang seperti Rania hanya tahu cara berkuasa jika lawannya terlihat sakit hati. Jika tidak ada reaksi, ia merasa kalah.

Maka ia menekan lagi.

“Maksudku, kalau kamu anak yatim piatu, ya mau apalagi? Mau ngelawan nasib?”

Diam.

“Kasihan sih, tapi ya wajar kan? Nggak kayak kami yang, well, punya keluarga, punya posisi.”

Diam.

“Eh, teman-teman,” ujar Rania lebih keras, memastikan semua mendengar, “kalian percaya nggak kalau anak paling pintar di sekolah dulu berakhir kerja di minimarket? Ironis banget!”

Tawa kembali pecah.

Alina mengedip perlahan. Sebentar. Tenang. Sunyi.

Lalu ia meletakkan kardus kosong ke samping dan berdiri tegak.

Menatap Rania untuk pertama kalinya.

Tidak ada amarah.

Tidak ada hinaan.

Hanya tatapan kosong yang membuat bulu kuduk berdiri karena Alina menatap bukan seperti manusia sedang menatap manusia lain.

Ia menatap seperti predator yang sedang mempelajari anatomi mangsanya.

Rania langsung berhenti tertawa. Tenggorokannya kering tiba-tiba, meski ia tidak paham kenapa.

Tatapan Alina bukan tatapan marah. Justru tatapan yang mengatakan. “Aku bisa menghancurkanmu tanpa kau sadari, kalau aku mau.” Namun, bibir Alina hanya mengucap hal sederhana.

“Maaf, Rania, tapi aku harus kembali bekerja.”

Ia pergi meninggalkan mereka.

Begitu saja, tapi justru itu yang membuat Rania mendidih diam-diam. Karena bagaimana mungkin seseorang yang ia rendahkan tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun? Seolah kata-kata Rania tidak berarti apa pun.

Tidak penting.

Tidak berharga.

Bagi Alina, Rania bahkan bukan ancaman, hanya suara bising dan Rania membenci itu. Namun, ada satu hal yang Rania tidak tahu.

Ada mata lain yang menyaksikan kejadian itu.

Di luar minimarket.

Di bawah payung hitamnya, berdiri seorang pria dengan jaket abu-abu dan tatapan dingin. Arkanza.

Ia datang lebih awal karena ingin menjemput Alina untuk makan siang, hal yang sudah mulai rutin ia lakukan sejak beberapa minggu terakhir. Mereka tidak berpacaran, tapi ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang hanya dimengerti oleh dua orang yang pernah kehilangan banyak dalam hidup.

Arkanza melihat semuanya dari luar jendela kaca yang basah oleh sisa hujan.

Ia melihat Rania dan teman-temannya merendahkan Alina.

Ia melihat Alina yang hanya diam, santai, tanpa satu pun raut terlukai.

Arkanza tidak masuk. Ia hanya menonton. Diam, tapi bukan diam yang pasrah.

Diam seorang pria yang tahu persis siapa Alina sebenarnya. Diamnya seseorang yang paham bahwa saat ini bukan gilirannya untuk ikut campur karena Alina punya caranya sendiri.

Hanya saja, ketika tatapan Alina bertemu matanya dari dalam toko sejenak, sangat sejenak. Arkanza melihat sesuatu di mata Alina.

Bukan luka.

Bukan marah, tapi ketertarikan halus. Sebuah sinyal kecil bahwa Alina menyadari. Ada saksi yang mengerti sisi gelapnya tanpa menjauhinya.


Rania dan teman-temannya berjalan ke bagian minuman dingin sambil terus tertawa, mengomentari harga, menyindir murahnya tempat itu, bahkan mempermalukan karyawan lain tanpa malu.

Sementara itu, Alina kembali ke gudang, mengambil trolley barang baru.

Ia berhenti sebentar. Mendengarkan tawa mereka di luar. Lalu menarik napas kecil.

Masih tidak ada amarah, tapi ia merasakan mekanisme lamanya bergerak.

Klik kecil.

Seperti kunci yang mulai berputar dalam dirinya.

Simfoni barunya sudah memilih nada dan kali ini, Rania tanpa sadar sedang memukul gong pembuka.

Ketika Rania hendak membayar, ia menghampiri kasir sambil memainkan ponselnya.

“Tolong cepat ya,” katanya angkuh. “Aku banyak meeting.”

Kasir shift pagi ini adalah Egi, ia mengangguk kaku dan mulai memindai barang.

Tiba-tiba Rania mengernyit. “Eh? Ini harganya kok mahal banget? Kamu yang salah scan ya?”

“Maaf Mbak, itu memang harga terbaru.” Egi gugup.

“Hmm? Kamu yakin?” Rania mendekat mencurigai seolah sedang memeriksa makhluk asing. “Jangan asal ya. Aku nggak mau bayar mahal untuk barang receh begini.”

Egi melirik ke arah Alina, mencari bantuan. Alina berjalan perlahan, tanpa terburu.

“Kenapa?” suaranya datar.

“Dia salah scan,” Rania mendengus. “Masa air mineral aja segini? Kalian markup harga ya?”

“Itu harga normal,” ujar Alina.

“Mana mungkin? Aku tahu harga barang. Kalian ngerjain pelanggan?”

Alina menatapnya sebentar. “Kalau Mbak tidak percaya, bisa lihat daftar harga di aplikasi promo kami.”

Rania mencibir. “Ya ampun, kamu nggak usah ngajarin aku belanja.”

Teman-teman Rania tertawa lagi. Seseorang yang melihat dari jauh mungkin mengira Alina akan mundur, tapi Alina mendekat, berdiri tepat di depan Rania, jarak cukup dekat untuk membuat Rania kaget.

Alina menatapnya.

Dalam.

Kosong, tapi ada sesuatu, ada sebuah ancaman hening yang membuat hawa sekeliling turun beberapa derajat.

“Rania,” kata Alina lembut. “Kalau kamu tidak ingin membeli, kamu bisa pergi.”

Rania terdiam.

Suara tawa teman-temannya mereda, karena untuk pertama kalinya. Rania merasa diremehkan balik.

Bukan dengan kata-kata kasar.

Bukan dengan amarah. Justru oleh seseorang yang terlalu tenang. Terlalu sunyi.

Seolah Alina berkata. "Kamu tidak penting. Kamu tidak cukup berharga untuk dipikirkan."

Rania hendak membalas, tapi kata-kata itu terhenti di tenggorokan. Ada ketakutan kecil yang merayap di punggungnya tanpa alasan jelas.

Teman-temannya saling pandang dan justru momen itu, diamnya Rania adalah kemenangan kecil Alina.

Senyap.

Samar.

Tak terlihat, tapi ada.


Di luar, Arkanza menyandarkan tubuh ke dinding toko.

Ia mengerutkan kening dan mengamati interaksi itu melalui kaca. Ia mengenal Alina lebih daripada orang lain, betapa bahaya ketenangannya. Betapa mematikan diamnya dan ketika ia melihat Alina menatap Rania tanpa rasa takut, tanpa stres, tanpa batas moral. Arkanza menunduk sedikit, tersenyum tipis.

“Kau menarik sekali, Alina.” Ucapnya dalam hati. Karena tidak banyak manusia yang memiliki ketenangan berbahaya itu.


Akhirnya Rania membayar barang-barangnya, wajahnya sudah tidak seangkuh tadi, meski ia tetap berusaha terlihat menang.

Saat hendak pergi, ia menyenggol pundak Alina.

“Aku cuma ingin bilang,” bisiknya sinis, “hidup itu keras. Kamu nggak akan maju kalau cuma kerja begini. Dunia bukan untuk orang sendirian.”

Alina menoleh.

“Dunia juga bukan untuk orang yang terlalu percaya diri,” jawab Alina lirih. “Kadang, orang seperti itu jatuh paling keras.”

Rania menggertakkan gigi.

Ia pergi bersama rombongannya. Setelah pintu toko tertutup, Alina berjalan ke arah depan dan bertemu pandangan Arkanza yang berdiri tepat di depan pintu sambil menatapnya.

“Sejak kapan kau di sini?” tanya Alina datar.

Arkanza tersenyum kecil. “Cukup lama.”

“Apa kau melihat semuanya?”

“Setiap detik.”

Alina tidak berkedip. “Lalu?”

Arkanza menatapnya, tatapan seseorang yang bukan takut, bukan menghakimi, tapi memahami.

“Kau tidak marah,” ucap Arkanza perlahan.

“Kau hanya mengamati.”

Alina menanggapinya dengan hening. “Apa itu masalah bagimu?”

Arkanza mendekat, hanya satu langkah.

Jarak yang cukup untuk membuat dunia di sekitar mereka terasa mengecil.

“Tidak,” katanya. “Justru itu bagian favoritku darimu.”

Mata Alina bergerak sedikit nyaris tidak terlihat, "tapi,” lanjut Arkanza, “Rania tadi, dia baru saja masuk ke daftar yang seharusnya dia hindari. Kalau kau memutuskan memainkan simfoni baru, dia tidak akan tahu kapan musik itu dimulai.”

Alina menatapnya lama.

Sunyi.

Lalu bibirnya membentuk lengkungan tipis, senyum samar yang hampir tidak ada.

“Simfoni selalu dimulai dengan nada kecil,” ujar Alina pelan. “Dan dia sudah memainkannya untukku.”

Arkanza menahan tawa pendek. “Aku akan menonton dari jauh.”

“Baik,” sahut Alina.

Hanya satu kata, tapi di baliknya ada badai.

Badai yang tidak berisik, tidak kelihatan, tapi pasti datang dan Rania belum tahu—sama sekali belum tahu, bahwa dia baru saja mengetuk pintu yang seharusnya tidak pernah disentuhnya.

Simfoni Alina telah memilih korban barunya dan nada itu baru saja bergetar di udara.