Drama

MALAM YANG MENYIMPAN AIB

Penulis Sabil_775
27 November 2025

Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Matahari Gayo baru condong ke barat ketika Azzam menyelesaikan jadwal mengajarnya. Ia berjalan pelan menuju kamar, sementara kepalanya terus dipenuhi percakapan semalam. Tentang Nur, tentang Zaki, tentang Shanum.

Begitu sampai, ia menutup pintu dan duduk di tepi ranjang. Tatapannya jatuh pada Al-Qur’an yang tergeletak di meja kecil. Mushaf itu kini terasa jauh lebih berat, bukan karena lembarannya, melainkan karena foto yang tersembunyi di dalamnya, foto ibunya.

Hujan baru saja berhenti. Udara Gayo terasa dingin, lembab, dan pekat dengan aroma tanah basah. Kabut turun perlahan dari bukit, menyelimuti sekitar kamar seperti tirai putih yang menutup pandangan.

Menjelang Magrib, suara ketukan pelan memecah keheningan.

Tok. Tok.

“Masuk,” ucap Azzam pelan.

Pintu terbuka. Farhan berdiri di ambang pintu, wajahnya letih dan mata teduhnya memendam beban panjang. Tanpa senyum, ia melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Udara tiba-tiba terasa lebih sesak.

Keduanya duduk berhadapan,tidak ada teh, tidak ada camilan. Hanya Al-Qur’an yang tergeletak di atas meja kecil di antara mereka, kitab yang kemarin menjadi saksi terungkapnya rahasia.

Farhan menatap lembaran mushaf itu lama, sebelum akhirnya berkata lirih,

“Aku tahu ibumu, Nur.”

Nada suaranya begitu berat, seolah ada batu yang selama ini tertanam di dadanya akhirnya bergeser.

Farhan memejamkan mata sejenak, lalu mulai bercerita.

“Dua puluh tahun lalu, aku masih muda. Seusia kamu sekarang, mungkin. Baru diangkat jadi guru bantu di sini. Waktu itu, datang seorang perempuan bernama Nur untuk mengajar. Wajahnya teduh, tutur katanya lembut. Semua anak-anak suka padanya, bahkan guru-guru pun hormat. Tapi ada satu hal … pesonanya membuat banyak orang merasa kecil di dekatnya.”

Ia berhenti sejenak, seolah menelan pahit dari kenangan yang hendak keluar.

“Nur bukan hanya cantik, Zam. Dia cerdas, berani, dan punya prinsip. Sampainya akhirnya—” Farhan tersenyum miris, “aku jatuh cinta padanya. Tapi aku hanya menyimpannya diam-diam.”

Azzam menahan napas. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.

“Dia wanita yang membenci sifat munafik, bahkan menolak tunduk pada kemunafikan. Dan disinilah semuanya bermula.”

Farhan menunduk. “Aku sering lihat Buya Zimraan memperhatikan Nur dari jauh. Kadang memanggilnya ke ruangannya hanya untuk hal-hal sepele. Aku pikir dulu, itu hal biasa. Sampai suatu malam—”

Suaranya tercekat.

“Malam itu aku lembur di ruang guru, menyelesaikan laporan. Sekitar pukul sepuluh lewat, aku dengar suara samar dari arah ruang tamu utama. Tangisan perempuan. Suara lirih, tapi penuh ketakutan. Aku ragu untuk mendekat. Tapi rasa ingin tahu membawaku ke sana.”

Ia memejamkan mata, membayangkan kembali malam itu.

“Lampu di ruangan Buya masih menyala. Aku berdiri di balik dinding, dan saat itu aku lihat Nur keluar dengan langkah tertatih. Bajunya kusut, wajahnya pucat, matanya sembab, langkahnya gontai seperti kehilangan arah. Dia menunduk, menangis tanpa suara. Aku ingin memanggilnya, tapi lidahku kelu. Di belakangnya, Buaya muncul, menatap ke arah luar dengan wajah dingin.”

Farhan menarik napas berat. “Aku mundur. Aku takut. Aku dengar langkah Nur makin cepat, lalu hilang di balik dinding asrama. Aku tahu, sesuatu yang buruk baru saja terjadi. Tapi aku—” suaranya serak, “aku tidak melakukan apa pun.”

Hening. Hanya suara angin malam yang lewat dari celah jendela, membuat tirai bergoyang perlahan.

Azzam menunduk. “Dan setelah itu?”

“Esok paginya, pesantren heboh. Kabar menyebar cepat. Katanya, Abuya telah memperkosanya. Semua orang terkejut. Tapi yang lebih menyakitkan adalah, tak ada yang percaya.”

Azzam menatap Farhan tajam.

“Tak ada yang percaya?”

Farhan mengangguk. “Zimraan terlalu dihormati. Ia pendiri pesantren, panutan, dan tokoh agama yang kharismatik. Orang-orang lebih mudah percaya bahwa Nur yang menggoda, Zimraan. Fitnah balik langsung menyebar. Katanya Nur perempuan tak tahu diri, ingin menjatuhkan Abuya karena sakit hati.”

Suara Farhan serak. “Aku … aku ingin membela, tapi aku takut. Aku masih muda, aku pikir… biarlah Allah yang membalas. Tapi, ternyata diamku justru membuat Nur sendirian menghadapi semuanya.”

Azzam menggenggam tangannya di atas meja, menahan amarah.

“Lalu, apa yang terjadi setelah itu?”

“Beberapa hari kemudian,” lanjut Farhan, “datang seorang lelaki bernama Zaki. Dia Abang dari Ummi Farah. Waktu itu dia bukan siapa-siapa, hanya warga biasa yang sering membantu pesantren. Dia tiba-tiba mengaku di depan semua orang, bahwa sebenarnya yang melakukan itu pada Nur, adalah dirinya. Katanya, semuanya terjadi atas dasar suka sama suka.”

“Dan orang-orang percaya?” suara Azzam meninggi sedikit.

Farhan mengangguk pelan. “Ya. Zaki dianggap ksatria karena mau mengaku. Zimraan dianggap suci karena bisa memaafkan. Dan Nur… Nur diusir. Dibilang perempuan kotor, pembawa fitnah. Ia dikembalikan ke kampungnya dengan segala aib yang bahkan bukan miliknya.”

Azzam memejamkan mata. Ia tahu cerita ini, tapi mendengarnya langsung membuat luka lama di hatinya terasa nyata. “Dan Zaki? Kenapa dia mau mengaku?”

Farhan menghela nafas panjang. “Karena balas budi. Istrinya dulu meninggalkan dia. Anak bungsunya, Shanum, diambil alih oleh Zimraan dan Farah untuk diasuh. Zaki merasa berhutang. Ia pikir, dengan mengorbankan namanya sendiri, anaknya bisa hidup baik-baik di bawah asuhan orang terpandang. Dia tidak tahu … bahwa keputusan itu akan menghancurkan banyak hidup.”

“Jadi… Shanum—”Azzam membuka matanya, pura-pura tidak tahu. Padahal sebelumnya dia sudah tau hal ini dari, Hilma.

“Ya,” potong Farhan lirih. “Shanum adalah anak kandung Zaki. Bukan anak Abuya, bukan juga darah Ummi. Tapi hanya sedikit orang yang tahu kebenaran itu. Aku tahu, karena aku menyaksikan semuanya dari dekat. Bahkan sampai hari ini, Shanum sendiri belum tahu siapa dirinya sebenarnya.”

Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara angin yang mengguncang kaca jendela. Azzam menunduk, lalu berkata pelan, “Kau tahu Nur tidak bersalah. Tapi kenapa kau tetap diam, Ustadz?”

Farhan menatapnya lama. Di matanya tampak penyesalan yang begitu dalam. “Karena aku pengecut. Karena aku mencintainya tapi tak cukup berani melindunginya. Aku pikir, diamku bisa menjaga pesantren ini tetap hidup. Tapi nyatanya, diamku justru membunuh seseorang yang paling tulus dalam hidupku.”

Air mata menetes di pipi Farhan tanpa ia sadari. “Nur menangis malam itu. Aku sempat melihatnya di belakang surau, menggenggam sajadah dan bersujud lama sekali. Tapi sebelum aku sempat bicara dengannya, ia sudah diarak keluar kampung.”

Azzam bangkit perlahan, mendekat dan menatap Farhan dalam-dalam.

“Aku tidak akan diam sepertimu,” katanya pelan namun tegas. “Diam itu dosa kedua setelah kejahatan.”

Farhan menatap Azzam, lalu tersenyum getir. “Dan mungkin kali ini, Allah memberiku kesempatan untuk menebus diamku dulu.”

Ia merogoh saku gamisnya, lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik bening kecil. Di dalamnya ada sehelai kain kusam, tampak sudah berumur puluhan tahun.

“Ini,” katanya lirih.

“Ini apa?” tanya Azzam, ketika Farhan memberikan bungkusan tersebut padanya

“Ini mukena yang dipakai Nur malam itu. Mukena ini, aku temukan saat membersihkan kamar, Nur setelah ia pergi. Aku menyimpannya selama ini. Ada noda yang dulu tidak bisa kubersihkan. Aku tidak punya bukti selain ini. Tapi mungkin… di tanganmu, kebenaran itu akhirnya bisa bicara.”

Azzam menerima bungkusan itu dengan tangan bergetar. Ia menatapnya lama, seolah sedang menatap masa lalu ibunya sendiri.

“Terima kasih, Ustadz,” suaranya serak. “Kau baru saja menyalakan kembali api yang tak akan padam.”

Farhan menunduk, lalu berdiri. “Kalau waktu bisa kuputar, aku ingin menukar diamku dengan keberanian. Tapi sekarang, hanya kamu yang bisa melanjutkan perjuangannya, Azzam. Untuk Nur. Untuk kebenaran yang terkubur dalam sujud panjang.”

Dan malam itu, ketika Farhan melangkah keluar dari kamar, Azzam, hujan turun kembali. Suara rintiknya terdengar seperti doa. Doa dari masa lalu yang tak sempat diucapkan.

Di dalam ruangan, Azzam berdiri sendiri.

Matanya menatap kain dalam genggaman, dan di dadanya, satu kalimat terpatri jelas:

“Kali ini, ibu… aku yang akan bersuara.”

.