Babak Malam Berdarah
Hujan baru saja berhenti saat jam kerja selesai. Jalanan masih lembap, lampu-lampu kota memantulkan genangan seperti sekeping kaca yang belum sepenuhnya pecah. Minimarket perlahan gelap setelah rolling door diturunkan, menyisakan dua sosok yang berdiri di depan. Alina dan Arkanza.
Arkanza memutar kunci motornya. Vixion hitam dengan garis merah yang tergores halus di sisi tangkinya. Motor yang tak terlalu baru. Namun, dirawat dengan baik. Lampu senja menyalakan cahaya hangat ke wajah tenang Alina.
“Yuk pulang,” kata Arkanza singkat, suaranya berat namun lembut, nada yang digunakan seseorang ketika bicara dengan seseorang yang ia jaga tanpa perlu diumbar.
Alina mengangguk. Tidak ada banyak kata antara mereka, tetapi kesunyian itu tidak pernah terasa hampa.
Ia naik ke jok belakang dengan gerakan tanpa suara, bahkan tidak terdengar gesekan kain. Tangan mungilnya tidak langsung memegang pinggang Arkanza. Alina tidak pernah memulai kontak fisik kecuali benar-benar diperlukan. Namun, Arkanza justru menoleh sedikit, menunggu.
“Pegangan,” katanya.
Alina memandangnya sekilas, lalu akhirnya memegang bagian belakang dudukan. Tidak menyentuhnya.
Arkanza mendecak kecil. “Pegangan yang bener, Lin.” Dan tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Alina ke pinggangnya sendiri. Gerakan spontan. Hangat. Sedikit terlalu dekat. Alina tidak menolak, tetapi matanya berkedip pelan, seperti seseorang yang sedang mencatat sesuatu yang menarik.
Motor melaju, membelah udara lembap. Selama mereka menembus jalanan sempit yang menuju rumah Alina, langit tampak seperti menutup perlahan. Seperti tirai teater menjelang adegan besar.
Sebab sejak keluar dari minimarket sebuah mobil hitam melaju pelan jauh di belakang. Tak pernah bersuara. Tak pernah menyusul, tapi tidak pernah benar-benar hilang dari pandangan.
Arkanza sesekali melihat lewat spion. Keningnya mengerut sedikit.
“Lin...” gumamnya, “Kayak ada yang ngikutin.”
Alina membuka mata, menatap pantulan lampu kuning dari mobil misterius itu. Iris matanya yang gelap memantul dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
“Biarkan,” katanya pelan. “Mungkin hanya lewat.” Namun, tatapannya mengevaluasi. Mobil itu terlalu rapi dalam menjaga jarak. Terlalu pelan untuk mobil anon asing. Terlalu konsisten.
Seakan menyelidik. Mengukur. Menunggu atau mengincar.
Setibanya di rumah, motor berhenti di depan gang kecil tempat kontrakan Alina berada. Lampu jalan remang, hanya satu lampu neon yang berkedip-kedip di depan warung tetangga. Alina turun dengan gerakan halus, membuka helm.
“Kau mau mampir dulu?” Alina bertanya saja untuk sopan, wajahnya tetap datar.
Arkanza menggeleng. “Besok kuliah pagi. Kau masuk shift siang kan?”
Alina mengangguk.
“Jaga diri,” tambah Arkanza sambil menatapnya agak lama. Seolah ada sesuatu di wajah Alina yang ingin ia pahami, tapi tak pernah berhasil.
Alina masuk ke rumahnya. Tidak menyalakan lampu ruang tamu. Hanya lampu kamarnya saja.
Mobil hitam itu berhenti jauh di tikungan sebelum akhirnya menghilang atau menyamar atau mungkin menunggu saat yang tepat.
Beberapa menit kemudian Alina duduk di ujung ranjangnya. Rumah kecil itu sunyi, hanya kipas angin yang berdengung pelan. Ia menatap ponselnya, membuka catatan. Berkas–berkas nama, asal, catatan pribadi dan informasi kecil seperti jadwal kerja Rania semua ada di sana.
Ia sudah menyiapkan babak balas dendam untuk Rania sejak tadi siang saat gadis itu meremehkannya di depan teman-temannya.
Alina tidak pernah membiarkan seseorang menanam benih hinaan tanpa ia cabut sampai akar. Namun, ia tidak tahu bahwa ternyata Rania lebih nekat dari dugaannya.
Ketika rasa lapar mulai datang, Alina mengenakan jaket tipis dan keluar menuju minimarket kecil di ujung gang. Jaraknya hanya seratus meter. Tidak jauh.
Ia berjalan perlahan. Tanpa payung. Embun masih menetes dari atap rumah dan ketika ia hendak menyeberang jalan kecil yang sepi. Cahaya putih menyilaukan datang dari samping.
B R A A A K!!
Suara hantaman itu menghancurkan sunyi malam. Tubuh Alina terpental ke aspal. Punggungnya menghantam tanah keras, kepala terbentur sudut trotoar. Darah langsung mengalir dari pelipisnya. Dunia berputar. Namun, matanya tak menutup.
Ia melirik ke arah mobil pelaku.
Mobil hitam. Plat nomor yang sangat ia hafal. Mobil milik keluarga Rania dan ketika kendaraan itu mundur sedikit dan melaju kabur, Alina melihat jelas wajah di balik kemudi.
Rania.
Wajahnya pucat. Matanya membola ketakutan, tapi ia tetap menekan gas dan kabur.
Alina tersenyum kecil meski darah mengalir.
“Terima kasih, Rania,” bisiknya lemah. “Sekarang alasan balas dendamku jadi lebih indah.”
Lalu kesadarannya meredup.
Alina dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh orang-orang yang berada si sekitar.
Arkanza sedang mengikat tali sepatu di kamarnya ketika ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Ia mengernyit sebelum mengangkat.
“Dengan Arkanza?”
“Iya. Benar. Ini siapa?”
“Rumah Sakit Graha Sehat. Anda tercatat sebagai wali dari pasien bernama Alina Putri. Kami butuh Anda datang segera.”
Arkanza berdiri terlalu cepat hingga kursinya terguling. Napasnya tercekat.
“A-Alina kenapa? Apa yang terjadi?!”
“Saya tidak bisa menjelaskan lewat telepon, tapi pasien mengalami kecelakaan tabrak lari.”
Arkanza tidak menunggu penjelasan selesai. Ia mengambil jaket, kunci motor dan berlari keluar rumah.
Suasana malam yang basah terasa setajam pisau di paru-parunya saat ia menggeber motor menuju rumah sakit.
Ia bahkan tidak ingat apakah ia melewati lampu merah atau tidak.
Di ruang IGD.
Pintu IGD terbuka ketika Arkanza berlari masuk. Suaranya tercekat mendengar suster bertanya, “Anda wali pasien Alina Putri?”
“Ya!” Arkanza hampir berteriak. “Di mana dia?!”
Suster mengantar. Langkah Arkanza berat, tapi hatinya lebih berat. Ketika tirai hijau IGD dibuka, dunia runtuh sedikit.
Alina terbaring di ranjang, kepala diperban namun darah masih membasahi sedikit sisi perban. Tubuhnya penuh goresan. Selimut menutupi tubuhnya hingga dada. Namun, matanya terbuka dan menatapnya.
Masih dingin. Masih tenang. Masih Alina.
“Lin,” suara Arkanza pecah. “Siapa yang melakukan ini? Kau tahu siapa pelakunya?”
Alina memutar kepala sedikit. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak tampak panik atau trauma seperti manusia normal. Justru ia tampak sedang berpikir.
“Mereka bilang kau wali,” katanya pelan.
“Ya, karena kau hidup sendirian!” Arkanza mendekat, suaranya gemetar marah dan takut bersamaan. “Apa yang terjadi? Siapa yang menabrakmu?!”
Alina menatapnya lama. Sangat lama. Lalu seperti seseorang yang memilih kata dengan sangat hati-hati, ia berbisik. “Aku tidak tahu. Aku hanya lihat mobil hitam dan platnya.”
Tangannya terangkat pelan, menyentuh perban di pelipisnya. Goresan darah baru muncul dari bawahnya.
“Aku takut, Arkanza.” Kata itu sangat jarang keluar dari mulut Alina.
Arkanza menelan ludah. “Platnya siapa? Kau lihat?”
Alina memejamkan mata seolah menahan sakit. Padahal otaknya sedang menyusun rencana seperti menyusun potongan puzzle.
“Plat mobil milik Rania.”
Tatapan Arkanza membara. Rahangnya mengeras.
“Rania? Dia yang tadi, yang merendahkanmu siang tadi?”
Alina mengangguk kecil, suaranya lirih, gemetarnya sedikit berlebihan, seolah ingin memastikan semua emosi Arkanza menumpuk di satu titik yang ia inginkan.
“Mungkin dia tidak sengaja,” bisik Alina, nada penuh luka. “Mungkin aku yang terlalu dekat jalan. Aku tidak mau menuduhnya.”
Alina menunduk. Bibirnya bergetar walaupun matanya tetap tenang.
“Aku tidak ingin membuat masalah. Aku cuma takut. Dia mengejarku sejak pulang kerja. Mobil hitam itu mengikutiku.”
Arkanza memalingkan wajah, mengepalkan tangan.
“Dari minimarket?” suaranya serak. “Berarti, itu sudah direncanakan.”
Alina menahan senyum kecil yang hampir muncul.
“Entahlah, tapi aku takut kalau dia datang lagi.” Arkanza kembali mendekat, membungkuk hingga wajahnya hampir sejajar dengan Alina.
“Aku tak akan biarin dia nyentuh kau lagi.” Kata-kata itu pecah seperti sumpah yang tidak diminta. Penuh kemarahan dan sesuatu yang lebih gelap.
Alina menatap matanya. Tidak ada rasa bersalah. Justru ia terlihat puas.
“Arkanza...” panggilnya pelan. “Kalau aku tidak bisa keluar rumah beberapa hari, kau bisa bantu aku?”
“Apa pun.”
“Apa pun?” Alina mengulang, memastikan.
“Ya,” jawab Arkanza tanpa ragu.
Alina memegang jari Arkanza lemah-lembut, seolah meraih sesuatu seperti seorang gadis yang ketakutan. Padahal sentuhan itu hanyalah metode untuk menekan titik psikologis Arkanza agar rasa perlindungannya meningkat.
“Aku cuma ingin tenang, kalau kau bisa bantu aku, memastikan Rania tidak mendekat.”
Arkanza mengangguk cepat. “Aku akan urus.”
Alina menatapnya lebih lama, irisnya gelap dan dalam seperti sumur tak berujung.
“Sampai dia tidak berani muncul lagi.”
Arkanza semakin marah. “Dia sudah kelewatan. Kalau aku bisa buktikan dia yang nabrak kamu.”
Arkanza berhenti ketika Alina menatapnya dengan mata yang begitu polos.
“Jangan sampai dia tahu, Ar,” bisik Alina lembut. “Aku nggak mau masalah makin besar. Cuma, pastikan dia takut. Itu saja.”
Arkanza mengangguk. “Aku ngerti.”
Tentu ia mengerti atau setidaknya ia pikir ia mengerti. Yang tidak ia sadari adalah ia baru saja masuk ke dalam skenario Alina dan Alina selalu merencanakan segalanya sampai akhir.
Setelah proses CT-scan dan perawatan selesai, dokter mengatakan kepala Alina tidak mengalami pendarahan internal. Hanya benturan besar dan luka sobek. Ia harus rawat inap dua atau tiga hari.
Saat ruangan kembali sepi, Alina membuka mata pelan dan senyum tipis itu akhirnya muncul.
Bukan senyum manis. Bukan senyum lega. Senyum dingin, sangat halus, tetapi cukup untuk membuat udara di ruangan berubah. Dia mengangkat tangan, menyentuh perban di kepalanya.
“Sakit sedikit,” gumamnya, “tapi tidak seberapa dibanding balasannya nanti.”
Ia memandang jendela. Hujan turun lagi.
“Rania, Rania,” gumamnya lembut seperti memanggil anak kecil yang nakal. “Kau baru mencolek permukaanku.”
Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya bekerja. Akan banyak cara membuat Rania hancur. Mobil itu. Plat nomor. CCTV di gang. Jejak pembayaran tol. Catatan kepemilikan mobil keluarga Rania.
Ia tidak akan membuat Rania masuk penjara. Itu terlalu cepat. Ia ingin Rania merasa diawasi. Diburu. Ditelanjangi rasa bersalahnya. Ia ingin ketakutan itu membesar sampai akhirnya Rania sendiri yang menciptakan kehancurannya.
Alina membuka mata lagi ketika pintu ruangan terbuka.
Arkanza kembali masuk dengan wajah merah karena berlari, membawa minuman botol dan jaket tebal.
“Kau dingin,” katanya sambil menutupkan jaket ke tubuh Alina. Tangannya bergetar sedikit marah, takut dan ingin melindungi bercampur jadi satu.
Alina menatapnya lama.
“Terima kasih, Ar, kau selalu datang ketika aku butuh.”
Arkanza hampir tersenyum. Hampir, tapi rasa marah pada pelaku masih terlalu besar.
“Aku janji, Lin,” katanya lirih. “Orang yang bikin kamu seperti ini akan nyesel.”
Alina memejamkan mata. Tenang. Puas. Karena seseorang baru saja menjadi pion paling berguna dalam rencananya.
Permainan baru saja dimulai dan Rania tidak akan punya kesempatan untuk kabur.