Drama

KETIKA DENDAM MENYELINAP KE SUJUD

Penulis Sabil_775
27 November 2025

Kabut Gayo turun lebih cepat malam itu. Seperti selimut putih yang memeluk setiap sudut pesantren. Jam dinding di kamar Azzam menunjukkan pukul dua lewat sedikit, saat sebagian besar santri sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.

Namun Azzam belum memejamkan mata. Tidak juga berniat melakukannya. Tubuhnya bersimpuh di atas sajadah, sementara Al-Qur’an terbuka di sisi kanan. Di depannya, lampu redup memantulkan bayangan wajahnya yang tampak lelah, bukan oleh pekerjaan, tetapi oleh beban masa lalu yang baru saja disingkapkan Farhan.

“Ya Allah…” suaranya pecah, lirih namun sarat amarah yang ditahan.

“Jika malam ini Kau mendengar apa yang kusembunyikan jauh di dadaku, maka ketahuilah… dendam ini bukan untuk menyakiti. Tapi untuk mengembalikan kehormatan seseorang yang dulu engkau uji.”

Airmatanya jatuh ke sajadah.

Namun air mata itu bukan hanya milik seorang anak yang merindukan ibunya.

Air mata itu adalah milik seorang lelaki yang menyadari bahwa langkahnya kini tak bisa mundur.

Azzam mengusap wajah, bangkit perlahan, dan menatap kantong plastik kecil yang tadi diberikan Farhan. Di dalamnya, sehelai baju kusam milik Nur tersimpan. Noda-noda yang tak pernah hilang masih mengering di sana. Noda yang menjadi saksi bisu tragedi dua puluh tahun lalu.

Ia menggenggamnya dengan hati bergetar.

“Bu… aku akan tuntaskan ini,” katanya pelan. “Dengan caraku. Dengan jalanku.”


Ketika pagi datang, matahari memercikkan cahaya keemasan di balik bukit. Pesantren mulai hidup kembali. Suara sapu, langkah santri, panggilan untuk bersiap belajar semua berjalan seperti biasa.

Tapi bagi Azzam, hari itu tidak lagi sama.

Selesai mengajar, Farhan mengetuk pintu kamarnya. Sama seperti kemarin, wajahnya masih memendam sesuatu yang berat.

“Ada yang ingin kujelaskan lagi,” ucapnya.

Azzam mengangguk, menutup pintu, dan keduanya duduk.

‘Ada apa?” tanya Azzam langsung, tanpa basa-basi.

Farhan menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh ke masa lalu.

“Sebenarnya, ada korban lain sebelum ibumu. Hanya saja perempuan itu tidak separah ibumu. Dia juga sama, tidak mendapat keadilan. Malah perempuan itu di usir dan di fitnah,”

“Mengapa kau baru bilang sekarang?”

“Aku baru ingat, setauku sebelum ibumu, korbannya ada dua orang. Tapi yang paling ku kenal adalah seorang Ustadzah. Dia pengasuh santri tingkat akhir saat itu. Namanya Laila.”

Azzam menahan napas. Nama itu belum pernah ia dengar.

“Dia dekat dengan ibuku?” tanya Azzam.

“Tidak! Akan tetapi ada seorang santri bernama, Syakira, Amira dan Fathimah yang sangat dekat sekali dengan ibumu.” balas Farhan.

“Syakira santri lama, dia pasti banyak mengetahui soal rahasia pengajar-pengajar dulu yang tiba-tiba pulang begitu saja. Dia biasa sering membantu membersihkan ruang guru. Bahkan juga sering keluar masuk rumah, Zimraan.”

Azzam mendengarkan dengan saksama. Jantungnya berdetak cepat.

“Tapi mereka bertiga pasti juga tahu sesuatu soal malam itu,” lanjut Farhan pelan. “Aku yakin dia pasti melihat Nur malam itu. Melihat bagaimana Nur sudah tidak berdaya.”

Azzam merasakan tubuhnya menegang.

“Mereka melihat kejadian itu?”

Farhan menggeleng. “Tidak tahu pastinya. Tapi Syakira dan Fathimah sendiri membenarkan kejadian itu, di saat banyak orang yang tidak mempercayai ibumu.

Azzam merasakan hawa dingin menjalari punggungnya.

“Kalau begitu… bukti yang kau pegang selama ini…”

Farhan mengangguk. “Sebenarnya … itu bukan aku yang ambil. Itu baju yang Syakira simpan dulu. Nur sendiri yang memintanya menyimpan baju itu. Katanya, ‘Kalau suatu hari kebenaran datang, biar kain ini yang berbicara.’”

Azzam membungkuk. Matanya panas.

Ibunya … sudah memikirkan semuanya sejauh itu.

“Terus Syakira sekarang di mana?” tanya Azzam cepat.

Dan itulah bagian yang membuat Farhan terdiam lama.

“Aku tidak tahu.”

Azzam terkejut. “Tidak tahu?”

“Tidak ada yang tahu,” jawab Farhan. “Setelah Nur dipulangkan, keadaan pesantren menjadi kacau. Syakira sendiri hilang begitu saja, ada yang bilang dia dibawa pamannya ke Banda Aceh. Ada yang bilang dia pergi merantau ke jawa. Ada yang bilang… dia diancam.”

Azzam mengepalkan tangan.

“Tapi rekam datanya pasti ada.”

“Ya,” jawab Farhan sambil mengangguk. “Itulah yang ingin kubicarakan. Kita masih punya data santri-santri lama. Semua disimpan di ruangan arsip di kantor lama. Tapi… tidak mudah mengaksesnya.”

“Kenapa?”

Farhan menatap Azzam dengan mata yang jelas menyimpan kegelisahan.

“Karena ruangan itu … dikunci oleh Zimraan sendiri.”

Keheningan menyeruak.

Azzam menatap Farhan, dan Farhan menatap balik.

Keduanya tahu:

Membuka ruangan arsip berarti menyentuh wilayah yang paling ingin disembunyikan Zimraan.

“Kita harus cari waktu yang tepat,” bisik Farhan lirih.

Azzam mengangguk. “Kalau begitu kita harus melakukannya bersama.”


Namun tanpa mereka sadari, seseorang melihat percakapan mereka dari kejauhan.

Elzhan.

Ia berdiri di balik pintu koridor, wajahnya menegang.

Matanya memandangi Azzam dan Farhan dengan raut curiga.

Ia bukan orang bodoh, ia melihat gelagat itu sejak kemarin.

“Aku tau kalian berdua sedang merencanakan sesuatu…?” gumamnya pelan.

Tangan Elzhan mengepal.

Azzam semakin aneh sejak masuk pesantren. Hilma pernah bilang ia mendengar ucapan aneh soal masa lalu ayahnya. Dan sekarang, Azzam terlihat dekat dengan Farhan, padahal keduanya jarang berinteraksi sebelumnya.

Ada sesuatu yang janggal.

Sesuatu yang harus ia ketahui.


Sementara itu, di halaman belakang pesantren, dua suara perempuan tengah bertengkar.

Shanum dan Hilma.

“Kau itu kenapa sih?!” Shanum membentak, wajahnya memerah.

“Aku yang harus tanya begitu!” Hilma balik membalas. “Kau kenapa lihat-lihat kamar Azzam kemarin?!”

“Aku cuma lewat!”

“Lewat matamu!” Hilma mendengus. “Kau pikir aku tidak tahu kalau kau suka dia?”

Shanum terdiam. Wajahnya memerah tapi bibirnya menggigit.

“Kau kira hanya kau yang bisa merasakan sesuatu pada Azzam?” Hilma melanjutkan, suaranya mengejek. “Aku duluan melihat dia. Kau jangan sok paling dekat.”

“Kak Hilma… jangan keterlaluan.”

“Dan kau jangan naif!” Hilma memotong cepat. “Azzam bahkan tidak pernah menoleh ke arahmu.”

Shanum menahan napas. Matanya memerah. Namun ia tidak menangis. Tidak lagi.

“Kita lihat saja nanti,” Shanum berkata pelan namun menusuk. “Siapa yang Azzam pilih.”

Hilma terkejut mendengar nada itu.

Shanum jarang bicara dengan nada seperti itu.

“Aku bukan cuma anak kecil, Kak,” Shanum menambahkan sambil berjalan pergi. “Aku tahu apa yang aku mau.”

Hilma berdiri mematung.

Ada sesuatu yang berubah dalam diri Shanum. Hilma tidak tahu apa.

Bahkan ia tidak tahu, bahwa perubahan itu berkaitan langsung dengan rahasia besar tentang dirinya yang selama ini disembunyikan.

Rahasia yang sebentar lagi akan mencuat ke permukaan.


Sementara itu, di kamar Azzam, dua orang laki-laki duduk berhadapan seperti dua penjaga rahasia besar.

“Kita harus menemukan Syakira,” kata Azzam.

“Ya,” jawab Farhan. “Karena hanya dia yang masih menyimpan seluruh cerita. Bahkan mungkin … lebih daripada yang Nur tinggalkan.”

“Dan datanya ada di ruangan arsip?”

Farhan mengangguk.

Azzam menarik napas panjang.

Malam tadi ia berdoa agar diberi petunjuk.

Dan kini, jalannya mulai terlihat:

  1. Temukan arsip santri lama.

  2. Cari data tentang Syakira, Amira, Fathimah.

  3. Temukan di mana ia tinggal.

  4. Cari bukti bahwa Zimraan juga menyerang korban lain, tidak hanya Nur.

Azzam memejamkan mata sejenak.

Dendam dan keikhlasan bertemu dalam dadanya, seperti dua arus yang saling mendorong namun tak bisa dilepaskan.

Farhan menepuk bahunya.

“Kau tidak sendirian, Azzam.”

Azzam menatapnya dan mengangguk.

“Tapi rencana ini harus sangat hati-hati,” lanjut Farhan. “Zimraan… bukan orang yang mudah ditipu. Dan Elzhan…” Farhan terdiam.

“Ada apa dengan Elzhan?” tanya Azzam.

Farhan hanya menggeleng.

“Tolong hati-hati dengannya.”

Azzam tidak menjawab.

Ia hanya menatap jendela kamar, di mana kabut tipis mulai turun lagi.

Di balik kabut itu, entah di mana, seorang perempuan bernama Syakira membawa kebenaran yang telah terkubur puluhan tahun.

Dan Azzam tahu,

sudah saatnya ia mencarinya.


Malam itu, ketika semua tidur,

Azzam berdiri di depan sajadah lagi.

Namun kali ini bukan hanya doa.

Ini adalah sumpah.

“Demi Allah yang membolak-balikkan hati manusia,” bisiknya, “aku akan menemukan kebenaran yang hilang itu. Untuk Ibu. Untuk mereka yang memilih diam. Dan untuk mereka yang dipaksa diam.”

Di luar jendela, angin berhembus pelan.

Namun di dalam hati Azzam, badai sudah terlanjur berputar.

Dan badai itu… tidak akan berhenti sampai semuanya terbuka.