Drama

JEJAK YANG MENGERING

Penulis Sabil_775
27 November 2025

Azzam dan Farhan berjalan berdampingan meninggalkan pesantren, menembus jalan tanah yang basah oleh embun pagi. Udara Gayo yang dingin menusuk namun menenangkan, walau di dada Azzam, justru semakin terasa sesak oleh ketegangan.

Farhan menggenggam map kecil yang berisi daftar santri lama. “Dari semua nama yang pernah dekat dengan ibumu,” ujarnya pelan, “hanya dua orang yang masih mungkin bisa ditemui. Dan mereka saudara”

Azzam menoleh. “Apakah, Syakira dan Amira?”

Farhan mengangguk. “Dulu mereka santri yang paling dekat dengan ibumu. Nur sering menitipkan tugas kelas, curhat kecil, tidur bareng dan … mereka tau semua rahasia, Nur.”

Azzam menelan ludah. “Kau yakin dia masih tinggal di sini?”

“Aku tidak yakin,” jawab Farhan jujur. “Tapi warga bilang ada seorang perempuan bernama Syakira yang tinggal sendirian di rumah tua peninggalan orang tuanya. Kemungkinan besar itu dia.”

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, Farhan berhenti di depan sebuah warung kecil. Mereka bertanya pada seorang kakek yang sedang mengaduk kopi.

“Permisi, Cik. Saya mau tanya, apakah Pak Cik tau rumah seorang wanita bernama, Syakira,” kata Farhan hati-hati.

Kakek itu menatap mereka lama, seperti menimbang apakah aman memberi informasi. Lalu akhirnya ia menghela napas dan menunjuk ke arah barat.

“Rumah kayu di ujung. Yang catnya sudah terkelupas. Dia jarang keluar rumah. Kalau kalian cari dia … semoga niat kalian baik.”

Azzam mengangguk. “Terima kasih, cik. Kami datang hanya ingin mencari kebenaran.”

Kakek itu tertawa pendek namun getir. “Kebenaran itu seperti hantu di kampung ini, Nak. Semua orang tahu… tapi tak ada yang berani menyebut namanya.”

Azzam diam sejenak, dia memandang kakek tua di depannya dengan tatapan heran. “Mengapa seolah dia mengetahui semuanya?” batin Azzam.

Mereka kembali berjalan.

Tak lama kemudian, rumah kayu itu terlihat. Usianya jelas sudah tua, beberapa papan dindingnya mulai miring, namun pekarangan yang rapi menunjukkan bahwa ada seseorang yang masih merawat tempat itu.

Farhan mengetuk pintu perlahan.

Tidak sampai hitungan ketiga, pintu terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar pertengahan tiga puluhan berdiri di sana, wajahnya tenang, matanya tajam, dan sorot yang penuh kehati-hatian. Dia mengenakan baju rumahan warna pastel senada dengan kerudung hitamnya.

“Dia pasti, Syakira. Orang yang kami cari-cari.” gumam, Farhan.

Dia mengamati mereka cukup lama, lalu mengerutkan kening.

“Ustaz Farhan?” suaranya lirih, namun bergetar karena terkejut. “Lama tidak ke sini. Ada apa ya, Ustadz?”

Farhan tersenyum kecil, tapi tampak canggung. “Assalamualaikum, Kira. Boleh kami bicara?”

Syakira memindahkan pandangannya ke Azzam dan tubuhnya langsung menegang.

Ia terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, seolah melihat sesuatu yang tak ia duga.

“Kau…”

Syakira menatap wajah Azzam dari ujung rambut hingga dagu. Matanya berkaca.

“Kau mirip sekali dengan—”

Ucapannya terputus, saat ia teringat akan sesuatu. Pandangannya pecah. Ada air yang menggenang di kedua matanya.

Farhan mendekat, mencoba menenangkan, “Jangan menangis. Kami datang bukan untuk membuat masalah. Ada sesuatu yang penting yang ingin kami cari.”

Keheningan turun sebentar. Berat, dan terasa seperti mengguncang seluruh rumah itu.

Syakira akhirnya membuka pintu lebar-lebar.

“Masuklah. Sepertinya, aku tau maksud kedatangan kalian kemari. Silahkan masuk kalau kalian mencari masa lalu itu, dan dia ada di sini.”


Interior rumah itu sederhana. Dinding kayu dipenuhi foto-foto lama, beberapa sudah memudar, tapi tetap menggantung seakan mereka pun enggan dilepaskan

Aroma kayu tua bercampur kapur barus dan entah apa lagi bau yang hanya dimiliki rumah yang menyimpan begitu banyak rahasia.

Syakira mempersilahkan mereka duduk di tikar pandan. Ia sendiri duduk bersila, sembari merapikan kerudungnya , lalu menatap mereka dengan tatapan yang terlalu dewasa.

“Maaf sebelumnya, tapi aku rasa …” ucapnya dengan suara tenang namun menusuk, “kedatangan kalian pasti berkaitan dengan Kak Nur.”

Azzam mengangguk, lalu membenarkan posisi duduknya. Ia tidak bisa menahan debaran dadanya.

“Kak Syakira … apa yang kakak tau tentang ibuku? Apa yang sebenarnya terjadi tentang malam itu?”

Syakira merasakan sesuatu dalam suara itu. Ia memejamkan mata sesaat, seperti menahan gelombang kenangan yang berputar kembali setelah sekian lama dikurung.

“Aku tak menyangka bahwa kau akan datang,” ucapnya pelan.

“Bahkan wajahmu membuat ku ingin menangis, aku merindukan sosok wajah itu,” lanjutnya.

Suara Azzam bergetar.

“Karena aku anaknya.”

Syakira mematung.

Pandangan matanya tiba-tiba berkabut. Air mata langsung menetes.

Tangannya refleks menutup mulutnya.

“Aku tahu,” bisiknya lirih. “Sejak pertama kulihat wajahmu.”

Azzam menahan napas.

“Aku ingin tahu apa yang benar-benar terjadi pada Ibuku.”

Syakira menunduk lama, seakan memanggil kembali keberanian dari masa muda yang dulu tidak pernah sempat ia miliki.

“Kalian ingin kebenaran?” katanya dengan suara yang berubah rendah.

“Kebenaran itu tidak indah, Azzam.”

“Aku tidak mencarinya karena ingin sesuatu yang indah,” jawab Azzam.

“Aku mencarinya… karena itu milik Ibu.”

Syakira menatapnya lama. Matanya basah, tapi sorotnya mantap.

Perlahan, ia berdiri dan masuk ke kamarnya.

Ketegangan menggantung di udara.

Azzam merasakan napasnya tercekat.

Tak lama kemudian, Syakira kembali membawa sebuah kotak kayu kecil yang tampak tua dan rapuh.

Ia meletakkannya di tengah tikar, tepat di depan Azzam dan Farhan.

“Inilah,” katanya berat, “yang membuatku tak pernah bisa tidur nyenyak.”

Farhan maju sedikit. “Kira… apa ini?”

Syakira menutup mata sejenak sebelum menjawab, “Baju yang dipakai ustdzah Nur… hari itu.”

Detik itu juga, tubuh Azzam menegang.

Farhan menahan napas.

Syakira membuka kotaknya perlahan, seakan takut kenangan itu akan menamparnya kembali.

Di dalamnya …

Sepotong baju perempuan, dilipat rapi, diselimuti plastik bening. Meski sudah puluhan tahun berlalu, noda gelap itu masih terlihat samar namun jelas cukup untuk menjadi bukti.

Azzam memejamkan mata, menahan air mata yang panas.

“Saat itu,” lanjut Syakira dengan suara pecah, “Kak Nur memintaku menyembunyikan baju ini. Dia bilang… suatu hari akan ada orang yang datang mencarinya. Dan aku harus menjaganya, tidak peduli apa pun yang terjadi.”

Farhan tidak berkutik.

“Kenapa kau percaya begitu saja?” bisiknya.

Syakira menatap mereka berdua, matanya memerah.

“Karena aku melihat semuanya.”

Tarikan nafasnya patah.

“Aku yang pertama kali menemukan ustazah Nur keluar dari kamar itu. Bajunya robek. Bibirnya pecah. Dia… gemetar.”

Syakira menahan air mata. “Dia tidak bisa bicara, tapi matanya menceritakan segalanya.”

Ruangan sunyi. Bahkan jam dinding pun seakan berhenti berdetak.

Azzam memegang lututnya erat-erat agar tidak runtuh.

“Dan dia bukan penggoda,” kata Syakira dengan suara penuh luka.

“Bukan.”

Azzam menatapnya, air mata mengalir tanpa ia sadari.

Syakira mengangguk pelan, meyakinkan

“Ustadzah Nur tidak berbohong.”

Azzam menggenggam kotak itu.

Farhan menunduk dalam, seolah bertemu lagi dengan rasa bersalah puluhan tahun yang ia kubur.

Dan Syakira menatap mereka berdua dengan mata yang bergetar:

“Kalian datang untuk membuka cerita yang orang-orang sini kubur hidup-hidup. Dan setelah hari ini… tidak ada satu pun dari kalian yang bisa kembali menjadi orang yang sama.”


Begitulah.

Jejak itu memang mengering.

Tapi tidak pernah hilang.